Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Menyerah


__ADS_3

Aisha yang sengaja tak meminta penjaga untuk mengantarnya langsung memasuki taksi yang sengaja sudah dipesannya, di dalam taksi Aisha menangis sejadi-jadinya, bahkan sang sopir pun sampai iba mendengar tangis pilu penumpangnya.


Ia merasa telah gagal menjadi seorang istri, belum hilang sakit karena kehilangan calon bayinya, kini suami yang seharusnya menemaninya melewati masa-masa sulit ini justru secepat itu mengganti posisinya dengan wanita lain, wanita yang selama ini selalu berusaha masuk ke dalam rumah tangganya.


“Kenapa Abang tega sama Ica? Apa setidak sempurna itu Ica di mata Abang sampe secepat ini Abang bawa wanita lain ke kamar kita? Apa karena Ica yang gagal menjaga calon bayi kita, jadi Abang mencampakkan Ica kayak gini? Kenapa nggak bilang aja langsung sama Ica kalo memang Abang udah nggak butuh Ica? Kenapa harus main api di belakang kayak gini Bang?”


Sesak di dada Aisha sudah tak dapat lagi ia ungkapkan dengan kata-kata, diraihnya ponsel yang sejak tadi ia tunggu kehadiran notifikasi bermunculan, sayang tak ada apapun di sana, bahkan pesan yang ia kirimkan untuk suaminya pun sama sekali belum dibaca.


“Apa Abang masih bersenang-senang sama Sofia?”


Aisha meremas ujung jilbabnya, mencoba menyalurkan sesak yang semakin nyeri terasa, jari-jari lentiknya kini ia bawa untuk menari-nari di atas layar sentuh ponselnya.


Begitu tiba kembali di rumah ibunya, Aisha tak mendapati siapapun di sana, padahal saat ini ia begitu membutuhkan sosok ibu yang dekapannya mampu sedikit meredakan rasa sakitnya, karena saat ini ia benar-benar sudah tak sanggup lagi menyimpan semuanya sendirian.


‘Ibu dimana?’ Aisha segera mengetikkan pesan untuk ibunya.


Tring ….


‘Baru aja selesai ketemu klien, Sayang. Kamu udah sampe Nak?’


‘Apa ibu bisa pulang sekarang? Aisha ada di rumah Bu’


Drrtt … drrtt … Maya langsung melakukan panggilan setelah membaca pesan terakhir dari putrinya, hanya saja Aisha tak menghiraukan dering itu, ia memilih bergegas masuk ke kamarnya dan meraih koper yang tertata rapi di dalam lemarinya.


Tak mau ambil pusing, Aisha masukkan semua pakaian dan barang-barang kebutuhannya hingga memenuhi koper di hadapannya, tak lupa berkas-berkas penting turut ia masukkan ke dalam sana.


Saat ini keputusan Aisha sudah bulat, ia akan menjalani hidup barunya di tempat yang tak ada siapapun yang mengenalnya maupun dikenalnya di sana. Untuk saat ini ia benar-benar sudah lelah dengan drama kehidupan yang rasanya terus saja silih berganti berdatangan.


Tak selang berapa lama, deru mobil terdengar memasuki halaman rumah, mungkin itu ibunya yang langsung pulang setelah mendapat pesan darinya.

__ADS_1


***


Seperti biasa, Faris hanya terbangun dari atas pembaringan ketika waktu solat tiba, selebihnya hanya kasur dan selimut yang menemaninya menghabiskan waktu. Kedatangan dan tingkah Sofia pagi tadi benar-benar membuat kepalanya terus saja berdenyut.


Waktu terus saja merangkak maju, seperti sore ini Faris baru terbangun ketika mendengar adzan yang menandakan waktu solat asar tiba, tak selang berapa saat setelah mengucap salam, seseorang kembali mengetuk pintu kamarnya, siapa lagi jika bukan Pak Toni yang baru saja kembali dari kantor.


“Apa sekarang udah baikan Ris?” Pak Toni bertanya sambil membawakan makanan untuk Tuan mudanya itu, padahal ia sendiri baru saja tiba, setelan kerjanya bahkan belum sempat ia ganti.


Faris hanya mengangguk “Lumayan Pak, palingan dibawa istirahat juga ilang,” ujarnya melipat kembali peralatan solatnya.


“Nih makan dulu biar cepet pulih.” Pak Toni menyodorkan makanan yang dibawanya, namun seketika juga Faris menggeleng.


“Nanti aja Pak, baru aja makan siang tadi,” tolak Faris yang segera diangguki Pak Toni.


“Gimana? Apa ada kabar kapan istrimu akan kembali?”


Sontak saja Faris menggeleng dengan lemah karena merasa tak mendapati kabar apapun dari istrinya.


“Wanita emang gitu ya Pak, rindu aja gengsi.”


Faris langsung saja mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Aisha yang mungkin juga tengah menunggunya.


Zrettt … beberapa notifikasi langsung saling bersahutan begitu Faris menghidupkan data ponselnya, sejak semalam ia memang sengaja mematikannya karena merasa kondisi badannya sangat tidak bersahabat.


Matanya langsung saja mencari kontak istrinya, dan ternyata sudah ada pesan masuk dari wanitanya sejak pagi tadi, sontak saja senyum seketika merekah dari wajahnya yang masih terlihat pucat, ternyata benar apa yang Pak Toni katakan.


“Apa benar yang Bapak katakan sampai kamu senyum-senyum kayak gitu?” goda Pak Toni yang langsung diangguki oleh Faris dengan antusias.


Namun seketika senyum itu hilang saat melihat pesan gambar pada room chattnya.

__ADS_1


Beberapa kartu debit dan kredit yang selama ini Faris berikan untuk menafkahi sang istri teronggok begitu saja di atas meja bersama sebuah cincin yang tentu saja Faris sangat mengenali cincin itu, cincin kawin bertakhtakan berlian sama naasnya tergoler di atas meja itu.


‘Ica balikin semuanya Bang... Ica nggak pantes lagi dengan semua ini. Ica pikir dengan kembalinya Ica ke rumah untuk memulai lagi hubungan kita yang sempat renggang adalah keputusan yang tepat, tapi ternyata Ica terlambat, bahkan secepat itu posisi Ica sudah digantikan. Ica menyerah bukan berarti Ica nggak sakit, bukan berarti Ica nggak mencintai Abang lagi. Biar sekarang Ica yang bertanggung jawab atas perasaan ini, dan terima kasih karena perasaan yang cukup besar bersarang ini mampu buat Ica kuat berjalan sendirian tanpa harus adanya Abang. Mungkin memang lebih baik kita selesai sampai di sini Bang, karena ternyata janji yang sudah pernah kita saling beri semuanya sudah kehilangan arti. Selamat atas kebersamaan Abang sama Sofia, happy for both of you. (Bahagia untuk kalian berdua)’


Sejenak Faris berpikir, waktu yang tertera pada pesan yang dikirim Aisha kira-kira bertepatan dengan kedatangan Sofia, apa mungkin Aisha melihat ketika Sofia berada di kamar mereka? Atau bahkan Aisha juga menyaksikan ketika Sofia memaksa untuk menyuapinya makan? Hanya itu yang dapat Faris simpulkan saat ini.


Faris langsung menekan tanda telepon pada pojok kanan atas di room chattnya, namun hanya bunyi dering berkali-kali tanpa jawaban yang ia dapati.


“Arrghh … Shit!” umpatnya seketika bangkit dari atas pembaringan.


Dengan segera ia raih jaket dan kunci mobilnya, tak peduli lagi air mata yang turut berjatuhan mengiringi setiap langkahnya.


“Ris! Ada apa lagi?” Pak Toni yang melihat kepanikan Faris sontak saja turut bangkit dan mengikuti langkah Tuan mudanya itu.


Tanpa mempedulikan apapun, Faris segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bahkan denyut yang semakin terasa di kepalanya tak lagi ia hiraukan, saat ini tujuannya hanya satu, meluruskan apa yang seharusnya diluruskan dan membawa Aisha kembali ke pelukannya.


Pak Toni yang melihat kepanikan Tuan mudanya pun segera meraih kunci mobilnya dan melajukannya mengikuti laju mobil Faris yang cukup membuatnya kewalahan.


Berulang kali Faris mencoba menghubungi lagi istrinya, namun hasilnya tetap sama, hal itu sontak membuatnya semakin kalap menginjak pedal gas hingga tak heran jika saat ini suara klakson dari kendaraan lain saling bersahutan karena aksinya yang benar-benar meresahkan.


“Shit! Kamu pasti salah paham, Sayang … sumpah Abang nggak ada maksud apapun,” gumam Faris memukul stir kemudi, spidometer di depan kemudinya kini bahkan semakin meninggi lajunya, entah kenapa perasaan Faris begitu was-was setelah membaca pesan yang istrinya kirimkan.


***


Author ingatkan kalo Faris dan Aisha juga manusia biasa ya Gaess ... adakalanya mereka juga merasa lelah, hehe


Bersambung...


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya biar kaka author semangat ya ngetiknya gaess...

__ADS_1


Love you...


__ADS_2