Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Lebih baik mati


__ADS_3

Pagi yang indah di kota yang selalu sibuk. Entah sudah berapa lama Maya berdiri di balik tembok pemisah antara dapur dan ruang tengahnya untuk memperhatikan putri bungsunya yang sepertinya sudah sedikit bisa berdamai dengan lukanya. Sesekalibahkan terdengar putrinya itu berdendang seraya menyiapkan masakannya.


Ting tong … ting tong … Aisha yang tengah menyelesaikan acara memasaknya langsung meraih hijabnya ketika mendengar bel apartemennya dibunyikan. Maya sendiri memilih untuk diam tak menampakkan diri.


“Bir dakika bekle …,” ucap Aisha ketika bel terus saja berbunyi. (tunggu sebentar)


Ceklek!


“Surprise …,” ucap Faisal merentangkan kedua tangannya, wajah tampannya menjadi pemandangan pertama Aisha begitu ia membuka pintu apartemennya.


“Kakak ….” Tentu saja Aisha pun langsung memeluk sang kakak dengan antusias.


“Ais kira pelayanan apartemen,” ujarnya masih belum rela terlepas dari dekapan sang kakak.


“Ya Allah jahat bener adik cantikku ini … masa Abang tampan kayak gini dikira pelayanan kebersihan,” gerutu Faisal dengan nada merajuknya.


“Hihihi orang masih pagi gini … lagian siapa lagi yang tau apartemen Ais selain Kakak sama pelayan apartemen kan?”


“Tapi seneng kan Kakak ke sini?” goda Faisal terhadap adiknya itu.


“Kakak jangan pergi-pergi lagi ya Kak? Jangan tinggalin kita lagi …,” rengek Aisha layaknya adik kecil yang tak ingin ditinggal sang kakak.


“Iya Sayang … nanti kalo urusan Kakak udah selesai, Kakak bakal tinggal bareng sama Ais sama Ibu,” tutur Faisal gemas dengan manjanya adik kesayangannya itu.


“Janji?” Aisha bahkan sudah mengangkat kelingkingnya di depan wajah Faisal, membuat pria itu sontak saja tergelak dengan tingkah sang adik.


“Iya Kakak janji Dek.”


“Siapa Sha?” Maya yang penasaran karena putrinya belum juga kembali akhirnya menampakkan dirinya untuk melihat siapa gerangan ‘tamu’ yang bertandang pagi-pagi begini.


“Kakak Bu …,” ucap Faisal mendahului adiknya yang hendak membuka suara.


“Eh Ibu kira siapa … kok nggak diajak masuk langsung sih kakaknya Sha ….”


“Ini Kakak Bu, pake drama dulu,” ledek Aisha menjaili sang kakak.


“Kakak udah makan belum? Ini tadi Ais masak banyak loh,” tutur Maya sembari meghidangkan beberapa menu masakan yang sudah tersaji.


“Belum Bu … sengaja ke sini pagi-pagi kan mau minta makan.”


“Ya Allah Kakak … pantesan aja kurus kayak gini, nggak ada yang kasih makan Kakak Bu,” tutur Aisha diiringi gelak tawa semua yang ada di sana.

__ADS_1


Tanpa seorang pun menyadari, ternyata sejak tadi Roger sudah berjaga di sekitar apartemen Aisha begitu Faisal masuk ke sana.


“Lapor Tuan, misi terlaksana dengan aman. Apa sudah bisa terkoneksi, Tuan?” Roger yang baru kembali ke mobilnya langsung melaporkan hasil kerjanya kepada Faris yang kini masih di Ankara bersama Pak Toni, ia sendiri langsung terbang ke Istanbul begitu mendapat misi dari Tuan mudanya.


“Ok good, udah terkoneksi dengan baik. Saya bergerak ke sana sekarang juga,” tutur Faris yang kini ternyata sudah berada di Bandara begitu mendengar percakapan Aisha dan Faisal dari alat penyadap yang sejak tadi sudah terkoneksi dengan alat yang kini selalu menempel di telinganya.


“Siap Tuan, saya tunggu di Bandara.”


***


Faisal, Maya, dan Aisha kini sudah berada di pemakaman muslim tempat sang ayah disemayamkan. Berbeda dengan Maya dan Aisha, Faisal tampaknya masih mematung tak percaya melihat pusara yang berada di hadapannya kini tersematkan nama sang ayah di atas nisannya. Seketika saja tubuhnya ambruk bersimpuh di atas tanah tempatnya berpijak, tangisnya tak bisa lagi ia bendung betapa selama ini ia tak menyadari jika sang ayah dimakamkan di negara yang sama dengan tempat tinggalnya kini.


Tangannya bergetar saat berusaha mengusap nisan bernamakan ayahnya, “Assalamualaikum Ayah … ini Isal Yah, Isal dateng sama Ibu sama Ais. Kita sekarang udah kumpul lagi kayak dulu Yah, Isal udah berhasil nemuin Ibu dan Ais yang Isal pikir mereka udah nggak ada, Isal pikir kalian udah pergi ninggalin Isal sendirian di sini …. Yah … maafin Isal yang nggak tau kalo Ayah dimakamkan di sini, maafin Isal yang selalu gagal mencari tahu keberadaan kalian selama ini ….” Faisal tampak menghentikan kalimatnya, dadanya benar-benar terasa sesak mengetahui sang ayah yang ternyata sudah terbujur kaku ditimbun tanah.


Maya dan Aisha pun tak bisa lagi menyembunyikan isak mereka kala mendengar rintihan Faisal yang begitu pilu menyayat hati.


“Isal janji Yah … Isal akan gantiin posisi Ayah buat selalu melindungi dan membahagiakan Ibu sama Ais, lebih dari apapun … bahkan nyawa Isal sendiri. Mereka permata yang Isal punya di dunia ini Yah, bukti bahwa Ayah pernah ada, bahkan selalu ada di hati kita.”


Mendengar penuturan Faisal, Aisha kini langsung memeluk tubuh kekar yang kini diketahuinya sebagai kakaknya, “Makasih ya Kak, Kakak udah kembali sama kita … Ais seneng banget karena ternyata Ais punya saudara, Ais punya Kakak yang bahkan menjamin kebahagiaan Ais sama Ibu. Meski Ayah nggak ada … tapi Ais bisa ngerasain sosok beliau dalam diri Kakak.” Aisha berujar di sela-sela isaknya yang justru semakin menderas.


Usai mengutarakan isi hati masing-masing, ketiganya lantas mengirim doa bersama untuk mendiang ayah mereka. Maya dan Aisha turut mengaminkan doa yang dipimpin oleh Faisal dalam sela isaknya, pria itu bahkan tampak masih mematung ketika doa sudah usai dipanjatkannya.


“Ibu sama Kakak duluan aja, Ais angkat telepon dulu,” ujar Aisha agar kakak dan ibunya melangkah lebih dulu.


“Hallo?” ucap Aisha hati-hati saat melihat nomor yang memanggilnya tanpa nama, namun nomor itu adalah nomor dari Indonesia.


“Hallo Aisha … kamu masih inget sama aku?” ujar suara bariton dari seberang sana.


“MasyaAllah Rey! Ini beneran kamu Rey? Kamu nggak apa-apa kan?” tutur Aisha yang langsung memberondong Rey dengan kekhawatirannya.


Terdengar suara kekehan dari seberang, tampaknya Rey kini berbunga-bunga karena Aisha terdengar begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun seketika senyum itu memudar kala mengingat siapa Aisha dan siapa dirinya. Mereka berbeda, seamin tapi tak seiman.


“Aku baik-baik aja Sha … makasih loh udah khawatirin aku, aku kaget banget pas liat ponsel terus ada banyak banget panggilan dari nomor yang ternyata punya kamu,” goda Rey yang masih terbaring di atas blankarnya, pasalnya kondisinya lebih buruk dari yang Faris alami.


Sedangkan Aisha hanya bisa tersenyum tanpa bisa Rey ketahui.


“Oh ya Sha, aku udah kirim hadiah buat kamu. Harusnya sih udah nyampe dari kemaren-kemaren,” tutur Rey dengan hadiah yang ia maksud adalah kedatangan Faris yang menurutnya mungkin saat ini sudah menemui Aisha.


“Hadiah? Apa?” Aisha sontak saja mengernyit saat Rey mengatakan hal itu, pasalnya ia tak pernah menerima apapun dari pria itu.


“Ica ….” Suara seseorang yang begitu Aisha kenali sontak membuatnya menghentikan percakapannya dengan Rey, ia bahkan seperti terhipnotis hingga tak bisa untuk tidak menoleh saat suara itu menyapa indra pendengarnya.

__ADS_1


Seketika ponsel yang menempel di telinga Aisha terjatuh begitu saja saat netranya dengan jelas menatap siapa pria yang kini tengah berdiri tak jauh dari posisinya saat ini. Pria itu tampak menatapnya sendu dengan beberapa luka memar di wajahnya yang mungkin ia dapat saat turbulensi pesawat.


“Abang ….” Tanpa sadar kata itu terucap begitu saja dari bibir Aisha, tak bisa dipungkiri jika saat ini ia pun begitu merindukan sosok dihadapannya ini.


Belum sempat Aisha melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Faris, menambah luka memar yang telah ada, Faris yang tak ada aba-aba sontak terhuyung ke tanah begitu saja.


Roger yang melihat Tuannya terkapar sontak sudah memasang kuda-kuda hendak membalas perlakuan pria yang tak lain adalah Faisal, kakak kandung dari Aisha. namun secepatnya Faris mencekal tangan Roger agar tak membalas apapun perlakuan kakak iparnya.


“Kenapa kamu menyakiti adikku sampai seperti ini Faris!? Lihat hasil perbuatanmu


sekarang!”


Plakkk … plakkk … Faisal kembali menyerang Faris tanpa ada perlawanan apapun dari Faris.


“Kak udah Kak … jangan pukuli Abang lagi,” ujar Aisha menahan lengan sang kakak yang bersiap hendak kembali menghajar Faris.


“Kamu jangan bodoh Dek! Kamu mungkin nggak pernah tersakiti secara lahir, tapi batinmu sudah terkoyak dibuatnya!” Faisal bahkan sampai menitikkan air mata memeluk adiknya.


“Saya akui saya salah Kak … tapi saya berani bersumpah demi Allah, di depan pusara Ayah, bahwa saya tidak pernah sedikitpun melakukan seperti yang Aisha bayangkan. Semua ini hanya salah paham Kak,” tutur Faris bersimpuh di hadapan lelaki yang kini sudah diketahuinya sebagai kakak iparnya.


“Saya kecewa sama kamu Ris …. Aisha adalah permata saya, saya akan melindunginya lebih dari apapun, bahkan nyawa saya sendiri. Jika menikah denganmu hanya membuat adik saya selalu terluka … lebih baik kamu lepaskan Aisha. Saya masih sanggup menjaganya,” tutur Faisal pasrah, nadanya bahkan tak setinggi tadi.


Mendengar hal itu, Faris sontak saja menggeleng dengan kuat, ia bangkit lantas tiba-tiba mengambil pistol dari balik jaket yang Roger kenakan dan langsung memberikannya pada sang kakak ipar, “Lebih baik Kakak bunuh saya sekarang dari pada meminta saya untuk melepaskan Aisha Kak.”


Tanpa diduga,Faisal benar-benar mengambil pistol yang Faris sodorkan, mengokangnya lantas mengarahkannya tepat di depan dada Faris, “Kamu pikir saya nggak berani?” ujarnya bersiap menarik pelatuk pistol dalam genggamannya.


Faris memejamkan matanya, pasrah jika nyawanya harus berakhir di tangan kakak iparnya asalkan tak dipisahkan dengan istri tercinta.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2