Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Mempertahankan takdir


__ADS_3

Kini giliran Aisha yang kembali bingung saat sudah berada di depan apartemen miliknya, tangannya bahkan masih menggantung di udara bersiap membuka pintu di depannya.


Setelah mengatur napasnya, dengan sisa keberanian menghadapi kakak dan ibunya, akhirnya tangan itu ia beranikan untuk membuka pintu apartemen yang tentu saja ia tahu kunci aksesnya.


Keadaan apartemen masih gelap begitu Aisha mengendap memasuki kamar, hanya remang-remang lampu dinding yang kini menerangi jalannya hingga sampai ke pembaringan.


Ketika baru saja hendak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, ponsel dalam genggamannya kembali bergetar, nama sang kakak terpampang jelas di layarnya. Dalam dering ketiga Aisha mencoba memberanikan diri menggeser tombol hijaunya.


“Iya Kak,” ucap Aisha hati-hati.


“Kamu dimana Dek? Tolong jangan bikin Kakak sama Ibu khawatir … soal Ayla, jangan kamu masukkan ke dalam hati ya Sayang.” Jelas sekali nada khawatir tersemat dalam suara berat kakaknya, suara sang ibu pun sayup-sayup tertangkap hingga ke telinganya. Pasalnya Maya sampai terlelap di dalam mobil saat pencarian mereka, hanya saja indra pendengarnya langsung siaga begitu terdengar putranya berbincang yang sepertinya itu dengan putrinya.


“Ais di kamar Kak, Ais baik-baik aja kok. Ais ngerti ketakutan Ayla, karena Ais pun mungkin bakal kayak gitu kalo ada di posisi dia,” tutur Aisha kembali mengingat bagaimana bencinya saudara dari kakaknya itu.


“Di kamar mana? Kakak sama Ibu dari semalem nyari-nyari kamu Dek, telponin kamu tapi nggak diangkat, coba lacak GPS kamu tiba-tiba ponsel kamu mati.”


Aisha mengingat jika mungkin saja ponselnya benar mati karena saat ia terbangun ponselnya sudah dalam keadaan diisi daya, mungkin Faris yang sudah melakukannya karena tahu pasti kakak ipar dan ibu mertuanya akan sangat khawatir dengan Aisha yang tak mereka ketahui kemana perginya.


“Iya Kak, ponsel Ais emang sempet mati tadi, Ais lupa nggak bawa charger.”


“Kamu tunggu di apartemen, Kakak sama Ibu pulang sekarang,” ujar Faisal setelah akhirnya sambungan telepon mereka diputus.


Aisha kembali bingung harus beralasan apa pada kakak dan ibunya pasal kepergiannya semalam, apa ia harus menjelaskan yang sejujurnya jika dirinya dibawa oleh sang suami ke apartemennya? Namun rasa-rasanya tidak mungkin, mengingat sang kakak yang sepertinya masih sangat protektif akan hubungannya dengan Faris saat ini, ia khawatir jika hal itu justru akan semakin memperburuk pandangan sang kakak terhadap suaminya. Saking paniknya, Aisha bahkan tak menyadari jika seseorang memasuki apartemennya.


“Dek!” Faisal langsung meraih tubuh Aisha ke dalam dekapannya, jujur ia begitu takut jika harus kembali kehilangan adik kesayangannya itu.

__ADS_1


Setelahnya giliran Maya yang merengkuh tubuh putrinya, ia pun sama khawatirnya dengan sang putra mengingat bagaimana sadisnya tuduhan Ayla terhadap putrinya yang ia tahu betul jika putrinya tak mungkin melakukan hal semacam itu.


“Kamu kemana aja Sayang? Ibu sama Kakak khawatir nyariin kamu dari semalem.” Maya berujar dengan sangat lembut seraya membelai sayang kepala Aisha.


“Maafin Aisha udah bikin Ibu sama Kakak khawatir, Aisha cuma butuh berpikir tenang Bu, Aisha terlalu kaget dengan semua tuduhan Ayla.” Wanita itu pun berujar dengan lirih menyesali kepergiannya yang sudah membuat semua orang khawatir.


Faisal turut duduk di samping Aisha, “Jangan dipikirin omongan Ayla ya Dek, Kakak janji bakal buat dia nerima semuanya, Kakak tau Ayla bukan orang yang kayak gitu kok,” ujarnya yang masih khawatir dengan adiknya itu.


Aisha hanya tersenyum kecut tanpa berani menatap kakak maupun ibunya, hatinya kini justru tengah harap-harap cemas pasal dirinya yang baru saja bermalam dengan suaminya khawatir akan diketahui oleh kakak dan ibunya.


Seakan menyadari kekhawatiran adiknya, Faisal pun sedikit memercingkan netranya saat ia pun baru menyadari akan kemeja juga aroma khas prianya yang saat ini Aisha kenakan. “Kamu pake baju siapa Dek?” tanya Faisal menyadari jika itu bukan baju yang awalnya Aisha pakai.


Deg, Aisha semakin kuat menggigit bibir bawahnya, mencoba menghalau kebingungan yang entah harus ia jawab apa.


“Biarkan adikmu menentukan pilihannya Kak, Ibu yakin Faris pria yang baik karena bukan setahun dua tahun Ibu mengenalnya, Ibu tau bagaimana sayangnya adik iparmu itu sama Aisha,” tutur Maya yang agaknya paham dengan kekhawatiran putranya.


“Isal cuma nggak mau ada yang nyakitin Ais Bu, Ibu tau kan gimana takutnya Isal kalo sampe Ais kenapa-kenapa?” tukas Faisal yang juga tak bisa menyembunyikan ketakutannya.


Maya tersenyum mendapati putranya yang amat menyayangi adik perempuannya itu, meskit baru sebentar mereka dipertemukan, ikatan darah memang tak bisa diragukan.


“Adikmu sudah dewasa … kita hanya perlu berdiri di belakangnya memastikan dia baik-baik saja dengan pilihannya. Biarlah dia sendiri yang menentukan kehidupannya Kak, Ibu percaya Kakak pasti sayang banget sama Ais.”


Faisal pun hanya menghela napasnya dengan berat, sungguh bukan hal main-main menjaga seorang adik perempuannya itu, terlebih ia adalah kepala keluarga saat ini, satu-satunya pria yang akan mengorbankan segalanya demi kebahagiaan keluarganya.


***

__ADS_1


Di apartemennya, Faris kini justru tak bisa lagi menahan tawanya saat alat yang menempel di telinganya memperdengarkan Aisha yang tampaknya kebingungan hendak beralasan apa pada kakaknya, terbayang wajah sang istri yang menurutnya semakin menggemaskan saat ia merasa gugup ataupun tersipu.


Namun sesaat kemudian Faris juga terdiam, mendengarkan setiap kalimat dari perbincangan Faisal dan Maya. Hatinya sedikit perih mendengar kakak iparnya meragukan rasa sayangnya terhadap sang istri.


“Apa aku seburuk itu di matamu Kak?” Faris berujar dengan lirih lantas segera mematikan sambungan di telinganya dengan alat yang sudah terpasang di ponsel Faisal.


Faris melangkah keluar menuju balkon kamar apartemennya, pandangannya menatap jauh ke depan tak berujung pandang, saat ini yang ada dibenaknya hanya satu, bagaimana cara mendapatkan kepercayaan dari sang kakak ipar tentunya.


“Siapkan rekaman cctv saat kedatangan Sofia ke rumah waktu itu.” Faris berujar ketika ponsel di genggamannya sudah tersambung dengan seseorang di seberang.


“…”


“Saya tunggu pagi nanti,” ujar Faris kemudian setelah melirik arlojinya yang sudah hampir memasuki waktu subuh.


Sesaat kemudian mulai terdengar kumandang adzan bersahutan dari segala penjuru kota, netra Faris terpejam menikmati hembusan angin fajar yang menyapu setiap inci wajah tampannya. Lisannya pun turut menyahuti setiap lafal adzan yang menyapa indra pendengarnya seiring dengan gemuruh hati yang berteriak kencang meminta pertolongan Tuhannya.


“Tunggu Abang bawa kamu kembali ya Ca, posisi Nyonya Faris hanya ditakdirkan buat kamu Sayang ….”


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2