Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
....


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


________________


..


Setelah cukup lama berpisah dengan suaminya, kini Aisha merasakan kembali kesendirian itu. Menjadi istri dari lelaki yang dengan profesi yang menjanjikan seperti Faris memang harus siaga pula dengan konsekuensinya. Ditinggal sana-sini alasan pekerjaan bukan lagi hal yang baru bagi Aisha. Namun sedikitpun wanita itu tak pernah mengeluh, di samping semua konsekuensi yang ada, ada pula satu perasaan ketika keduanya mau untuk berjuang bersama, dan itu justru terasa nikmat. Itulah cinta.


Hampir tengah malam Faris baru bisa kembali ke hotel. Pekerjaannya hari ini cukup menguras waktu dan tenaga. Meski banyak dari para koleganya yang mengajaknya untuk bersantai lebih dulu, namun Faris tak berminat menerima ajakan itu. Ia memilih segera kembali ke hotel untuk beristirahat.


Sebelum benar-benar terlelap, lebih dulu Faris menghubungi wanita terkasihnya di Istanbul. Pekerjaan yang begitu padat membuat Faris hanya bisa mengabari istrinya via pesan ketika siang tadi pria itu tiba di Ankara.


“Abang kok belum tidur jam segini? Apa semuanya baik-baik aja?” tanya wanita yang kini sudah bersiap di atas ranjangnya via video call.


“Abang emang baru bisa balik ke hotel, Sayang. Alhamdulilah semuanya berangsur membaik. Ica sendiri kok belum tidur sih? Apa anak Abang rewel? Nggak baik ibu hamil tidur kemaleman loh, Sayang,” sahut Faris mencemaskan istrinya.


“Iya nih, Bang. Kayanya anak Abang belum bisa jauh-jauh dari Papinya,” keluh Aisha yang memang sejak tadi sulit untuk terpejam.


“Ica muntah-muntah lagi?” Pria itu menegakkan tubuhnya pada sandaran ranjang.


“Iya beberapa kali sih, nggak sesering sebelumnya. Tapi nggak apa-apa kok, Abang tenang aja.”


“Syukurlah, jangan lupa makanan harus tetep masuk ya Sayang. Susu sama vitaminnya jangan lupa juga.”


Wanita itu tersenyum, “Iya siap Pak Dokter,” sahut Aisha menanggapi kecemasan suaminya yang membuatnya tergelak bersama.


“Abang udah makan?”


“Alhamdulillah udah Sayang, tadi sebelum balik ke hotel Abang makan dulu sama Roger.”


“Oh ya, gimana jalan-jalan besok? Ica beneran nggak mau ikut?” tanya Faris mengingat acara liburan mereka yang tertunda.


“Ning Sabina bilang jalan-jalannya ditunda aja sampe Abang pulang. Padahal Ica udah bilang nggak apa-apa kok kalo ditinggal sendiri. Tapi beliau tetep nggak mau ninggalin Ica katanya, Ica jadi nggak enak deh Bang.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa Sayang, Abang malah lega dengernya kalo jalan-jalannya ditunda. Kan Ica jadi tete pada temen di apartemen.”


“Ih Abang Ica kan nggak enak sama Ning Sabina, Bang. Mereka udah jauh-jauh ke sini masa malah disuruh jagain Ica.” Aisha tampak murung karena pasalnya dirinyalah penyebab acara liburan mereka harus ditunda.


“Hei Sayang, liburannya kan cuma ditunda, bukan berarti nggak jadi. Ica tenang aja, jangan jadi pikiran. Biar nanti Abang yang bilang sama Mba Sabina. Ya udah tidur ya Sayang, udah malem loh ini, nggak baik buat Ibu hamil.”


“Ya udah, Assalamualaikum.”


Keduanya menyudahi sambungan telepon mereka. Baik Faris di Ankara maupun Aisha di Istanbul, kini keduanya sama-sama bersiap  untuk tidur sambil berharap memimpikan wajah yang baru saja bercengkerama via video call tadi. Faris Zein Abdullah, lelaki yang mampu membuat Aisha merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Pun dengan Aisha Ameera Al-Insani, wanita yang begitu Faris cintai, yang tanpanya, belum tentu Faris bisa merasakan semua kebahagiaan seperti yang tengahdirasaknnya kini.


***


“Sha, Mba tinggal dulu ke lobi ya bentar. Mau nemuin Hasan,” ujar Ning Sabina setelah meraih ponselnya yang ternyata tergeletak di meja makan.


“Loh kenapa nggak diajak ke sini saja Gus Hasannya, Ning?”


“Ndak papa, suamimu lagi ndak di rumah. Biar Mba saja yang temuin dia,” sahutnya setelah merapikan pakaian Gus Fakih yang tampak berantakan karena bocah lelaki itu sempat berguling-guling di sofa menunggu uminya yang masih berdandan.


Aisha pun hanya mengangguk mengiyakan. Mungkin itu memang lebih baik dari pada ia dan Gus Hasan harus kembali bersitatap tanpa keberadaan suaminya.


Aisha mengulas senyumnya, meski hanya sebatas istri dari adik sepupunya tapi Ning Sabina begitu peduli terhadapnya.


“Nggeh, Ning. Saya baik-baik saja kok. Kalo njenengan mau sekalian ajak Gus Fakih jalan-jalan juga nggak papa kok. Saya sudah baik-baik saja.”


“Ya sudah kalo kamu butuh apa-apa dan Mba belum balik, kamu tinggal hubungi Mba saja ya Sha.”


“Nggeh, Ning. Terima kasih sebelumnya.”


Usai kepergian Ning Sabina dan Gus Fakih, Aisha memilih kembali ke kamarnya, mungkin untuk membaca buku-buku koleksi suaminya atau sekedar membereskan isi kamarnya agar tak dilanda kebosanan karena tinggal di apartemen sebesar itu sendirian. Suaminya itu memang begitu royal dan selalu mengutamakan kenyamanan dirinya. Seperti sebelum ia berangkat ke Ankara, lelaki itu menyempatkan untuk membelikan Aisha sebuah boneka panda yang ukurannya hampir sama dengan besar tubuh istrinya. Alasannya agar Aisha tak merasa kesepian karena harus tidur sendirian selama dirinya berada di Ankara. Aisha tersenyum sendiri menatap boneka yang tergeletak di ranjangnya yang besarnya bahkan menghabiskan tempat seukuran dirinya.


“Abang ada aja idenya buat bikin aku seneng.”


“Apa kabar, Mba?” tanya Gus Hasan usai menyalami kakak dan keponakannya yang semakin pintar.


“Alhamdulillah Mba baik. Abi sama Umi di rumah juga baik. Kamu gimana? Semuanya lancar kan?”


“Alhamdulillah semuanya baik-baik aja, Mba.”

__ADS_1


Gus Fakih mengambil posisi di samping adik ibunya itu. Pasalnya bocah itu memang begitu dekat dengan Gus Hasan sejak kecil.


“Fakih gimana sekolahnya?” tanya Gus Hasan menyuapkan sepotong kue pada ponakan yang sejak kecil diasuhnya itu.


“Baik kok Om. Besok Fakih juga sudah mulai masuk sekolah dasar,” sahutnya begitu antusias.


“Oh ya? Wah udah besar ya ternyata ponakan Om.” Gus Hasan pun menanggapinya tak kalah antusias, ia bahkan menyempatkan untuk mencubit pipi gembul yang tengah mengunyah makanannya dengan gemas.


Tak lama seorang pramusaji berwajah oriental menghampiri meja mereka dengan nampan yang sudah dipenuhi oleh pesanan yang sudah Gus Hasan pesan sebelum kedatangan sang kakak dan putranya.


“Fakih kalo sudah habis makanannya Umi antar lagi ke kamar Mba Ica ya,” ujar Ning Sabina saat putranya sudah hampir menghabiskan makanannya.


“Memangnya Umi sama Om Hasan mau kemana? Kok Fakih ndak diajak?” bocah itu tampak mengerucutkan bibirnya karena mengira uminya akan pergi jalan-jalan tanpa dirinya.


“Ndak kemana-mana, Sayang. Umi cuma di sini kok, mau ada yang diomongin dulu sama Om-mu.”


“Oh, urusan orang dewasa ya Umi?” tanyanya dengan polos.


“Nah pinter anak Umi. Fakih tenang aja, besok kita jalan-jalannya kalo Om Faris sudah pulang kerja. Sekarang Fakih ke kamar lagi temenin Mba Ica, ya? Kan Fakih sudah janji sama Om Faris buat jagain Mba Ica selama Om Faris ndak ada.”


“Siap Umi!” sahut Gus Fakih bahkan memposisikan dirinya seperti orang hormat yang sontak membuat yang ada di sana tergelak.


Sedangkan Gus Hasan justru tengah menebak-nebak apa gerangan yang akan sang kakak bicarakan sampai-sampai ‘mengusir’ putranya.


“Fakih makannya sudah, Mi.”


“Loh kok cepet banget, Ngger? Minumanmu ndak mau dihabiskan? Itu kuenya juga masih ada loh.”


“Nanti Umi bungkus saja, kasian Mba Ica kalo ditinggal lama sendirian,” seloroh Gus Fakih yang bahkan membuat Ning Sabina melongo sendiri, tak menyangka jika putra kecilnya akan berpikiran sejauh itu.


“Ya sudah ayo. Mba anter Fakih dulu ya, San. Jangan kabur kamu,” guraunya yang hanya mendapati anggukan dari Gus Hasan. Adiknya itu memang selalu bersikap kalem bahkan kepadanya sekalipun. Berbeda sekali dengan Faris yang selalu suka rela membalas semua kejailannya.


Gus Fakih pun segera bangkit dari kursinya, menyalami sang paman lantas mengikuti langkah Ning Sabina sambil berpegangan pada telunjuk sang umi.


___________


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2