Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Honeymoon 2


__ADS_3

“Siapa Ay?” tanya Faisal yang baru saja mengenakan pakaiannya lantas menghampiri adiknya yang masih mematung di depan pintu.


“Nggak tau Kak,” seloroh Ayla segera berbalik dan melanjutkan acara makannya.


“Eh kamu ternyata San, yuk masuk,” ajak Faisal saat mengetahui yang berkunjung adalah tamu yang sedang ditunggunya.


“Duduk dulu.” Faisal mempersilahkan Hasan untuk menunggunya di sofa ruang tengah, sedangkan ia segera melangkahkan kaki untuk menyiapkan minuman.


“Kamu kenapa Dek? Laper banget?” tanya Faisal saat diliriknya sang adik masih menyuapkan makanan ke mulutnya dengan ganas.


“Berisik!” ketus Ayla tanpa menoleh.


“Dih jadi Kakak yang kena,” protes Faisal.


“Bodo!”


Faisal memilih segera memberikan minuman untuk Hasan sebelum kena cakaran adiknya yang mungkin tengah PMS (Pra menstruation syndrom).


“Ayla kenapa tuh San? Lagi nggak akur kalian?” tanya Faisal sambil menyodorkan minuman.


“Nggak tau aku juga,” jawab Hasan polos yang memang tak mengerti dengan tingkah wanita itu hari ini.


“Dih dasar nggak peka!” gerutu Ayla yang sayup-sayup mendengar jawaban Gus Hasan.


Setelah menyelesaikan makanannya, Ayla segera meraih kembali tasnya.


“Aku pulang,” ujar Ayla melewati Faisal dan Gus Hasan yang masih berdiskusi di ruang tengah.


“Kakak anter, ini bentar lagi beres kok,” sergah Faisal membuat langkah Ayla terhenti.


“Nggak usah, aku udah minta Baba kirim orang buat jemput.”


“It's okay, itu lebih aman.”


“Bye,” ujar Ayla sebelum menutup pintu.


Di luar apartemen Ayla sudah mencak-mencak sendiri sambil mengacak-ngacak rambut panjangnya yang tergerai, membuat security di sana memandanginya aneh.


“Ih kenapa sih harus ketemu dia di sini, padahal kan aku lagi ngindarin dia banget. Gimana ya, Hasan ilfeel nggak ya sama gue abis liat gue mabok kemaren? Duh oon banget lagi sih tuh bartendernya pake nelpon Hasan, nomer di HP gue kan banyak.”


Ia benar-benar kesal bercampur malu setiap bersitatap dengan Gus Hasan sejak kejadian malam itu.


“Ahhh Shit!” teriaknya lantas melangkahkan kaki menuju basement tempat bodyguardnya menunggu.

__ADS_1


***


“Bunda cantik, semoga nanti Allah juga kasih Kakak istri yang cantik juga baik kayak Bunda.”


Seorang anak laki-laki berseragam abu-abu tak henti-hentinya memandangi sang ibu yang tengah bersolek di depan cermin riasnya.


“Kenapa istri? Emang Kakak nggak mau pacaran dulu gitu?”


“Pacaran itu hanya akan mendekatkan kita pada zina Bun, nggak ada faedahnya.”


Sang ibu tersenyum mendengarnya, ternyata putranya sudah semakin dewasa, ia sudah bisa membedakan mana yang hak dan yang bathil.


“Siapapun nanti yang jadi istri Kakak, Bunda minta tolong Kakak janji ya sama Bunda, sayangi dan perlakukan dia sebagaimana perlakuan dan sayang Kakak ke Bunda, karena nanti istri Kakak juga akan jadi seorang Ibu buat anak Kakak,” ujar sang ibu menghampiri putranya yang terduduk di tepi ranjang.


“Kakak janji Bun, Kakak akan selalu menyayangi dan menjaga istri Kakak nanti.”


“Makasih ya Kakak udah bantu Ayah sama Bunda. Setidaknya nanti kalo Ayah sama Bunda menghadap Allah, Ayah sama Bunda nggak perlu malu karena udah berhasil mendidik Kakak jadi imam yang baik buat keluarga nanti.”


Faris terbangun dengan ujung netra yang sudah basah. Mimpinya tadi persis dengan percakapannya bersama mendiang sang Bunda kala itu.


“Semoga Ayah sama Bunda selalu ditempatkan di tempat yang paling indah di sisi-Mu ya Allah. Allohummaghfirlahum.”


Dilihatnya sang istri yang nampak pulas dalam tidurnya, seketika hati Faris merasa tenang. Ditatapnya wajah ayu itu lamat-lamat sambil sesekali membelainya dengan lembut.


“Ica tau, Ica adalah mahluk yang terindah yang pernah Abang liat setelah Ayah dan Bunda. Ica adalah wanita paling cantik, sama kayak Bunda. Makasih ya Ica selalu ada nemenin perjuangan Abang. Terima kasih karena hadirmu membuatku tak perlu melihat wanita lain, sampai kapanpun pandanganku hanya akan tertuju padamu wahai wanitaku, Aisha Ameera Al-Insani.”


Jam yang bertengger di atas nakas menunjukan pukul sepuluh pagi waktu setempat, pantas saja perutnya meronta minta diisi. Ia teringat jika mereka terakhir makan hanya ketika di pesawat.


Ia lantas beranjak dan mengenakan pakaiannya setelah lebih dulu membenahi selimut untuk menutupi tubuh polos Aisha. Lalu jarinya sudah berselancar di atas papan ketik memesan beberapa makanan untuk mengisi perut mereka pagi ini.


Sekitar setengah jam kemudian Faris yang tengah mengeringkan rambutnya yang setengah basah mendengar pintu resort yang diketuk. Dan benar saja itu adalah pelayan yang mengantarkan makanan.


“Thank you so much,” tukas Faris lantas merogoh beberapa lembar uang lira lalu menyerahkannya pada pelayan.


“Enjoy our place and food, Sir. I hope your honeymoon will be more romantic,” ujar sang pelayan ramah. (Selamat menikmati tempat dan makanan kami, Tuan. Semoga bulan madu anda menjadi lebih romantis)


Faris sontak tersenyum mendengar penuturan sang pelayan, apa begitu tertera aroma bulan madunya bersama sang istri? Ah entahlah, mungkin pelayan itu bisa membaca raut bahagia di wajah Faris.


Setelah menyajikan beberapa makanan Turki, Faris kembali ke kamarnya denan membawa makanan untuk sang istri yang nampak sama sekali tak berubah posisi tidurnya.


“Sayang,” lirih Faris sama sekali tak membuat pergerakan dalam tidur istrinya.


“Sayang, ayo bangun.” Sekali lagi Faris memanggilnya dengan mengusap lembut bahu polos Aisha. Tanpa sadar hal itu mampu membuat darahnya kembali berdesir.

__ADS_1


‘Tahan Faris, tahan. Aisha masih capek.’


Aisha menggeliatkan badannya, membuat selimut yang menutupi tubuh polosnya tersingkap. Melihat pemandangan itu tubuh Faris kembali menegang, kepalanya kini benar-benar berdenyut tak karuan.


“Aduh sabar dong, istri gue baru aja siuman nih,” gerutu Faris seolah berbincang dengan tubuh bagian bawahnya.


“Em jam berapa ini Bang?” tanya Aisha mengerjapkan netranya yang sedikit silau oleh cahaya mentari yang menyusup dari balik gorden.


“Udah setengah sebelas Yang, makan dulu yuk, Abang udah siapin.”


“Em Ica masih ngantuk,” rengek Aisha manja.


“Ayo makan dulu, kita kan butuh tenaga buat sesi selanjutnya,” goda Faris yang sontak membuat Aisha membuka matanya dan menampilkan senyum tercantiknya.


Dengan telaten Faris menyuapkan makanan secara bergantian untuk dirinya dan Aisha, hingga makanan tandas Aisha tetap dalam posisinya.


Sedangkan Faris kembali beranjak untuk membenahi bekas makanan mereka dan membersihkannya.


Ketika kembali, dilihatnya sang istri yang sudah tak ada di pembaringan. Terdengar bunyi gemericik air dari kamar mandi, mungkin istrinya tengah membersihkan diri. Faris menunggu sang istri dengan memainkan ponselnya, mengecek beberapa pekerjaannya di perusahaan juga di Rumah Sakit.


Tak selang berapa lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aisha yang tampak sangat mempesona hanya dengan berbalut handuk putihnya.


“Lagi ngapain Bang?” tanya Aisha sambil memilah-milih pakaian untuk dikenakannya.


“Nggak ada Yang, cuma cek kerjaan aja,” jawab Faris santai.


Aisha hanya manggut-manggut dan hendak kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya. Tiba-tiba pegangannya pada pintu kamar mandi terlepas saat Faris dengan sigap menutup kembali pintu di depannya dan merengkuh tubuh indah Aisha dari belakang.


“Nggak usah dipake, Ica makin cantik kalo gini,” bisik Faris mengambil pakaian yang hendak dikenakan Aisha. Jangan lupakan bibirnya yang sejak tadi sudah menyusuri leher jenjang sang istri, membuat Aisha hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya.


Tanpa menunggu jawaban Aisha, Faris segera mengangkat sang istri kembali ke pembaringan, tempat yang sudah menjadi favorit Faris untuk acara honeymoon mereka saat ini.


Dengan gagahnya Faris kembali menebarkan benihnya pada ladang sang istri, dengan bibir yang terus saja bertasbih merapalkan doa-doa kebaikan, berharap benihnya berhasil bersarang dan tumbuh berkembang.


Hari ini, hari pertama mereka di Turki, entah sudah berapa kali Faris dan Aisha bergelung di bawah selimut. Kegiatan mereka sepanjang hari hanya seputar kamar mandi, ranjang tidur dan dapur.


***


Waduh bener-bener the real of honeymoon ya Babang Faris sama Yayang Ica nih🤭 hajar terus Bang! pantang nyerah sebelum jadi 🤣


Itu neng Ayla ribut banget deh 😌 padahal Gus Hasannya juga kalem aja kayaknya😂


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya


buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2