
“Huh ….” Aisha membanting tubuhnya terlentang di atas kasur, rasanya ia baru bisa bernapas lega setelah sang ibu kembali.
“Sayang, baru aja makan nggak boleh langsung rebahan,” cegah Faris mencoba menarik lengan istrinya.
“Ih bentaran doang Abang, Ica tuh lagi ngumpulin nyawa dulu gara-gara panik ada Ibu tadi,” elaknya tetap pada posisinya.
Faris mendudukan dirinya di tepi ranjang, di samping tubuh istrinya.
“Oh jadi nyawanya belum terkumpul nih? Kayaknya tadi makanan yang Ibu bawa nyampe nggak bersisa deh, nyubit Abang juga udah kenceng banget,” goda Faris membuat sang istri bangkit.
Aisha langsung membulatkan netranya tajam, membuat Faris bergidik ngeri.
“Hah Abang!” serunya membuat Faris terkejut.
“Kenapa Sayang?”
“Kita kan mau jalan-jalan ih, tuh kan gara-gara Abang jadi kesiangan nih. Kan panas tau,” keluh Aisha menyebikkan bibirnya.
“Idih kok Abang sih? Kan Ibu yang tiba-tiba dateng yey.”
“Tapi kan kalo aja tadi pagi nggak tidur dulu dan langsung mandi, kan jatohnya nggak siang banget. Sekarang kita sama-sama belum mandi nih, apalagi Abang mandinya seabad lagi.”
“Makanya mandinya bareng biar cepet,” bisik Faris membuat sang istri merona.
“Dih mana ada mandi bareng sama Abang cepet?” Aisha langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi sebelum sang suami beraksi kembali.
“Sayang!” Aisha yang bisa mendengar dari kamar mandi tersenyum sendiri membayangkan wajah kesal suaminya yang justru terlihat semakin manis.
Tak selang beberapa lama Aisha keluar dari kamar mandi, namun masih lengkap dengan pakaiannya juga tidak ada tanda-tanda ia telah selesai mandi.
“Bang,” panggilnya lirih menghampiri sang suami.
“Ya Allah Sayang, kamu mau goda Abang pake baju kayak gitu?” Faris yang tengah memainkan ponselnya sontak mengusap dadanya saat melihat Aisha menghampirinya mengenakan kemeja tanpa mengaitkan kancingnya satu pun.
“Ih Abang mesum terus deh. Ica mau minta tolong, kan perbannya belum diganti pake yang anti air. Nah Ica mana bisa pake sendiri,” rengeknya menyodorkan perban anti air pada sang suami.
“Huh lagian sok mau lari dari Abang, ujung-ujungnya butuh juga kan.”
“Iya iya deh maaf ya suamiku,” bujuknya bergelayut manja pada Faris.
“Sini Abang bantu.”
Dengan lihai Faris membuka perban itu, mengolesi lukanya kembali dengan antibiotik dan kembali memasangkan perban anti air seperti permintaan sang istri.
***
Drrrttt … drrrttt, ponsel Gus Hasan berdering tepat setelah ia menyelesaikan mandinya dan berpakain. Sudah bisa ia tebak siapa yang meneleponnya.
“Assalamualaikum,” sapa Gus Hasan menempelkan ponselnya pada telinga.
“Waalaikumsalam, aku udah di depan nih. Keluar dong! Apa aku yang masuk?”
“Gila kamu ya, aku keluar!”
Gus Hasan segera melangkah keluar setelah memutus sambungan teleponnya.
Terlihat Ayla yang tengah berdiri bersandar pada mobilnya di depan asramanya menjadi pusat perhatian pria-pria di asramanya, bukan hanya karena Lamborghini Gallardo-nya yang terlihat mencolok, pasalnya itu adalah asrama khusus pria, karenanya jarang sekali ada pemandangan seperti itu.
“Hay,” serunya sambil mengacungkan sebuah totebag saat melihat Gus Hasan berjalan ke arahnya.
__ADS_1
“Apaan nih?”
“Jaket kamulah.”
“Kan aku bilang nggak usah, tapi ya udah sih, thanks.” Gus Hasan yang merasa sudah selesai hendak berbalik ke asramanya, namun Gerakan Ayla lebih cekatan di luar dugaannya.
“Eits tunggu dulu dong,” sergah Ayla menghentikan langkah Gus Hasan.
“Apalagi? Udah selesai kan?”
“Ini salju pertama sejak kamu di Turki kan?”
“Terus?” Gus Hasan masih tak mengerti arah pembicaraan Ayla.
“Terus kamu mau lewatin gitu aja dengan cuma tiduran di asrama gitu?”
“Terus harus gimana?” Hawa dingin benar-benar menusuk hingga ke tulangnya, membuat Gus Hasan tak bisa untuk tak menggosok-gosokkan telapak tangannya melawan dingin.
“Kita keliling Istanbul yuk? Mumpung touris lagi sepi juga kalo musim dingin kayak gini. Aku jadi tour guide kamu deh, gimana?”
Tanpa menjawab apapun, Gus Hasan malah hendak kembali berbalik.
“Ih ngomong kek kalo ngga mau, main pergi-pergi aja!” tutur Ayla tampak kesal. Bagaimana bisa ada pria sedingin es seperti itu.
“Kamu ngajak jalan-jalan kan? Ya aku mau ambil mantel dulu lah, aku nggak mau mati kedinginan yah,” jawab Gus Hasan segera berlari ke asramanya, meninggalkan Ayla dengan senyumannya.
***
Drrrttt … drttt …. Ponsel Faris yang tergeletak di atas nakas berdering saat Aisha tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias sembari menunggu Faris yang belum selesai dengan ritual mandinya.
Aisha mencoba mengangkat panggilan di ponsel suaminya yang tertulis nama Roger sebagai pemanggil. Perlahan ia tempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Bang Farisnya lagi di kamar mandi, Roger,” jawab Aisha hati-hati.
“Mohon maaf Nyonya, saya akan telpon kembali nanti.” Tanpa menunggu jawaban Aisha, Roger langsung menutup sambungan panggilan. Terdengar ada nada gugup pada penuturannya.
“Pelaku apa yah? Kok Abang nggak cerita sih sama aku? Terus kenapa tadi Roger kayaknya gugup banget waktu tau aku yang ngangkat teleponnya? Apa ada sesuatu yang aku nggak tahu dari Abang?” Rentetan pertanyaan berpusat di kepala Aisha setelah panggilannya dengan Roger baru saja.
“Sayang?” Kemunculan Faris seketika mengagetkan lamunannya.
“Ada apa?” tanya Faris yang melihat ponsel dalam genggaman sang istri.
“Abang nggak ada yang mau dijelasin ke Ica?” tiba-tiba raut Aisha berubah.
“Tentang?” Faris tak mengerti kemana arah pembicaraan sang istri.
“Barusan Roger nelpon, katanya dia udah nemuin pelakunya. Pas tau aku yang ngangkat teleponnya langsung dia matiin. Sebenernya pelaku apa Bang? Ada yang Abang sembunyiin?”
“Bentar, sini handphone Abang,” pintanya tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
Ia langsung menjauh dari Aisha, menempelkan ponsel itu pada telinganya, sepertinya ia tengah memanggil seseorang. Mungkin Roger, untuk memastikan.
Faris berbalik saat selesai dengan panggilannya, dilihatnya istrinya yang terlihat murung duduk di depan meja rias tengah mengeringkan rambutnya.
Tiba-tiba tubuh Aisha menegang saat merasakan hembusan hangat di ceruk lehernya. Ya, suaminya memeluknya dari belakang, menumpu kepalanya pada bahu Aisha menikmati aroma sabun yang masih sangat menyengat.
“Ada sesuatu yang Ica nggak boleh tau?” tanya Aisha tanpa menoleh, namun tatapan mereka saling bertemu di cermin.
“Sayang, semua yang ada dalam hidup Abang Ica berhak tau, dan Abang nggak pernah nyembunyiin apapun dari Ica. Abang nggak pernah nganggep Ica orang lain, karena memang Ica segalanya buat Abang,” tutur Faris menatap lekat iris cantik dari pantulan cermin.
__ADS_1
“Terus tadi apa? Kok Roger keliatannya gugup banget?”
“Abang emang pesen sama Roger supaya Ica jangan sampe tau tentang ini. Abang nggak mau Ica khawatir. Tapi malahan Ica udah tau duluan, ya udah deh nanggung. Dan tadi tuh emang iya Roger ngabarin kalo dia udah dapet siapa pelaku yang ngirimin email foto ke Azka.”
“Oh iya, kok Ica nggak kepikiran yah Mas Azka dapet foto itu dari siapa. Terus katanya siapa pelakunya Bang?” tanyanya penasaran.
Bukan menjawab Faris justru semakin mendekatkan wajahnya, membuat Aisha sontak membulatkan netranya.
“Ih apa sih Abang,” protesnya menjauhkan kembali wajah suaminya.
“Pengen tau kan siapa pelakunya?” tanyanya semakin mendekatkan wajah itu.
“Tapi nggak usah modus juga Abang.”
“Dih sama istri sendiri juga dibilang modus.” Faris menegakkan kembali tubuhnya, berlagak merajuk pada sang istri.
Cup, secepat kilat Aisha mengecup pipi suaminya dan kembali duduk di depan mejanya, membuat Faris tersenyum penuh kemenangan.
“Pelakunya adalah Sofia.”
“Hah!” Aisha membulatkan netranya sempurna.
“Motifnya apa coba ngirimin foto ke Mas Azka pas kejadian kita waktu itu?” tanya Aisha tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Pastinya satu. Dia pengen buat rumah tangga kita berantakan dengan ngadu domba masa lalu Ica, yaitu Azka. Dan terbukti Azka nggak diem aja setelah dapet email itu, karena emang perasaan Azka buat Ica masih tetep sama.”
“Tapi gimana caranya Mba Sofi bisa dapet semua itu? Bukannya waktu itu nggak ada siapapun kecuali dari pihak kita dan Wirawan ya Bang?”
“Nah itu yang Abang lagi cari tau, padahal kan waktu itu Abang udah nyuruh white evil buat blokir jalan, jadi nggak mungkin ada orang lain tau. Tapi ada dua kemungkinan. Mungkin Sofia punya mata-mata diantara orang-orang Wirawan, atau juga dia emang udah kerja sama dengan Wirawan buat semua ini,” papar Faris mengungkapkan asumsinya.
“Kayaknya opsi yang kedua nggak mungkin sih Bang, Wirawan keliatan cinta mati tuh sama Mba Sofi, buktinya dia nyampe nyerang kita kan.”
“Kenapa nggak mungkin Sayang? Orang kalo udah dikuasai nafsu pasti akan menghalalkan segala cara. Mungkin dua-duanya baik Sofi atau pun Wirawan emang dendam sama Abang, jadi mereka kerja sama buat nyelakain Abang.”
Tiba-tiba Aisha bangkit dan menubruk suaminya, mendekapnya erat seolah tak ingin kehilangan.
“Apapun itu, Abang harus selalu hati-hati ya Bang. Ica nggak mau Abang kenapa-kenapa.”
“Sayang, Ica nggak perlu khawatirin Abang. Justru sekarang Abang yang khawatir sama Ica, karena mereka pasti ngincer Ica buat nyerang Abang.”
“Kenapa ya Bang mereka bisa seremeh itu dengan nyawa orang? Padahal kita mati-matian menyelamatkan setiap nyawa untuk tetap hidup,” tutur Aisha sendu dalam dekapan sang suami.
“Tapi Ica jangan takut yah, Allah selalu bersama kita. Abang juga akan selalu ngelindungi Ica lebih dari apapun, bahkan diri Abang sendiri.” Aisha mengangguk dalam dekapan itu.
“Udah ah ayo, jangan sedih-sedih kayak gini. Katanya mau jalan-jalan, nanti tambah siang jadinya,” tutur Faris mengusap pelan pipi istrinya yang sudah basah.
Aisha tersenyum, lalu membisikkan sesuatu di telinga Faris.
“Kalo mau solat dhuha jangan lupa wudu lagi,” goda Aisha membuat Faris bersemu merah karena mengingat Aisha yang baru saja mengecup dan memeluk dirinya.
“Dih Ica juga lah.”
“Ica mah udah solat yey,” godanya tersenyum penuh kemenangan.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1