Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kamu tidak baik-baik saja


__ADS_3

Flashback on 


Rembulan masih belum nampak walau malam semakin beranjak menyelimuti setiap makhluk di bumi dengan kegelapannya.


Seorang wanita tengah tergopoh menjalankan sendiri kursi rodanya menyusuri lorong Rumah Sakit yang masih tampak ramai, lajunya terhenti di depan meja resepsionis.


“Mba, istri Dokter Faris dirawat di ruang mana ya?”


Resepsionis cantik itu terlihat membuka-buka daftar hadir di atas meja.


“Bu Aisha di rawat di VIP room ruang paling ujung sebelum lorong sebelah utara Mba,” jawab resepsionis dengan ramah.


Dengan segenap tenaga yang terkumpul, wanita itu memutar haluan kursi roda yang ditumpanginya. Nampak dari kejauhan dua orang berbusana rapi serba hitam berjaga di depan ruang VIP yang diyakini ada Aisha di dalamnya.


Laju kursi rodanya terhenti saat kedua pria itu menghadangnya tepat sebelum ia membuka pintu di depannya.


“Nyonya Aisha sedang istirahat, tidak boleh diganggu.” Suara bariton itu cukup mengejutkannya.


“Sebentar saja Pak, saya cuma ingin melihat keadaan teman saya,” alibi Sofia pada kedua pengawal Aisha.


“Baiklah, jangan terlalu lama.”


Sofia mengangguk lalu segera masuk menghampiri Aisha.


“Mba Sofi.” Aisha bangkit dari tidurnya saat mengetahui siapa yang masuk.


“Maaf ya aku mengganggu istirahatmu.”


“Nggak kok Mba.” Hal itu membuat Sofia memberanikan dirinya untuk semakin mendekati Aisha. ia menghentikan kursi rodanya tepat di samping blankar Aisha, tangannya meraih jemari Aisha.


"Apa suamiku mengatakan sesuatu pada kalian?"


Aisha hanya mengangguk dan mengulas senyumnya.


“Aku sungguh minta maaf Sha, karena masalahku kamu harus mengalami semua ini. Andai aku bisa memilih pada siapa aku jatuh cinta, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak merasakan cinta.”


Aisha mendongakkan wajahnya, menatap langsung manik mata Sofia yang juga tengah menatapnya sendu.


“Cinta itu fitrah Mba, jangan menyalahkan diri Mba karena sesuatu yang nggak bisa Mba atur.”


“Kalo gitu bisakah kamu berbagi suami denganku? Aku mohon Sha, berbagilah padaku ….”


Aisha menarik jemarinya dari genggaman Sofia, tatapannya kosong beralih pada sinar rembulan yang mengintip dari balik celah jendela, pandangannya mengabur oleh air yang menggenang di pelupk matanya.


“Aku tau kamu wanita berhati mulia Sha, tolong berbagilah sedikit kebahagiaanmu buatku.” Sofia kembali membawa jemari Aisha yang mulai bergetar ke dalam genggamannya, memohon dengan terisak pada Aisha yang juga mulai meneteskan bulir bening dari sudut matanya.


“Kita sama-sama wanita, jadi aku mohon sedikit kemurahan hatimu Sha.”


Hening beberapa saat tak ada jawaban, sungguh saat ini Aisha merasa hatinya seperti disayat-sayat oleh tajamnya pedang. Tapi ia tak bisa menyalahkan siapapun, karena cinta adalah fitrah, ia datang tanpa bisa memilih pada siapa.


“Aku butuh waktu Mba.”


Sofia mendongakkan wajahnya, ada setitik harapan yang kini membuatnya berbinar.

__ADS_1


Flashback off


“Ca, becandanya nggak lucu Sayang.” Faris kembali menyiapkan makanannya.


“Ica sungguh-sungguh Bang.” Bulir bening berhasil lolos bersamaan dengan kalimat yang ia lontarkan.


Faris menghentikan kegiatannya, ia mendekat ke arah istrinya dan mendudukan diri di sisi ranjang.


“Lebih baik Ica bunuh Abang dari pada Ica minta sesuatu yang nggak akan pernah mungkin Abang lakuin.”


Aisha mengulas senyumnya, senyum hambar yang terlihat di paksakan.


“Tasya butuh sosok ayah seperti Abang.”


“Bukan kayak gini caranya Ca.” Faris mengusap wajahnya gusar.


“Bukankah dengan kayak gini, surga yang akan Ica dapatkan jika Ica ridho?” tatapannya penuh harap.


“Apa surga seperti ini yang Ica rindukan?”


Aisha mengangguk lemah, dari sudut matanya berhasil membuat parit yang semakin menganak sungai.


Faris bangkit dari duduknya, tak percaya pada reaksi istrinya yang baru saja ia saksikan.


“Sedangkal itu cinta Ica buat Abang sampe Ica bisa membiarkan orang lain masuk di antara kita?” nada Faris meninggi menahan kecewa.


“Ica cuma nggak mau ada yang terluka.” Dadanya kini terasa sangat sesak, ada sesuatu yang seperti mengiris ulu hatinya.


“Apa menurut Ica dengan begini Abang nggak terluka? Ica nggak terluka? Dan lagi Sofia yang mungkin nantinya terdzolimi karena Abang nggak bisa membagi cinta. Menolong orang lain tak harus mengorbankan diri sendiri Ca!”


“Tapi Abang bukan Rosul yang bisa bersikap adil dalam urusan perasaan. Memenangkan hati Ica bukanlah sesuatu yang mudah, tapi kenapa Ica justru dengan mudahnya bisa menggadaikan kebahagiaan yang sudah susah payah Abang perjuangkan?” tubuh Faris luruh ke lantai, bersandar pada sisi jendela. Terlihat dadanya naik turun menyiratkan kekecewaan.


“Setiap orang punya caranya sendiri dalam mencintai, begitupun meminimalisir luka.” Aisha mengalihkan pandangannya ke luar jendela, nyeri di dadanya semakin sesak terasa.


“Tapi cinta itu tentang dua orang yang sama-sama berjuang, karena berjuang sendirian udah pasti sangat melelahkan.” Faris beranjak pergi dari kamar Aisha, ia takut tak bisa mengendalikan diri dan justru akan menyakiti Aisha.


“Siapa yang masuk sebelum saya datang?” tanya Faris pada kedua pengawalnya yang masih berjaga di depan ruangan.


“Seorang wanita dengan seragam pasien dan kursi roda Tuan, dia bilang dia temannya Nyonya, jadi kami mengijinkan.”


Faris meremas rambutnya kasar, kepalan tangannya menguat, ia tahu siapa seseorang yang sudah mempengaruhi pikiran istrinya.


***


Aisha mendongakkan wajahnya saat suaminya kembali membukakan pintu kamar, tapi kali ini sembari menuntun ibunya yang terlihat cemas karena keadaannya.


Jelas sekali Aisha menyambut kedatangan sang ibu dengan wajah gembiranya, Faris terkagum dengan sang istri yang pandai sekali berkamuflase. Lihat saja, senyum dan raut wajahnya saat ini seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.


“Ibu, Aisha kangen banget sama ibu,” selorohnya langsung memeluk erat sang ibu.


“Sekarang gimana kondisi kamu Nak? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Maya cemas.


“Aisha nggak apa-apa ibu, nih Aisha udah baik-baik aja,” tuturnya menampilkan senyum indahnya.

__ADS_1


“Ini semua salah Faris Bu, nggak seharusnya Faris biarin Aisha ikut tadi pagi. Maaf Bu, Faris nggak bisa jagain Aisha dengan baik.” Tiba-tiba Faris memeluk tubuh ibu mertuanya yang mulai merenta, seperti seorang anak yang mencari keteduhan. Baru kali ini Aisha melihat Faris selemah itu.


Aisha sendiri tengah tidak baik-baik saja saat ini, pikirannya masih kalut oleh setiap keputusan yang ia ambil. Sebagai sesama wanita, Aisha paham betul bahwa keegoisan Sofia saat ini karena dirinya tengah rapuh. Dia butuh seseorang untuk menemaninya agar tetap tegar.


Maya mengangkat pelan wajah anak mantunya, bak seorang ibu yang tengah menenangkan putranya ia membelai lembut wajah sendu Faris dalam dekapannya.


“Semuanya sudah tejadi, nggak ada yang perlu disalahkan di sini Nak. Yang penting sekarang Aisha baik-baik aja dan jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi ya.”


“Oh ya Aisha belum makan Bu, tadi Faris suapin belum mau. Mungkin kalo sama Ibu mau,” tutur Faris melepaskan pelukannya dan beranjak menyiapkan makanan untuk istrinya.


“Loh kok belum makan Sayang? Aisha kan lagi masa penyembuhan, makannya harus bener.” Maya mengambil mangkuk yang berisi sayur dari tangan Faris dan perlahan mulai menyuapkannya pada putrinya.


“Emm tadi emang belum pengen aja pas Bang Faris nawarin Bu,” alibi Aisha menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


Faris tiada henti melirik sang istri yang nampak baik-baik saja di depan ibunya, bahkan hingga nasi di mangkuk tandas tak bersisa.


“Ica baik-baik aja Bu, lebih baik Ibu pulang ya, Ibu jangan sampe kecapean, harus banyak istirahat ya.” Aisha tak mau membuat ibunya khawatir, apalagi jika sampai tahu bahwa kini dirinya dengan sang suami tengah tidak baik-baik saja.


“Aisha bener Bu, kan ada Faris di sini yang jagain Aisha,” imbuh Faris meyakinkan ibu mertuanya.


“Ya udah Ibu pulang, tapi kalo ada apa-apa langsung kabari Ibu ya.” Akhirnya Maya menyerah pada anak dan mantunya.


“Ya udah yuk, biar Faris yang anter,” tutur Faris beranjak.


“Nggak usah Nak, kamu di sini aja jagain Aisha. Ibu bisa pulang sendiri kok.”


“Faris nggak ngijini kalo Ibu pulang sendirian. Biar Faris suruh pengawal nganterin ya Bu?”


“Ya udah terserah kamu aja deh,” lagi-lagi Maya tak bisa untuk tak menyerah.


“Nah kalo gitu kan Faris jadi tambah sayang,” manjanya memeluk ibu mertuanya sebelum benar-benar beranjak.


“Cepet sembuh ya Sayang.” Maya mengecup sekilas puncak kepala Aisha dan Faris bergantian sebelum benar-benar pergi. Keduanya adalah harta yang paling berharga bagi Maya saat ini.


Faris kembali ke ruangan Aisha setelah mengantar ibu mertuanya ke mobil, sebagaimana pun kecewanya dirinya terhadap sang istri, ia tetap tidak akan tega mengabaikannya. Apalagi dalam kondisi Aisha saat ini.


Faris mengganti cairan infus Aisha yang terlihat sudah menyusut hampir habis, masih tanpa kata. Hatinya masih sesak oleh keputusan yang Aisha lontarkan.


“Bang …,” lirih Aisha mencekal lengan Faris yang hendak beranjak setelah mengganti cairan infusnya.


Faris hanya menoleh, sirat kekecewaan masih tercetak jelas di sana.


“Ica belum solat isya.”


Astaghfirullah, Faris mengusap dadanya sendiri, ia lupa jika tadi istrinya tengah menunggu bantuannya untuk menunaikan solat.


Aisha terisak dalam doa setelah solatnya, ia takut apakah keputusan yang sudah ia ambil adalah benar. Aisha hanya ingin semua orang bahagia tanpa ada yang terluka, tapi nyatanya belum sampai suaminya menyetujui permintaannya pun hati Aisha sudah sekalut ini.


Meski dalam lubuk hatinya yang terdalam Aisha ingin seperti Sayyidah Khadijah dan Fatimah yang tak pernah di madu hingga maut menjemput. Namun dengan segenap ketegaran yang ada, Aisha mencoba bertahan agar tak terlihat bahwa kini dirinya amat hancur. Jika Sayyidah Aisyah saja rela berbagi Rosululloh dengan istri yang lain, mengapa ia tidak?


Di sudut sofa, Faris menatap sendu punggung sang istri yang nampak bergetar karena isaknya, hatinya sakit melihat sang istri lagi-lagi menitikkan air mata pilunya. Dalam hati Faris berjanji, bahwa sampai kapanpun, apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah menghadirkan orang lain dalam rumah tangganya kecuali keturunannya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2