
Malam itu pukul 00.45 dini hari, sepulang dari Rumah Sakit dengan hati-hati Faris memasuki rumah ibu mertuanya dengan bergegas. Ya, malam ini ia dan istrinya menginap di rumah ibu mertuanya.
Khawatir akan membangunkan ibu mertuanya, Faris memelankan langkahnya menaiki tangga menuju kamar sang istri. Kamar itu masih terlihat terang, sepertinya Aisha belum terlelap, atau mungkin memang tengah menunggu dirinya.
Perlahan Faris putar gagang pintu dihadapannya setelah beberapa kali ucapan salamnya tak kunjung dijawab. Tampaklah Aisha yang tengah bersimpuh di atas sajadahnya dengan bersandar ke sisi ranjang, dan ternyata istrinya sudah terlelap dengan mushaf di tangannya.
Faris yang tak ingin mengusik tidur Aisha membuka perlahan mukena yang dikenakannya juga membereskan peralatan solat lainnya. Dengan hati-hati lengannya menelusup di balik tengkuk dan lutut Aisha, merebahkannya perlahan di atas ranjang.
“Sayang, Abang pinjem handphone Ica bentar yah,” bisiknya tanpa berniat membangunkan sang istri. Beruntung ponsel itu sudah tergeletak di atas nakas sehingga ia tak perlu repot-repot membuat kebisingan untuk mencarinya.
Faris bergegas keluar setelah mendapatkan ponsel itu, memeriksa catatan panggilan terbaru dan menyerahkannya pada seseorang di dalam Alphard hitam yang sudah menunggu di halaman rumah mertuanya.
“Buat nomor di sini nggak bisa dilacak siapapun,” ujar Faris saat memasuki Alphard hitam yang sudah terparkir itu dan menyerahkan ponsel istrinya pada seseorang yang dimaksud.
“Baik Tuan.” Tanpa menunggu lama, seseorang itu langsung berkutat dengan komputer dan peralatan lain yang sudah tersedia di dalam mobil.
Hanya butuh sepuluh menit seseorang itu sudah berhasil mengabulkan apa yang Faris perintahkan, membuat Faris kembali bergegas sebelum istri dan mertuanya menyadari apa yang ia lakukan.
Sampai di kamarnya, Faris segera meletakkan kembali ponsel Aisha seperti semula, membersihkan diri sebelum akhirnya menaiki ranjang turut bergabung untuk merebahkan diri di samping sang istri.
“Maaf ya Sayang, bukan maksud Abang nyembunyiin apapun dari Ica, Abang cuma nggak mau terjadi apa-apa sama Ica,” bisiknya mengecup puncak kepala Aisha sebelum benar-benar merebahkan diri dan terlelap.
***
Karina menimang-nimang ponsel dalam genggamannya, satu minggu terhitung sejak kejadian di Rumah Sakit waktu itu, tapi tak ada satu pun chatt dari Azka. Dugaannya selama ini salah, nyatanya Azka tak sepeduli itu terhadapnya.
Dengan mantap Karina membuka slot kartu SIM pada ponselnya, meraih salah satunya dan membuangnya pada tempat sampah di bawah ranjangnya. Baginya, untuk melupakan sesuatu maka ia harus melepaskan semuanya. Termasuk segala cara yang bisa kembali menghubungkan dengan sesuatu yang akan dihindarinya.
Beberapa kali Karina menghela napas berat, rasanya cukup lega mengikhlaskan sesuatu yang memang seharusnya diikhlaskan. Karena mempertahankan yang tak lagi sejalan hanya akan menunda patah hati sendirian. Memang tak mudah, tapi setidaknya ini demi ketenangan hatinya, demi kebahagiaannya, ia yakin semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan kembali berjalan apa adanya.
Karina melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya, lalu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap untuk rutinitasnya seperti biasa ke Rumah Sakit.
Sekitar empat puluh menit Karina selesai dengan rutinitas mandinya, ia mematut diri di depan cermin walk in closet-nya yang memantulkan seluruh bagian tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
Keputusannya untuk menutup aurat lebih rapat sudah bulat, mungkin selama ini hidupya terasa kosong karena masih ada salah satu kewajibannya sebagai Muslimah yang belum ia
__ADS_1
taati.
Ini adalah pertama kalinya ia tampil dengan pakaian sangat tertutup. Kemeja hitam dengan rok plisket hitam lebar sepanjang mata kaki menjuntai indah menutupi lekuk tubuhnya, ditambah Long cardi berwarna dusty pink semakin melengkapi keanggunan tampilannya.
Setelah menggelung dan menutupi rambutnya dengan dalaman hijab, ia meraih paper bag berwarna hitam dari dalam lemarinya, beberapa helai hijab pashmina panjang dengan aneka warna teronggok di dalamnya.
“Mungkin ini caraku melupakanmu Ka, dengan mebenahi diri menjadi lebih baik lagi. Terima kasih hadirmu sudah merubah duniaku.” Ada senyum yang terukir kala ia mengingat sang pemberi hijab itu, pria yang saat ini tengah dirinya usahakan untuk diikhlaskan.
Karina meraih salah satu hijab yang berwarna senada dengan *long*cardigan yang dikenakannya. Dengan keahliannya memodifikasi penampilan, untuk ukuran pemula seperti dirinya tampilan hijabnya tak terlalu mengecewakan, yang terpenting menutupi seluruh bagian auratnya.
Hijab pashmina panjang itu ia buat tak sama panjang, untuk bagian yang terpanjang ia lilitkan hingga ke atas kepalanya setelah ia kencangkan di bawah dagu dengan peniti yang membingkai wajahnya, sedangkan bagian yang pendek ia biarkan menjuntai menutupi dadanya seperti yang sudah ia pelajari ketika streaming di internet.
Karina tak menggunakan make up terlalu mencolok seperti yang biasa ia kenakan, hanya foundation berwarna natural yang dipadukan dengan lip matte berwarna nude juga *eye*shadow yang senada untuk menghidupkan matanya agar tak terlihat sayu.
Sepengetahuannya dari beberapa kajian yang ia dengarkan di internet, seorang Muslimah memang tak dianjurkan untuk bertabaruj atau dandan berlebihan. Cukuplah hanya untuk membuat wajahnya terlihat segar dan tidak pucat. Karena sejatinya kecantikan seorang Muslimah adalah akhlak dan tingkah lakunya yang penuh kelembutan.
Setelah puas dengan hasil karyanya, Karina melangkah mantap meraih tas kerjanya menuju ke garasi rumahnya, senyum pun tiada henti dari wanita yang tengah bermetamorfosa itu.
“Bismillah, mudahkan dan istiqomahkan niatku Ya Rabb,” lirihnya sebelum benar-benar melajukan mobilnya membelah padatnya jalanan kota Surabaya.
***
Ia mendudukan dirinya saat mendapati Faris di sampingnya terlihat gelisah dengan berganti-ganti posisi tidurnya.
“Abang kenapa?” tanya Aisha menyentuh lengan Faris dengan hati-hati.
“Hah?” Faris yang memang belum terlelap sepenuhnya terkejut saat membuka mata dan melihat Aisha sudah terduduk sambil menatapnya.
Aisha semakin mengerutkan keningnya saat pertanyaannya justru tak mendapati jawaban, khawatir suaminya marah karena ia justru tertidur dan tak menunggu hingga suaminya pulang.
“Abang baru pulang?” tanyanya setelah lebih dulu melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya.
“Emmm.” Faris hanya berdehem menganggukan kepala.
“Abang udah makan?” pertanyaan Aisha berlanjut saat suaminya terlihat gelisah.
__ADS_1
Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang Aisha dapati sebagai jawaban, lalu ia beranjak dari ranjang sambil mencepol rambutnya yang terurai.
“Ica mau kemana?” tanya Faris yang terlihat belum sepenuhnya sadar.
“Abang belum makan lagi dari sore kan? Mungkin laper makanya tidurnya gelisah, Ica buatin makanan dulu yah.”
Faris menggaruk pelipisnya yang tak gatal, ia memang terakhir makan tadi sore saat di North Quay. Jadwal operasi dadakan yang cukup padat membuatnya sedikit lupa dengan makan malamnya, ditambah ketika tahu bahwa Sofia masih saja mengganggu istrinya, ia segera bergegas pulang tanpa mengingat perutnya yang belum terisi apapun lagi.
Aisha melangkah ke arah rak bukunya, mengambil salah satu dari tumpukan-tumpukan buku di sana dan menyerahkannya pada sang suami.
“Abang bisa liat-liat itu sambil nungguin Ica. Cuma foto-foto Ica pas kecil sih,” tuturnya menyerahkan sebuah album foto pada Faris.
“Eh Abang mau Ica bikinin apa?” lanjutnya saat album itu sudah berpindah ke pangkuan sang suami.
“Apa aja deh,” jawab Faris segera.
Aisha hanya mengangguk paham sebelum akhirnya melengang pergi.
Setelah kesadarannya sepenuhnya terkumpul, Faris membuka album di tangannya yang mulai usang, di halaman pertama terdapat foto seorang pria paruh baya tampak gagah mengenakan jas dokternya, wajah yang menyiratkan ketenangan seperti yang kini Faris dapatkan pada diri Aisha. Di bawah foto itu tertulis ‘My great daddy’.
Tiba-tiba dada Faris terasa sesak membayangkan bagaimana rindunya Aisha pada sosok sang ayah, bahkan istrinya sama sekali tak pernah menatap langsung wajah itu.
“Assalamualaikum Ayah, ini Faris suami Aisha, putri kecil Ayah. Sekarang Aisha sudah tumbuh menjadi bidadari cantik Yah, mengikuti jejak Ayah menyelamatkan nyawa-nyawa di luaran sana. Faris janji akan selalu menjaga dan membimbing Aisha seperti yang Ayah harapkan.”
“Allohumaghfirlahum ….”
Tanpa sadar bulir bening terjatuh saat Faris bermonolog menatap gambar mendiang Ayah mertuanya, itu mengingatkannya pula pada mendiang kedua orang tuanya.
Di halaman-halaman berikutnya foto-foto masa kecil Aisha yang terlihat sangat menggemaskan dengan senyum indahnya bersama sang ibu. Beberapa foto ada juga yang bersama keluarga besarnya yang Faris lihat juga turut hadir di resepsi pernikahannya.
***
Bersambung ...
Mohon maaf atas keterlambatan update ya readers semuaaa ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...