
Pagi ini setelah membersihkan diri dan menunaikan solat subuh, Aisha kembali merebahkan tubuhnya di atas pembaringan, tanpa sadar netranya kembali terpejam pula. Mungkin karena ia cukup kelelahan menghadapi suaminya semalaman.
Faris menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya itu, lantas beranjak untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke Rumah Sakit seperti rutinitas biasanya.
Selesai bersiap, Faris menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk Aisha dan meletakkannya di atas nakas di samping ranjang mereka agar ketika istrinya itu terbangun ia bisa langsung menyantapnya. Faris pun segera bergegas berangkat bekerja setelah sebuah kecupan manis ia daratkan di kening mulus Aisha.
Hari ini Faris sengaja pergi bekerja tanpa membangunkan istrinya lebih dulu, ia cukup tahu diri karena telah membuat tidur istrinya itu tak nyenyak semalaman. Karenanya ia biarkan agar Aisha beristirahat tanpa harus bersusah payah menyiapkan kebutuhannya sebelum bekerja.
Cukup lama setelah keberangkatan Faris, Aisha mulai mengerjapkan netranya, tangannya meraba-raba sisi lain di samping tubuhnya. Netranya langsung terbuka begitu mendapati tempat suaminya itu kosong.
Ketika hendak bangkit dari pembaringannya, Aisha mendapati sepotong sandwich lengkap dengan segelas susu di atas nakas di samping ranjang tidurnya, sekuntum mawar putih tergeletak di sampingnya dengan sebuah catatan kecil pada tangkainya.
‘Morning Sayang … maaf yah Abang langsung berangkat tanpa bangunin Ica dulu ☹ kayaknya Ica cape banget setelah pergulatan kita semalam :D jadi Abang nggak tega deh banguninnya … jangan lupa dimakan ya sarapannya Sayang. Love you 😊’
Aisha menghirup dalam-dalam aroma mawar di tangannya setelah membaca catatan kecil yang suaminya tinggalkan, sudut bibirnya tersungging indah seindah bunga mawar dalam genggamannya.
“Huek ….” Tiba-tiba Aisha merasa kembali mual seperti hari-hari sebelumnya ketika ia hendak meraih sandwich di atas piring.
Belum sempat perutnya ia isi apapun malah kini justru ia keluarkan seluruh isinya yang tersisa. Mual di pagi hari benar-benar menyiksanya karena tak ada asupan membuat perutnya semakin terasa nyeri.
“Bi Asih ….” Aisha memilih untuk turun ke dapur dan menyapa Bi Asih juga beberapa pelayan yang tengah berkutat di sana.
“Eh iya Nyonya? Ada yang bisa Bibi bantu?” Bi Asih juga pelayan yang lainnya segera menghentikan kegiatannya begitu mengetahui Nyonya muda mereka berada di sana, semuanya menunduk takdim pada Aisha yang justru selalu meras tak nyaman diperlakukan seperti itu.
“Em Aisha pengen diajarin bikin wedang jahe Bi.”
“Nyonya ingin wedang jahe lagi? Biar Bibi buatkan saja Nyonya.” Bi Asih justru segera berkutat dengan bahan-bahan untuk membuat wedang jahe membuat Aisha mau tak mau hanya mengangguk sambil duduk di depan mini barnya memperhatikan kegiatan Bi Asih.
“Apa Nyonya merasa mual-mual lagi?” Bi Asih bertanya dengan tetap fokus pada kegiatannya.
“Iya Bi, sejak pulang honeymoon kok kayaknya badan Aisha kurang nyaman gitu, Aisha sering mual-mual terus setiap pagi, apalagi kalo nyium bau-bau yang lumayan menyengat, perut rasanya udah kayak diaduk-aduk Bi.” Tanpa sadar Aisha jutru menceritakan segala yang dialaminya.
__ADS_1
Bi Asih segera menghentikan kegiatannya dan menyerahkannya pada pelayan lain di sampingnya, ditariknya tangan Nyonya mudanya hingga Aisha turut bangkit dan mengikuti langkah Bi Asih yang tidak yahu kenapa justru membawanya ke sudut ruangan.
“Maaf Nyonya, bukan maksud Bibi lancang … apa tidak sebaiknya Nyonya cek dengan alat tes kehamilan? Tanda-tanda yang Nyonya alami persis sekali dengan orang yang sedang hamil muda.” Bi Asih sedikit berbisik agar tak sampai didengar yang lainnya.
Seketika Aisha mencerna perkataan Bi Asih yang mungkin ada benarnya juga, karena tidak mungkin jika dirinya hanya mengalami jet lag sampai beberapa hari seperti ini.
“Bibi yakin? Aisha takut Bi, takut hasilnya nggak sesuai harapan.” Terlihat raut cemas tercetak di wajah ayu Nyonya muda itu.
“Kita manusia tugasnya berusaha, dicoba saja dulu Nyonya, masalah hasil biar Sang Maha pemberi kehidupan yang atur.”
Tiba-tiba Bi Asih mengeluarkan sebungkus alat tes kehamilan yang sudah dibawanya di balik saku celemek yang dikenakannya dan memberikannya pada Aisha.
“Bibi bahkan udah siapin semuanya? Ya Allah Bi … Aisha sendiri aja nggak yakin.”
“Bismillah Nyonya, apapun hasilnya, dicoba dulu.” Bi Asih tak henti-hentinya menyemangati Nyonya mudanya.
Hingga akhirnya Aisha pasrah dan masuk ke dalam kamar mandi sesuai arahan dari Bi Asih. Meski bukan air seni pertama di pagi hari yang orang bilang akan lebih akurat, tapi Aisha adalah seorang tenaga medis, setidaknya ia paham betul apakah persepsi itu benar adanya secara medis atau hanya hisapan jempol belaka.
Aisha menghela napasnya gusar, perlahan ia mengintip dengan ekor matanya pada benda pipih yang masih tergeletak di atas wastafelnya.
Hingga dua garis merah semakin tercetak jelas pada benda pipih itu, membuat Aisha terpekik hingga menutup mulutnya sendiri, air mata sudah lolos berjatuhan turut bahagia dengan hasil yang ditunjukkan oleh indra penglihatannya yang langsung di respon oleh otak cantik di kepalanya.
Ucapan hamdalah tak henti-hentinya ia rapalkan, akhirnya Tuhannya memercayai dirinya dan sang suami untuk merawat seorang nyawa.
Seketika Aisha teringat dengan celotehan suaminya semalam, setelah kegiatan manis mereka Faris sering sekali mengelus juga mengecupi perut Aisha yang masih terlihat rata.
“Papi tunggu kehadiranmu di sini ya Sayang.” Faris berujar tepat di depan perut Aisha sambil mengecupinya.
“Dan ternyata kamu beneran udah hadir di rahim Mami, Sayang. Papi pasti seneng banget kalo tau kamu udah ada di sini.” Aisha menunduk berbicara pada perutnya sendiri, tepatnya pada nyawa yang mulai tumbuh di rahimnya.
Aisha meraba-raba pinggangnya yang kini lebih terasa padat berisi, ia merutuki kebodohannya karena selama ini tak sadar akan perubahan pada dirinya sendiri, padahal ia adalah seorang tenaga medis yang seharusnya paham tentang hal selumrah ini, tapi apalah daya dirinya yang benar-benar tak berpikir sejauh itu.
__ADS_1
Aisha segera melangkah keluar kamar mandi dan mencari kalendernya, ia baru sadar jika dirinya mengalami menstruasi terakhir ketika hendak berangkat ke tanah suci, yang berarti bulan yang lalu ia benar-benar tak mendapati menstruasi.
“Pantes aja semalem waktu Abang main, perut aku rasanya agak sedikit kram.” Aisha bergumam lantas beralih kembali mengelusi perut ratanya.
“Semoga kamu baik-baik aja di dalem ya Sayang. Maafin Papi karena semalem sedikit kasar waktu jengukin kamu, tapi kalo dia tau pasti Papi bakalan sayang banget sama kamu, dia pasti bakalan jagain kita terus Nak.”
Rasanya hari ini dunia terasa indah sekali bagi calon ibu muda yang sejak tadi terlihat selalu memeluk perutnya sendiri yang masih rata, ia bahkan tak henti-hentinya berbincang dengan calon buah hati di peutnya itu.
Aisha melangkah keluar menghampiri Bi Asih dan langsung saja memeluk tubuh yang mulai merenta itu hingga Bi Asih cukup terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari Nyonya mudanya.
“Bibi makasih ya … mungkin kalo Bibi nggak nyaranin kayak tadi, Aisha nggak nyadar-nyadar kalo calon anak kami udah tumbuh di perut Aisha.” belum sempat Bi Asih bertanya, ternyata Nyonya mudanya sudah lebih dulu bercerita. Bi Asih pun benar-benar turut Bahagia dengan apa yang didengarnya.
“MasyaAllah … Bibi ikut seneng dengernya ya Nyonya, itu rejeki.” Bi Asih kini berbalik dan membalas pelukan Nyonya mudanya yang sejak tadi memeluknya dari belakang.
“Tapi Bibi jangan bilang siapa-siapa dulu ya Bi, Aisha mau kasih kejutan buat Abang.” Aisha berujar dengan senyuman yang sejak tadi benar-benar tak pernah memudar.
“Siap Nyonya, Bibi akan tutup mulut rapat-rapat,” ujar Bi Asih kembali meraih Aisha ke dalam pelukannya.
‘Terima kasih ya Allah … akhirnya Kau percayakan titipan-Mu padaku dan Abang. Semoga kami bisa menjaga amanah-Mu dengan baik. Tegurlah kami selalu jika kami lalai ya Allah. Aku berjanji akan menjaga dan menyayangi anakku lebih dari nyawaku sendiri. Semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik yang berhasil mendidik keturunan kami dengan sebaik-baiknya.’
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1