
“Sekarang bagaimana Sha? Apa dengan tinggal di sini kamu udah merasa lebih baik sekarang?" tanya Ning Sabina ketika sedang menghampiri Gus Fakih yang tengah bermain ditemani oleh Aisha.
“Alhamdulillah Ning, setelah mondok Aisha merasa jauh lebih baik. Mungkin Ning memang benar, berharap adalah sesuatu yang tak pasti, apalagi kepada manusia.”
“Jadi?" tanya Ning Sabina.
“Saat ini Aisha hanya sedang berusaha agar ikhlas Aisha seluas lautan.”
“Mba salut sama kamu Sha, kamu bisa bangun dan berusaha agar tidak terbelenggu dengan masalalu. Semoga Alloh selalu mempermudah langkah Aisha ya.”
“Aamiin, terima kasih ya Ning, selama ini Ning selalu membantu saya untuk terus melangkah maju. Jujur saya sempat putus asa Ning.”
“Mba hanya perantara dari Allah, mungkin memang sudah saatnya Aisha untuk meneguk hidup baru tanpa terbelenggu masalalu.”
“Umi! Fakih makannya udah habis," celoteh Gus Fakih yang ternyata sudah menghabiskan makanannya sendiri ketika Ning Sabina dan Aisha tengah asyik berbincang.
“Masya Allah pinter sekali anak umi," jawab Ning Sabina memuji putranya.
“Oh ya Ning hari ini kan jadwal Gus Hasan untuk melepas jahitan," tutur Aisha mengingatkan.
“Oh ya sudah kamu langsung ke ndalem aja, sepertinya tadi Gus Hasan juga ada.”
“Nggeh Ning, kalo gitu Aisha permisi.”
***
“Assalamualaikum," ucap Aisha yang dijawab oleh Gus Hasan, Nyai Hamidah, dan Kiyai Safar yang tengah berkumpul di ruang tengah.
“Sekarang jadwalnya buka jahitan ya Aisha?" tanya Gus Hasan menghampiri Aisha yang masih mematung di depan pintu.
“Nggeh Gus," jawab Aisha canggung.
“Coba dibukanya disini ya Sha, Pak Kyai pengen liat langsung katanya," tutur Nyai Hamidah dari ruang tengah.
Aisha berjalan mengikuti langkah Gus Hasan menuju ruang tengah yang sudah ada Nyai Hamidah dan Kyai Safar di sana. Jujur Aisha merasa amat canggung harus berada diantara mereka. Siapalah Aisha jika dibandingkan dengan mereka keluarga gawagis.
Aisha mulai membuka balutan perban dengan hati-hati setelah lebih dulu meyiapkan set angkat jahitan steril, lalu bekas-bekas plester ia bersihkan dengan kapas bensin.
Setelah mendisinfeksi sekitar luka dengan kapas alkohol dan mengolesi luka dengan betadine, Aisha mulai melepaskan jahitan satu persatu secara selang seling.
Lagi-lagi Gus Hasan hanya bisa menggigit sorbannya sendiri untuk menahan ngilu ketika Aisha menjepit simpul jahitan dan menariknya lalu menggunting benang dibawah simpul yang berdekatan dengan kulit.
Nyai Hamidah dan Kyai Safar pun sudah bergidik ngeri melihat Aisha dngan lihai menarik benang jahitan pada luka putranya.
“Jadi dokter itu harus berani ya Sha," tutur Kyai Safar yang sudah memejamkan matanya tak sanggup melihat lagi apa yang dilakukan Aisha.
Aisha hanya tersenyum menanggapi ucapan Kyai Safar.
__ADS_1
“Kamu ndak ada rasa ngeri gitu Sha, selalu berhadapan dengan luka-luka seperti itu?" kini Nyai Hamidah yang tampaknya penasaran dengan keberanian seorang dokter.
“Awalnya saya juga merasa ngeri Bu Nyai, tapi ya mau bagaimana lagi, sebagai seorang dokter keselamatan pasien adalah yang utama. Maka kami harus mengesampingkan dulu perasaan sendiri," jawab Aisha takdim.
Selesai mengangkat semua benang jahitan, Aisha mengolesi luka dan sekitarnya dengan betadine lalu menutup luka kembali dengan kassa kering dan plester.
“Oh ya Sha, setelah ini Pak Kyai dan Bu Nyai mau ada yang dibicarakan sebentar sama Aisha, bisa?" tanya Nyai Hamidah ketika Aisha tengah membereskan peralatan medisnya.
“Nggeh Bu Nyai bisa," jawab Aisha takdim.
“Kalo gitu Hasan mau keliling ngecek santri dulu nggeh Bah," pamit Hasan memberi ruang untu Abah dan Uminya berbincang dengan Aisha.
“Yo wes sekalian pembukuan santri yang di kantor di cek yah,” jawab Kyai Safar yang langsung diangguki oleh putranya.
Gus Hasan segera berlalu setelah
lebih dulu mencium punggung tangan Kyai Safar dan Nya Hamidah takdim.
***
“Maaf untuk kejadian waktu itu Sha, saya hanya mencoba untuk melindungimu. Semoga Aisha tidak membenciku,” tutur Gus Hasan saat tak sengaja berpapasan dengan Aisha yang baru saja keluar dari ndalem.
“Bukankah selama alasannya untuk kebaikan, maka diperbolehkan seseorang yang lawan jenis bersentuhan? Seperti halnya saya yang seorang dokter, saya melakukan hal yang sama dengan niat untuk menyelamatkan orang lain dan itu merupakan tujuan yang baik,” jawab Aisha tetap tenang.
“Benar, memang seperti itu. Saya hanya khawatir jika Aisha berpikiran buruk mengenai apa yang saya lakukan waktu itu.”
“Bukankah berprasangka buruk terhadap orang lain itu tidak boleh?” jawab Aisha yang justru malah melontarkan pertanyaan yang membuat Gus Hasan mematung.
Gus Hasan masih mematung menatap punggung Aisha yang mulai menghilang di balik dinding pesantren.
"Aisha memang cerdas," batin Gus Hasan.
***
Aisha menatap kosong langit-langit kamarnya, andaikan ada Rini pasti ia sudah bercerita meluapkan kegundahannya saat ini.
“Rini kapan balik lagi ke pondok yah?” gumam Aisha.
Pembicaraan Nyai Hamidah dan Kyai Safar barusan teramat menganggu pikirannya.
Flashback on
“Apa Aisha betah mondok di sini?” tanya Nyai Hamidah membuka percakapan.
“Alhamdulillah Bu Nyai, di sini Aisha banyak belajar sesuatu yang belum Aisha ketahui sebelumnya. Di sini Aisha sedikit banyak mengetahui seperti apa kehidupan yang sesungguhnya,” jawab Aisha masih tak mengerti arah pembicaraan Nyai Hamidah.
“Apa Aisha ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat?” kini Kyai Safar yang angkat bicara.
__ADS_1
“Maaf Pak Kyai, maksudnya bagaimana yah?” tanya Aisha takdim.
“Begini Aisha, sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap Aisha di sini, Pak Kyai dan Bu Nyai hanya menyampaikan amanah dari seseorang yang tidak ingin disebutkan dulu identitasnya,” jawab Kyai Safar.
“Amanah apa nggeh Pak Kyai?” tanya Aisha yang semakin bingung.
“Ada seseorang yang menyampaikan niatnya untuk meminangmu kepada kami, soal agama, Insya Allah dia orang soleh, kami sendiri tau bagaimana kehidupannya. Soal materi, Insya Allah juga tak perlu diragukan kemapanannya. Jika menurut sudut pandang kami sebagai orang tua, Insya Allah secara lahir dan batin dia sudah sangat siap. Tapi ya kami ndak bisa memberikan jawaban apa-apa tanpa seizin Aisha. Oleh karena itu kami menyampaikan hal ini kepada Aisha agar dipikirkan matang-matang, karena soal rumah tangga itu untuk seumur hidup,” tutur Kyai Safar menjelaskan.
Aisha termangu menyimak apa yang baru saja Kyai Safar sampaikan, degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Saya percaya pada Bu Nyai dan Pak Kyai, jika menurut njenengan dia baik, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menerimanya. Tapi mohon beri saya waktu juga untuk memantapkan niat ini,” jawab Aisha takdim.
“Tentu saja kamu harus pikirkan hal ini baik-baik, karena rumah tangga itu bukan sesuatu yang main-main,” jawab Bu Nyai menasehati Aisha.
“Apa seseorang itu sudah mengetahui bagaimana kehidupan juga latar belakang Aisha Pak Kyai?”
“Untuk lebih jelasnya mengenai siapa dan bagaimana orang yang meminang Aisha, juga alasan mengapa dia meminang Aisha, Insya Allah pekan depan orangnya akan langsung ke pondok. Setelah mendengar semua penjelasannya, Aisha bisa langsung memberikan jawaban Aisha terhadap pinangannya,” jawab Kyai Safar meredakan sedikit rasa penasaran Aisha.
Flashback off
Ya Allah Ya Muqollibal quluub, tsabbits qolbii alaa diinikaa, (Wahai Dzat yang Maha mmbolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu)
Doa meminta ketetapan hati yang selalu Aisha lantunkan jika merasa hatinya ragu terhadap sesuatu.
***
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Karina yang sudah membawa makanannya ke meja tempat Faris makan siang di kantin Rumah Sakit.
Sontak Faris mendongak melihat siapa yang bertanya, lalu hanya menggangguk dan kembali menyantap makanannya.
“Temen kamu yang biasanya sama kamu dimana?” tanya Karina di sela makan siannya.
“Aisha udah selesai internship,” jawab Faris singkat tanpa berpaling dari makanannya.
“Kesempatan gue lebih banyak buat deket sama Faris.” Karina tersenyum membatin.
“Semoga waktunya disini menyenangkan.”
“Faris,” panggil Karina.
“Hmmm,” jawab Faris hanya dengan deheman.
“Kamu belum ada rencana untuk menikah?” tanya Karina tiba-tiba.
“Kedua kalimatmu gak berhubungan,” jawab Faris datar.
“Kenapa? Kau mau menikah denganku?” lanjut Faris tiba-tiba
__ADS_1
Bersambung ….
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….