
Faisal kini menyusul adiknya yang sudah melangkah lebih dulu ke mobilnya, untuk beberapa saat hanya hening setelah ia duduk di balik kemudinya.
“Ada apa nih?” tanya Maya yang ternyata merasakan kecanggungan di antara kakak dan adik itu.
“Faris nyusulin Ais ke sini Bu,” ujar Faisal mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.
Sontak saja Maya pun merasa kaget dibuatnya, ia menoleh pada putrinya meminta kepastian, namun Aisha hanya menunduk di kursinya tanpa menanggapi sedikitpun penuturan kakaknya.
“Bener yang Kakak bilang Sha?” tanya Maya saat Aisha tak kunjung meresponnya.
Seketika saja Aisha hanya mengangguk masih berusaha menyembunyikan air matanya.
“Maafin Kakak Dek, Kakak cuma nggak mau kalo kamu sampe tersakiti lagi. Kamu berhak bahagia meski tanpa dia.” Faisal mencoba berbalik dan meraih tangan adiknya itu.
“Semua pilihan ada di tanganmu, apapun yang kamu pilih, jangan sampai kamu sesali di kemudian hari. Kamu boleh membatalkan gugatanmu, selagi ada waktu.” Kini Maya meraih tubuh putrinya itu, didekapnya tubuh mungil itu untuk menenangkan sedikit gemuruh di hatinya.
“Aisha nggak tau … Aisha butuh waktu buat intropeksi diri lagi,” ujar Aisha lirih.
“Apapun keputusanmu, kita pasti akan selalu mendukungmu. Kamu punya Ibu, punya Kakak, jangan simpan semuanya sendiri ya,” tukas Faisal sebelum akhirnya melajukan mobilnya kembali ke apartemen.
---
Faris memilih untuk kembali ke apartemen sepeninggal Aisha dan keluarga, direbahkannya tubuh lelah yang bahkan sejak perjalanan dari Ankara sama sekali belum sempat ia istirahatkan, ditambah ‘serangan’ dari kakak iparnya membuat tubuhnya seakan remuk karena ia terus menerima serangan tanpa sebuah perlawanan.
“Maaf Tuan,” ujar Roger saat Faris memintanya untuk membantu mengobati luka-lukanya, baik luka yang ia dapat saat turbulensi maupun luka baru yang kakak iparnya.
Sesekali Faris meremas dadanya dan memercing merasakan ngilu pada memar di bagian yang terkena tendangan telak Faisal di dadanya.
“Saya hanya butuh istirahat sebentar Ger, tolong kamu awasi baik-baik percakapan mereka, jangan sampai ada yang terlewat!” tukas Faris menyerahkan benda kecil yang biasanya selalu menempel di telinganya.
“Siap Tuan.”
__ADS_1
---
“Dek … kamu nggak apa-apa kan kalo Kakak bawa kamu sama Ibu ke keluarga angkat Kakak malem ini?” tanya Faisal yang mendapati adiknya sudah selesai bersiap di kamarnya.
“Kita nggak apa-apa kok Kak, bagaimanapun mereka juga keluarga Kakak. Ya udah yuk, nanti kemaleman,” tutur Aisha dibuat sebiasa mungkin, padahal dalam hatinya jelas sekali terasa kegelisahan melandanya, entah karena akan bertemu keluarga yang selama ini membesarkan kakaknya atau karena ia tahu jika Ayla juga adik dari kakaknya yang tentunya juga akan menjadi saudaranya.
Faisal tersenyum lega melihat respon dari ibu dan adiknya. Ibu dan Aisha memanglah keluarga kandungnya, tapi keluarga Abbas pun tak bisa dipungkiri bahwa mereka yang selama ini membesarkan dirinya hingga seperti saat ini. Jika disuruh memilih antara keduanya, tentu saja Faisal tak sanggup, keduanya sama berharganya dalam hidupnya.
Dari apartemen yang kini ditempati Aisha dan ibunya, butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka sampai di rumah megah yang menjulang tinggi di tengah kota, rumah itu tampak begitu sepi dengan beberapa penjaga yang masih berdiri tegak di setiap penjurunya, persis seperti rumah Faris yang sempat ditinggalinya ketika Aisha masih menyandang status Nyonya Faris di sana.
Aisha sedikit merapatkan tubuhnya dengan sang ibu saat mereka sudah tiba di ruang utama kediaman Abbas, sepasang suami istri berwajah Turki-Indo menyambut hangat kedatangan mereka. Namun yang membuat Aisha heran sekaligus lega adalah ketidaknampakkan gadis yang sejak tadi mengusik pikirannya, tentu saja gadis itu adalah Ayla.
“Malem Ba, Mi.” Faisal menyalami kedua orang tua angkatnya itu, lantas menyempatkan diri untuk memeluk satu persatu dari mereka.
“Malem Son, jadi mereka yang ingin kamu kenalkan pada kita?” tanya Abbas setelah menyalami Maya dan Aisha.
Ajeng sendiri tentu saja begitu antusias menyambut kedatangan dua wanita berbeda usia itu, pasalnya sejak awal Ajeng memang sudah begitu menyukai sosok anggun seorang Aisha, bahkan ia sempat berniat untuk menjadikan wanita itu sebagai menantu keluarga Abbas andai saja Aisha masih berstatus lajang.
“Oh ya Ayla mana Ba?” tanya Faisal yang pasalnya sejak tadi tak melihat kehadiran adik angkatnya itu.
“Ayla masih ada urusan kampus katanya, dia bilang mungkin agak terlambat,” tukas Ajeng yang lebih dulu menyambar pertanyaan putranya itu.
Faisal hanya bisa manggut-manggut seraya mengondisikan hatinya yang tak karuan, segala ketakutan membayangi benaknya, takut jika keluarga angkatnya akan tetap menahan dirinya dan tak menerima kehadiran keluarga kandungnya yang sudah ia temukan.
“Maaf Ba, Mi, Isal baru bisa sempet cerita sekarang sama kalian, jujur Isal khawatir kalo kalian nggak bisa nerima semua ini. Jadi sebenarnya Isal bawa Aisha dan Ibu ke sini adalah ….”
Faisal mulai menceritakan semua yang dialaminya belakangan ini, sejak ingatannya mulai kembali hingga ia menemukan selembar foto yang berhasil mengungkap semua masalalunya, berikut tragedi kecelakaan yang menimpa dirinya dan keluarga, tak pelak air mata sesekali mengiringi cerita pilunya, begitupun dengan semua yang hadir di sana.
“Saya sebagai ibu yang melahirkan Faisal, benar-benar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Tuan dan Nyonya, saya sadar apapun tak akan bisa membalas kebaikan kalian yang telah begitu mengasihi dan membesarkan putra saya layaknya putra kalian sendiri. Saya pun tidak akan melarang atau pun membatasi hubungan kalian selaku orang tua juga bagi putra saya. sekali lagi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian sekeluarga ….” Maya tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya hingga Aisha kini membawanya ke dalam pelukan putrinya yang duduk berdampingan dengannya.
Begitupun dengan Ajeng yang kini tubuhnya terasa lemas tak berdaya mendengar semua pengakuan itu. Tak dipungkiri rasa sayangnya terhadap pria kecil yang hingga saat ini tumbuh dewasa dalam pelukannya benar-benar telah mengakar kuat di hatinya, meski ia sadar jika darahnya tak mengalir dalam darah putranya itu. Abbas pun segera membawa istrinya itu ke dalam dekapannya, ia sendiri tak tahu harus bagaimana saat ini, entah harus merasa senang ataupun sedih mendengar semua pengakuan putranya, namun bagaimanapun juga ia tak boleh egois, putranya berhak menentukan bagaimana keinginannya.
__ADS_1
“Syukur alhamdulillah jika Faisal berhasil menemukan keluarga kandungnya, jujur saya dan istri begitu sangat menyayangi putra ibu layaknya putra kami sendiri, dan inilah yang paling kami takutkan jika benar Faisal kembali pada keluarga kandungnya. Tapi mungkin memang tanggung jawab saya dan istri hanya cukup sampai di sini terhadap Faisal, selebihnya kami mohon maaf jika sebagai orang tua kami kurang mendidik putra ibu dengan baik, hanya itu yang bisa kami lakukan untuk Faisal. Semoga Faisal bisa lebih bahagia dengan keluarga barunya.” Abbas berujar dengan sendu sambil menenangkan istrinya, tak ayal air mata pun turut jatuh membasahi wajah rentanya.
Mendengar semua itu Faisal segera bangkit untuk memeluk Ajeng dan Abbas yang tampak masih berusaha mengikhlaskan dirinya.
“Maafin Isal ya Ba, Mi, kalo selama ini Isal hanya merepotkan Baba sama Mami. Isal nggak tau harus dengan cara apa Isal membalas semua kebaikan kalian untuk Isal selama ini, sampai kapanpun kalian tetap Baba dan Mami Isal, di keluarga ini Isal tumbuh dan dibesarkan, Isal nggak akan pernah lupa itu.” Faisal pun turut berurai air mata dalam dekapan Baba dan Maminya, dadanya benar-benar terasa sesak harus mengutarakan semua ini kepada orang tua yang selama ini telah merawat dan membesarkannya.
Melihat pemandangan itu, Maya dan Aisha kini paham sekuat apa hubungan mereka, ia pun tak bisa memaksa jika memang putranya begitu berat untuk meninggalkan keluarga ini. Aisha hanya bisa memeluk ibunya karena ia pun tak sanggup menyaksikan pria yang begitu menjadi kebanggaan keluarga ini ternyata adalah kakak kandungnya, kakak yang terlahir dari rahim yang sama dengan dirinya.
Tiba-tiba derap kaki membuyarkan suasana haru yang menyelimuti mereka yang ada di sana, seorang gadis berperawakan bak model melangkah tergesa ke arah mereka, raut wajahnya pun tampak tak bersahabat, apalagi kala menatap wajah sendu Aisha yang kini masih berada dalam pelukan ibunya.
Tiba-tiba gadis itu yang tak lain adalah Ayla langsung menarik paksa Aisha dari pelukan ibunya, saking kasarnya bahkan sampai membuat Aisha bangkit dari duduknya.
Plakkk … tamparan keras dari jemari lentik Ayla membuat tubuh Aisha hampir terhuyung jika saja Faisal tak menangkapnya.
“Drama apa lagi yang sedang kau perankan wanita licik!? Apa suamimu yang kaya raya itu tak cukup bagimu sampai Hasan sepupunya harus kau kuasai juga!? Dan sekarang Kakakku juga mau kau ambil paksa hah!? Lalu besok siapa lagi targetmu selanjutnya? Babaku atau Mamiku!? Kenapa kamu selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku Aisha!?”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
*Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers*tersayang ...
__ADS_1