Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Perlahan semakin baik


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba kamu ingin ke Turki lagi San?”


Gus Hasan yang sejak tadi tengah memperhatikan langkahnya menoleh, menanggapi pertanyaan kakak sepupunya di perjalanan selepas solat berjamaah.


“Bukan tiba-tiba sebenarnya Mas, setelah pulang dari Mesir Hasan memang sudah memutuskan,” jawab Gus Hasan kembali menundukan pandangan, memperhatikan langkahnya.


“Mas jadi pulang lusa?”


“Insya Allah, Mas kan juga pengen nganter kamu dulu ke bandara.”


“Padahal kalo Mas Faris sibuk nggak usah repot-repot, ada Umi, Abah, sama Mba Sabina juga yang nganter Hasan. ”


“Nggak bisa gitulah, kita kan jarang ketemu, apalagi sekarang kamu mau pergi jauh. Kebetulan sisa cuti Mas kan ada tiga hari lagi, Aisha juga setuju kok kalo pulangnya setelah nganterin kamu dulu ke bandara.”


Gus Hasan hanya tersenyum getir mendengar jawaban kakak sepupunya.


“Padahal menurut Mas kamu sudah sangat mumpuni buat bantu Pakde di pesantren loh San.”


“Hasan juga masih belajar Mas, masih banyak yang harus Hasan perbaiki.”


“Ih Mas beneran loh ini, bukan kaleng-kaleng,” jawab Faris yang kemudian diikuti gelak tawa keduanya.


Keduanya memang tergelak, tapi tanpa Faris tahu ada sesak yang tengah coba Gus Hasan tahan. Gus Hasan memang pandai menyembunyikan perasaannya, tidak beda jauh dengan pria di sampingnya.


“Loh Pakde kira kamu ndak berjamaah di masjid Ris,” tanya Kyai Safar menyejajari langkahnya dengan putra juga keponakannya.


Gus Hasan dan Faris yang tengah beriringan sontak menghentikan langkah keduanya melihat Kyai Safar menyejajari langkahnya.


“Aishanya juga sedang halangan Pakde,” jawab Faris murung.


“Yah penganten baru libur dulu, yang sabar yo,” jawab Kyai Safar menggoda keponakannya.


“Loh memangnya kenapa kalo Mas Faris ke masjid Bah?” tanya Gus Hasan polos.


“Yah anak kecil Pakde, belum ngerti dia,” jawab Faris yang sontak mengundang tawa Kyai Safar. Yang ditertawakan malah justru terlihat kebingungan.


“Mas mu kan penganten baru le, ya wajar saja kalo ndak ke masjid dulu juga,” tutur Kyai Safar.


Menurut jumhur ulama, seorang pengantin pria dibolehkan untuk tidak solat berjamaah selama satu hari, dipersilahkan untuk solat berjamaah bersama istrinya di rumah.


Bahkan menurut Malikiyah, pengantin pria dibolehkan tidak berjamaah di masjid selama enam hari.


“Oalah Astaghfirullah … lupa Hasan Bah,” jawab Gus Hasan menepuk jidatnya sendiri.


“Makanya cepat bawa mantu juga juga buat Abah sama Umi, kayak Mas mu iki le.”


“Tadi katanya Hasan masih kecil,” tutur Gus Hasan bergaya merajuk, lagi-lagi berhasil mengundang tawa Kyai Safar juga Faris.


***

__ADS_1


Suara pintu diketuk berbunyi tiga kali.


Bi Surti yang tengah membereskan dapur tergopoh ke arah pintu, melihat siapa gerangan yang datang pada waktu magrib seperti ini.


Terlihat seorang gadis dengan tampilan yang selalu modis, dengan rambut yang tergerai menambah kesan keanggunannya tengah berdiri di depan pintu.


“Eh Bu dokter, Bibi kira siapa,” tutur Bi Surti sambil membukakan pintu.


Karina hanya tersenyum menanggapi asisten rumah tangga Azka.


“Siapa Bi?” teriak Azka sambil menuruni anak tangga.


“Ah ini ada Bu dokter Tuan,” jawab Bi Surti takdim, lalu pamit undur diri saat melihat Azka melangkah ke arah keduanya.


Karina terpana melihat Azka yang tampil berbeda dengan balutan koko, sarung, juga kopyahnya. Tapi memang sejatinya Azka selalu terlihat good looking mengenakan apapun.


Tanpa sadar keterlibatannya dalam kehidupan Azka saat ini sedikit banyak telah mengalihkan rasa sakitnya karena pernikahan Faris dan Aisha.


“Udah solat?” tanya Azka yang melihat Karina masih mematung di ambang pintu.


“Hah?” jawab Karina tercengang. Selain karena membuyarkan lamunannya, pertanyaan Azka  juga cukup mengejutkannya.


Jangankan untuk solat, sekedar singgah di tempatnya saja sudah tak pernah lagi Karina rutini.


Mungkin setelah ia menyelesaikan program kedokterannya tepatnya saat menyolatkan jenazah ayahnya itulah terakhir kali solatnya.


Menyadari Azka yang tengah menunggu jawabannya, ia hanya menggeleng lemah.


“Udah wudhu?” tanya Azka lagi.


Lagi-lagi Karina hanya menggeleng lemah, lalu mengikuti langkah Azka yang terhenti di depan kamar mandi, meninggalkan Karina untuk segera mengambil air wudhunya.


“Sebelah sini Bu dokter,” tutur Bi Surti yang ternyata sudah menunggunya di depan kamar mandi.


Karina hanya pasrah mengikuti langkah Bi Surti yang terhenti di depan sebuah ruangan yang lebih mirip dengan musala, di sana terlihat Azka yang tengah khusyuk dalam solat sunahnya.


“Assalamualaikum warohmatullah …,” lirih Azka mengakhiri salamnya.


Azka sontak menoleh saat ekor matanya menangkap siluet seseorang di belakangnya. Benar saja sudah ada Karina yang terduduk dan tetap menawan mengenakan mukena putihnya meski tanpa pulasan make up karena wudhunya.


“Ehem.” Deheman Karina sontak membuyarkan lamunan Azka.


“Kamu imamnya?” lanjut Karina.


“Bukankah lebih baik berjamaah?”


Karina hanya menggangguk lalu mengikuti gerakan Azka yang sudah lebih dulu membaca takbir.


***

__ADS_1


Ruang makan yang sudah tak asing bagi Aisha, tapi ini kali pertama baginya bergabung dengan keluarga ndalem dalam satu meja.


Berbagai hidangan masakan sudah tertata rapi di atas meja.


Lagi-lagi netranya menoleh ke arah pintu, memastikan suaminya yang belum nampak juga batang hidungnya.


“Ayo nduk dicoba, jangan bengong saja,” tutur Nyai Hamidah membuat Aisha tersenyum kikuk.


“Mas Faris lagi ngobrol dulu sama pengurus putra tadi, mungkin sebentar lagi datang,” tutur Gus Hasan seolah memahami raut yang tercipta di wajah Aisha.


Lagi-lagi Aisha hanya mengangguk dan tersenyum kikuk menanggapinya. Wajahnya memerah, seolah sudah kepergok oleh Gus Hasan bahwa dirinya tengah menunggu kedatangan Faris.


Seorang khadamah memberi salam, sambil membawa nampan yang sudah penuh oleh buah-buahan segar.


“Terima kasih Bi.”


Khadamah itu tersenyum mengangguk, lalu kembali dengan membungkukan badannya takdim.


Aisha tersenyum melihat pemandangan di depannya, tanpa diminta semuanya sudah ada yang melayani, namun tetap penuh dengan tatakrama.


Tak peduli status mereka apa, keluarga ndalem tetaplah menganggap mereka manusia, saling menghargai satu sama lain. Terlihat sepele, namun pasti amatlah berarti. `


Faris datang dengan salam dan jangan lupakan senyumnya yang selalu terpatri menambah kadar ketampanannya.


Ia melipat lengan kemejanya setelah lebih dulu mencium tangan Pakde dan Bukdenya, lalu bergabung di samping istri tercintanya yang juga segera mencium punggung tangannya.


Gus Hasan sontak mengalihkan pandangannya melihat adegan di depannya, menahan sesak yang terus mengganggunya.


Melihat Nyai Hamidah yang sudah lebih dulu melayani Kyai Safar, dengan canggug kini giliran Aisha yang melayani Faris dengan mengisi beberapa centong nasi ke piring Faris.


“Kalo sebanyak ini porsinya cukup untuk berdua, apa memang mau sepiring berdua?” goda Faris yang membuat semuanya mengangkat wajah, termasuk Kyai Safar dan Nyai Hamidah yang sudah menahan tawanya.


Rasanya ingin sekali Aisha mencubit Faris karena sudah membuatnya malu di hari pertama ia di rumah mertuanya.


Aisha hanya tersenyum kikuk dengan wajah yang telah memerah, kemudian membagi nasi di piring suaminya dengan piringnya.


“Aduh kasihan sekali yang ini ndak ada yang melayani,” tutur Ning sabina mengambil piring Gus Hasan yang nampak masih kosong, sontak hal itu mengundang tawa seisi ruangan.


“Mau disuapin sekalian ndak?” goda Ning Sabina lagi.


“Mba …,” rengek Gus Hasan mengambil kembali piringnya dari tangan Ning nya.


“Liat Bah anak Abah,” goda Ning Sabina lagi.


Keluarga yang cukup lentur terhadap aturan menurut Aisha, sehingga suasana di ruang makan tidak hanya sesepi bunyi sendok yang berdentingan dengan piring saja.


***


Bersambung ….

__ADS_1


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2