
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Lagi bikin apa lagi Ger?” Faris yang baru keluar dari kamar cukup penasaran ketika melihat Roger tengah berkutat dengan tepung dan sayuran.
“Menurut yang saya baca ya Tuan, pecel tuh kurang klop kalo nggak pake gorengan.” Roger yang tengah meracik tepung sontak menoleh menanggapi pertanyaan Tuannya.
“Terus kok pake sayuran?”
“Karena tidak ada tempe, jadi saya bikinnya bakwan sayur deh.” Roger berujar dengan bangga.
Faris hanya manggut-manggut sambil beranjak membantu Roger yang hendak menggoreng bakwannya.
“Nyonya sudah dibangunkan Tuan?”
“Udah, lagi mandi dulu dia.”
Kini balik Roger yang hanya manggut-manggut menanggapi Tuannya.
“Wih dunia terbalik nih ceritanya? Bapak-bapak udah asyik aja di dapur.” Aisha yang baru keluar berujar ketika mendapati suami dan pengawalnya sangat pas menggunakan celemek dan tengah berkutat dengan alat dapur.
“Selamat pagi, Nyonya.” Roger menyapa dengan sopan kala melihat Aisha menghampiri keduanya.
“Pagi.” Aisha menjawab dengan selalu menyertakan senyumnya.
“Ih apa sih Sayang pake senyum-senyum segala ke Roger,” sindir Faris tanpa menoleh karena tengah membalikkan gorengannya.
“Terus Ica harus gimana? Masa ada orang nyapa dicuekin,” protes Aisha kebingungan sendiri.
“Ya senyumnya kalo selain buat Abang mah jangan manis-manis, ntar mereka diabet,” ujar Faris mencebikkan bibirnya kesal.
Roger yang mendengar gomabalan ala Tuannya sontak menahan tawanya.
“Apa kamu?” Faris sudah menatap Roger dengan tatapan ‘senggol-bacok’.
Roger hanya bisa menggeleng dan menutup mulutnya sebelum menjadi korban kecemburuan Tuannya yang tengah bucin kronis terhadap sang Nyonya.
“Ada yang bisa Ica bantu?” Aisha mengalihkan pembicaraannya dan menghampiri suaminya.
“Nggak usah Yang, biar Roger aja.” Faris segera menyimpan spatulanya dan menggiring sang istri untuk duduk manis saja di depan mini bar.
Roger sontak dengan sigap mengambil alih penggorengan yang ditinggalkan Tuannya.
“Wooo Roger idaman banget yah Bang? Udah pinter pegang pistol, pinter pegang spatula lagi.” Aisha memuji ketika melihat Roger dengan lihainya mengayunkan spatulanya ke penggorengan.
“Ah terima kasih Nyonya,” jawab Roger dengan tersipu. Faris yang tengah duduk dengan merangkul istrinya sontak menoleh dan membulatkan netranya menatap Roger, seketika senyum di wajah Roger memudar.
“Tuan Faris jauh lebih hebat Nyonya, ini saja semua hasil masakan beliau,” puji Roger mengambil hati Tuannya ketika melihat wajahnya sudah berubah seperti banteng jika disuguhkan kain merah.
“Emang iya?” Aisha bertanya sambil mendongak meminta jawaban dari Faris yang kini tengah merangkulnya. Sedangkan sang tersangka hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Cup, Aisha mendaratkan satu kecupan di pipi suaminya.
__ADS_1
“Hadiah buat kerja keras Abang pagi ini,” ujar Aisha membelai pipi sang suami.
Roger sontak menutup matanya ketika melihat pemandangan mengejutkan itu.
“Ya Allah cobaan macam apa pagi-pagi begini mata saya sudah tercemar.” Roger membatin,
sisi jomblonya kini kian meronta.
***
“Jay kamu punya rujukan tentang ini nggak? Aku udah nyari-nyari dari semalem nggak nemu juga nih. Kebetulan di perpus juga habis.” Gus Hasan menyodorkan tugas papernya pada Jaya yang juga tengah berkutat di depan laptopnya.
Jaya membolak-balikkan paper di tangannya, mencoba mencerna tulisan yang ada di sana.
“Sek Gus tak cari dulu, sepertinya saya pernah baca jurnal tentang ini.” Jaya kembali mengoperasikan laptopnya, mencari-cari apa yang Gus Hasan butuhkan.
“Waduh lali aku Gus,” tutur Jaya menepuk jidatnya sendiri.
“Ndak ada yo?” Gus Hasan sudah bisa menebak ekspresi dari Jaya.
“Laptop saya kan baru direset Gus, saya juga lupa ndak copy filenya,” ucap Jaya penuh sesal.
“Ya udah deh nanti aku coba tanya Kak Faisal aja.”
Jaya hanya manggut-manggut tanpa menyadari nama yang Gus Hasan sebutkan.
“Hallo Kak, Assalamualaikum.” Gus Hasan menyapa ketika sambungan telepon tersambung.
“Waalaikumsalam warohmatulloh, iya gimana San?”
“Oh memang papermu tentang apa?”
“Saya sudah kirim di chatt abstraknya Kak.”
“Ok bentar, saya belum liat chatt.”
Hening, sepertinya Faisal tengah mencerna isi abstrak yang Gus Hasan kirimkan.
“Oh tentang ini sih ada San.”
“Alhamdulillah, tapi maaf sebelumnya Kak, jujur tema ini lumayan berta buat saya. Jadi sepertinya jika saya hanya berpacu pada sumber tanpa memahaminya rasanya gimana gitu Kak. Hehe.”
“Ya sudah kita ketemu aja biar enak, nanti kamu tanyakan sebelah mana yang sekiranya kamu nggak paham.” Faisal memberi solusi, ia sudah menghadapi berbagai macam jenis mahasiswa jadi ia sedikit tahu bagaimana cara yang tepat untuk membimbing mereka yang membutuhkan jasanya.
“Em kira-kira kapan Kakak ada senggang? Saya ke apartemen? Atau kita ketemu di luar?”
“Sore ini InsyaAllah saya senggang, kita ketemu di luar aja, di tempat biasa.”
“Oh baik Kak, maaf sebelumnya udah mengganggu waktu Kakak.”
“Santai aja San, kayak sama siapa aja kamu.”
“Hehe, terima kasih ya Kak. Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
***
“Makanan yang dimasak penuh cinta harus disajikan selagi hangat.” Faris menyajikan hasil makannya untuk Aisha dengan bangga.
Aisha hanya tersenyum melihat suaminya yang begitu antusias, sedangkan Roger yang duduk di kursi sebrang hanya bisa menyaksikan kemesraan keduanya.
“Makan yang banyak Ger, jomblo itu butuh tenaga ekstra,” tutur Faris sambil menyuapkan pecel ke mulutnya.
Roger pun yang tengah mengunyah makanannya sontak tersedak mendengar penuturan Tuannya yang begitu mengenaskan di telinganya.
“Abang ih kasian anak orang.” Aisha menyenggol lengan suaminya.
“Sering-sering main ke Rumah Sakit makanya Ger, di sana stafnya bening-bening loh.” Faris berbisik khawatir terdengar oleh istrinya.
“Ehem.” Aisha berdehem menatap tajam ke arah suaminya yang asyik berbisik ria dengan Roger, sontak keduanya langsung menegakkan kembali tubuh mereka.
“Cari yang bening mah nggak usah repot-repot main nggak jelas ke Rumah Sakit Ger, temenin aja saya belanja, di mall banyak tuh yang bening seger.” Aisha berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari sang suami, membuat Faris ngeri sendiri melihatnya.
Roger yang merasakan hawa panas di antara keduanya segera menenggak air sebanyak mungkin, ia pun turut ngeri dengan tatapan sang Nyonya yang lebih mirip seperti macan betina yang ketika melindungi anaknya.
“Em gimana rasanya, Sayang?” Faris segera mengalihkan pembicaraannya sambil meraih tangan istrinya, harap-harap cemas Faris menantikan jawaban istrinya mengenai hasil masakannya, seperti calon mantu yang tengah dites memasak oleh calon mertua.
Aisha hanya manggut-manggut masih merasa dongkol dengan suaminya itu. Hingga acara makan mereka selesai, hening masih tercipta di antara ketiganya.
“Em Sayang kita keluar yuk, Ica pasti nggak puas ya sama hasil masakan Abang?” Faris yang melihat raut istrinya belum berubah segera mencoba membujuknya.
“Ngapain keluar? Di sini mah nggak ada yang bening-bening kayak staf di Rumah Sakit,” sindir Aisha lantas beranjak dari kursinya.
“Ya Allah Sayang, Abang cuma becanda. Abang cuma ngasih motivasi aja buat Roger Yang,” tutur Faris yang juga turut bangkit mengejar istrinya.
“Pantesan betah banget lembur. Dasar cowok emang semuanya buaya!” Aisha terus saja menggerutu sepanjang jalannya.
“Sayang tunggu! Dengerin Abang dulu dong.” Faris meraih tangan istrinya yang sontak menghentikan langkahnya.
“Apa? Ke Rumah Sakit aja sono kenalin tuh Roger sama yang bening-bening di sana.” Aisha mengibaskan cekalan Faris di lengannya dan langsung membanting pintu kamarnya membuat Faris melongo, pasalnya baru kali ini ia melihat sang istri semarah ini.
“Sayang buka dong pintunya, maafin Abang Ca. Beneran deh tadi cuma becanda doang buat nyemangatin Roger. Sumpah Yang Abang nggak ada maksud apapun.” Faris sudah terduduk bersandar di depan pintu yang terkunci, ia benar-benar merutuki kebodohannya telah mengatakan hal seperti tadi.
“Sabar ya Tuan, kita lanjutkan saja dulu makannya. Ngadepin istri yang lagi ngamuk itu butuh tenaga ekstra.” Roger menghampiri Faris dan mengembalikkan kata-kata yang Faris lontarkan untuknya tadi.
“Argh … kamu sih Ger.” Faris pun menuruti perkataan Roger untuk kembali ke meja makan dan dengan ganasnya ia menghabiskan makanannya yang tersisa.
“Lah jadi nyalahin saya? Bukankah Tuan yang tadi ngasih usulan ke saya?” Roger bergumam seolah bertanya pada dirinya sendiri sambil melangkah mengikuti Tuannya yang sudah duduk kembali di kursinya.
***
Hayoo kan Yayang Icanya ngambek loh Bang ...
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...