Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Percaya


__ADS_3

Malam yang semakin mencekam memudahkan Faris membelah jalanan yang sudah mulai melengang. Range rover putihnya tampak gagah menerobos kegelapan dengan dua BMW hitam yang juga membututinya untuk memastikan keselamatan tuannya.


Sepanjang perjalanan Aisha terus menatap Faris dengan kebingungan. Wajah itu hanya menatap tajam ke arah jalanan, tatapan yang tak seperti biasanya. Bahkan ketika Aisha menautkan jemarinya untuk mencoba mencairkan suasana, suaminya tetap tak bergeming. Bolehkah Aisha menebak jika suaminya tengah berusaha menahan kecemburuan?.


Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di pekarangan rumah yang lebih pantas di sebut istana. Faris segera menggendong Aisha menuju kursi rodanya hati-hati agar darah tak naik pada selang infusnya, tentunya dengan bantuan para pengawalnya. Mendorongnya perlahan melewati lift yang langsung menuju ke kamarnya.


Masih dalam bungkam Faris merebahkan Aisha perlahan di atas tempat tidur, membenarkan laju cairan infus yang sempat terhenti akibat pergerakan.


Saat Faris selesai, jemari Aisha perlahan mengudara, membelai rahang tegas yang terlihat masih mengeras.


“Kemana Bang Faris yang selalu penyabar?” ujar Aisha menatap lekat iris bening yang juga menatapnya.


Faris memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napasnya kasar.


“Kenapa Ica biarin Azka masuk?” Raut wajah itu mulai menenang, nada bicaranya pun melembut.


“Abang percaya sama Ica?”


“Azka bilang sampai sekarang perasaannya buat Ica sama sekali nggak berubah, bahkan mungkin akan selalu seperti itu. Dia juga bilang jika Abang nggak mampu jagain Ica, maka dia yang akan kembali maju dan berjuang. Apa Abang nggak boleh khawatir dengan semua itu?”


Aisha tersenyum, mengusap pelan sudut bibir suaminya yang melebam.


“Apa itu artinya Abang juga meragukan Ica?”


“Nggak gitu Sayang ….”


“Abang pernah bilang nggak ada yang perlu Ica khawatirin, karena sampe kapan pun nggak akan ada yang bisa gantiin posisi Ica dalam hati Abang, karena Ica udah berhasil memiliki separuh hidup Abang. Abang juga bilang nggak ada apapun yang bisa merubah perasaan Abang buat Ica. Sekarang Ica tau betapa berartinya kalimat janji itu. Jadi tetaplah di sini, sebesar apapun nanti badai yang menerjang rumah tangga kita, kita lewatin semuanya sama-sama ya Bang?”


Faris mengangguk tersenyum, betapa indahnya kalimat itu mengalun di telinganya. Sebuah pembelajaran yang mereka petik saat ini, bahwa kepercayaan adalah pondasi dari segalanya.


“Astaghfirullah, maafin Abang ya Sayang. Abang belum bisa ngendaliin perasaan cemburu ini,” tuturnya menatap lekat iris cantik yang meneduhkan.


“Nggak ada yang salah kok dengan cemburu, itu berarti Abang takut kehilangan Ica. Asal jangan berlebihan. Karena cinta itu kepercayaan, bukan untuk saling mengekang dan bukan cemburu tanpa alasan.”


“InsyaAllah Ica akan selalu menjaga kepercayaan Abang, selama Abang juga nggak meragukan Ica,” imbuhnya memberi sekilas kecupan di sudut bibir suaminya.


Berkali-kali Faris menghujani kecupan di wajah yang tetap merona walau sedikit pucat itu. Lisannya tak henti-hentinya merapalkan hamdallah telah dikaruniai seorang pendamping yang luar biasa seperti Aisha.


“Bentar Abang ganti perbannya dulu ya, terus Ica tidur. Udah malem pasti Ica cape,” ujar Faris mengambil kotak medis yang selalu tersedia di kamarnya.

__ADS_1


Aisha menggeleng lembut, membuat Faris menautkan alisnya bertanya.


“Ica obatin dulu luka-luka Abang, baru Ica bisa tidur,” jawabnya meneliti luka-luka di setiap sudut wajah tampan suaminya.


Faris tersenyum gemas, mengacak rambut sang istri dan membuat Aisha mengerucutkan bibirnya sempurna.


***


Karina memeluk lututnya erat, ia menangis sesenggukan di sudut kamarnya. Tangis yang terdengar amat memilukan. Dadanya sesak, hatinya perih meratapi nasibnya, meratapi cintanya yang tak kunjung ada kemajuan.


Otak cantiknya menayangkan kembali kejadian beberapa jam lalu di Rumah Sakit.


Flashback on


Karina membekap mulutnya untuk mengurangi suara isaknya, dari tempatnya berdiri tampak jelas dua orang pria yang sama-sama berhasil memporak-porandakan hidupnya tengah bergulat memperebutkan wanita yang sama.


“Gue bilang menyerahlah!” teriak Faris tetap pada posisinya.


“Itu di luar kendali gue!” Azka kembali bangkit dan menyerang Faris yang masih terbaring.


Ternyata Karina menyaksikan pergulatan sengit antara keduanya.


Melihat kejadian itu, sangat jelas bahwa hati Azka sama sekali belum berubah, masih hanya untuk orang yang sama. Lantas bagaimana bisa ia memberikan harapan pada Karina jika hatinya saja masih porak-poranda?. Juga bagaimana bisa Karina bertahan jika hanya dirinya yang berjuang sendirian?


Azka yang melihat itu segera berlari mengejar Karina. Mata mereka bersitatap, sama-sama menyiratkan kesedihan.


“Maaf.” Hanya itu yang bisa Azka ucapkan.


“Jangan hanya berkata maaf Azka! Untuk apa minta maaf jika nyatanya kamu nggak pernah ada niat untuk berjuang bersama?” teriak Karina tak kuasa menahan tangisnya.


Belum sempat


Azka menjawab, Karina lebih dulu berlari menjauh, meninggalkannya sendirian di sudut basement. Namun kali ini ia terdiam, tak mengejar langkah Karina. Apa yang dilakukan Karina mengingatkannya pada yang pernah ia lakukan juga. Tetap bertahan untuk Aisha, walau ia tahu hati Aisha benar-benar sudah menemukan pelabuhannya.


Azka mengusap wajahnya kasar. Apa yang sudah dirinya lakukan? Tapi memang perasaan itu sulit untuk ia kendalikan. Bukan maunya jika sampai saat ini ia belum sanggup beranjak dari Aisha dan masa lalunya.


Flashback off


Allohu … kenapa seberat ini ujian-Mu untuk hatiku?

__ADS_1


Sedangkan aku tak setegar karang di lautan ciptaan-Mu


***


“Ssshh, Aww ….” Aisha terbangun saat merasakan perih dan ngilu pada bagian lukanya, mungkin karena pergerakannya ketika ia tertidur.


Aisha terkejut saat menoleh ke sisi kanannya dan mendapati suaminya yang tertidur di sampingnya namun dengan keadaan duduk bersandar pada headboard ranjang, niat Faris adalah untuk menjaga Aisha, takutnya istrinya itu akan banyak bergerak ketika tidur, tapi malah ia yang justru ketiduran.


“Pasti lehernya sakit deh,” lirih Aisha mencoba menyelipkan bantal di balik leher sang suami. Namun usahanya justru membuat Faris mengerjap.


“Kenapa Sayang? Ada yang sakit?” tanya Faris panik dengan suara serak khas orang bangun tidur,


“Nggak kok Bang. Abang tidurnya yang bener, nanti badannya sakit.”


“Nggak kok Sayang, Abang takut nanti Ica banyak gerak pas tidur,” tuturnya mengelus-elus lembut puncak kepala sang istri.


“Idih, emang Ica tidurnya seliar itu?”


“Emang,” goda Faris membuat sang istri kesal, ia lalu merebahkan diri di samping Aisha, mendekapnya perlahan menyalurkan kehangatan.


“Baru setengah dua, tidur lagi aja dulu. Nanti Abang bangunin kalo mau tahajud.”


Aisha mengangguk pelan dalam dekapan sang suami, menenggelamkan wajahnya di sana, pada dada yang kini menjadi favoritnya.


“Nanti pagi Ica pengen jalan-jalan ya Bang? Eh Abang kan harus ke Rumah Sakit ya? Ya udah deh nanti Ica minta temenin Bi Asih atau yang lainnya aja,” tanya Aisha beruntun, membuat Faris sontak membuka matanya kembali dan mencubit hidung bangir dalam dekapannya itu.


“Kebiasaan ya kalo nanya di jawab sendiri, nanyanya marathon gitu lagi,” tutur Faris gemas.


“Boleh ya?” rajuk Aisha mendongakkan wajahnya, membuat dahinya menempel sempurna pada bibir sang suami.


“Apa sih yang nggak buat cintaku,” jawab Faris tanpa membuka matanya.


“Yeay, makasih Abangku sayang.”


Saking senangnya Aisha sontak menaikkan bibirnya hingga sejajar dengan bibir Faris yang sudah sedikit terbuka dalam tidurnya, ia tempelkan bibir ranumnya dengan milik sang suami, membuat Faris sontak membuka matanya.


Saat Faris hendak membalasnya, Aisha justru kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami, kembali memejamkan netranya dengan nyaman menikmati aroma maskulin suaminya yang kini menjadi candunya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ... 


__ADS_2