Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Butuh ruang


__ADS_3

Dokter Fara memberitahukan kepada Faris jika saat ini istrinya sudah boleh dipulangkan, dengan catatan Aisha harus tetap bedrest dan jangan terlalu banyak pikiran, kondisi psikis Aisha masih sangat rentan, apalagi jika berhubungan dengan seorang anak.


“Jaga istrimu baik-baik, jangan dibuat stres lagi kayak kemaren.” Dokter Fara menepak pundak Faris ketika rekan kerjanya itu sejak tadi hanya terdiam menunduk.


Setelah keluar dari ruangan Dokter Fara, Faris memberanikan diri untuk masuk ke ruangan istrinya. Seketika matanya bertemu dengan sorot mata Aisha yang jelas sekali masih tersimpan kesedihan di sana. Namun Aisha segera memalingkan wajahnya begitu melihat sosok yang muncul dari balik pintu.


‘Apa kamu sebenci itu sama Abang Ca?’


Maya yang paham akan posisi itu langsung beranjak dan memberikan keduanya untuk menyelesaikan masalah mereka, namun seketika Aisha menahan lengannya.


“Ibu jangan pergi, di sini aja temenin Aisha,” ujarnya lirih tanpa mempedulikan suaminya.


Maya sontak menatap Faris yang dengan bersamaan memberikan anggukan padanya.


“Ya sudah Ibu di sini,” tuturnya dengan lembut dan kembali duduk di tepi ranjang. Sedangkan Faris mengambil posisi di sisi yang lainnya.


“Dokter Fara bilang, Ica udah boleh pulang hari ini.” Faris berucap sambil mencoba mengusapi puncak kepala Aisha yang sejak tadi hanya menatap lurus ke depan tanpa berniat untuk menatap dirinya.


“Alhamdulillah.” Maya yang mendengarnya turut mengucap syukur karena putrinya baik-baik saja, meski ia telah kehilangan cucu pertamanya.


“Kita pulang ya Sayang …,” ujar Faris sambil tetap mengusapi kepala Aisha.


“Ica mau pulang ke rumah Ibu,” ucap Aisha datar tanpa mengalihkan pandangannya.


“Sayang … rumah seorang istri adalah rumah suaminya, ikutlah pulang bersama suamimu,” tutur Maya mencoba membujuk putrinya, ia tahu jika putrinya masih belum baik-baik saja setelah kejadian ini.


“Kita perlu membenahi diri masing-masing Bu, kita butuh ruang.” Lagi-lagi Aisha hanya berucap dengan datar.


Faris menghela napasnya panjang, mungkin ini yang harus ia terima karena telah mengabaikan istri dan calon bayinya saat itu.


“Baiklah, Ica boleh pulang ke rumah Ibu. Abang terima kalo dengan ini Ica bisa memaafkan Abang. Kalo udah baik-baik aja kembalilah, Abang bakal nungguin Ica.” Akhirnya Faris kembali menyerah dengan permintaan istrinya, jika ini salah satu cara mempertahankan rumah tangganya, maka ia akan berusaha untuk kuat.


***


“Rin … maafin aku.” Azka membuka suaranya ketika Karina sejak tadi berkutat mengobati memar di wajahnya, sontak Karina menatap Azka.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Soal kejadian tadi, aku tau kamu nggak baik-baik aja pas liat aku yang masih begitu peduli sama Aisha kan?” Azka memberanikan diri menatap Karina.


Karina terdiam sejenak, rasa sakit jelas ada di dalam hatinya ketika melihat Azka yang nampaknya masih sangat peduli terhadap Aisha, bahkan dia sampai menghajar Faris habis-habisan karena tidak bisa menjaga Aisha, tapi Karina mencoba mengerti semua keadaan itu, ia cukup tahu diri akan posisinya di hati Azka saat ini.


“Aku ngerti kok.” Hanya itu yang keluar dari mulut Karina.


“Semua kepedulianku sama Aisha bukan untuk kembali memilikinya, jujur memang rasa itu masih ada, tapi saat ini lebih seperti seorang kakak yang ingin melindungi adiknya, anggaplah ini sebagai penebus kesalahanku karena udah ninggalin Aisha dulu. Aku harap kamu ngerti ya ….”


Perlahan Azka mencoba meraih tangan Karina, dikecupnya punggung tangan itu dengan sangat lembut, “Bantu aku ya … kita hadepin semuanya sama-sama,” ucapnya sambil menatap Karina.


Hati Karina menghangat mendapat perlakuan semacam itu dari Azka, sontak ia mengangguk menyetujui apa yang Azka utarakan.


“Kita pulang?” Azka bertanya ketika Karina sudah selesai mengobati lukanya dan tengah mengemasi barangnya.


“Kamu nggak mau liat kondisi Aisha dulu?”


“Kan kamu yang bilang, ada suaminya, dia pasti baik-baik aja,” ujar Azka menirukan pernyataan Karina tadi.


Saat ini Azka ingin lebih fokus pada Karina juga hubungan mereka ke depannya, meski rasa untuk Aisha masih tetap ada di hatinya, biarlah rasa itu ia simpan dalam-dalam di relung hatinya, dan biarlah ini hanya menjadi urusannya dengan sang Maha Kuasa.


“Ok kita pulang.”


***


‘Ya Allah … maafkan aku yang sudah lalai tanggung jawab untuk menjaga istriku. Lagi-lagi dia bahkan terluka karena kebodohanku …’


Faris merasa kepalanya sangat berdenyut, tubuhnya juga terasa sangat remuk hingga ia hampir ambruk jika saja seorang wanita tiba-tiba menopang tubuhnya.


“Kamu kenapa Ris?” tanya wanita itu berusaha memapah Faris untuk duduk di kursi.


Kesadaran Faris sontak kembali penuh setelah mendengar suara itu.


“Ngapain lagi kamu ke sini?” tanya Faris dengan ketus.


“Aku cuma mau bantu kamu, keliatannya kamu lagi nggak baik-baik aja,” tutur wanita itu yang tak lain adalah Sofia.


“Lepas! Aku bisa sendiri.” Faris segera melepaskan tangan wanita itu dari tubuhnya, dengan susah payah ia tertatih menuju ke ruangannya.

__ADS_1


Setelah menenggak air di mejanya, Faris mulai teringat dengan perkataan Pak Toni malam itu.


“Sofia emang nggak berulah yang menyakiti fisik Aisha, Ris. Tapi dia berhasil mengguncang batin Aisha dengan kehadiran putrinya di rumah ini. Tanpa sadar kamu dan Aisha pun semakin berjarak sejak kehadiran Tasya.”


“Apa ini cuma akal-akalan dia aja dengan nitipin Tasya ke aku dengan alasan dia mau bercerai sama Wirawan?”


Entahlah, kepalanya malah semakin berdenyut memikirkan hal itu. Ia segera merogoh ponselnya untuk menghubungi orang rumah agar menjemputnya karena Roger tengah mengantar istri dan ibu mertuanya, kondisinya saat ini benar-benar tak memungkinkan untuk ia mengemudikan mobil sendiri.


Baru beberapa langkah Faris turun dari mobilnya tiba-tiba tubuhnya ambruk menyentuh paving di halaman rumahnya. Sontak semua pekerjanya berlarian menghampiri sang Tuan muda yang sudah terkapar tak sadarkan diri.


Pak Toni adalah orang pertama yang dilihat Faris begitu ia membuka mata, ia memercingkan matanya sambil memegangi kepalanya yang saat ini terasa begitu berat.


“Apa Aisha belum bisa memaafkanmu Nak?” Pak Toni membantu Faris yang hendak mendudukan dirinya.


“Aisha memilih pulang ke rumah Ibu, Pak.” Faris berucap dengan lemah sambil menekuk lututnya.


“Mungkin dia butuh waktu sendiri, nggak apa-apa, kasihlah dia ruang jika itu bisa mengembalikan keharmonisan rumah tangga kalian.”


Faris hanya mengangguk lemah sambil menerima obat yang Bi Asih berikan.


“Istirahatlah, Aisha pasti baik-baik saja,” ucap Pak Toni sebelum ia dan istrinya meninggalkan kamar sang Tuan mudanya.


Sepeninggal Pak Toni dan Bi Asih dari kamarnya, Faris melangkahkan kakinya ke balkon kamarnya. Tubuhnya ia sandarkan di kursi, tatapannya kosong menatap apa yang ada di depannya sejauh mata memandang.


Padahal baru beberapa jam Aisha meninggalkannya, tapi rasa rindu suah semakin menyesakkan dada. Kegundahan hati dengan semua perasaan yang terus berkecamuk membuatnya menutup matanya sekejap, berharap semuanya akan segera kembali baik-baik saja.


“Ca … maafin Abang. Cepatlah kembali … Abang butuh kamu Sayang.”


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2