
Ayla yang tengah hang out bersama teman-teman kelasnya tiba-tiba teringat jika malam ini sang kakak akan memperkenalkan seseorang kepada keluarga mereka, segera saja Ayla berpamitan pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Hampir saja ia melupakan acara penting malam ini.
“Sebenernya siapa ya yang bakal Kakak kenalin ke kita? Apa calon istrinya? Tapi keliatannya Kak Isal belum move on deh dari Kak Bila ….”
Sepanjang jalan pulang Ayla terus saja bergumam sendiri, mengira-ngira siapa gerangan yang akan sang kakak bawa dan perkenalkan malam ini.
Tak perlu waktu lama Ayla sudah tiba di rumah, membelah jalanan kota Istanbul yang selalu sibuk di setiap waktunya.
Melihat mobil yang biasa dikendarai Faisal sudah terparkir bersama deretan mobil lain di halaman rumahnya, segera saja Ayla melangkah turun dari mobilnya dengan hati yang begitu penasaran.
Baru saja hendak meraih gagang pintu di ruang utamanya, tiba-tiba telinga Ayla menangkap suara isak seorang wanita yang tak dikenalinya yang tentu saja mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Dirapatkan telinga itu ke daun pintu yang menjulang di hadapannya, lamat-lamat ia mendengar suara sang ayah mulai terdengar.
Untuk beberapa saat wajah cantik Ayla hanya menatap kosong apa yang ada di depannya, gadis itu hanya berdiri tanpa reaksi di tempatnya mendengar kata demi kata yang terucap dari perbincangan orang-orang di dalam rumahnya.
Dengan mantap didorongnya daun pintu di hadapannya hingga menampakkan beberapa orang yang kini tengah duduk bersama di ruang tamunya, hanya satu dari wanitam itu yang Ayla ketahui saat ini, yaitu Aisha yang pikirnya selama ini selalu berusaha merebut apa yang seharusnya menjadi milik dirinya.
Plakkk … satu tamparan keras darinya tepat mengenai sisi kiri wajah Aisha yang berhasil ditariknya saat ia bersandar nyaman dalam pelukan ibunya.
“Drama apa lagi yang sedang kau perankan wanita licik!? Apa suamimu yang kaya raya itu tak cukup bagimu sampai Hasan sepupunya harus kau kuasai juga!? Dan sekarang Kakakku juga mau kau ambil paksa hah!? Lalu besok siapa lagi targetmu selanjutnya? Babaku atau Mamiku!? Kenapa kamu selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku Aisha!?”
Ayla kini tak bisa lagi memendam kekesalannya terhadap wanita itu, sudah cukup Hasan ia relakan karena Aisha. Kali ini, ia tak akan tinggal diam saat wanita itu berani mengusik keluarganya, terlebih kakak yang amat disayanginya.
__ADS_1
“Sejauh ini aku sudah cukup bersabar saat cintaku untuk Hasan harus bertepuk sebelah tangan karena hadirmu! Tapi jika kali ini keluargaku yang menjadi targetmu selanjutnya … aku nggak akan tinggal diam!”
“Jaga bicaramu Ayla!”
“Diam Kak!” gadis itu langsung menghentikan kalimat Faisal yang berusaha menengahi keduanya.
“Kenapa? Sekarang Kakak udah terhasut sama kecantikannya juga? Sampe kapanpun keluarga Kakak cuma keluarga Abbas! Nggak ada keluarga lain!”
“Hentikan! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?” Abbas yang merasa memang tak mnegerti dengan apa yang sebenarnya terjadi sontak membuka suara, terlebih setelah melihat kemurkaan putrinya yang tampak sekali memendam kebencian bagi wanita yang Faisal kenalkan sebagai adik kandungnya.
Mendengar itu Aisha mengangkat wajahnya yang masih terasa panas akibat tamparan Ayla, tatapannya begitu tenang menatap Ayla yang jelas sekali tersorot kebencian dari wajah jelitanya, “Pertama, kamu tidak berhak mengklaim apapun tentang urusan rumah tangga saya. Kedua, hubungan saya dengan Gus Hasan murni hanya sebatas sepupu ipar dari suami saya, tentang perasaan beliau kepada saya … demi Allah saya nggak pernah tau andai saja waktu itu kamu nggak memancing beliau untuk mengutarakannya pada saya. Ketiga … saya dan ibu saya tidak akan egois dengan meminta Kak Isal untuk tinggal bersama kami. Saya sadar sebagai seorang saudara kami memang tidak tumbuh besar bersama, mungkin kamu menang karena kamu dan keluargamu yang menyaksikan bagaimana Kak Isal tumbuh hingga seperti sekarang, tapi kamu jangan lupa … dalam darah kami, mengalir darah ayah dan ibu yang sama.” Aisha berujar dengan susah payah menahan air matanya.
Ayla tersenyum miring mendengar penuturan Aisha, “Sekarang biar Kak Isal yang tentuin …,” ujarnya kembali menatap sang kakak. “Kakak pilih dia … atau aku?” imbuh Ayla membuat Faisal dan semua yang ada di sana terdiam seketika.
“Nggak bisa! Kakak harus pilih, dia! Atau aku?” Ayla yang sudah dikuasai amarah benar-benar tak bisa menerima keputusan sang kakak.
“Nggak usah dijawab Kak.” Tiba-tiba Aisha menyela sebelum Faisal membuka suara.
Tiba-tiba Aisha tampak memundurkan sedikit langkahnya sebelum kembali berujar, “Sampai kapanpun saudara tetaplah saudara, tidak tinggal bersama pun tak akan memutus hubungan darah kita. Biar Ais yang mengalah … Ais cukup tau diri kok kalo Ais hanya satu dari manusia yang kebetulan Kakak temukan sebagai adik kandung dari Kakak. Ais paham jika Ayla begitu menyayangi Kakak, karena Ais pun begitu. Maaf jika kehadiran Ais dan Ibu justru mengusik keharmonisan keluarga kalian.”
Aisha langsung berlari keluar dari kediaman keluarga Abbas, bahkan panggilan dari sang ibu dan kakaknya pun tak lagi ia hiraukan. Dadanya sudah cukup sesak mendengar kenyataan-kenyataan yang mungkin akan lebih mengoyak batinnya jika ia dengar. Bukan berarti Aisha mengalah membiarkan kakak kandungnya dikuasai Ayla, ia hanya tidak ingin berada di sana tanpa sebuah ketenangan. Baginya, tak apa jika dengan berada di keluarga Abbas mampu membuat kakaknya merasa lebih baik, itu sudah lebih dari cukup bagi Aisha dari sekedar mengetahui jika ia ternyata memiliki seorang kakak.
__ADS_1
Aisha berlari sekuat yang ia bisa tanpa tahu kemana arahnya melangkah hingga tiba-tiba air langit turun sedemikian deras seolah menyembunyikan isaknya dari dunia.
“Ya Allah … untuk apapun yang telah terjadi hari ini, lapangkan hatiku untuk menerimanya. Tolong cukupkan diri ini untuk tidak menyalahkan siapapun. Aku percaya bahwa segala yang terjadi berkat campur tangan-Mu.”
Di bawah guyuran hujan, di kegelapan malam, Aisha terisak sejadi-jadinya meratapi nasib yang tampaknya selalu tak berpihak kepadanya.
Wanita itu tampak terduduk lemas di tepi jalan, kejadian hari ini benar-benar telah membuat lahir batinnya terguncang, hingga tiba-tiba Aisha merasakan jika air hujan tak lagi mengguyur dirinya, padahal di depan sana tampak air itu terus saja menderas saling berebutan untuk berjatuhan.
Aisha mendongak merasa ada yang melindunginya dari dingginnya air hujan, untuk beberapa saat ia hanya menatap kosong pada wajah yang kini tengah membentangkan payung untuk melindungi dirinya.
“Abang … kenapa Abang di sini?”
Pria itu hanya tersenyum sebelum akhirnya turut berjongkok menyampirkan jaketnya pada bahu Aisha, “Karena cinta tau kemana ia harus kembali.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1