
Gus Hasan masih menunduk menyeruput minumannya dengan tatapan datar. Agaknya ia pun tak menyadari jika kakaknya sudah kembali dan tengah melangkah ke arahnya. Hingga sebuah kertas kecil yang tiba-tiba terlontar ke hadapannya membuat Gus Hasan mendongak dan mendapati sang kakak yang sudah kembali duduk di hadapannya.
“Jelasin sama Mba apa maksud semua ini,” ujar Ning Sabina setelah menunjukkan sebuah foto yang ia dapati di laci kamar adiknya saat itu.
Dilihat dari gelagatnya agaknya Gus Hasan terkejut tak menyangka jika akhirnya sang kakak mengetahui rahasia besar yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri.
“M-mba dapet dari mana foto ini?” tanya Gus Hasan dengan tangan yang tampak sedikit bergetar meraih foto itu. Foto yang menampilkan potret seorang gadis yang tengah menatap senja membelakanginya. Masih ia ingat dengan benar bagaimana sosok itu mampu membuat dirinya selalu rutin mengunjungi gazebo di ujung taman pesantren setiap senja menyapa.
“Guse sedang apa di sini?” Gadis itu tampak tertegun kala berbalik dan mendapati sosok Gusnya juga tengah berdiri menatap senja yang sama.
“Oh saya sedang berjalan-jalan, kebetulan nggak sengaja liat senja yang sepertinya hari ini indah sekali.” Rupanya pertanyaan dari gadis di hadapannya mampu membuat Gus Hasan sedikit kebingungan mencari alasan.
“Oh …” Gadis itu menyapu pandangan ke sekeliling. “Bukankah ini area santriwati?”
“Ah iya-itu tadi saya lagi cari Fakih, tapi ternyata nggak ada di area sini.”
“Jadi yang benar jalan-jalan atau mencari Gus Fakih?”
“Ah itu maksudnya jalan-jalan sekalian cari Fakih.”
Gadis itu pun hanya mengangguk dengan lembut lantas segera berpamitan untuk kembali.
Ning Sabina segera mengambil kembali selembar foto yang tengah digenggam adiknya. “Sejak kapan kamu menyukai istri kakak sepupumu sendiri?”
Gus Hasan tak lantas menjawab, ujung bibirnya justru sedikit terangkat mendengar kalimat itu. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar gadis yang ia cintai dengan sebutan ‘istri kakak sepupu’. Tidak bisakah kakaknya itu menyebut nama gadis itu dengan benar? Cukup namanya saja, tidak perlu disebutkan statusnya.
“Jauh sebelum Hasan tau kalo gadis yang sering Mas Faris ceritakan adalah gadis yang sama dengan yang Hasan idamkan.”
Ning Sabina menghembuskan napasnya dengan berat, ia bahkan sampai bersandar ke kursinya saking lemasnya mendengar pengakuan dari adiknya itu.
“Faris tau kalo kamu menyukai istrinya?”
__ADS_1
Gus Hasan menggeleng lemah, “Aisha pasti menjaga semuanya dengan baik.”
“Bodoh! Mas-mu bahkan sudah mengetahui semuanya.” Ning Sabina bahkan sampai mengumpat dalam hatinya.
“Jadi kamu sudah pernah mengungkapkan semuanya sama Aisha?” Lagi-lagi Ning Sabina bertanya bagai tengah mengintrogasi narapidana dalam tahanan. Lagi-lagi pula Gus Hasan hanya menjawab dengan bahasa tubuhnya.
Ning Sabina menatap adik satu-satunya yang kini tengah menunduk di hadapannya, “San-“
“Apa perasaan ini salah Mba? Bukankah cinta adalah fitrah bagi setiap manusia?” tanya Gus Hasan lirih.
Terdengar lirih Ning Sabina beristighfar.
“Perasaan kamu ndak salah, tapi keinginan kamu yang salah. Menginginkan apa yang sudah menjadi milik orang lain. Bahkan orang lain itu Mas-mu sendiri.”
“Hasan juga nggak pengen kaya gini, Mba. Bukan Hasan yang mengatur pada siapa cinta ini harus berlabuh.” Netranya mengembun, terasa pula ujungnya yang seketika memanas.
“Setidaknya kamu harus bisa menahan diri untuk mengendalikannya, agar cinta itu tidak sampai menyakiti orang lain. Pernah ndak kamu bayangin kalo sampai Mas-mu tau kalo adiknya sendiri justru menyukai istrinya? Kalo kamu yang berada di posisi Mas-mu, coba kamu bayangin gimana sakitnya?”
Tujuan Ning Sabina jauh-jauh ke kota ini memang untuk memberikan pengertian kepada adiknya, setidaknya sebelum semuanya semakin terlambat.
“San, dengerin Mba! Ndak baik mengharapkan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Agama kita tidak mengajarkan itu. Mba tau mungkin memang ndak mudah buat kamu melupakan semuanya, tapi setidaknya kamu harus berusaha.”
“Hasan sudah berusaha Mba. Bahkan dengan jauh-jauh pergi ke sini. Tapi apa? Nyatanya rasa itu masih tetap bersarang.”
Ning Sabina kembali dibuat tertegun dengan pengakuan itu. Rupanya benar dugaannya jika ternyata salah satu alasan adiknya bertandang ke negeri ini adalah untuk sebuah pelarian. Jujur sebagai seorang kakak ia pun turut sakit mengetahui kebenaran ini. Rupanya selama ini adiknya menahan lara dengan menyimpan semuanya sendirian.
Ning Sabina mengambil tangan kekar adiknya dan menggenggamnya erat, mencoba memberi kekuatan agar adiknya itu tak merasa sendirian.
“Kalo gitu berusahalah lebih keras. Jika melupakan tidaklah mungkin, setidaknya kendalikanlah rasa itu agar tak sampai ia yang mengendalikanmu. Kamu hanya perlu membuka diri, berilah kesempatan pada yang baru untuk datang.”
“San.” Ning Sabina menyeka ujung netranya.
__ADS_1
“Cinta itu bukan hanya tentang perkara bisa bersama dengan orang yang kita cinta. Cinta juga sepaket dengan rela.” Gus Hasan menatap sang kakak dengan sendu, “Rela bahwa nyatanya bukan Hasan tujuannya, Mba?”
Ning Sabina mengangguk lemah. “Ndak ada paksaan dalam mencintai dan dicintai, San. Sebaik-baik rela adalah membiarkan dia mencintai orang yang dia cintai.”
“Lalu gimana dengan Hasan, Mba? Gimana dengan sakit yang semakin hari terasa semakin menusuk di sini?” tanya Gus Hasan memejamkan mata sambil memegangi dadanya, letak dimana rasa sesak selalu menghinggapinya saat isi kepala tak sadar selalu mengingat nama Aisha.
“Allohu. Abi, Umi … rupanya kekhawatiran kalian benar, putra Abi dan Umi memang tidak baik-baik saja di sini.”
“San, memang yang pergi adalah cinta. Tapi jangan lupa, yang akan datang adalah bahagia. Jika cinta yang saat ini kamu rasakan hanya menawarkan luka, maka insyaAllah bahagia yang nanti datang menawarkan cinta.”
“Apa Hasan mampu, Mba?”
“Pasti. Mba yakin kamu pasti mampu. Kamu ingat nasihat Abi tentang tukang parkir?”
Gus Hasan hanya kembali menunduk, tak kuasa menatap wajah kakaknya yang tampak tak bisa menyembunyikan kekhawatiran terhadap dirinya.
“Apa ada tukang parkir yang lantas marah dan kecewa ketika kendaraan yang sudah ia jaga dengan baik namun tiba-tiba diambil seseorang yang tak lain adalah pemiliknya? Karena ia tahu sejak awal kendaraan itu memang bukan miliknya.”
“Belajarlah ikhlas dari tukang parkir, karena apa yang menjadi takdir kita tak akan Allah biarkan menjadi milik orang lain, begitupun sebaliknya. Bukankah perkataan Sayyidina Ali tersebut yang selalu Hasan katakan kepada para santri?”
Kini Gus Hasan merasa malu, bagaimana bisa dirinya dengan mudah menasehati orang lain ketika dirinya sendiri begitu kesulitan untuk mengamalkan.
Dadanya semakin bergemuruh tak karuan, terdengar lirih beberapa kali lisannya merapalkan istighfar. Nyatanya ikhlas memang tak semudah kata, itulah yang tengah dirasanya kini.
Sebelum keduanya kembali berpisah, Ning Sabina langsung menubruk tubuh adiknya itu. Mendekapnya erat dengan netra yang kembali memanas. “Mba yakin kamu pasti bisa. Lepaskanlah yang justru menyakiti hati, kamu berhak bahagia dengan orang yang tepat.”
Ning Sabina berharap mudah-mudahan dengan ini adiknya bisa secepatnya mengikhlaskan Aisha bahagia dengan pilihannya. Namun jika dengan nasehat ini tetap tak bisa masuk pada hati, sepertinya ia sendiri yang harus mengambil langkah tegas untuk memutus perasaan itu.
***
Bersambung ...
__ADS_1