
“Apa nggak terlalu berlebihan kalo ngadain walimatussafar Pakde? Faris kan cuma berangkat umroh, bukan perjalanan haji pada bulan haji.”
“Ndak ada yang berlebihan dalam berbuat kebajikan di jalan Allah Le, toh walimatussafar kan tujuannya bermanfaat, agar tamu undangan turut mendoakan kebaikan untuk niat kita ke tanah suci. Bukannya semakin baik jika lebih banyak yang mendoakan to?”
“Ya sudah Faris manut saja kalo gitu Pakde.”
H-1 walimatussafar diadakan di rumah Faris untuk melepas keberangkatannya ke tanah suci bersama sang istri, dengan penceramah oleh Pakdenya sendiri tentunya.
Atas izin Allah semua rangkaian acara berjalan dengan semestinya.
Setelah Faris dan Aisha memohon maaf kepada seluruh tamu undangan, keduanya berbaur untuk menyapa tamu-tamu yang sudah hadir.
Mulai dari seluruh staf Rumah Sakit, kolega-kolega bisnis Abdullah Group, masyarakat komplek, juga semua teman-teman Faris maupun Aisha yang menyempatkan hadir.
Belum lagi hari-hari sebelumnya Faris begitu disibukkan dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya baik di kantor maupun Rumah Sakit karena ia harus mere-schedule jadwalnya untuk sebulan ke depan.
Beruntung di Rumah Sakit Faris bisa mengambil cuti tahunannya, dan untuk urusan perusahaan ia selalu mempercayakannya pada Pak Toni, orang kepercayaan keluarga Abdullah.
Begitupun Aisha yang harus menyiapkan segala keperluan mereka tanpa suaminya, ia tidak tega jika lagi-lagi harus merepotkan suaminya yang padahal super sibuk menjelang keberangkatan mereka.
Beruntung Aisha tidak sendirian, ada Ibu, Bukde, juga kakak sepupunya yang turut membantunya mempersiapkan segalanya. Termasuk acara walimatussafar yang menurutnya lelahnya sama seperti ketika acara resepsi pernikahannya waktu itu.
Hari yang cukup panjang dan melelahkan bagi keduanya tentunya.
Namun pastinya semuanya terbayarkan dengan rasa bahagia karena akhirnya mereka bisa menjadi tamu Allah dan bisa berdoa langsung di rumah Allah.
***
Setelah sarapan Gus Hasan segera pamit dari apartemen Faisal karena ia ada kuliah pagi ini.
Faisal sendiri segera mengecek kondisi Ayla di kamarnya dengan membawakan sup pereda mabuk untuk Ayla jika ia bangun nanti.
Di kamar, Ayla belum juga membuka netranya. Faisal meletakkan mangkuk sup yang dibawanya di atas meja dan memilih untuk duduk di sofa menunggu hingga adiknya membuka mata.
Faisal memandangi indahnya ciptaan Tuhan yang berwujud adiknya ini, ia menyunggingkan senyumnya saat menyadari bahwa adik kecilnya ternyata kini sudah tumbuh dewasa menjadi gadis yang begitu mempesona, bahkan dalam keadaan mata terpejam dan tanpa polesan make up sekalipun. Pantas saja di luaran sana banyak sekali pria-pria yang berusaha mendekatinya.
Sebagai seorang kakak, tentunya Faisal ingin adiknya mendapatkan pria yang benar-benar bertanggung jawab yang senantiasa menjaga dan selalu menyayanginya seperti dirinya dan Babanya selama ini.
“Sshh, aduh ....” Ayla mengaduh dan memegangi kepalanya ketika berusaha untuk bangun.
Rintihan Ayla membuat Faisal tersadar dari lamunannya. Ia lantas segera membantu adiknya untuk bersandar pada headboard ranjang.
“Kok aku ada di apartemen kakak sih?” tanyanya yang tersadar saat melihat langit-langit di kamarnya.
“Siapa coba yang semalem mabok sampe nggak sadar hah?”
“Kakak yang jemput aku di club?”
__ADS_1
“Bukan, Hasan yang semalem bawa kamu ke sini.”
“Hah?” Ayla sudah membulatkan netranya sempurna.
“Sssh aduh,” imbuhnya kembali mengaduh memegangi kepalanya.
“Nih makan dulu supnya biar pengarnya ilang.” Faisal menyodorkan sup yang tadi dibawanya.
“Jadi semalem kata Hasan pihak club nelpon dia, mereka mau tutup katanya,” tutur Faisal mengambil alih mangkuk sup dan mulai menyuapkannya pada sangat adik.
“Yah, hancur sudah reputasi aku di depan dia dong.”
Ayla tak bisa membayangkan bagaimana anggapan-anggapan Gus Hasan setelah mengetahui dirinya berada di club semalam. Apa Gus Hasan akan merasa ilfeel dan menjauhinya setelah ini?, Ayla benar-benar tak sanggup membayangkan jika itu benar terjadi.
“Oh jadi kamu lagi ngincer Hasan ya sekarang?” goda Faisal memicingkan netranya curiga.
“Apa sih Kak, ngincer-ngincer emang Hasan hewan buruan. Udah ah Kakak sana, aku mau tidur lagi, masih pusing nih kepalaku,” jawabnya mencoba mengusir sang Kakak.
“Kakak bakal keluar setelah kamu jelasin kenapa kamu bisa mabok semalem?” ujar Faisal tampak menyelidik.
Deg, tidak mungkin Ayla menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka semalam. Meski ia tahu bahwa Faisal bukanlah Kakak kandungnya, tapi itu tak sedikit pun mengurangi rasa sayangnya pada sang Kakak.
“Ayla cuma pusing aja sama tugas kuliah yang numpuk Kak,” alibinya mencoba menutupi yang sebenarnya.
“Nope! Nggak mungkin! Kakak tau kamu sejak kecil Dek. Coba cerita sama Kakak apa yang sebenernya terjadi?”
“Beneran Kakakku yang ganteng.”
“Ng-nggak kok Kak, beneran deh aku cuma lagi pusing aja sama tugas yang numpuk.”
“Kamu nggak usah ngerasa nggak enak sama Kakak, Dek. Cerita aja, Kakak udah biasa kok dengernya.”
Deg, ternyata selama ini Kakaknya sudah mengetahui semuanya? Selama ini ternyata Kakaknya hanya berpura-pura tidak terjadi apapun?.
“Apa ini yang bikin Kakak pergi dari rumah terus milih tinggal di sini?”
***
“Bang,” panggil Aisha yang sejak tadi ternyata belum memejamkan netranya.
“Hmm.” Faris yang sudah memejamkan netranya hanya menanggapi istrinya dengan deheman, rasa lelah benar-benar membuat kantung matanya teramat berat.
Aisha membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan lengan Faris di perutnya sehingga kini mereka saling berhadapan.
“Tadi pas walimatussafar Mba Karina minta maaf ke aku,” ujar Aisha membuat Faris sontak membuka kembali netranya dengan berat.
“Minta maaf soal apa?”
__ADS_1
Sepertinya Faris sudah bisa menebak apa yang akan istrinya katakan, terlihat dari reaksinya yang tak terlalu mengejutkan.
“Minta maaf karena dia pernah suka ke Abang dan pernah selalu berusaha buat nyingkirin Ica dari sisi Abang, dan ternyata yang bikin Ica nyebur ke kolam pas Ica masih buta loh, pas kita dateng bareng ke acara reuni fakultas, itu juga katanya ulah Mba Karina.”
“Terus Ica maafin?”
“Ya dimaafin lah Bang, masa ada orang mau berubah lebih baik nggak Ica bantuin.”
“Ica nggak ada cemburu apa marah atau apa gitu?” tanya Faris lagi.
“Nope. Itu kan dulu, yang penting sekarang Mba Karina udah berusaha buat jadi lebih baik. Allah saja yang Maha Kuasa senantiasa menutupi aib setiap hamba-Nya, lalu kita yang berlumur dosa punya hak apa buat mengungkit-ngungkit kembali aib orang lain yang jelas-jelas dia sendiri udah menyesalinya,” tutur Aisha membuat lengkung indah dari kedua sudut bibir Faris semakin terlihat.
Cup, cup, cup, berkali-kali sebuah kecupan mendarat lembut di wajah Aisha.
“Alhamdulillah, makasih ya Ica udah punya maaf seluas lautan. Ica adalah nikmat terindah yang Allah karuniakan buat Abang,” ujar Faris lantas mengecup punggung tangan mungil dalam genggamannya.
Senyuman di wajah Aisha sontak semakin merekah.
“Ica yang makasih karena lelaki hampir sempurna kayak Abang udah bersedia memilih wanita dengan penuh kekurangan kayak Ica.”
“Di mata Abang, Ica hampir nggak punya kekurangan apapun.”
“Masa sih?” goda Aisha semakin mendekatkan wajahnya.
“Abang nggak mau mandi air dingin malem-malem ya Sayang,” rengek Faris mencoba menjauhkan wajahnya.
Sontak Aisha tertawa melihat ekspresi suaminya yang begitu menggemaskan menurutnya.
“Tidur yuk, biar besok fit dan nggak mabok nanti di pesawat,” goda Faris membuat Aisha membulatkan netranya.
“Dih Ica nggak seudik itu ya,” jawab Aisha mengerucutkan bibirnya sebal.
“Masa? Waktu itu pas abis dari rumah Bukde aja mabok, padahal naik mobil tuh.” Lagi-lagi Faris meledek istrinya.
“Ih itu kan kondisi Ica lagi nggak fit aja, kan waktu itu cape abis resepsi yey.”
“Iya iya deh nggak mabok, cuma nggak fit.”
“Abang! Itu mah ngeledek,” pekik Aisha berusaha mendaratkan senjata ampuhnya pada lengan sang suami.
Dan akhirnya Faris memilih untuk mengalah demi kedamaian dunia persilatan.
***
Ada apa sih dalam keluarga Faisal dan Ayla sebenernya? Kayaknya masalah Faisal nggak sesimpel yang dibayangkan deh 🤔
Salam manis dari sweet couple kita Faris dan Aisha yang mau umroh + honeymoon nih 🤗
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...