
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)
_________
Faris melangkah mengikuti sang dokter ke ruangannya untuk konsultasi lanjutan terkait kehamilan istrinya. Dengan langkah pasti dan hati yang bahagianya tak bisa lagi Faris jelaskan dengan kata-kata.
“Sejak semalam perut istri saya kram, Dok. Apa tidak ada efek yang berarti untuk si janin nantinya?” tanya Faris mengingat kondisi Aisha semalam. Meski ia pun seorang dokter, tapi urusan kandungan bukanlah jalurnya, ia tak terlalu paham terkait hal itu.
“Perut kram saat hamil itu hal yang wajar, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Tapi tetap saja harus waspada, apalagi jika kramnya berlangsung lama dan si ibu benar-benar kesakitan.”
“Oh iya, apa istri anda mengalami morning sickness seperti ciri-ciri ibu hamil?”
Faris tampak sedikit ragu, pasalnya selama di Istanbul baru pagi ini ia kembali bersama dengan sang istri dan melihat Aisha mengalami mual tadi pagi. Untuk hari-hari sebelumnya ia tidak tahu apakah istrinya juga kerepotan dengan mualnya di pagi hari. “Em baru pagi ini saya melihat istri saya mual dan sampai pusing, Dok,” ujarnya menceritakan yang sesungguhnya.
“Kehamilan istri anda memang baru menginjak trimester pertama, Pak. Jadi mungkin mual dan pusingnya agak sedikit melelahkan. Untuk mengatasi hal itu sebaiknya mencegah pemicu mual ya, Pak.”
“Baiklah, Dokter. Terima kasih atas penjelasan anda.”
“Oh ya Pak, selama trimester pertama tolong dihindari dulu hal-hal yang membuat ibu kelelahan ya, Pak. Kandungan istri anda masih sangat rentan di usia ini.” Dokter itu kembali mengingatkan sembari mengulas senyumnya. Faris pun paham betul kemana arah pembicaraan sang dokter. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tiba-tiba teringat pada malam dimana dirinya tampak sedikit memaksa sang istri untuk menemani malamnya saat itu.
“Baik, Dok. Akan saya perhatikan hal itu,” ujarnya lantas meninggalkan ruangan itu.
Saat keluar dari ruangan itu, tampak ibu mertua dan kakak iparnya sudah menghadang langkahnya sebelum memasuki ruangan sang istri, rupanya Roger turut serta membawa keduanya.
__ADS_1
“Faris, apa yang terjadi sama Aisha, Nak?” tanya Maya begitu mengkhawatirkan putrinya.
“Sampe terjadi hal buruk sama adik saya, kamu berurusan sama saya, Faris.” Faisal pun turut angkat bicara. Pria itu tampak sudah rapi dengan stelan jas kerjanya, sepertinya ia sudah bersiap untuk ke kantor pagi ini.
“Kalian tenang dulu ya, Aisha baik-baik aja kok,” ujarnya menggantung kalimatnya, ia lebih dulu meraih punggung tangan ibu mertuanya untuk kemudian ia kecup seperti biasanya.
“Ibu sehat, Bu? Maaf Faris belum sempet berkunjung selama di sini.” Pria itu justru berbasa-basi lebih dulu.
“Nggak apa-apa, alhamdulillah ibu sehat dan baik-baik saja. Jadi Aisha kenapa sampe bisa di bawa ke rumah sakit?” tampak wanita paruh baya itu tak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan putrinya hingga harus di bawa ke sini.
“Alhamdulillah Aisha hamil, Bu. Semalam perutnya kram, terus tadi pagi mual-mual sampe pingsan. Makanya Faris bawa ke sini,” tuturnya membuat Maya dan Faisal seketika saling berpandangan. “Hamil?” tanya keduanya bersamaan.
“Bukannya kalian ….” Faisal tampak berpikir sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Wah … sempet-sempetnya ya kamu dalam kondisi kalian yang kayak gini malah tanam saham. Wah … saya bener-bener nggak paham sama kalian berdua.” Faisal benar-benar tak habis pikir dengan adik ipar yang baru ditemuinya itu.
“Ishh Kakak, namanya juga suami istri, ya wajar dong,” tukas Maya membuat Faris semakin melebarkan senyumnya karena merasa dibela,
“Tapi Bu … kemaren-kemaren kan bukannya mereka … ah nggak tau lah, Isal belum pernah nikah jadi nggak tahu dunia rumah tangga.” Pria itu mengacak rambutnya frustasi yang justru mengundang tawa dari sang ibu.
“Ya sudah lebih baik kamu jengukin dulu Aisha, biar nanti ibu sama Faisal gantian.”
Faris pun menyetujui usul ibu mertuanya itu. Ia sudah tak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada istrinya yang mungkin sudah siuman dan mencarinya.
Dengan perlahan Faris mencoba membuka pintu UGD yang ditempati istrinya, ia melangkah pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa mengganggu Aisha yang masih terpejam. Baru ia mengambil kursi dan duduk di samping brankar, tiba-tiba Aisha tampak mengerjapkan matanya dengan kening berkerut pertanda ia kebingungan.
“Bang, Ica dimana?” tanyanya saat mendapati sang suami begitu ia membuka mata.
__ADS_1
Faris mendekat dengan senyum yang semakin tampak mempesona. “Ica tadi pingsan waktu habis muntah, makanya Abang bawa ke rumah sakit.”
Pria itu meraih sebelah tangan istrinya yang tak terpasang selang infusan. “Mulai sekarang Ica harus tinggal lagi sama Abang yah. Abang harus jagain dan mastiin kalian selalu baik-baik aja.”
Kening Aisha tampak semakin berkerut, reaksi obat mungkin membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih memahami kalimat suaminya. Ia kebingungan.
Faris terdiam sejenak, lantas menghela napas dengan senyumnya yang kembali terlihat. “Ica hamil, Sayang,” ucapnya lantas mengecup jemari yang berada dalam genggamannya dengan hangat.
Jangan tanyakan bagaimana terkejutnya Aisha saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. “I-ica hamil, Bang?” tanyanya memastikan, barangkali pendengarannya salah atau ia yang belum sepenuhnya sadar dari pingsannya.
Faris mengangguk dengan cepat, “Usianya baru delapan minggu.”
Mendengar itu Aisha menunduk, menatap perut rata yang kini dibaluti baju pasien. Jemarinya terangkat mengusap perut itu dengan lemah. Rasanya baru kemarin ia kehilangan calon putra sulungnya, rasa sakitnya pun masih Aisha ingat saat janin itu terpaksa harus dikeluarkan sebelum waktunya. Tanpa terasa air matanya menetes, tepat mengenai jemari yang masih mengusapi perutnya. “Ica belum siap, Bang,” desisnya dengan air mata yang semakin deras.
Faris yang menyadari kesedihan sang istri lantas meraih jemari itu kembali dalam genggamannya, berusaha menyalurkan kehangatan melalui kecupan agar istrinya bisa sedikit lebih tenang. “It’s okay, Abang tau kekhawatiran Ica. Jangan takut ya, Sayang. Ica nggak sendiri, ada Abang sekarang,” ujarnya meraih tubuh yang masih terbaring ke dalam dekapannya.
“You’re a great mother to be. Anak kita akan baik-baik aja, Sayang.” Faris menyemangati istrinya, berusaha menenangkan dan meyakinkan wanita yang tampak rapuh dalam dekapannya.
Mungkin memang sudah saatnya Aisha berdamai dengan lukanya, mencoba bersyukur karena kini Allah kembali memberikannya kepercayaan dengan menitipkan sebuah nyawa di rahimnya.
Setelah merasa istrinya cukup tenang, Faris merenggangkan pelukannya, “Ada Ibu sama Kak Isal di luar. Abang panggilin mereka dulu ya,” ujarnya yang kemudian diangguki istrinya. Ia melangkah ke luar setelah lebih dulu meninggalkan kecupan hangat di puncak kepala istrinya.
“Ya Allah beri aku dan suamiku kekuatan untuk kembali menjaga amanah-Mu ini.” Setetes embun kembali meluncur setelah pintu kembali ditutup oleh suaminya.
_______
Bersambung ....
__ADS_1