Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Dokter tapi takut obat


__ADS_3

Hola !!! Welcome back readersku tersayang ...


Ada yang kangen nggak sih sama Faris dan Aisha?


Atau sama sugar daddy kita Muhammad Azka El-Fatih? hihihi


Atau mungkin sama yang berbau pelakor, Mba Sofia?


Atau sama ukhti yang baru hijrah kayak Dokter Karina?


Oh apa sama couple Gus Hasan dan Ayla?


Eh by the way Faisal juga gabung yah, jangan di skip please.


Happy reading readers semua ...


***


Gus Hasan segera merebahkan tubuhnya pada kasur di kamar asramanya setelah seharian menghabiskan waktu bersama Ayla menikmati salju pertamanya sejak ia di Istanbul. Diliriknya Jaya yang ternyata sudah terlelap sambil memeluk mushafnya, dipindahkannya mushaf itu dari genggaman Jaya ke atas nakas di sampingnya.


Rasa lelah membuat Gus Hasan seketika terlelap dengan posisi kaki yang bahkan separuh menggantung di tepi ranjang. Setelah beberapa jam tiba-tiba Gus Hasan terbangun, teringat ia belum melaksanakan solat malam sebelum tidur tadi. Ia baru saja hendak bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri ketika tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.


Gus Hasan mengernyit saat mengetahui siapa yang menelponnya, padahal baru saja mereka bertemu. Digesernya slide hijau di layar ponselnya.


“Apalagi sih? Aku ngantuk nih,” gerutu Gus Hasan setelah menempelkan ponselnya ke telinga.


“Efendim gece yarısını rahatsız ettiği için üzgünüm. Ama kiminle irtibata geçeceğimi bilmiyorum." (Mohon maaf Pak mengganggu tengah malam. Tapi saya tidak tahu harus menghubungi siapa, di sini tertera nomor bapak yang terakhir dihubungi).


Lagi-lagi Gus Hasan mengernyit, bahkan kedua alisnya sudah saling bertaut, ia kembali memastikan bahwa yang menelponnya benar-benar dari kontak bertuliskan nama Ayla


“Affedersiniz, bu kiminle?"  tanya Gus Hasan cukup terkejut saat mendengar suara dari seberang. (Maaf, dengan siapa ini?)


“Club Moretenders Kokteyl Beşiği'nde, lütfen yakında buraya gelin efendim. Bu telefonun sahibi çok sarhoş ve kapatmanın zamanı geldi efendim." (Di club Moretenders' Cocktail Crib, tolong segera ke sini Pak. Pemilik ponsel ini mabuk berat, dan sudah waktunya kami tutup Pak)


“Club?” gumam Gus Hasan saat panggilan sudah diputus.


“Kenapa Ayla bisa ada di tempat kayak gitu?”


Tiba-tiba rasa khawatir menyusup ke dadanya setelah melihat jam di layar ponselnya. Meski ia sendiri belum pernah ke tempat seperti itu, tapi ia tahu bagaimana bahayanya jika seorang gadis berada di sana, apalagi ini sudah tengah malam.

__ADS_1


Gus Hasan mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, menolong seseorang yang memang tengah membutuhkan lebih wajib dari pada solat malamnya.


Disambarnya mantel yang tadi ia gantung di belakang pintu, dengan tergesa ia berlari ke tepi jalan menunggu taxi yang melintas. Beruntung di Istanbul tidak seperti di Yogya, di sini transportasi umum akan selalu stand by dua puluh empat jam.


Setelah menyebutkan lokasi yang dituju, taxi yang ditumpangi Gus Hasan langsung melesat membelah jalanan Istanbul yang masih cukup ramai.


Jalanan yang meksi sudah cukup lengang terasa begitu lama bagi Gus Hasan. Sepanjang perjalanan, hanya satu nama yang berputar-putar di kepalanya, yakni ‘Ayla’.


Setelah sekitar dua puluh lima menit, akhirnya Gus Hasan tiba di lokasi. Dengan tergesa ia segera memasuki ruangan.


Pengarnya aroma alkohol dan asap rokok yang pekat langsung menyeruak ke indra penciuman Gus Hasan, semuanya terasa memenuhi rongga pernapasannya yang memang tak terbiasa.


Meski sudah tidak ada lagi suara musik yang memekakkan telinga, tapi kerlap kerlip lampu masih menyala, beberapa kursi juga terlihat sudah dinaikkan.


Banyak karyawan berlalu lalang membersihkan sampah yang berserakan, menyapu juga mengepel lantai.


Netra Gus Hasan menyapu ke seluruh ruangan, suasana yang cukup sepi memudahkannya untuk menemukan apa yang dicarinya. Seorang gadis dengan dress yang sudah berantakan terkulai lemas di depan meja bartender, kepalanya ia tumpukan pada lengan di atas meja.


Setelah mendekat, Gus Hasan sendiri bingung apa yang hendak ia lakukan, ia mencoba membangunkan Ayla dengan mengguncang-guncangkan badannya. Tiba-tiba Ayla meracau mengucapkan kata-kata umpatan lantas menangis kemudian.


Gus Hasan yang benar-benar tak nyaman di tempat seperti itu segera memapah Ayla menuju taxi yang sengaja ia minta untuk menunggu di depan. Namun seketika Gus Hasan bingung harus mengantar Ayla kemana, tidak mungkin ia antar ke rumahnya, bisa-bisa orang tua Ayla beranggapan dirinyalah yang telah membuat Ayla mabuk hingga tak sadarkan diri. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika ia bawa ke asramanya.


Sejenak Gus Hasan berpikir lalu segera merogoh ponsel di saku celananya, jari-jarinya tampak dengan lihai menari di atas touchscreen yang menyala.


***


Perlahan Aisha menyingkirkan tangan Faris dari tengkuk lehernya kemudian menegakkan posisi duduknya dari yang semula bersandar pada kepala ranjang.


“I-ica buka pintu dulu yah,” tanya Aisha sedikit tergagap lantas bangkit dari duduknya.


“Ca,” panggil Faris menghentikan langkah Aisha karena tangannya yang juga menahan lengan Aisha.


“Iya?” ujar Aisha berbalik.


Faris pun bangkit duduknya lantas berjalan mendekati istrinya yang masih mematung di tempatnya. Sejurus kemudian sebuah kecupan mendarat tepat di pipi Aisha yang membuat wajah sang empunya semakin memerah.


“Ica makin cantik kalo lagi gugup gini,” ujar Faris mengelus pipi istrinya yang semakin memerah itu.


Dengan cepat Aisha segera berbalik dan melangkah ke arah pintu terburu-buru, ia tak mau suaminya sampai mendengar degupan jantungnya yang seakan meronta minta dikeluarkan dari tempatnya.

__ADS_1


Ketika pintu baru saja terbuka setengahnya, tiba-tiba wanita berhijab syar'i langsung saja menerobos masuk bahkan melewati Aisha yang masih mematung memegang gagang pintu.


“Kalian tuh kalo mau buka pintu harus rapat dulu yah? Mba sampe ngantuk nih nungguin kalian buka pintu,” gerutu Ning Sabina seraya meletakan nampan yang berisi dua gelas minuman di atas meja.


Aisha hanya bisa tersenyum menatap suaminya yang juga tengah menatapnya dengan alis yang saling bertaut.


“Ya kalo ngantuk kenapa Mba malah ke sini bawa minuman segala? Faris sama Ica bisa kok ngambil sendiri,” ujar Faris mencoba melihat minuman apa gerangan yang dibawa oleh kakak sepupunya.


“Syuuttt! Ini minuman khusus Umi buatkan untuk kalian, jadi kalian harus abisin sekarang juga di depan Mba.”


“Minuman apaan nih?” tanya Faris memuncratkan air yang baru saja dicicipinya sambil mengibas-ngibaskan lidahnya yang terasa sangat pahit.


“Mana Mba tau, pokoknya harus diminum habis! Kalian mau bikin Umi kecewa hayoh?”


“Iya Ning Ica coba minum yah,” ujar Aisha meraih gelas dari atas nampan.


“Sayang itu nggak enak tau,” ujar Faris menghentikan gelas yang hendak mencapai bibir Aisha.


“Dih ngakunya dokter, sama yang begituan aja takut,” gerutu Ning Sabina kembali menyerahkan satu gelas pada adik sepupunya.


Sedangkan Aisha sudah menenggak habis isi gelas di tangannya, bahkan tandas tak bersisa membuat sangat suami bergidik tak tega.


“Cepetan Faris! Nanti Fakih nangis nih Mba tinggal.”


“Iya iya Mba bawel,” gerutu Faris mencoba perlahan meminumnya dengan hidung yang sudah ia jepit kuat-kuat dengan telunjuk dan ibu jarinya. Faris memang paling anti jika harus meminum jamu.


Ning Sabina dan Aisha yang menyaksikannya hanya saling tatap dengan menahan tawa mereka.


“Hue … hue ….” Faris segera berlari ke arah kamar mandi karena tak tahan menahan mual karena minuman yang baru saja dihabiskannya.


Sayangnya Faris kalah cepat dengan cekalan Ning Sabina di tangannya sehingga langkahnya sontak terhenti.


“Hus mau kemana kamu? Telen semua Faris,” ujar Ning Sabina dengan tatapan membunuhnya mencoba menahan adik sepupunya yang terus memberontak.


Netra Faris sontak membulat sempurna meminta pembelaan pada sang istri yang hanya mematung di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa, hingga akhirnya Faris pasrah menelan habis cairan yang susah payah ditahannya di mulut karena tatapan sangat kakak yang tampak seperti harimau yang siap memangsa.


Akhirnya Ning Sabina kembali membawa serta kedua gelas yang sudah kosong dengan senyum penuh kemenangan menyertai langkahnya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ....


__ADS_2