
Sapuan angin sore di musim gugur menerbangkan ujung hijab seorang gadis yang kini tengah melangkah riang usai kembali dari panti asuhan tempat Nyonya Khadija tinggal. Jemarinya yang baru saja hendak menghidupkan mesin mobil seketika ia urungkan saat dering dari ponselnya berdering nyaring hingga mengalihkan atensinya.
“Iya Kak?” Rupanya panggilan itu berasal dari kakaknya, Faisal.
“…”
“Ok, kebetulan lokasi Ayla sekarang nggak jauh dari kantor. I’m on the way,” ujarnya singkat sebelum sambungan telepon kembali ditutup.
Hanya butuh sekitar dua puluh menit mobil yang dikendarai Ayla mulai merayap di basement kantor sang kakak. Begitu gadis itu melangkah turun, semua staf yang dijumpainya tampak mengangguk sopan menyapanya, tentu saja mereka tahu siapa gadis yang sudah berubah penampilan itu.
“Selamat sore, Nona,” sapa beberapa karyawan yang ditemuinya saat hendak memasuki lift. Gadis itu pun tersenyum sopan sebelum jemarinya menekan beberapa tombol angka pada lift yang memang dikhususkan untuk para eksekutif.
Sampai di depan ruangan yang ditujunya, Ayla sedikit mematung, menatap kosong pintu ruangan yang tertutup dengan rapat. Pasalnya gadis itu tengah menebak-nebak akan seperti apa gerangan reaksi kakaknya yang memang belum tahu mengenai perubahannya kini. Tapi sepertinya Ayla cukup percaya diri bahwa kakaknya yang tampan itu pasti akan mendukung keputusannya ini.
“Huft, aku kok deg-degan sih, padahal mau ketemu kakak sendiri,” monolognya dengan berulang kali menghembuskan napasnya berat.
“Assalamualaikum.” Akhirnya, tubuh itu berhasil melongok ke dalam ruangan dan segera melangkah anggun ke arah sang kakak yang masih berada di balik meja kerjanya.
“Waalaikum- wow! Is it my little girl?” decak Faisal terkagum-kagum dengan penampilan adiknya kini.
“Kakak! Dijawab dulu salamnya,” ujar Ayla membuyarkan tatapan kakaknya.
“Eh iya astaghfirullah, waalaikumsalam. Sumpah Kakak terpesona sama kamu Ay,” ujar Faisal masih dengan kekagumannya.
Padahal pujian seperti itu sudah sering Ayla dapatkan, tapi entah kenapa kali ini ketika kakaknya yang mengatakan tiba-tiba seperti ada desiran halus yang membuat Ayla merinding seketik. Wajahnya pun tampak turut merona.
“Apa sih Kak,” seloroh gadis itu mencebikkan bibirnya, ia segera melengos ke arah sofa sebelum kakanya benar-benar melihat rona di wajahnya yang terasa memanas.
Faisal pun turut bangkit dari kursi kerjanya dan memilih bergabung dengan Ayla di sofa.
“Ternyata bener kata Baba, kamu makin cantik dengan hijabmu ini,” tukas Faisal yang bahkan saat ini sudah mengusap lembut kepala adiknya yang tertutup rapi oleh hijab. “Cantik banget malahan,” sambungnya membuat Ayla benar-benar merona.
Jika saja Ayla masihlah gadis yang sebelumnya, mungkin saat ini akan ia gigit gemas jemari kakaknya itu yang masih bertengger di atas kepalanya.
__ADS_1
“Ih Kakak! Hus jauh-jauh sana, kita kan bukan muhrim,” tukas Ayla membuat Faisal seketika tergelak.
Bukan menjauh, lelaki itu justru semakin menatap intens adiknya yang masih memberengut dengan gemas, “Makanya nikah sama Kakak biar kita jadi muhrim,” selorohnya membuat Ayla memelototkan matanya.
“Nggak lucu ya Kak!” Faisal pun semakin tergelak melihat adiknya yang terus saja menggerutu dengan bibirnya yang mengerucut gemas.
Lelaki yang masih lengkap dengan kemeja dan jas kerjanya itu meraih sebuah paper bag yang sejak tadi bertengger di atas meja kerjanya, “Nih,” ujarnya menyerahkan paper bag itu ke pangkuan Ayla.
Ayla menoleh, “Apaan?”
“Buka dong,” ujar Faisal menunjuk dengan dagunya.
Perlahan Ayla pun membuka paper di pangkuannya, sebuah dres muslim dan beberapa hijab lengkap dengan asesorisnya terlihat begitu menawan andai saja dikenakannya.
Gadis itu kembali menoleh kepada sang pemberi, tapi kali ini dengan raut wajah yang tampak sedikit mendung, “Kakak beliin kaya gini juga buat Aisha?” tanyanya yang entah kenapa tiba-tiba teringat pada wanita yang selama ini selalu ia anggap sebagai rivalnya.
“Kamu masih benci sama Aisha?”
“Stop nanyain tentang hal itu ya Kak, sekarang jawab pertanyaan Ayla, Kakak beliin juga buat Aisha?”
Gadis itu pun mengulas senyumnya, entah kenapa rasanya sedikit melegakan kala mendengar kakaknya hanya memberikan hadiah itu untuknya seorang.
Namun secepat kilat Ayla tersadar hingga menggeleng pelan, dalam hati ia segera mengucap istighfar berkali-kali.
“Iri dan dengki hanya akan mengotori hatimu. Bagaimana kamu akan menjadi lebih baik jika hatimu saja selalu dipenuhi oleh kekotoran itu?” Kalimat Nyonya Khadija itu benar-benar mampu menjadi cambuk untuknya.
“Loh Kakak kan baru hari ini liat Ayla berubah, kok Kakak bisa beliin aku dress muslim sama hijab-hijab ini?”
“Baba yang cerita pas abis meeting tadi,” alibinya tak ingin Ayla sampai tahu jika ia memiliki orang kepercayaan yang dikhususkan untuk mengawasi adik-adiknya.
Ayla pun hanya mengangguk, “Menurut Kakak, gimana penampilan Ayla sekarang?” tanyanya sembari merapikan kembali hadiah pemberian sang kakak ke dalam paper bag.
“Cantik,” sahut Faisal singkat.
__ADS_1
Ayla yang kesal dengan jawaban irit Kakaknya hanya bisa mencebikkan bibirnya seperti biasa, “Bukan tentang fisiknya Kak, maksudnya tentang keputusan Ayla buat berhijab.”
Faisal kembali menyunggingkan senyumnya, isi kepalanya seketika teringat pada lelaki yang telah menuduh adiknya sembarang perihal tujuan gadis itu mengenakan hijab saat ini.
“Terlepas dari apapun alasan dan tujuan kamu buat berhijab, pastinya Kakak seneng kalo kamu mau berubah menjadi muslimah yang lebih baik. Kakak tau pasti kedepannya nggak akan mudah, tapi Kakak janji, Kakak orang pertama yang bakal selalu dukung kamu, jadi tetaplah istiqomah dengan keputusan ini,” tutur Faisal tiba-tiba saja membuat netra Ayla memanas.
Sejak kecil Kakaknya memang selalu menjadi garda terdepan sebagai pelindungnya, bahkan ketika kedua orang tuanya saja kehilangan peran, Faisal lah yang menggantikan peran itu. Mungkin itulah alasan kenapa ia begitu menyayangi lelaki itu. Karenanya ketika kenyataan muncul bahwa sang kakak telah menemukan keluarga kandungnya, rasa takut kehilangan benar-benar menghantui gadis berdarah campuran itu. Bahkan sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa sang kakak bersamanya.
Dan hari ini, ketika orang-orang mengkritik perubahan baru dalam dirinya, lelaki yang dicintainya bahkan begitu tega menuduh dengan jahat tujuannya untuk berhijab, Faisal justru sedikitpun tak menghakimi perihal keputusannya ini. Lelaki itu selalu mampu membuat Ayla merasa aman dan nyaman jika berada di sekitarnya.
“Kakak nggak nuduh aku berubah karena pengen jadi kaya Aisha?” tanyanya polos mengingat tuduhan Gus Hasan terhadapnya.
“Memangnya Kakak Tuhan yang tau isi hati kamu?” ujar Faisal justru balik bertanya.
Ayla hanya tersenyum simpul lantas kembali menunduk, di benaknya bahkan sempat terlintas kebaikan apa yang pernah dilakukannya sampai lelaki yang nyaris sempurna itu menjadi kakaknya. Sungguh beruntung sekali Aisha memiliki saudara sehebat Kak Faisal.
“Nggak usah dipikirin, kita kan nggak bisa memaksa semua orang buat suka sama apa yang kita lakuin,” ucap Faisal mengusap lembut kepala adiknya yang kini tertutup hijab.
“Loh kok nangis?” tanya Faisal ketika adiknya mengusap bulir bening dari sudut mata dengan punggung tangannya.
Tiba-tiba saja tangis gadis itu pecah, “A-ayla takut Kak,” ucapnya tersedu.
“Hey, liat Kakak.”
Gadis itu memutar tubuhnya menghadap pada sang kakak, “Apa yang kamu takutin hem?” tanya Faisal turut mengusap air mata itu dengan sapu tangan miliknya.
“Ayla takut nggak bisa istiqomah Kak.”
“Nggak usah takut, Kakak akan selalu sama kamu. Yakinlah bahwa niat baik pasti Allah permudah.”
“Kakak, pengen peluk,” pungkas Ayla kembali dengan mode manjanya yang membuat Faisal tak bisa untuk menahan senyumnya. Lelaki itu pun merentangkan kedua tangannya bersiap menerima pelukan.
“Sini, tapi abis ini kita nikah,” sahutnya mampu membuat Ayla justru memalingkan wajahnya.
__ADS_1
***
Bersambung ...