Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Siapa dia?


__ADS_3

Di kantor polisi, Faris dan Aisha menceritakan kronologi kejadian kecelakaan yang dialami wanita paruh baya beridentitas ‘Sofia’ dengan anak kecil yang diyakini sebagai anaknya, termasuk saat mobil yang dikendarai korban tiba-tiba keluar jalur dan menyalip motor yang dikendarai oleh Faris dan Aisha. Hingga pukul tujuh malam pemeriksaan baru selesai.


“Bang, kita langsung pulang?”


“Emang Ica pengen kita kemana dulu, hem?”


“Kita ke Rumah Sakit sebentar ya Bang?”


“Kenapa? Ica nggak enak badan? Pasti kecapean ya?” tanya Faris beruntutan seraya menempelkan punggung tangannya pada kening sang istri.


Melihat raut cemas Faris, Aisha segera menggelengkan kepalanya. Tanda ia baik-baik saja.


“Ica cuma pengen tau gimana keadaan Tasya sama ibunya Bang. Gimana kalo ternyata mereka nggak ada keluarga lain yang nemenin? Boleh ya?”


Faris menghela napas berat, istrinya itu selalu memikirkan orang lain lebih dulu dari pada dirinya, bahkan pada mereka yang tak kenal sekalipun. Padahal terlihat jelas sekali bahwa saat ini ia sudah sangat kelelahan.


“Kan tadi udah Sayang, lagian kan besok bisa, Abang tau Ica tuh cape,” tutur Faris membujuk sang istri.


“Sebentar aja Bang, janji nggak akan lama. ica cuma pengen tau keadaan Tasya sama ibunya. Ya Bang? Boleh ya?”


Faris tersenyum, jika sudah seperti ini mana bisa ia menolak keinginan wanita tercintanya.


“Janji ya sebentar?”


“Iya, janji.”


“Ya udah, tapi kita solat dulu ya.”


Raut wajah Aisha seketika berbinar karena permintaannya dikabulkan oleh sang suami.


“Makasih Abang sayang,” lanjut Aisha manis sambil memeluk manja lengan sang suami menuju motor yang mereka kendarai.


“Manis banget kalo lagi kayak gini.” Faris mengelus lembut puncak kepala yang masih bergelayut manja di lengannya.


***


Tak butuh waktu lama Faris dan Aisha sampai di Rumah Sakit. Mereka berjalan bersisian dengan tangan Aisha yang selalu melingkar di lengan Faris.


“Mbak, pasien korban kecelakaan tadi siang di ruang mana?” tanya Faris pada bagian resepsionis.


“Oh mereka masih di ruang IGD Dok, belum dipindahkan ke ruang rawat.” Seorang resepsionis yang sudah tak asing pada dokter tampan nan teladan itu menjawab dengan senyum yang selalu terpatri di wajahnya.


Setelah berterima kasih, keduanya segera menuju ruang IGD, terlihat dokter yang menangani baru saja keluar dan berpapasan dengan keduanya.


“Gimana Dok? Apa ada gejala yang serius pada pasien?” tanya Faris to the point.


“Oh apa pasien tadi saudara Dokter Faris?” tanya dokter itu.


Dengan cepat Faris menggelengkan kepala.


“Bukan Dok, kebetulan tadi saya ada di TKP waktu kejadian,” tutur Faris membuat dokter itu hanya manggut-manggut mengiyakan.

__ADS_1


“Luka-luka pada pasien memang cukup serius Dok, tapi tidak ada yang berakibat fatal. Hanya saja pasien masih cukup shock, jadi tetap harus dirawat inap untuk beberapa hari selagi menunggu lukanya membaik.”


“Kita boleh liat pasien Dok?” tanya Aisha dengan segera.


“Oh tentu boleh, silahkan. Pasien juga sudah siuman sejak tadi,” tutur sang dokter mempersilahkan.


Wanita yang diketahui beridentitas ‘Sofia’ membuka matanya saat menyadari ada seseorang yang datang, bahkan seketika wajahnya berbinar saat mengetahui siapa seseorang itu.


Sedangkan anak kecil bernama Tasya masih terlelap di ranjang sampingnya.


Faris dan Aisha berdiri bersisian di samping ranjang Sofia.


“Faris,” ucap Sofia lirih. Tiba-tiba tangannya terangkat hendak meraih wajah Faris, namun Faris segera memundurkan wajahnya. Membuat tangan itu terhenti di Udara dan melemah.


Sontak hal itu membuat Aisha menoleh pada sang suami, seolah bertanya ‘siapa dia?’. Hanya saja Aisha terlalu pintar menyembunyikan perasaannya hingga ia tetap bersikap tenang ketika sang suami hanya mengerjapkan matanya sebagai jawaban.


“Em Sa-sayang, kenalin ini Sofia temen Abang SMA dulu. Dan Sofi, ini istriku, Aisha,” tutur Faris memecah kecanggungan yang tercipta.


Sofia hanya menjawabnya dengan senyum yang terlihat di paksakan.


“Jadi benar dia sudah punya istri?”


Tiba-tiba pandangan Sofia menunduk, beralih menatap kosong ruangan itu. Berbeda dengan Aisha yang terlihat tetap tenang.


“Mba kan ibunya Tasya? Kita ketemu di mall tadi,” tutur Aisha mengusap pelan lengan Sofia yang tergeletak.


“Iya, sekali lagi makasih ya udah nolongin Tasya. Makasih juga udah bawa kita ke sini.”


“Pas aku sadar, perawat bilang Dokter Faris sama istrinya yang nyelametin dan bawa kita ke sini, dokter ahli bedah terbaik di Rumah Sakit ini. Aku nggak nyangka kalo Faris yang disebutin perawat tadi adalah Faris yang sama dengan yang aku kenal.”


"Tadi kita emang sempet ke sini dulu, tapi langsung ke kantor polisi buat pemeriksaan," tutur Aisha dibuat sebiasa mungkin.


“Oh ya, gimana ceritanya kok mobil kamu bisa terjun ke jurang?” tanya Faris penasaran.


Terlihat Sofia menghembuskan napasnya berat.


“Mungkin itu sabotase suamiku,” jawab Sofia sendu.


Sontak Faris dan Aisha terkejut, keduanya saling bertatapan penuh tanya.


“Maksud kamu?” lagi-lagi Faris penasaran.


Sofia terlihat meraih tasnya yang tergeletak di atas nakas di samping blankar. Ia membuka ponselnya dan mengambil sesuatu di sana.


“Tolong kasih ini ke polisi,” ucap Sofia menyerahkan sebuah sd card pada Faris.


“Apa ini?”


“Semua bukti kejahatan suamiku ada di sana.”


“Tunggu, aku nggak ngerti! Tapi kenapa suamimu melakukan semua ini? Bukankah kalian adalah pasangan?” Faris dan Aisha benar-benar penasaran pada pernyataan Sofia.

__ADS_1


Bukan menjawab, Sofia justru memalingkan wajahnya. Membuat Faris dan Aisha cukup mengerti, mungkin Sofia belum ingin berbagi tentang masalah yang menimpanya.


“Baiklah, aku akan menyerahkan ini ke polisi,” tutur Faris kemudian langsung berpamitan pulang setelah lebih dulu beralih dan melihat kondisi Tasya yang masih terlelap.


***


Faris menghentikan langkahnya saat dirasa hening tak ada langkah kaki yang mengikutinya. Saat ia berbalik, tenyata Aisha masih mematung di dalam lift, tatapannya terlihat kosong. Sejak keluar dari ruangan Sofia, Aisha terlihat lebih banyak terdiam.


“Sayang,” ucap Faris lembut menyentuh lengan sang istri.


“Em hah, udah buka liftnya?” tanya Aisha sekenanya.


“Udah dari tadi.”


Faris segera merangkul pundak sang istri, berjalan bersisian agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aisha.


Ketika Faris hendak mengecup puncak kepala Aisha, tiba-tiba Aisha mendongak dengan cepat. Keningnya membentur dagu Faris cukup keras.


“Sakit,” ujarnya memegangi keningnya yang terlihat memerah.


“Ya Allah, maaf Sayang.” Telapak tangan Faris segera mengusap-usap kening Aisha lembut dan berakhir dengan kecupan hangat di sana.


“Abang! malu tau, gimana kalo ada yang liat?” gerutu Aisha masih memegangi kepalanya.


“Mana? Nggak ada juga,” jawab Faris dengan celingukan. Untung saja hari sudah cukup malam dan suasana Rumah Sakit sudah cukup sepi.


“Makanya bilang, Ica kenapa?” lanjutnya menangkupkan kedua tangan pada wajah sang istri. Membuat Aisha tak bisa mengelak dari tatapan itu.


“Sebenarnya siapa Sofia? Kalian pernah punya hubungan apa?”


Faris justru tersenyum mendengar pertanyaan Aisha.


“Ceritanya dari tadi lagi cemburu nih?” goda Faris mengangkat dagu Aisha dengan kedua jarinya.


“Maaf kalo Ica berlebihan.” Tiba-tiba tatapan itu berubah sendu, Aisha segera melepaskan tangan Faris dari dagunya dan berjalan gontai meninggalkan Faris.


“Hey Sayang, dengerin dulu.” Faris berlari mengejar langkah sang istri.


Grep, pelukan di bahu Aisha menghentikan langkahnya. Faris membalikan tubuh mungil itu agar menghadapnya.


“Sayang, Abang sama Sofia nggak pernah punya hubungan apapun. Murni hanya sebatas teman,” tutur Faris lembut menangkup wajah sendu sang istri.


“Ica perempuan Bang! Ica bisa ngerasain perilaku dan tatapan Sofia ke Abang itu beda. Padahal Abang dateng sama istri sah Abang, tapi dia berani kayak gitu. Gimana kalo nggak ada Ica?” Mata Aisha mulai memanas, bahkan parit mulai terbentuk dari ujungnya.


Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat.


(Ali bin Abi Thalib)


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2