Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Terungkap (2)


__ADS_3

“Bang, Ica izin ke asrama putri sebentar yah? Mau ke Rini sama santri lainnya juga,” tutur Aisha memasang wajah penuh harap pada Faris.


“Jangan lama-lama yah, nanti kalo udah ketemu Rini lupa sama suami,” jawab Faris menangkupkan tangannya pada wajah imut Aisha.


Wajah Aisha berbinar mendengar jawaban Faris, ia tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Faris.


Senyum Faris makin melebar mendapat perlakuan manis dari Aisha, lalu membiarkan tangannya dicium takdim oleh Aisha sebelum benar-benar pergi.


***


Setelah selesai merancang perencanaan menu hingga saran penyajian makanan untuk Rafa esok hari, Karina segera berkemas untuk pulang.


Ia menoleh ke sekeliling, mencari keberadaan Azka. Meski sebenarnya ia masih kesal dengan sikap Azka tadi, tapi bagaimanapun ia bekerja di rumah Azka, jadi harus berpamitan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang.


“Nyariin Tuan Azka ya Bu dokter?” tanya Bi Surti yang melihat Karina seperti kebingungan mencari seseorang.


“Eh iya Bi. Dimana ya?”


“Biasanya jam segini Tuan Azka selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya Bu dokter. Di sisi kanan kamar beliau ruangannya,” tutur Bi Surti menunjukan letak ruang kerja Azka.


“Makasih ya Bi,” jawab Karina sebelum berlalu melangkah menuju ruang kerja Azka.


Karina mematung di ambang pintu yang terbuka lebar, menampakan sosok Azka yang memunggunginya tengah fokus pada laptopnya, bimbang antara harus menyapa atau berlalu saja.


“Tok ... Tok.” Setelah memutuskan, Karina beberapa kali pintu yang terbuka yang sontak membuat Azka membalikan posisi duduknya.


“Em, semuanya udah beres. Aku pamit pulang dulu,” tutur Karina ragu.


Azka melirik jam yang melingkar di pergelangannya, menunjukan pukul 21.30 waktu Indonesia setempat.


“Saya antar!” tutur Azka yang segera bangkit mengambil jaketnya.


Karina masih mematung di tempatnya, lagi-lagi bingung dengan sikap pria yang baru saja berlalu di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera mengikuti langkah Azka yang sudah menuju keluar.


“Aku kan bawa mobil,” tutur Karina menghentikan langkahnya.


Bukan Azka jika tak memiliki cara untuk mempertahankan imagenya.


“Saya akan ikuti dari belakang,” jawabnya lalu segera menghidupkan mesin mobil.


Karina hanya mengangguk dan mengangkat bahunya, tak mau ambil pusing pada sikap pria dihadapannya. Pria yang tanpa sadar sedikit banyak telah merubah sifatnya, bahkan hidupnya.


***


“Assalamualaikum ….” Sontak para santri menoleh ke arah asal suara di bingkai pintu.


Terlihat Aisha yang tengah berdiri di ambang pintu dengan melebarkan senyumnya.


“Masya Allah Mba Aisha ….” Semua santri menghambur memeluk Aisha setelah lebih dulu meyalaminya.


Ana menoleh ke sekeliling mencari-cari sosok yang ditujunya, tapi batang hidungnya pun tak didapati.


“Rini kemana?” tanya Aisha akhirnya bertanya.


“Sedang di kamar mandi Mba, mungkin sebentar lagi kembali,” jawab salah satu santri.

__ADS_1


Aisha hanya manggut-manggut mengiyakan.


“Mba Aisha cerita dong kok bisa tiba-tiba sama ustadz Faris sih?” tanya beberapa santri berebut meminta Aisha untuk menceritakn kisahnya.


“Insya Allah kalo ada waktu Mba cerita yah,” tolak Aisha halus.


“Mba Aisha …,” teriak Rini yang baru saja kembali dari kamar mandi dan langsung menghambur memeluk Aisha ketika melihatnya.


“Kebiasaan yah kamu, selalu teriak-teriak,” jawab Aisha kewalahan dengan serangan Rini.


“Kan kangen Mba,” bela Rini.


“Mba Aisha bakalan lama di sini?” lanjut Rini.


Aisha menggeleng.


“Mungkin besok juga balik lagi ke Surabaya setelah nganterin Gus Hasan.”


“Oh Guse jadi berangkat?”


“Sepertinya.”


“Padahal kita masih kangen sama Mba Aisha,” celetuk salah satu santri di belakang Rini.


Aisha tersenyum.


“Kan Bang Faris harus balik ke Rumah Sakit.”


“Cie manggilnya udah Abang aja,” goda Rini yang disetujui santri lainnya.


“Masya Allah pengantin baru tuh auranya beda gitu,” lanjut Rini kembali menggoda Aisha.


“Masa sih?” tanya Aisha polos.


“Eh Rini baru ingat! Ada yang mau Rini omongin sama Mba Aisha, tapi jangan di sini,” bisik Rini.


“Kalo gitu kita permisi dulu yah, Mba Aisha masih ada urusan sama Rini,” pamit Aisha yang diangguki oleh semua santri yang ada di ruangan itu.


Aisha dan Rini segera bangkit, menjauh menuju gazebo di taman tempat kesukaan Aisha saat di pondok dulu.


“Mau ngomongin apa nih?” tanya Aisha ketika mereka telah sampai di gazebo taman.


“Tentang Gus Hasan Mba,” jawab Rini tanapa memalingkan wajahnya dari pemandangan indah di hadapannya.


Aisha menoleh, mengerutkan dahinya bingung mendengar jawaban yang Rini lontarkan.


“GusHasan?” tanya Aisha mengulangi.


“Apa Mba tau kalo Gus Hasan sebenarnya memiliki rasa pada Mba Aisha?”


“Rasa bagaimana maksud kamu?”


“Rasa seorang lelaki kepada perempuan pastinya Mba.”


“Hus ngawur kamu. Mba sudah punya suami Rin, bahkan suami Mba adalah kaka sepupunya sendiri.”

__ADS_1


“Tapi kan masalah hati bukan kita yang mengaturnya Mba, kita ndak tau pada siapa cinta kita berlabuh.”


“Apa kamu yakin?” tanya Aisha menyelidik.


Rini mengangguk mantap.


“Beberapa hari setelah Mba Aisha boyong dari pesantren, Gus Hasan pulang. Beberapa hari tak mendapati Mba Aisha di pesantren, akhirnya Guse memberanikan diri bertanya langsung sama Rini waktu lagi masak di ndalem.”


“Gus Hasan seniat itu?”


Lagi-lagi Rini mengangguk.


“Rini bilang kalo Mba Aisha sudah boyong setelah di khitbah oleh ustadz Faris, ada raut kecewa yang begitu jelas di wajah beliau Mba.”


“Memangnya Guse nggak tau rencana Bang Faris? Kan mereka sepupuan, bahkan udah kaya adik kaka.”


“Mungkin waktu itu Guse keburu berangkat Mba,” tutur Rini menebak.


“Iya sih, mungkin Bang Faris juga nggak mau ganggu Guse dulu waktu masih di Mesir.”


“Tapi Mba yakin Guse lebih paham bagaimana seharusnya rasa itu di tempatkan,” lanjut Aisha.


“Mungkin, pasti Guse juga paham gimana hukumnya mencintai wanita yang sudah bersuami,” tutur Rini menambahkan.


***


Sepanjang perjalanan menuju ndalem pikiran Aisha tak bisa lepas dari pernyataan yang Rini beritahukan padanya tadi.


“Apa mungkin yang Rini katakan ada benarnya? Jika memang iya, maafkan saya Gus karena lebih memilih kaka sepupumu,” gumam Aisha tetap fokus pada langkahnya.


“Aisha!” panggil seseorang menghentikan langkahnya.


Betapa terkejutnya Aisha ketika mendapati bahwa yang memanggilnya adalah Gus Hasan, pria yang baru saja ia perbincangkan.


“Iya Gus?” tanya Aisha sewajar mungkin.


“Manggilnya ndak usah seperti itu, kan sekarang kamu jadi kakak ipar saya, seharusnya saya yang manggil Mba,” tutur Gus Hasan juga dibuat sewajar mungkin.


Sebenarnya saat ini detak jantungnya pun sedang tidak baik-baik saja dengan hanya berbincang dengan Aisha.


“Biasa saja Gus, saya nggak terbiasa,” tolak Aisha halus.


“Ah ya sudah terserah Aisha saja,” jawab Gus Hasan terkekeh.


“Ada apa yah Guse manggil saya?” tanya Aisha mengingatkan, bagaimanapun juga kini ia wanita yang telah bersuami, ia takut terjadi fitnah jika mereka berbincang berdua seperti itu.


“Oh iya, ini saya hanya mau mengembalikan tali gamis yang Aisha pakai buat membalut luka saya waktu itu,” tutur Gus Hasan menyerahkan tali gamisnya pada Aisha.


Faris yang melihat Aisha tengah berbincang dengan seseorang yang entah siapa itu karena tertutup oleh dahan pohon yang cukup lebat, segera menghampiri istrinya, memastikan siapa gerangan yang tengah berbincang dengannya.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2