
Gus Hasan membuka matanya begitu mendengar suara pramugari menginformasikan bahwa pesawat yang membawanya dari bandar udara Yogyakarta International Airport ke Ataturk International Airport segera landing.
Gus Hasan mengusap wajahnya kasar, rasa lelah benar-benar terasa. Dua puluh dua jam bukanlah waktu yang sebentar. Satu jam 20 menit dari Yogyakarta International Airport ke Soekarno-Hatta, Jakarta, transit empat jam 35 menit .
Duduk lagi di pesawat Sembilan jam 10 menit baru sampai bandar udara International Hamad DOH, transit lagi dua jam 20 menit dan terbang lagi empat jam 35 menit barulah akhirnya sampai di Ataturk International Airport.
Turun dari burung besi, Gus Hasan langsung menuju tempat pengambilan bagasi, begitu kopernya keluar dari sistem ia segera meraih dan menyeretnya.
Tidak perlu menoleh ke sana ke mari, karena tak ada juga yang menyambut kedatangannya. Di negara yang terletak di dua benua ini ia harus bertaruh hidup sendiri, toh ini adalah pilihannya.
Berbeda dengan wanita bergaya casual yang tadi duduk bersebelahan dengan dirinya, dari dalam bandara Gus Hasan bisa melihat dua orang ajudan yang sudah bersiaga membawakan barang miliknya juga seorang supir yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Istanbul, Turki, akhir bulan Oktober.
“Welcome Istanbul,” gumam Gus Hasan menyemangati dirinya sendiri.
Tatkala sinar mentari masih begitu bersinar, Gus Hasan menyeret kopernya menuju stasiun metro untuk mendapatkan Istanbulkart.
Dari Ataturk International Airport menempuh perjalanan dengan lebih panjang menggunakan metro, ia turun di Aksaray lalu berganti menaiki trem.
Gus Hasan yang benar-benar merasa lelah lebih memilih menggunakan kapal feri untuk menyeberangi Selat Bosphorus.
Pria berkemeja birel itu memilih berada di luar kapal, merasakan hawa panas sekaligus angina yang berhembus bersamaan. Saat ini tujuan utamanya adalah Blue Mosque.
***
Saat ini biarkan aku mengenangmu yang pernah hadir dalam hidupku
Walau sekarang, telah menjadi memori yang sesekali aku ingat
Tapi akan kupastikan semuanya lenyap
Tidak ada lagi rasa benci
Walau dulu pernah sangat membenci
Tidak ada lagi luka
Walau dulu pernah sangat terluka
Tidak ada lagi sedih dan sakit
Semua telah kuterima dengan lapang dada
Aku juga sudah mengerti bagaimana hidup
Tentang keikhlasan dan merelakan
~Aisha Ameera Al-Insani~
Beberapa saat setelah Karina meninggalkan meja ke arah bar ….
“Azka.” Suara yang tak asing bagi Azka.
Keduanya menghampiri Azka yang tengah terduduk sendirian bermain dengan Rafa.
Azka mendongakan kepalanya mendengar namanya dipanggil.
__ADS_1
“Faris … Aisha.”
Faris dan Aisha segera bergabung di meja Azka, meminta kursi kosong pada waitress di sana.
“Sendirian lo?” sapa Faris yang sudah duduk bersisian dengan Aisha.
“Eh tapi ini ada dua hidangan,” tutur Aisha melihat makanan di kursi seberang Azka yang masih utuh belum disentuh.
“Ah jangan-jangan Rafa mau punya ibu baru yah. Curang lo nggak bilang-bilang,” goda Faris menepuk lengan Azka.
“Oh, em itu …,” Azka tampak bingung menggantung kalimatnya sendiri.
“Ini susunya Ra ….” kalimat Karina terhenti saat melihat siapa yang tengah berbagung bersama Azka.
“Loh Karina?” tanya Faris menoleh pada Azka bertanya.
“Kenapa harus ketemu mereka di saat kaya gini sih?”
“Em iya, dia sekarang ahli gizinya Rafa,” jawab Azka.
Faris dan Aisha hanya manggut-manggut mengiyakan.
“Sekarang udah nggak di Rumah Sakit lagi?” tanya Faris yang melihat Karina masih berdiri mematung di tempatnya.
Aisha yang menyadarinya segera menarik kursi agar Karina duduk.
Ada rasa canggung yang tercipta antara keduanya, terutama Karina. Melihat sosok Aisha, ia merasa insecure.
Mengenal Azka membuat Karina banyak belajar akan kehidupan, tentang kehilangan juga mengikhlaskan.
Tentang Faris, mungkin memang Aisha yang namanya telah bersanding di lauhul mahfudz sana, bukan dirinya.
“Kalian dari mana? Kebetulan banget kita ketemu di sini,” tutur Azka memecah kecanggungan yang tercipta.
“Kita abis dari Yogya, silaturahmi ke Pakde sama Bukde,” jawab Faris membenarkan letak duduknya.
Karina yang merasa amat canggung, mengambil alih Rafa dari pangkuan sang ayah. Memberikan susu yang telah diraciknya tadi.
“Eh pesen makanan dulu kalo gitu,” tutur Azka pada kedua pasangan pengantin baru itu.
“Lo udah makan apa lagi nunggu pesenan juga?” tanya Faris yang hanya melihat dessert di meja di hadapan Azka.
“Eh gue sih udah makan,” jawab Azka mempersilahkan.
Keduanya hanya manggut-manggut.
“Mba!” panggil Azka sambil melambaikan tangannya pada waitress di sana.
“Mau pesen apa Ca?” tanya Faris menyentuh lengan istrinya yang sejak tadi lebih banyak terdiam.
“Em terserah Abang aja, asal jangan yang bikin mual,” jawab Aisha membuat Azka mendongak mendengar jawabannya.
“Aisha udah isi?” tanya Azka kaget.
“Belum secepet itu kali bro.” Faris justru tertawa mendengar pertanyaan Azka.
“Loh tadi katanya mual-mual?” tanya Azka masih bingung.
__ADS_1
“Tadi Aisha emang mabuk perjalanan, makanya kita sekalian mampir dulu ke sini cari makan,” jawab Faris menghilangkan keterkejutan Azka.
“Mau chicken steak enoki-nya nggak,” tanya Faris melihat-lihat daftar menu di tangannya.
“Mau,” jawab Aisha dengan matanya yang berbinar.
“Aisha nggak berubah, kesukaannya masih tetap sama.”
Beberapa saat waitresssudah kembali menghidangkan pesanan Faris dan Aisha dengan lengkap.
“Makasih,” tutur Aisha pada waitress yang menghidangkan makanannya.
Waitress itu mengangguk lalu kembali dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
“Sini Rafa biar sama saya, kamu makan juga. Nanti keburu dingin,” tutur Azka mengambil Rafa dari pangkuan Karina.
Aisha yang mendengar penuturan Azka mendongak, merasa ada keganjilan pada ucapan Azka.
“Kenapa Mas Azka jadi sedingin itu?”
Setelah menghabiskan makanannya, Faris mengambil alih Rafa dari pangkuan ayahnya sambil menunggu Aisha menyelesaikan makanannya.
“Sama Om ya?” tutur Faris dengan gaya seperti anak kecil saat memangku Rafa.
“Hai Rafa ganteng, kita ketemu lagi. Udah besar ya sekarang.” Aisha berdialog dengan Rafa yang tampak begitu menggemaskan.
“Sini sama tante ya?” tutur Aisha mengangkat kedua tangannya bersiap mengambil Rafa dari pangkuan suaminya.
Rafa yang memang sudah terbiasa dengan banyak orang terlihat tenang saja, tidak seperti kebanyakan anak yang akan merasa terganggu dengan keberadaan orang asing.
“Ini susunya,” tutur Karina menyodorkan botol susu kepada Aisha.
Melihat Aisha yang amat humble terhadap putranya, membuat Azka kembali teringat saat-saat ketika dirinya dan Aisha masih bersama. Walau sekarang ternyata takdir berkata berbeda.
Perpisahan kita terjadi sudah cukup lama
Kita juga sudah putar haluan yang berbeda
Wajar jika kamu terlihat biasa saja saat kita berjumpa
Namun tidak denganku
Hati ini masih belum baik-baik saja
Walau hanya mendengar suaramu
Bahkan masih saja terluka menikmati tawamu yang tak sengaja
AKU BELUM MAMPU MELUPAKANMU
~Muhammad Azka El-Fatih~
***
Bersambung ….
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang …
__ADS_1