Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Terungkap


__ADS_3

Hari ketiga tidak ada sang istri di rumahnya membuat Faris benar-benar tak ada semangat menjalani harinya, jika hari-hari sebelumnya ia masih sanggup ke Rumah Sakit meski dengan kondisinya yang tidak baik-baik saja, tapi tidak dengan hari ini.


Untuk sekedar bangkit dari atas pembaringan pun Faris benar-benar merasa enggan, ia hanya bangkit untuk membersihkan diri dan mengerjakan solat, bahkan hingga sore beranjak Faris masih betah di atas pembaringannya.


Tengah sibuk dengan pikirannya, lagi-lagi seseorang mengetuk pintu kamarnya, Faris yang enggan hanya menutup wajah dengan lengannya tanpa berniat untuk bangkit atau sekedar menjawab ketukan dari luar.


Klek, karena tak ada jawaban akhirnya pintu dibuka, dan ternyata itu adalah Pak Toni dengan membawa nampan berisi makanan.


Pasalnya sejak tadi pelayan mengeluhkan jika Tuan mereka sama sekali tak merespon makanan yang mereka bawa, bahkan untuk sekedar membukakan pintu pun tidak.


“Ris kamu kenapa lagi? Sejak tadi pelayan mengeluh kamu nggak mau bukain pintu. Ayo makan dulu … dari pagi kamu nggak makan apapun,” tutur Pak Toni menyiapkan makanan yang dibawanya.


Faris hanya diam saja, bahkan lengan di atas wajahnya saja tak ia geser sedikitpun.


“Ayolah … kayak anak gadis aja kamu mogok makan.” Lagi-lagi Pak Toni memaksa Faris untuk bangkit dan membuka mulut.


“Aku nggak laper, aku cuma mau Aisha Pak ….”


“Makanya kamu harus makan biar kuat bawa Aisha kembali.”


Sejenak otaknya berpikir, benar yang dikatakan Pak Toni, ia harus baik-baik saja agar bisa membawa Aisha kembali ke rumah ini, lagi pula hanya dengan uring-uringan seperti ini tak akan membuat semuanya selesai begitu saja.


Dan lagi perut Faris berkhianat ketika melihat menu makanan yang dibawa oleh Pak Toni, cacing-cacing di dalam seketika meronta minta diisi, benar-benar tidak sejalan dengan ucapannya yang berkata tidak.


Akhirnya Faris meraih piring di tangan Pak Toni, melahapnya sesuap demi sesuap hingga semuanya habis tak bersisa.


“Tuh laper kan kamu … dikira ngebatin itu nggak butuh tenaga,” ledek Pak Toni sambil membawa kembali piring kosong itu.


Sepeninggal Pak Toni, Faris kembali melangkahkan kakinya ke balkon seperti biasa, tempat dimana hatinya terasa lebih tenang dengan menyaksikan hiruk pikuk kota kelahirannya dari atas sana.


Kali ini dia membawa buku catatannya juga agar pikirannya sedikit teralihkan dari masalah rumah tangganya saat ini, setelah mendudukan diri di kursi balkon, barulah ia memulai membuka catatannya.


Tuk … tiba-tiba sesuatu terjatuh tepat ketika ia membuka buku di tangannya, tubuh Faris sontak membungkuk untuk mengambil benda itu.


Ternyata sesuatu itu hanyalah sebuah lipatan kertas, netra Faris sontak memicing karena ia merasa tidak pernah menyelipkan sesuatu dalam bukunya.

__ADS_1


Tuk … sesuatu kembali terjatuh ketika ia membuka lipatan kertasnya, benda pipih persegi panjang membuat Faris mengusap-usap netranya tak percaya, tangannya bahkan bergetar ketika mengambil benda itu dan melihat tanda dua garis merah di tengahnya.


Tubuhnya semakin melemas ketika pandangannya beralih pada kertas di tangannya, di kertas itu tercetak dengan jelas sebuah rekam hasil USG atas nama istrinya.


Meski Faris bukanlah seorang dokter kandungan, tapi sebagai tenaga medis tentu ia tak kesulitan memaknai gambar hitam putih dengan gumpalan hitam di tengahnya yang berarti adalah embrio calon bayinya.


Usia kandungan yang baru enam minggu hanya memperlihatkan gumpalan itu dengan sangat kecil, karena memang kantong bayi baru akan muncul pada usia kandungan tujuh sampai delapan minggu atau yang biasa disebut trimester pertama.  Karenanya melakukan USG pertama disarankan saat usia kehamilan sudah lebih dari tujuh minggu agar kantong bayi terlihat dengan jelas.


“Maafin Papi yang terlambat mengetahui keberadaanmu Nak … Papi sayang kamu, sayang sekali ….” Air mata itu tak sanggup lagi menggenang, seketika saja ia berjatuhan dengan bebas membasahi wajah tampan lelaki itu. Rasanya Faris benar-benar tidak kuat merasakan sesak yang semakin menghantam dadanya, batinnya benar-benar terkoyak dengan pahitnya nasib yang hanya mampu melihat calon bayinya melalui selembar kertas yang kini semakin erat didekapnya.


“Maafin Abang Ca … kamu pasti lebih sakit dari yang Abang rasakan ….” Faris benar-benar sudah tak mampu menopang tubuhnya, seketika ia luruh ke lantai dengan isak yang semakin terasa sesak.


Putra yang selama ini dirinya dan Aisha dambakan telah lenyap bahkan sebelum Faris sempat mendengar jantungnya berdetak.


“Arrgghh …!”


Faris meraung sejadi-jadinya di atas sana, tidak ada yang tahu seberapa berat beban hidup yang kini tengah dipikulnya.


***


Aisha memang tak pernah menolak ketika ibunya menyuapkan makanan ke mulutnya, hanya saja ia selalu menghabiskannya dalam diam, tak ada sepatah kata pun yang mengiringi kunyahannya, tatapannya tetap kosong seperti biasanya.


“Sayang … jangan kayak gini terus Nak, kamu harus ikhlas dengan semuanya, Ibu nggak mau kamu kenapa-kenapa, hanya kamu yang Ibu punya, Sayang.” Maya pun turut sakit melihat putri semata wayangnya masih dengan kondisinya yang seperti ini, sebagai seorang ibu tentu saja ia sangat khawatir akan hal itu.


Aisha terperanjat mendengar ibunya sampai memohon seperti itu, direngkuhnya tubuh yang mulai merenta itu ke dalam dekapannya.


“Aisha nggak apa-apa Bu, Aisha udah lebih baik kok. Aisha cuma masih butuh waktu buat nerima semua ini,” tuturnya dengan lemah sambil merebahkan kepalanya di pundak sang ibu.


“Sayang … kamu wanita bersuami, ada suamimu yang berhak atas diri kamu. Suami istri itu harus selalu berpegangan tak peduli manis pahitnya kehidupan. Kembalilah pada suamimu Sha, jangan abaikan dia seperti ini, Faris juga pasti sama terpukulnya kayak kamu, Sayang.” Maya berujar dengan sangat lembut memberikan pengertian pada putrinya.


Hening tak ada jawaban, Aisha terdiam mencerna setiap kalimat dari ibunya.


‘Apa Abang juga sedih kayak Ica Bang? Tapi bagaimanapun Ica adalah ibunya, di perut Ica calon anak kita bersemayam, sakit ini bahkan udah nggak bisa lagi Ica ungkapkan’


“Istirahatlah, kamu harus lekas baik-baik saja.” Maya mengecup kening putrinya sebelum berlalu membawa nampan kosongnya, membiarkan Aisha memikirkan ulang tentang nasib rumah tangganya.

__ADS_1


Prang … tiba-tiba gelas yang berisi air minum di atas nakas yang hendak diraihnya jatuh berserakan ke lantai.


“Astaghfirulloh ….”


Maya yang baru saja hendak naik ke atas pembaringan sontak segera menghampiri kamar Aisha setelah mendengar bunyi sesuatu yang pecah.


“Sayang … kenapa?” tanya Maya melihat putrinya yang sudah berjongkok membersihkan pecahan gelas yang berserakan.


“Nggak apa-apa kok Bu, Aisha cuma meleng aja tadi.”


“Biar Ibu minta Bi Darmi yang bersihkan ya.”


“Nggak usah Bu, biar Aisha aja,” ujar Aisha menghentikan langkah Maya yang hendak berbalik.


“Ya udah sini biar Ibu bantu.” Maya pun turut berjongkok memunguti pecahan gelas itu.


“Nggak apa-apa Bu, Ibu istirahat aja, lagian biar Aisha ada gerak,” ujarnya lagi-lagi menghentikan kegiatan Maya.


Senyum Maya tersungging dari kedua sudut bibirnya, perkembangan baik mulai nampak dalam diri putrinya itu.


“Ya udah, kamu hati-hati ya Nak, awas takut kena tangan.”


Aisha hanya mengangguk sambil berusaha menampilkan senyumnya pada wajah yang masih nampak pucat itu.


Tubuh Aisha langsung ambruk ke lantai sepeninggal ibunya, ia terduduk lemas di tepi ranjang memeluk lututnya. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sangat gelisah hingga membuat gelas yang hendak diraihnya justru terjun ke lantai.


“Apa Abang baik-baik aja di rumah sendirian Bang?” Aisha bertanya seolah-olah Faris ada di hadapannya.


“Abang ….” Aisha terisak menyebut-nyebut suaminya, entah apa yang terjadi hingga tiba-tiba ia merasa sangat merindukannya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2