Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Restu Kak Isal


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


_________


“Selamat ya Sayang, akhirnya Allah kembali memberi kalian kepercayaan.” Maya memeluk tubuh putrinya yang baru setengah duduk bersandar di atas brankar.


“Jaga kesehatan, jangan capek-capek, jangan banyak pikiran. Kamu bawa calon penerus Abdullah Company nih diperutmu.” Kini giliran Faisal yang mengacak gemas puncak kepala adiknya lantas memberikan pelukan setelah lebih dulu melirik pada priadi samping adiknya itu.


Aisha tersenyum mendengar perhatian-perhatian itu, sudah seharusnya ia juga kuat karena ada banyak orang-orang yang menyayangi dan mendukungnya.


“Pantesan akhir-akhir ini Ibu sering denger kamu muntah kalo pagi-pagi, Sayang. Ternyata lagi isi,” imbuh Maya mengingat beberapa kali ia memergoki putrinya yang mual-mual di pagi hari.


“Loh Ica nggak coba cek, Sayang?”


“Ya Ica mana ada kepikiran kesitu, dikira Ica cuma masuk angin biasa. Lagian kan kita cuma ….” Aisha segera membekap mulutnya begitu tersadar kemana arah pembicaraannya.


“Cuma apa?” Faisal tampak penasaran karena adiknya justru menghentikan kalimatnya.


“Nggak ah kan Kak Isal belum nikah,” ujar Aisha meledek kakaknya yang segera mendapat pelototan dari sang kakak karena sudah menggodanya.


“Oh ya kalian kapan rencana pulang ke Surabaya? Pasti Faris udah terlalu lama ninggalin rumah sakit kan?” tanya Maya yang merasa jika urusan mereka sudah selesai di sini, keadaan pun sudah kembali seperti semula.


Aisha mendongak kepada suaminya yang berdiri di samping brankarnya, tak ingin mendahului keputusan suaminya.


“Em mungkin beberapa minggu lagi, Bu. Proyek di Ankara masih harus Faris pantau. Lagi pula Faris memang sengaja ngambil cuti di rumah sakit,” jawabnya yang mendapati anggukan dari ibu mertuanya.

__ADS_1


“Ya sudah, berarti Aisha sudah harus pindah ke apartemenmu, Nak. Biar nanti Roger yang suruh ngambil barang-barangnya.”


“Tapi nanti Ibu sendirian, Ibu ikut aja ke apartemen Abang gimana? Boleh kan, Bang?” ujar Aisha kembali menoleh pada suaminya.


“Iya Bu Aisha bener. Ibu sekalian aja ke apartemen Faris,” tukasnya menyetujui usulan istrinya.


“Kan ada Kakak. Nanti Kakak bakal lebih sering ngunjungin Ibu kok. Atau sekali-kali nginep kalo lagi senggang. Kakak tau kok yang baru aja baikan pasti pengen berduaan, ya kan Bu?” kini giliran Faisal yang menyanggah sembari menggoda adiknya itu.


“Eh tapi inget kata dokter trimester pertama jangan cape-cape loh yah,” tukas sang ibu mengingatkan. Sontak membuat Aisha dan Faris tersenyum kikuk dengan wajah yang sama-sama bersemu.


“Nggak usah diingetin terus, Bu. Pa dokter sama Bu dokter pasti paham dong mana yang berbahaya atau enggak.” Lagi-lagi Faisal kembali menggoda adik dan iparnya.


“Dokter juga manusia, Kak. Namanya orang lagi bahagia kan suka lupa dunia.”


“Ihhh apa sih Kakak sama Ibu tuh, suka banget deh godain Aish. Oh ya emang tadi dokter bilang apa aja, Bang?”


“Bukan apa-apa, hanya seputar pengetahuan tentang ibu hamil kok, Sayang.” Aisha tersenyum mendengarnya, sedikit merasa lega karena tak ada sesuatu yang buruk pada janinnya.


Sore harinya, Dokter memperbolehkan Aisha untuk pulang dan beristirahat di rumah. Bersama suaminya, kini mereka sudah berada di dalam mobil untuk pulang ke apartemen Faris. Mobil yang dikemudikan oleh Roger itu mulai merayap berbaur dengan ratusan kendaraan lain yang tampak berlomba dengan mentari yang hampir menuju peraduan. Sedangkan Faisal dan Maya mengikuti mereka dengan mobil Faisal dari belakang.


“Ger, nanti abis nganter kita kamu ikut Ibu ke apartemen buat ngambil barang-barang istri saya ya.”


“Apartemen Nyonya Maya?” tanya Roger melirik sekilas dari kaca spion.


“Iya, barang-barang saya nggak banyak kok,” imbuh Aisha dengan netra yang masih terpejam dalam dekapan suaminya. Sungguh posisi itu benar-benar amat ia rindukan dan begitu membuatnya nyaman.


“Baik, Nyonya.”


Sampai di apartemen, Faris segera menggiring istrinya menuju pembaringan. Meski sudah dibolehkan pulang, tapi Aisha tetap harus banyak beristirahat.

__ADS_1


“Kamu baik-baik ya, Sayang. Ibu sama Kakak pulang dulu. Kalo butuh sesuatu kamu tinggal hubungi Ibu atau Kakak juga boleh,” pesan Maya sebelum kembali ke apartemennya.


“Bilang sama Kakak kalo suamimu macem-macem,” imbuh Faisal melirik adik iparnya.


Aisha hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi celotehan kakaknya itu. Ia begitu bersyukur dikarunia keluarga yang begitu peduli terhadapnya. Meski sejak kecil ia tumbuh tanpa seorang ayah, tapi sedikitpun ia tak pernah merasakan kekurangan perhatian. Ia memiliki Ibu yang begitu luar biasa, juga suami yang begitu penyayang. Ditambah lagi dengan takdir yang membawanya bertemu dengan kakak kandung yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya. Lisan wanita itu tak pernah berhenti mengucap syukur karena selalu dikelilingi orang-orang baik di sekitarnya.


“Abang anter Ibu sama Kak Isal dulu ke basement ya, Sayang,” pamit Faris yang segera diangguki istrinya.


“Ibu kalo ngerasa sepi di apartemen tinggal hubungi Roger aja ya Bu biar nanti Ibu di sini sama kita.” Faris membukakan pintu mobil untuk Ibu mertuanya begitu mereka sampai di basement.


“Iya Nak, tenang aja,” jawabnya sebelum pintu ditutup. Kini tinggalah kedua pria di luar mobil itu.


“Tolong jaga adik saya baik-baik. Jangan lagi kamu kecewakan dia. Saya percayakan permata hati saya sama kamu.” Ada getar ketika Faisal mengucapkan kalimatnya. Setelah puluhan tahun terpisah, rasanya Faisal ingin terus berlama-lama bersama adiknya, berkumpul lengkap bersama ibunya. Tapi ia tak bisa memaksa, tanggung jawab akan adik perempuannya itu kini sudah berpindah pada lelaki asing di hadapannya ini. Semoga lelaki ini adalah orang yang tepat untuk Faisal percaya menjaga dan membahagiakan adiknya.


“Saya sudah berjanji di hadapan Allah untuk itu. InsyaAllah saya akan selalu berusaha untuk tidak lalai dengan janji itu. Sebagai satu-satunya saudara kandung Aisha, saya juga ingin meminta restu dan do’a Kakak untuk keluarga kecil kami.”


Faisal mengulas senyumnya. “Mudah-mudahan Allah selalu karuniai keluarga kalian sakinah mawaddah warahmah,” tukasnya menepuk pundak adik iparnya itu, seolah memindahkan tanggung jawab dari pundaknya.


“Aamiin yaa mujibassailiin, makasih Kak.”


Faisal mengangguk dan langsung berbalik menuju mobilnya, netranya sudah memanas menampung air mata di pelupuknya. Tepat saat ia berbalik setetes embun terjatuh tanpa diketahui oleh Faris maupun ibunya yang sudah menunggu di mobil.


Keadaan yang memaksanya menjadi kepala keluarga membuat Faisal merasa bertanggung jawab terhadap dua wanita yang ayahnya tinggalkan. Dan melepaskan salah satu tanggung jawabnya itu bukan hal yang mudah setelah bertahun-tahun mereka berpisah.


Sungguh tak ada yang lebih ia utamakan selain kebahagiaan ibu dan adik perempuannya itu. Bahkan sepertinya Faisal mungkin lupa terhadap kebahagiaannya sendiri.


Biarlah semua luka ia simpan untuk dirinya sendiri. Orang-orang di sekelilingnya hanya perlu tahu bahwa apapun yang terjadi pada keluarganya, maka ialah yang akan maju terdepan untuk membela.


__________

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2