
Bagaimana pun dirinya lebih tepat dan layak bila harus menggantikan posisi nya Diana, sebab dia lebih ada ke ikatan darah dengan sang kakak jadi tidak akan canggung lagi. Begitu pikirnya Dania.
Diana tidak mau mendengarkan sang adik, dia malah terus menatap ke arah Alisa yang menunduk dengan tangan yang bertaut di atas pangkuannya.
“Mbak, aku akan bicarakan ini dengan abang. Kalau saya sebagai adik Mbak yang punya hubungan darah itu lebih kuat.” Dania sangat percaya diri.
"Tante, sebenarnya Tante ini mau menolong atau memang mau jadi istri papa sih? Kok aku melihat ada udang di balik bakwan ya?” Liana menatap curiga pada tantenya itu.
Dania menatap tajam ke arah Liana seraya berkata. “Tentunya Tante dingin menolong bukan punya pikiran yang aneh-aneh ataupun berharap mama meninggal, bukan! tapi alangkah lebih baik nya bila, Tenta menjadi ibu kalian dari posisi hanya sebagai, Tante kalian saja.”
"Tapi, aku keberatan tuh. Tante! rasanya aku kurang setuju, karena Tante! ya Tante." Protes Liana dengan nada dingin.
“Apa kalian sedang rapat? Tampak serius banget ya dan saya tidak di ikut sertakan.” Cuph! Hadi mencium pucuk kepala Diana dengan mesra.
“Papa dari mana sih? Sedari tadi. Lama amat,” selidik Liana kepada sang ayah yang baru saja datang di kamar sang bunda.
“Abang ... aku sudah putuskan, kalau aku akan melamar Alisa untuk kau nikahi!” Diana menatap sang suami sambil memegang tangan nya.
Hadi hanya menatap datar kepada sang istri dan tidak menjawab perkataan dari istrinya itu.
“Semoga saja, abang menolak menikah dengan anak bau kencur itu dan memilih aku sebagai istrinya nanti.” Gumamnya Dania dalam hati.
“Tante, Sudah malam. Aku harus pulang dulu,” pamitnya Alisa, mengingat waktu sudah malam dan langit pun sudah gelap gulita.
“Oke, saya akan kabari kamu bila sudah tepat waktunya, Abang baiknya antarkan Alisa pulang?” Diana menyuruh Hadi untuk mengantarkan Alisa pulang.
“Em ... biar aku panggilkan supir untuk mengantar Alisa pulang.” Dania beranjak untuk memanggil supir.
“Tidak usah! Biar Abang saja yang mengantar Alisa pulang. Abang ... antar lah Alis pulang? nggak baik anak gadis pulang sendirian malam-malam.” Pinta nya Diana pada sang suami dan menolak tawaran dari Dania.
Alisa menggeleng. “Tidak usah, Tante aku biar pulang sendiri saja atau sama Liana lagi pulang nya! tidak perlu merepotkan Om,” Alisa menunduk.
“Sorry, aku gak bisa. Malas. Dingin! sebaiknya kau pulang dengan papa ku saja, oke? Sorry?” ucap Liana sambil menggoyang kan bahunya.
__ADS_1
“Ya sudah, saya saja yang mengantar mu?” tawar Dania agar Hadi tidak mengantarkan Alisa pergi. Dia tidak rela bila Hadi jatuh ke pelukan gadis kecil itu.
“Oke, yo?” Hadi berdiri dan lebih dulu keluar dari kamar tersebut dan sebelumnya mengusap pucuk kepala sang istri serta menyuruh nya untuk segera untuk beristirahat cepat.
Dengan ragu untuk pulang bersama Hadi. Alisa pun pamitan kepada Diana. “ Tante, aku pulang dulu ya? Assalamua’alaikum?”
“Wa’alakumus salam ...” jawab yang ada di sana dan Liana mengantar sahabatnya sampai teras saja.
“Hati-hati ya? oya Pah, aku titip sahabat ku ya?” Liana melihat ke arah sang ayah yang mengitari mobilnya dan ke arah Alisa bergantian.
Hadi menunjukan senyumnya. “Iya ... Papa akan hati-hati mengantar sahabat mu ini, sampai kemana? ke bulan boleh ... ku antarkan dengan senang hati, begitu kan?”
“Om, bisa saja!” Alisa mengulum senyumnya.
“Dah ...” Liana melambai tangan ke arah Alisa dan sang ayah yang mulai melajukan mobilnya dengan pelan merayap namun lama-lama mobil yang di kendalikan oleh Hadi melaju dengan sangat cepat.
Liana menghela nafas dalam-dalam lalu kembali ke kamar sang bunda yang sudah berbaring dan di sana masih ada asistennya.
“Bi, biar aku yang menemani bunda beristirahat. Kau silakan beristirahat saja,” Liana menyuruh asistennya untuk beristirahat.
Liana naik dan menemani sang bunda berbaring sampai sang bunda tertidur.
Setelah itu sang bunda tampak tertidur, Liana baru lah pergi ke kamar nya sendiri.
Mobil Hadi melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali Hadi melirik ke arah Alisa yang terdiam saja dan melihat ke arah luar jendela.
“Apa saja yang kalian bicarakan?” selidik Hadi tanpa melihat ke arah Alisa lagi.
Alisa menoleh ke arah Hadi sesaat. “Nggak.”
“Apa kau mempunyai kekasih?” tanya kembali Hadi seraya melirik sekilas dan setelah itu menajamkan pandangan ke arah depan jalan.
“Em ... punya! permintaan tante itu tidak mungkin aku penuhi. Mana bisa aku menggantikan posisi nya tante.” Pada akhirnya Alisa mengungkapkan perasaan nya.
__ADS_1
“Tante Dania sepertinya lebih pantas untuk menjadi istri mu, lagi pula dia adiknya tante yang auto akan lebih dekat dengan kalian semua.”
Hadi hanya terdiam mendengar kan ungkapan hati dari Alisa. Pandangan nya pun tetap fokus ke depan yang harus melewati kendaraan lain di dalam kegelapan.
“Lho. Kok, berhenti di sini?” Alisa tampak mengerutkan keningnya, merasa heran kenapa mobil Hadi berhenti di depan sebuah Cafe.
Hadi tidak menjawab. Pria itu melainkan turun dan mengitari mobil bagian depan nya. Berhenti di dekat pintu mobil yang ada Alisa nya.
Alisa turun dengan tetap merasa heran, kenapa dia di bawa ke sini? kepalanya celingukan melihat-lihat suasana di sana yang tidak terlalu ramai itu.
“Kita bisa ngobrol di dalam sambil minum kopi!” ucap Hadi sambil berjalan memasuki Cafe tersebut. Dengan ragu, Alisa mengikuti langkahnya Hadi yang lebar itu.
Kini mereka sudah duduk di sebuah sudut Cafe dekat jendela besar yang menghubungkan dengan pemandangan luar.
“Kau mau pesan apa?” tanya Hadi sambil mengetuk-ngetuk kan jari ke permukaan meja. “Apa mau makan?”
Alisa menggelengkan kepalanya. “Minuman buah saja.”
“Oke, itu saja? tidak dengan cemilannya?” tanya Hadi kembali.
“Em ... terserah Om saja lah, lagian buat apa sih kita ke sini?” gumamnya Alisa sambil mengedarkan pandangannya ke sekitaran tempat tersebut yang tidak terlalu banyak pengunjung. Dan tempat nya pun nyaman.
Hadi memanggil pegawai Cafe dan memesan dua gelas minuman just beserta cemilan nya.
“Kenapa saya mengajak kau ke sini? agar kita bisa ngobrol sebentar, Istri saya memang sudah lama mengidap penyakit, tapi tidak sedikitpun terbesit di dalam otak saya untuk menikah lagi! apalagi mengkhianati nya, tidak!” jelas Hadi sambil menunduk.
Alisa menyimak perkataan dari pria yang sudah berusia kepala empat itu. Hatinya juga gak
ngasih bila harus menikahi pria yang ia panggil om tersebut. Mana ayah sahabatnya dan mempunyai istri pula ....
.
...Bersambung!...
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya ya🙏