
Setelah suara adzan maghrib. mereka pun memasuki mension meninggalkan teras.
"Dirga Maghrib dulu ya? Jangan lupa lho!" pinta Alisa pada anak sambungnya yang setengah berlari menaiki tangga.
"Iya, Mom. Siap!" pekiknya sambil berjalan cepat.
Alisa berjalan dengan teratur menaiki anak tangga bersama Liana.
"Aku mau tanya dong, itu si Zidan dah punya istri belum? tapi setahu aku sih belum!" Liana melirik ke arah Alisa.
"Lah ni anak, dia yang nanya dia juga yang jawab sendiri, males aku jawabnya, ngapain? orangnya jawab sendiri kok!" Alisa menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan pertanyaan yang langsung dia jawab sendiri.
"He he he ... iya kan gue taunya dia belum nikah--"
"Ya gitu juga setahu aku, tapi nggak tahu sih! emangnya aku selidiki dia apa? kan nggak!" jawabnya Alisa.
"Selidiki dong ... please, buat gue." Liana menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Alisa menghentikan langkahnya dan menatap lekat ke arah Liana. "Boleh aku bicara sesuatu?"
"Boleh, serius amat!" Liana menaikkan kedua bahunya sembari tetap berdiri di hadapan Alisa.
"Kamu naksir sama Zidan? nggak perlu dijawab! dengerin aja dulu aku ngomong. Jika kamu naksir sama dia, tidak pernah kamu tunjukkan ataupun mencari asal-usulnya. Kamu boleh mencari asal usulnya tapi jangan terlalu apalagi memperlihatkan diri." sejenak Alisa menghentikan perkataannya seraya menghela nafas dalam-dalam.
"Kalau kamu suka sama seseorang, cukup kamu banyak berdoa agar yang maha kuasa mempertemukan kamu dengan dia dan menjadi jodoh yang terbaik. Sebab aku takut jika sikapmu seperti dulu yang pada akhirnya kamu juga yang rugi, kau menjadi seorang yang tidak berharga di mata dia. Cukup saja kamu tunjukkan sebagai wanita yang sangat berkualitas, sekalipun statusmu sekarang sudah menjadi janda." Sambungnya Alisa sambil menatap lekat.
Liana terdiam. Dia mencoba mencerna semua perkataan dari Alisa yang mungkin sesungguhnya dia ingin dirinya menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya.
Bukan dengan kata arti Liana dulu nakal atau murahan, tapi setidaknya lebih baik lagi agar menjadi wanita yang lebih dihargai bukan dianggap sepele apalagi dicampakkan.
"Aku harap kamu mengerti dengan maksud ku, bukannya aku menghalangi kamu menyukai seseorang, bukan! tapi aku hanya tidak ingin kamu mengalami hal yang sama. Biarlah yang maha kuasa memberikan kamu jodoh yang terbaik, bukan mengejar tapi kamu harus dikejar." Alisa menepuk kedua bahu Liana. Kemudian dia mendahului berjalan dan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sejenak Liana masih mematung di tempat. Memang perkataan Alisa banyak benarnya, mengingat kemarin-kemarin dia yang terlalu mengejar dan berambisi untuk memiliki Rahman, sehingga dia terhanyut dengan suasana dan pada akhirnya dia merasa dicampakkan sendiri dan kurang dihargai.
"Yah, aku tahu dan aku mengerti. Oke kalau begitu, mungkin lebih baik aku fokuskan diri untuk kuliah saja daripada aku mencari atau mengejar seseorang yang aku cintai, kata Alisa juga mendingan dikejar ketimbang mengejar! baiklah," gumamnya Liana sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kini Alisa cuma duduk di atas sofa dengan masih memakai mukenanya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Mom, Mommy ... sedang apa di kamar?" suara Dirga memanggil Alisa dari balik pintu.
"Iya, Dirga masuk saja. Mommy sedang bersantai kok!" balas Alisa sembari melirik ke arah pintu.
Detik kemudian Dirga pun masuk, dengan membawa segelas air susu bumil. "Ini, Mom. Aku bawakan susu, dan Oma bilang Mommy ditunggu untuk makan malam di bawah! atau mungkin mau dirga bawakan ke sini?"
Alisa tersenyum ke arah anak itu, dia benar-benar seolah ingin menjaga dan melayaninya seperti pesan dari sang ayah, yaitu Hadi.
"Ya ... tidak apa-apa Mommy. Biar Mommy minum susu dulu, kan kata Papa juga Abang Dirga harus menjaga Mommy." Jawab anak itu dengan gaya anak-anaknya.
"Terima kasih ya? selama papa nggak ada, Dirga jagain Mommy." bisa mengusap kepala anak itu penuh kasih sayang.
Kemudian Alisa meneguk susunya sampai tersisa setengah, lalu dia simpan di atas meja.
Lalu Dirga pun mengajak Alisa untuk makan malam. "Ayo Mom, kita makan dulu? sekarang kan Mommy berbadan dia ... jadi makannya harus banyak dan tidak boleh telat makan. Nanti kalau telat makan Dede bayinya kelaparan, kasihan kan!"
Alisa hanya senyum simpul sambil berjalan mengikuti langkah Dirga. Anak itu bak bodyguard yang menjaga majikannya.
"Chuit-cuit ... ada bodyguard baru, sedang menjaga Tuan ratu. Jeng-jeng. Jeng-jeng. Tuan ratu dipersilakan untuk duduk!" Liana menarik kursi buat Alisa duduk.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan Putri?" Alisa sembari menunjukkan senyumnya kepada Liana maupun sang ibu mertua.
"Bodyguard mu cukup bawel kan?" ucap Liana yang melirik ke arah Alisa dan juga Dirga yang duduk berdampingan.
Sementara Lisa hanya mengulum senyumnya, lalu mereka berempat segera menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
Selesai makan malam Alisa pun langsung ke kamarnya dan berniat untuk istirahat, dia meminta pada Dirga untuk istirahat juga dan tidak perlu menjaganya lagi.
"Baik, Mom! tapi kalau butuh sesuatu panggil aja Dirga ya. Mom?" kata Dirga sambil menatap ke arah Alisa.
Alisa pun mengangguk, lalu masuk ke dalam kamarnya. Berjalan gontai mendekati tempat tidur yang tampak sepi tanpa adanya suami. Namun sebelumnya dia mengganti pakaian dengan gaun tidur.
"Hem ... baru saja sehari dia pergi. aku merasa sepi dan aku merindukanmu. Pelukan hangat yang sering dia berikan!" Alisa membaringkan diri di atas tempat tidur tersebut.
Wajahnya menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang, membayangkan jika saat ini dia berada dalam pelukan suaminya yang menghangatkan dan bikin ia selalu nyaman.
Lama kelamaan, Lisa pun ketiduran dan sangat nyenyak. Sehingga dia tidak menyadari ketika tengah malam pintu kamar terbuka dan masuk ke seorang pria matang membawa kopernya, ya tentu saja itu Hadi yang pulang dari Semarang.
Yang diperkirakan Untuk beberapa hari di sana, tetapi selesai juga dalam satu hari. Jadikan Dia secepatnya bisa pulang, dapat berkumpul lagi bersama sang istri dan keluarga.
Sebelum mendekati sang istri, Hadi duduk membuka sepatunya dan melonggarkan dasi lanjut dia pergi ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan mencuci muka. Dan setelah itu barulah Dia mendekati istrinya yang tampak sangat lelap.
"Assalamualaikum, sayang!" gumamnya Hadi sembari mendekat dan mengecup kening sang istri dengan lembut dan durasi yang cukup lama.
Sudah dicium keningnya, pipinya kanan dan kiri dibelai rambutnya. Alisa tetap terlelap bak ibarat bayi yang sedang tidur. Membuat bibir Hadi terus tersenyum memandangi wanitanya yang semakin keluar aura cantiknya.
Kemudian tangan Hadi bergerak mengarah ke perut Alisa yang dibalik selimut. Lantas dia mengelusnya dengan gerakan lembut.
"Halo calon bayi? ini Papa sudah pulang, kamu tidak merepotkan mommy kan? jangan merepotkan Mommy ya ... kasihan!" Hadi seolah mengajak seseorang untuk bicara.
Kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke wajah sang istri, serta menurunkan selimutnya. Alisa yang mengenakan gaun tipis dan memperlihatkan lekuknya yang indah sehingga membuat Hadi terbakar gairah dan hasratnya mencuat begitu saja ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar rider ku semua semoga saat ini kabar kalian dalam keadaan baik ya?