
“Baiklah kalau memang begitu, aku doa kan semoga kau dapat kerjaan yang lebih baik dari itu, dan sekarang aku mau mandi dulu. Jangan kemana-mana ya?” Liana turun dari tempat tidurnya dan bersiap ke kamar mandi.
“Em ... aku paling ke kamar tante, kalau tidak ada di sini.” Balasnya Alisa sambil membuka majalah sambil tiduran di tempat tidur nya Liana.
Alisa yang baringan di atas tempat tidur Liana, akhirnya beranjak dan membawa langkahnya ke kamar Diana.
Derap langkah Alisa yang teratur mendekati dimana Diana berada, dan tampak Diana tengah melamun di kursi roda sendirian.
“Tante, sendirian? kemana Asisten, Tante?” sapa Alisa sambil mengarahkan kursi roda ke dekat tempat tidur.
“Lisa-Lisa, Tante mau ke toilet dulu?” ucap Diana. “Bibi sedang keluar sebentar.”
“Oh, ya sudah yo. Sama aku saja ya?” Alisa mendorong kursi ke arah pintu kamar mandi.
“Lisa tidak keberatan mengantar,Tante ke toilet?” lirihnya Diana.
“Tidak tante, emangnya kenapa? bilang saja Tante mau apa?” jawabnya Alisa sambil menunjukan senyumnya yang tulus.
“Em ... Tante mau bab dan mengambil air wudu.” Suara Diana pelan.
Lantas Alisa pun membantu Diana agar duduk di atas kloset duduk dan menyediakan yang sekiranya akan Diana butuhkan.
“Alisa keluar saja, tunggu di luar. Nanti Tante panggil kalau sudah, sekarang Lisa tunggu di depan pintu saja?” pinta Diana pada Alisa agar datang keluar dari toilet.
“Baiklah, Tante. Aku menunggu di luar ya?” Alisa keluar setelah menyediakan segala sesuatunya buat Diana.
Alisa berdiri di depan pintu yang dia tutup rapat. “Tante, nanti panggil aku ya?”
“Iya, Lisa ... nanti tante panggil Lisa,” balasnya Diana dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.
Di tengah menunggu, Alisa mondar-mandir, terdengar suara yang mengagetkan lamunan Alisa yang tengah melamun itu.
__ADS_1
“Kau sedang apa di situ? Mondar-mandir bagai setrikaan saja?” suara Dania dengan tatapan yang menyimpan curiga terhadap Alisa.
Alisa dibuat kaget dan menoleh pada tante Dania yang menatap tajam ke arahnya. “Em ... Tan-Tante, itu. Itu tante Diana di dalam kamar mandi.”
“Kalau kau tahu, mbak Diana di dalam. Kenapa kau biarkan sendirian? Apa kau punya niat yang bukan-bukan,” tatapan Dania semakin menyimpan curiga.
“Tante, aku gak punya niat apa-apa pun. Selain nungguin tante yang di dalam, itu saja. tidak punya niat buruk yang seperti Tante tuduhkan itu.” Alisa menggelengkan kepalanya.
“Alah ... mana ada maling mengakui? Yang ada penjara penuh, Non ... awas ya kalau nanti ketahuan mbak ku kehilangan sesuatu? Tentunya kau akan menjadi tersangka utamanya.” Dania menunjuk-nunjuk ke arah Alisa yang terus menggeleng.
“Tante Itu tidak perlu mencurigai ku, aku bukan seperti yang tante pikir kok.” Imbuhnya Alisa sambil membuka pintu kamar mandi yang mulai terdengar suara Diana yang pelan menyebut nama Alisa.
Lalu Alisa membantu Diana tuk duduk di kursi roda kembali. “Sudah ambil air wudunya? Tante?”
“Sudah, ada apa ribut-ribut nih?” tanya Diana dengan suara lirih dan menoleh ke arah Dania yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Itu, tante Dania.” Sahutnya Alisa sambil terus mendorong kursi roda nya Diana.
Dan langsung ke tempat berjamaah, tapi Hadi belum nampak di sana. Sepertinya belum pulang dia dari kantor.
Selesai makan malam, dan Alisa yang menyuapi Diana dan kini Diana sudah berbaring di tempat tidurnya. Lantas Alisa berpamitan untuk pulang sebab dia sudah terlalu lama berada di sana, orang rumah pasti berpikir kalau dia bekerja! padahal tidak.
“Padahal menginap saja ya? Lisa ... om sedang lembur dan tidak ada yang mengantar Alisa selain supir.” Ucap Diana menatap lembut dan berharap anak itu mau menginap.
“Benar, menginap saja ya Al? gua malas ahc antar lu pulang, capek!” tambah Liana.
Alisa tersenyum pada Liana. “Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendir kok Lian ... kau tidak perlu mengantar ku, sebab ku tau kau itu capek.”
“Ihc ... dasar keras kepala, di suruh menginap juga malah mau pulang sendiri. Gimana sih?” gerutu Liana.
Dia kan punya keluarga, tentu dia mau pulang karena diapasti tahu kalau orang tuanya akan mengkhawatirkan dirinya.” Timpal nya Dania dengan nada sedikit sinis terhadap Alisa yang sudah bersiap untuk pulang itu.
__ADS_1
Karena Diana tidak mengijinkan Alisa pulang sendiri. Akhirnya Alisa pulang di antar dengan supir saja, kebetulan Hadi Dirgantara belum juga pulang dari kantornya dan sudah beberapa kali menelpon ke Liana dan sang istri, berpesan supaya Diana jangan malas makan dan minum obat.
Kini Alisa sudah berada di dalam mobil milik keluarga Hadi yang meluncur menuju area kediamannya Alisa.
Alisa melamun, sepanjang perjalanan, Lisa pun hanya melamun menatap kosong ke arah luar yang tidak bisa jauh lepas memandang dikarenakan suasana memang malam yang ada hanya gelap saja. Kebetulan sang supir tau alamatnya Alisa sehingga tidak banyak bertanya lagi dimana-mananya, sehingga dia tinggal mengantar saja.
Setiba nya di rumah, Alisa langsung masuk dan tidak lupa berterima kasih kepada sang supir. Alisa pun bilang sama sang ibu, kalau Diana mau datang ke sana entah esok atau lusa.
“Kamu itu bari mana sih? jam segini baru pulang segala?” tanya bu Juli pada putri sulung nya itu.
“Aku dari rumah Liana, Bu ... makanya aku bilang. Kalau tante akan ke sini untuk bersilaturahmi,” balasnya Alisa sambil mengikuti sang bunda ke dapur.
Kemudian, Alisa pun masuk kamar yang ditempati oleh kedua adik nya. Lilis dan Sinta menoleh kepada sang kakak yang tampak lesu dan kalut itu. Namun keduanya tidak banyak bertanya melainkan melanjutkan tidurnya.
Alisa menatapi kedua adiknya yang berada di bawah selimut. “Oya, bang Luky ada atau sudah pulang?” selidiknya Alisa pada kedua adiknya itu.
“Dia. Sudah pulang, Kak.” Jawabnya Lilis sambil terpejam.
“Oh bagus lah,” Alisa tersenyum, lalu keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi dan ingin bersih-bersih.
...----...
Keesokan harinya, Alisa tengah bersih-bersi di rumah. Kedua adiknya sudah berangkat sekolah, sang ibu juga sudah berangkat kerja.
Pak Anwar baru saja berangkat ngojek, Alisa di rumah hanya sendiri saja. Niatnya setelah bersih-bersih akan berangkat mencari kerja lain, sampai detik ini, Rahman tidak sekali pun telepon atau sms alisa untuk meminta maaf atau menanyakan kerjaan. Suatu bukti kalau dia sudah termakan oleh omongan ibunda nya, dan tidak memerlukan tenaganya lagi ataupun perduli.
Membuat Alisa semakin menghela nafas lesu.
Benar-benar ini harus berakhir, hubungan yang yang sudah lama terjalin dan membangun kepercayaan, istana cinta yang indah dan berdinding dengan kasih sayang itu harus hancur tak berkeping, hanya karena omongan orang yang tidak bertanggung jawab ....
.
__ADS_1
.
...Bersambung!...