
Hadi mengusap pipi Alisa yang tengah menunduk. Di tatapnya lekat. "Maaf. Bila kau terseret di posisi ini!" batinnya Hadi lalu mengecup pipi wanita nya tersebut, terus menunduk mengamati layar laptop.
Detik kemudian, Hadi pergi meninggalkan Alisa dan kamarnya yang tampak tidak perduli.
Selepas Hadi tidak ada lagi di sana. Alisa mengangkat wajahnya menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup kembali itu, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang dia tempati.
Hadi membawa langkahnya ke kamar sang istri, di sana ada asisten pribadi dan sang bunda nya Hadi.
"Biar saja yang menemani Diana. Kalian boleh istirahat di kamar masing-masing," ucap Hadi setelah berada di dalam kamar tersebut.
"Baik, Tuan ... saya permisi dulu!" Mbak pun membalikan badannya dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.
Hadi mengalihkan pandangannya pada sang bunda. "Ibu. Ibu istirahat saja di kamar, biar aku saja yang menemani Diana. Ini tanggung jawab ku!"
"Ibu tidak apa-apa, baru malam ini kok," tutur sang bunda.
"Ini, tugas ku. Ibu istirahat saja! takutnya nanti ibu kurang fit juga, jadi istirahat saja." Hadi kekeh menyuruh ibunya untuk beristirahat di kamarnya sendiri.
"Baiklah. Ibu pergi dulu ya?" wanita sepuh itu beranjak dari tempatnya.
Di kamar itu tinggal Hadi dan sang istri yang memejamkan matanya. Melirik ke arah meja, terdapat air putih dan obat-obatan tersedia di sana.
Hadi mengembuskan nafasnya yang berat sambil mendongak ke langit-langit, kemudian naik dan berbaring di samping sang istri juga meletakkan kepala Diana di atas dada lantas dia peluk erat sesekali di kecup pucuk kepala istrinya itu.
Sudah beberapa waktu Hadi berada di sana. Dan barulah Diana terbangun dan mendapati suaminya tengah memeluk. "Abang?"
"Hem ... apa sayang, biarkan Abang menemani sayang di sini." Lirihnya Hadi sambil menggerakkan kedua netranya mengarah ke Diana.
Bibir pucat Diana tersenyum tipis. "Makasih Abang. Sudah perhatian pada Diana!" suara parau itu kembali terdengar.
"Iya, Abang akan menemani Diana selalu! cepat sembuh ya sayang?" harap Hadi sambil mengeratkan rangkulannya.
"Aku bahagia sekali. Bersuamikan Abang yang sangat sayang pada ku dan keluarga." Timpal Diana dengan mata yang berbinar.
"Sudah, istirahatlah sayang? Abang juga capek." Hadi memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Diana kembali tertidur di dalam pelukan sang suami. Namun tidak lama, terjaga dan begitu dalam sepanjang malam, begitupun dengan Hadi yang membuat tidurnya tak Lena.
Di kamar Alisa, dia pun gelisah dan sering terjaga melihat bantal yang di sampingnya itu kosong. Kini Alisa tidak tidur di sofa lagi melainkan di tempat tidurnya Hadi.
Tangannya mengusap bantal yang satunya. Terbayang di ruang mata wajah itu yang beberapa hari bersamanya bahkan lebih dari itu, tanpa dia sadari! air matanya menetes. Terasa hangat di sudut pipi dan membasahi bantal.
Haruskah dia menyesali? yang sudah memberikan kesuciannya pada sosok Hadi yang dia tahu sangat mencintai istrinya, Diana.
Sesuatu yang ingin dia jaga untuk seseorang yang sangat dia cintai. Ternyata runtuh juga pertahanan Alisa dengan desakan Hadi. Suami yang berunsur perjanjian itu.
"Haruskah aku menyesali ini semua? aku sudah memberikan diriku seutuhnya pada om Hadi! padahal apa susah nya sih. Aku jaga dulu, jangan gampang memberikannya." Alisa bermonolog dalam hati.
Sampai pagi pun Alisa sering terjaga, menjadikannya kurang tidur. Dia langsung bangun dan membersihkan dirinya, dan setelah bersih-bersih di kamar tersebut.
Alisa langsung ke kamar nya Diana yang kebetulan Hadi belum kembali ke kamarnya entah sudah bangun atau belum? sementara waktu sudah menunjukan pukul 05.30.
"Pagi-pagi gini mau kemana? gak mungkin kan ... mau ke dapur? secara masih pagi buta gini!" suara Dania yang berpapasan.
"Emangnya kenapa Tante? aku mau ke dapur atau pun kemana? kan bukan urusan Tante! dan aku tidak pinjem kaki Tante kan." Jawabnya Alisa.
"Iih ... nih anak songong amat. Lihat saja nanti, saya akan menyingkirkan mu!" Dania terlihat geram.
"Tapi kau hanya istri siri. Bukan istri sah nya Hadi yang bisa kapan saja di cerai." Dania tidak mau kalah dengan kata-kata.
"Iya, memang benar. Tapi bila om Hadi lebih mencintai ku kenapa gak di sah kan lagi, bisa saja kan ... nikah nya di resmikan! Sudah lah, Tante jangan bermimpi untuk bisa menikahi om Hadi. karena sama aku atau tidak. Dia belum tentu memilih Tante menjadi istrinya," ungkap Alisa sambil berjalan meninggalkan Dania.
"Rrrggh ..." Dania sangat geram pada Alisa sehingga dia menghentakkan kakinya ke lantai.
Alisa terus berjalan menuju ke kamar Diana dan pas pintu, Hadi keluar dengan muka bantalnya ketara banget dia baru bangun tidur.
"Om! baru bangun?" suara Alisa lirih sambil menatap ke arah Hadi.
Hadi berdiri setelah melihat Alisa berada di sana. "Saya baru bisa tidur nyenyak dari pukul empat."
"Ooh," Alisa membulatkan bibirnya. Kasihan juga om Hadi kurang istirahat.
__ADS_1
Alisa sempat menengok ke dalam kamar, di sana sudah ada mbak. "Ya sudah. Aku siapkan dulu buat mandinya." Alisa memutar badannya hendak ke kamar nya kembali.
Hadi berjalan di depannya Alisa, berpapasan dengan beberapa asisten yang sedang bersih-bersih di lantai atas. Yang mengangguk hormat.
"Gimana Tante semalam. Apakah nyenyak tidurnya?" tanya Alisa sambil menutup pintu kamar.
"Sering gelisah dan terjaga tidurnya, makanya aku kurang tidur." Balas Hadi sambil berdiri dan membuka piyama nya.
Alisa berdiri di depan Hadi sambil membuka kan kancingnya piyama Hadi. "Biasanya juga kalau tidur bertelanjang dada!" batinnya.
Buru-buru Alisa ke kamar mandi. Hadi pun segera menyusul.
"Aku gak mandi di bathub, langsung saja. Sudah siang! Oya. Hari ini aku paling sebentar ke kantor nya. Aku harus menemani Diana." Hadi menatap Alisa yang duduk bathub.
"Iya, gak pa-pa." Alisa mengangguk pelan.
"Kenapa mata mu sembab, menangis kenapa?" Hadi mendekat pada Alisa.
"Em, em ... sudah siang. Mandi dulu ya? nanti kesiangan subuhnya." Alisa segera meninggalkan Hadi di kamar mandi.
Hadi mengernyitkan keningnya sesaat dan menatap punggung wanitanya. Lanjut berdiri di bawah shower dengan suhu air hangat.
Alisa berdiri di depan lemari besar untuk mengambil baju formalnya Hadi. "Berarti aku sendiri dong di kantor, terus! siapa yang akan menghandle kerjaan?"
Kemudian Alisa membawa pakaian untuk Hadi dan orang sudah berdiri mengenakan sarung dan Koko di atas sejadah.
Alisa duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu yang sedang menunaikan subuh.
Sesudahnya Hadi berdiri dan merapikan bekasnya. Menoleh pada Alisa. "Kamu harus bisa menghandle semua kerjaan! selama aku tidak ada di kantor dan aku juga akan memantau dari rumah, dan aku percaya jika kamu bisa!"
"Ha? aku! menghandle semua? gak salah, mempercayai aku?" Alisa menunjuk hidungnya.
Hadi mendekat dan menarik pinggangnya Alisa hingga menempel ke tubuh bagian depannya Hadi ....
...🌼----🌼...
__ADS_1
Rasa itu bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja.
Ayo mana dukungannya? makasih 🙏