Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Dengan dingin


__ADS_3

Setibanya di rumah. Hadi langsung menemui sang istri untuk memberikan tahu kalau besok Hadi akan keluar kota dalam rangka urusan kerja.


"Kapan berangkatnya?" tanya Diana sambil memegangi tangan sang suami.


"Pagi! Abang gak lama kok, selesai urusan. Abang pastikan akan segera pulang," ucap Hadi sembari mengecup kening sang istri.


"Diana, ijinkan Abang pergi apalagi dengan Alisa, dan abu tidak perlu risau sama Diana. Abang kan belum bulan madu sama Lisa, jadi nikmatilah pejalan Abang itu sama Lisa. Manjakan dia dan buat dia bahagia." Diana memandangi suaminya penuh harap.


Hadi mengangguk pelan sambil merengkuh bahu sang istri dengan mesra.


"Abang itu harus pandai mengambil hati Alisa. Buatlah dia jatuh cinta sama Abang, jangan sampai dia masih mencintai kekasihnya lho!" lirihnya Diana lagi.


"Kalau Abang sudah berusaha dan dia nya gak cinta Abang gimana?" Hadi tampak pasrah.


"Jangan pasrah begitu, teruslah berusaha dan lambat laun pasti kok, dia itu akan sayang sama Abang dan tergantung Abang nya juga. Makanya Abang harus pandai mengambil hatinya." Tambahnya Diana kembali dengan sangat lirih.


Hadi bengong dan ternyata tadi siang, hampir saja dia meminta hak nya namun dengan tiba-tiba Alisa tolak membuat hatinya kecewa. Kepalanya Hadi menggeleng.


"Kenapa?" tanya Diana sembari mengusap rahang sang suami yang berbulu halus tersebut.


"Ach, nggak. Gak kenapa-napa." Hadi mulai beranjak dengan niat mau mandi dulu dan Alisa pasti sudah siapkan airnya.


Terdengar derap langkah yang mendekati pintu kamar Dina. Hadi dan Diana mengarahkan pandangannya pada pintu yang terbuka setengahnya.


"Permisi, sore Tante?" suara Alisa muncul dari balik pintu dengan senyuman manis dan renyah. Dia bersama Dirga yang membawa mainan.


"Eh, Lisa ... masuk? sayang Dirga sudah mandi ya sayang?" Diana mengedarkan pandangan ke arah Alisa dan Dirga bergantian.


"Sudah dong Mah ... sudah ganteng begini. Mirip papa kan aku, Handsome." Dirga bergaya cakep.


Alisa dan Dirga masuk menghampiri Diana dan Hadi.


"Oya, air nya sudah ku siapkan buat mandi." Alisa mengarahkan pandangannya ke arah Hadi.


Hadi hanya melirik dengan dingin. Dia lalu membawa langkahnya keluar dari kamar Diana. Namun sebelumnya mencium kening sang istri.

__ADS_1


Alisa melihat ke arah Hadi yang tampak dingin itu, namun Alisa segera mengalihkan pandangan pada diana dengan wajahnya sumringah dan ramah.


"Tante, mau aku ajak ke taman gak? Lisa temenin Tante ke sana!" tawar Alisa sambil berjongkok di hadapan Diana yang di kursi roda.


"Em, Lisa gak capek? takutnya Alisa capek." Lirihnya Diana merasa kurang enak hati.


"Em ... nggak. Aku juga sudah siapkan semua keperluan Om eh Abang." Kata Alisa sambil mendorong kursi Diana lalu mengajak Dirga untuk ke taman.


"Oke, kak Lisa." Balasnya Dirga sambil mengikuti Alisa yang berjalan lebih dulu membawa mamanya.


Kini Alisa, Diana sudah berada di taman dan Lisa duduk di kursi panjang setelah membantu Diana duduk di kursi panjang tersebut.


Dirga pun bermain robot-robotan di lantai dengan heboh sendiri.


"Lisa, besok mau keluar kota ya?" Diana membuka pembicaraan sambil menghirup udara segar di taman bunga ini.


"Em, iya Tante. Urusan kerjaan." Alisa mengangguk.


Diana memegang tangan Alisa dengan lembut. "Alisa kan belum bulan madu sama Abang, pergunakanlah waktu itu buat bulan madu juga. Maksud Tante. setelah tugas selesai ... kalian nikmati perjalanannya barang dua tiga hari di sana! Abang atau pun Lisa tidak perlu khawatirkan Tante. Tante di sini akan baik-baik saja, Lisa dan Abang di sana on tim saja di sana berdua."


"Om itu. Sangat mencintai, Tante. Fan aku tidak mau hanya sebagai pelampiasan saja. Om itu itu hanya menjalankan tugasnya saja sebagai suami. Tapi hatinya tidak. Batinnya Alisa.


"Em. Kerjaan masih banyak, Tante. Banyak agenda Abang yang harus di selesaikan!" ucap Alisa karena dia sendiri yang tau agenda apa saja yang harus Hadi laksanakan.


"Soal itu bisa di atur kan ... utamakan dulu kebutuhan kalian, kebahagiaan kalian."


"Kebutuhan apa, Tante?" Alisa tidak mengerti.


"Tante tau, kalau Alisa belum memberikan hak nya Abang. Kenapa? adanya rasa cinta atau nggak ... kalian itu tetap halal kok dan berkewajiban menjalankan peran nya masing-masing. Abang itu pria normal, yang ingin belaian dan kehangatan dari seorang istri termasuk Alisa." Tutur Diana sambil di tatapnya Alisa dengan tatapan meneliti.


"Tante menikahkan kalian ... bukan cuma untuk melayani lahirnya saja tapi batinnya juga. Layani dia sepenuhnya!" harap Diana sambil mengusap bahu Alisa.


Alisa menunduk, dia tidak kuasa untuk berkata-kata karena dia pun mengakui perannya yang belum sempurna, tapi kan orang lain tidak tahu dengan perjanjian yang dibuat oleh Hadi dan Alisa.


"Lisa jangan khawatir, Abang itu penyayang dan jangan Lisa ini istrinya, bukan saja dia sayang kok sama Lisa." Tambahnya Diana kembali.

__ADS_1


"Iya, Tante." Alisa mengangguk.


Karena sore beranjak malam dan sunset pun sudah menunjukan sinarnya. Alisa mengajak Dirga untuk masuk, memindahkan lagi Diana ke kursi rodanya.


Waktu terus berputar. Makan malam dah selesai. Diana pun sudah kembali ke kamarnya setelah makan temani sang suami untuk beristirahat.


Saat ini Alisa sedang berada di kamar Liana yang beberapa hari ini sibuk dengan kuliahnya hingga mengeluh, katanya buat ketemu sang kekasih pun tidak ada waktu.


"Kekasih mu siapa emang?" selidik Alisa pura-pura gak tahu sembari membuka buku bacaan milik Liana.


Liana menggembungkan kedua pipinya, "Huu ... kamu ini, siapa lagi kalau bukan pujaan hati dari sejak lama itu. Kalau bukan Rahman mantan mu itu, Alisa Hadi Dirgantara ..."


Degh ....


Alisa menatap datar Liana yang sedang menunduk menatap ponselnya. "Ka-kalian sudah jadian, em ... maksudku kalian sudah resmi jadian gitu?"


"Sudah dong, emangnya kenapa?" Liana menatap curiga ke arah Alisa.


"Bukan, gak kenapa-napa. maksud ku, selamat ya? semoga menjadi jodoh mu!" Alisa meralat omongannya dibarengi dengan senyuman ikut bahagia.


"Hem, makasih? ini cincin dari Rahman!" Lina menunjukan cincin pemberian dari Rahman dan bila diperhatikan ... itu cincin yang dulu Alisa kembalikan.


"Bagus kan? aku juga sudah dapat restu dari orang tuanya. Seneng deh gue." Lina membaringkan tubuhnya sambil menerawang dan bibir mengembang.


"Oh, bagus kok bagus!" Alisa mengangguk. lalu mengalihkan penglihatannya ke lain arah. Dia yakin kok kalau itu cincin bekas dia, tapi mungkin saja cuma perasaan nya saja.


"Dulu, lu pernah di kasih cincin gak sama dia?" tanya Liana sambil merubah posisi nya menjadi miring menghadap Alisa.


"Em ... aku, pernah! Oya aku balik ke kamar ya, takut papa mu butuh sesuatu," ucap Alisa sambil berdiri takut di tanya-tanya soal cincin oleh Liana.


Alisa buru-baru keluar dari kamar Liana dan tidak lupa menutupnya dengan rapat dan lalu membawa langkahnya dengan cepat juga ke dalam kamar dia dan Hadi ....


...🌼----🌼...


Akankah Alisa berubah pikiran dan menawarkan dirinya pada sang suami yang belum dia cintai?

__ADS_1


__ADS_2