
Saat ini setelah makan malam bersama di bawah, Alisa masuk lagi ke kamarnya dan Dirga pun ikut.
"Mommy, aku mau tidur di sini ya, boleh ya?" Dirga meminta tidur di kamar papa nya.
Alisa melirik pada suaminya. "Em ... minta ijin dulu sama papa!"
Dirga melirik ke arah sang ayah. "Boleh gak pah?"
"Nggak, Dirga kan sudah besar. Masa mau tidur sama mommy. Malu dong sama calon adik nya nanti." Hadi menggeleng.
"Ya, Papa ... pelit, tapi iya juga sih. Kalau aku bobo di sini, nanti ganggu papa dan mommy bikin adek, terus bikin adiknya gak jadi-jadi ya?" anak itu sekenanya.
Membuat manik mata Alisa terbelalak ke Hadi. Dan Hadi pun merasa kaget mendengarnya.
"Bikin apaan?" Hadi mendekati putranya.
"Bikin adek, kan aku mau adik. Ya sudah aku mau bobo dulu ach ..." Dirga turun dari tempat tidur papanya lantas mendekati pintu untuk keluar.
Pukk ...
Tangan Alisa menepuk paha Hadi. "Kok dia bicara begitu sih!"
"Mana ku tahu sayang ... dia tahu dari mana." Hadi sambil membuka bajunya lalu berbaring.
Sesaat Alisa menatap ke arah Hadi yang berbaring bertelanjang dada, lalu dia pun berbaring di dadanya pria itu yang kemudian tangan Hadi memeluk bahu sang istri.
Cuph. Kecupan hangat mendarat di kening wanitanya itu. "Huuh ... terpaksa harus puasa lagi nih." Hadi menghela nafas panjang dan berat.
Alisa tersenyum mekar sambil mengelus dada Hadi yang langsung menangkap tangan sang istri.
"Jangan macam-macam, nanti aku ada yang bangun dan minta jatah sayang, aku juga yang repot!" ucap Hadi sambil menggenggam tangan Alisa.
"Cuman gitu doang!" sahut Alisa.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu, Kaya gak ngerti saja." Gumamnya Hadi sambil memejamkan kedua netra nya, kemudian dia membuka kembali netra matanya yang terpejam.
Jari-jemari Alisa yang lentik kembali menari-nari di dada bidangnya Hadi. kemudian mendongak melihat ke arah Hadi yang menatap dirinya dengan sangat lekat.
Lalu kemudian Alisa meletakkan dagunya di dada Hadi sembari melihat intens ke wajah suaminya itu. "Belum ngantuk!"
Hadi mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Alisa dengan sangat lembut. Tangannya nya pun menyelusup ke dalam piyama Alisa untuk menjamah buah segar yang menggantung di balik piyamanya.
Alisa memejamkan manik matanya dengan bibir yang terbuka menantang sentuhan dari lawan jenisnya. Membuat Hadi mengulum senyumnya lalu menyatukan kembali bibir mereka.
Sementara waktu. Mereka menikmati cumbuannya, Hadi pun sesekali menyesap dan menikmati su-su tanpa kemasan yang langsung dari pabriknya.
Biarpun sangat memanas aktifitas ini. Namun tidak membuat Hadi melakukan penetrasi karena belum boleh melakukannya, walau sangat menggebu dan meronta dia harus mampu mengalihkannya dengan cara lain yang dia pinta dari Alisa.
"Gimana?" suara Alisa lirih dengan nafas yang terengah-engah mengontrol yang tidak karuan itu.
Hadi mengarahkan tangan Alisa dan biar mengelus dan meremas cucian yang terbengkalai. Alisa pun menuruti yang Hadi mau, biarpun merasa geli. Membuat sang empu merem melek.
Kepala Hadi kembali menunduk untuk menikmati asi dari pabriknya langsung itu. Setelah merasa puas dan banjir begitu saja. Mereka pun tertidur dengan nyenyak.
...----------------...
Liana yang habis jalan dengan Rahman kehujanan dan Liana di ajak ke rumahnya, dan orang tuanya Rahman menyambut baik dan ramah kehadiran Liana.
Aman, panggilan Rahman di rumah. Sedang mengeringkan rambutnya yang terkena hujan. Di kamar dengan masih bertelanjang dada dan sang bunda malah menyuruh Liana masuk kamarnya Aman.
Liana berdiri, melongo melihat ke arah Aman yang sedang bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek saja.
Beberapa kali Liana menelan Saliva nya sambil berdiri mematung di tempat.
Aman menoleh pada Liana yang berdiri mematung dengan pakaian agak basah dan rambut pun sama. Pria itu mendekat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya tadi.
Jantung Liana semakin dibuat senam jantung berdekatan dengan tubuh yang mengekspos dada bidang dan perut yang sixpack. Membuat tangannya bergerak menyentuh perut pria itu yang bak roti sobek.
__ADS_1
"Ya ampun ... ini roti sobek yang bikin air ludah ku mengalir!" batinnya Liana.
Aman tersenyum melihat reaksi dari Liana dan menyentuh bagian perutnya tersebut. Dia menatap lekat gadis itu dengan tatapan lapar sehingga tangannya menarik pinggang Liana ke dalam pelukan.
Aman juga menarik tengkuk nya Liana dan lantas mendekati bibirnya di kecup juga di l***t nya penuh gairah sehingga menimbulkan sensasi yang aneh dan menjalar ke seluruh tubuh.
Kaki Aman bergerak menutup daun pintu dengan rapat, lalu membawa tubuh keduanya mendekati tempat tidur, tanpa melepas pagutan bibir mereka yang begitu serius dan menikmati.
Selanjutnya entah apa yang terjadi di antara mereka berdua di dalam kamar tersebut. Yang jelas hubungan yang terlarang berakhir di atas tempat tidur. Tanpa sadar kalau itu salah dan memang masih terlarang di antara mereka yang notabene nya kekasih.
Lisna terisak setelah menyadari kalau dia sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga itu, di renggut oleh pria yang bukan hak nya, walaupun dia sangat mencintainya. Namun tetap saja karena belum menikah jadinya masih terlarang.
Gadis itu menangis tersedu. Dan Aman mendekati merangkul bahunya Liana yang langsung mendapat penolakan.
"Maaf kan aku Liana, aku khilaf? Tapi bila terjadi sesuatu. Aku siap kok untuk bertanggung jawab," ucapnya Aman. Dia pun menyadari kalau dia sudah merenggut ke gadisan wanitanya.
Setelah dengan Liana memang pemuda itu sedikit liar, entah mungkin bak kucing di suguhkan ikan pasrah entah gimana? yang jelas ketika dengan Alisa mana berani dia macam-macam selain pegangan tangan.
Liana tetap terisak, kedua bahunya bergetar hebat membuat Aman tidak tega lalu memeluk nya karena itu juga ulahnya.
"Aku minta maaf Lian. Aku yang salah dan aku khilaf sudah mengambilnya dari mu, tapi kamu juga tidak menolaknya kan?" suaranya pelan.
"Tapi seharusnya kau tidak melakukannya. Seharusnya bisa menjaga ku! kamu jahat," Liana memukul dada Aman, dia kecewa karena sudah kehilangan sesuatu yang berharga.
"Tapi kau juga tidak menolaknya sama sekali, bila saja kau menolak ... baru kau bisa salahkan aku sepenuhnya Lian, tapi kan kau juga menikmatinya jadi bukan salah ku sendiri," bela nya Aman sambil menatap ke arah Liana yang menatap dengan. tatapan yang berkaca-kaca.
"Tapi kan sudah ku bilang, seharusnya kau bisa nahan diri dan tidak melakukannya pada ku! kini aku sudah kehilangannya yang seharusnya ku jaga buat kita bila sudah menikah, bukan sekarang ini!" Suara Liana tampak kecewa.
"Oke, aku minta maaf. Aku mengaku salah, oke? Sudah jangan menangis! aku menyayangi mu!" Aman kembali merengkuh bahunya Liana yang masih juga terisak.
Namun lama-lama Liana tenang juga. Dalam pelukan Aman ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan lainnya ya ... makasih.