Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Detik-detik


__ADS_3

“Sayang ... kamu gak boleh capek-capek, nanti kecapean, pokonya kamu tidak boleh kecapean” Pinta Hadi pada sang istri yang sedang menata bunga hiasan.


“Nggak kok, Cuma menata bunga saja tidak capek-capek Yank...” jawabnya Alisa sambil berdiri pelan.


Hadi menatap istrinya dengan tatapan kasian yang sepertinya buat duduk saja kerepotan karena perutnya sangatlah besar. Hadi memegangi tangan sang istri dan di tuntunnya agar duduk di sofa, lantas di berikan segelas air minum dengan sedotannya.


Di rumah tersebut sudah ramai dengan  orang-orang dari wedding organizer yang mendekor tempat tersebut buat acara pernikahan Liana dengan Zidan.


“Yank ... aduh-duh ... perut ku keram nih. Ach-ach ... sakit Yank sakit,” tangan Alisa mencengkram tangan nya Hadi karena merasa kesakitan di perutnya secara tiba-tiba.


Hadi berusaha tenang karena ini bukan waktunya untuk melahirkan, melainkan Cuma keram biasa. Tangan Hadi lalu mengusap pinggang sang istri dengan bergumam sholawat mengalun indah, menenangkan sang istri yang tampak pucat dan meringis.


“Sakit Yank ... sakit ...” desis Alisa sambil meringis memegangi perutnya dan pinggang yang terasa keram dan panas.


“Sabar sayang ... dan yang kuat, kalau saja bisa aku gantikan, pastinya aku rela untuk menggantikan mu merasakan sakit yang kini menyerang mu.” Kata Hadi sambil terus mengusap pinggang dan perutnya Alisa.


“Kenapa Lisa ...” tanya sang ibu mertua yang baru saja datang dan melihat Alisa meringis kesakitan. Wanita sepuh itu duduk di dekat Alisa dan menyentuh perutnya sang mantu yang terasa panas tersebut.


“Keram bu, biasa. Dan sayang ... kita pindah ke kamar ya?” Hadi melihat sang istri bergantian dengan sang bunda.


Alisa mengangguk dan dia berpegangan pada Hadi yang kini berdiri dan bersiap untuk memangku dirinya. Keringat dingin pun bercucuran yang menghiasi mulai dari pelipis dan sekujur tubuhnya Alisa.


“Iya. Sebaiknya bawa saja ke kamar dan panggil dokter. Apa mau di bawa ke klinik saja? Ibu sangat khawatir melihatnya,” timpal sang ibunda menatap cemas.


“Em ... sepertinya nggak Bu ... biar tunggu sebentar lagi kalau masih seperti itu atau tidak ada perubahan, barulah akan ku bawa ke klinik.” Jawabnya Hadi setenang mungkin.


“Yank ... sakit ... Yank sakit nih.” Alisa menepuk tangan nya Hadi yang masih berdiri saja.


Kemudian Hadi segera memangku tubuh sang istri yang masih kesakitan dan di bawanya ke lantai atas. Hadi menapaki anak tangga satu persatu sampai ke ujung, lalu sampai di lantai atas. Menuju kamar mereka yang di bukakan oleh asisten.


Sang ibu, menatap cemas ke atas melihat punggung Hadi yang menggendong sang istri. “Ya Allah jaga dan lindungi mantu dan calon cucu ku ya Allah ...” harap wanita sepuh.

__ADS_1


Hadi membaringkan sang istri di tempat tidur, namun Alisa meminta duduk bersandar saja di punggungnya bertumpuk bantal. “Gimana sudah nyaman belum?” tanya Hadi sambil menambah bantal di belakang nya Alisa.


“Sudah, gini saja. Yank ... ach ... auw.” Alisa mengangguk pelan, wajahnya tampak pucat paseh.


“Gimana masih sakit nya sudah berangsur berkurang belum? Kalau masih, banget sakitnya kita ke hospital saja ya?” Hadi mengusap wajahnya Alisa dan mengusap keringat nya yang bercucuran.


“Sudah berkurang, tidak sesakit seperti tadi lagi.” Alisa memegang tangan Hadi lalu dia bawa dan meletakkan di atas perut nya yang kini bergerak menendang-nendang.


“Sayang, baby Papa ... yang tenang ya? kasian Mommy nya jangan terlalu membuat mommy kerepotan.” Gumamnya Hadi sambil mengusap memutar perut sang istri.


“Yank, aku sudah agak baikan kok. Jangan tinggalkan aku ya? terus dampingi aku ya?” pinta Alisa penuh harap.


“Iya sayang, aku  akan selalu menemani mu. Jangan khawatir ya dan jangan banyak pikiran, harus rileks dan tidak boleh stres.” Hadi memeluk sang istri dengan sangat erat.


“Mommy ... Mommy kenapa? Mommy mau lahiran bukan, mana adek bayi nya?” suara Dirga yang terburu-buru dan setengah berlari memasuki kamar papanya.


Alisa buru-buru memudarkan pelukan sang suami dan menoleh pada Dirga yang dengan nafas ngos-ngosan.


“Gimana Lisa ... sudah agak baikan?” kini suara sang ibu mertua yang datang dan dia sangat khawatir dengan mantunya tersebut.


“Sudah, Bu ... Lisa sudah agak baikan,” Alisa menoleh dengan tangan mengusap pelipisnya yang masih berkeringat dingin.


“Kamu kenapa, jangan bilang kalau kau ingin melahirkan sekarang. Nanti aku menikah riweh dong ... jangan dulu dong,” Liana menghampiri Alisa yang kini sudah agak nyaman.


“Huus ... Lian ... kalau sudah waktunya ya keluar saja, jangan bicara seperti ach pamali.” Protes sang oma.


“Iya nih Kakak, orang ingin segera hadir dan lahir adek bayinya, ini malah jangan, gimana sih?” Dirga menimpali perkataan dari sang oma.


“Bukan begitu juga sih. Tapi kan memang belum waktunya kan? perkiraan dokter masih beberapa minggu lagi.” Kata Liana.


“Tapi kalau Allah menghendaki lahir secepatnya, dia yang punya kuasa.” Timpal sang oma lagi dengan lirih dan duduk di sampingnya Alisa.

__ADS_1


“Dokter itu manusia biasa dan Allah juga yang maha segalanya.” Tambah sang ayah.


“Ha ... dengerin tuh Akak.” Dirga menganggukkan kepalanya pada sang kakak yang memanyunkan bibirnya pada sang adik yang selalu menyudutkannya.


Keesokan harinya, dimana hari yang paling menegangkan buat Liana yang menuju detik-detik merubahnya status dia dari janda menjadi seorang istri Zidan nantinya, seorang staf ayahnya yang termasuk orang kepercayaan perusahaan.


Liana yang kini mengenakan kebaya pengantin biru pastel dengan sanggul modern berhias melati di sela-sela sanggulnya. Dengan segala pernak pernik yang menambah semakin cantik nan anggun nya seorang Liana.


Alisa pun yang dengan perut buncit nya mengenakan gaun dengan warna senada dengan sang mempelai wanita. Berkerudung simpel dengan tubuhnya yang besar itu tidak mengurangi kecantikannya, dia tetap terlihat anggun dan cantik.


“Aduh, aku jadi nervous begini.” Gumamnya Liana pada Oma dan Alisa yang masih menemani.


“Bismillah jangan gugup dan yang tenang, kaya baru menghadapi pernikahan saja,” balasnya Alisa sambil membentuk senyuman, di wajahnya yang tersurat kebahagiaan karena sahabatnya insya Allah menemukan pria yang tepat.


“Asli, gue gugup banget nih ...” keluh Liana sambil mengusap-usap kedua tangannya yang berkeringat dingin.


“Itu wajar Lian ... dan normal.” Tambahnya sang oma.


“Aduh. Gue berasa mau ke toilet nih.” Liana tampak sangat tegang.


“Itu Cuma perasaan mu saja dan bila sudah di toilet tidak jelas yang di rasa lho.” Alisa memegangi tangan Liana yang tampak gugup itu.


Di dalam tempat di adakan nya pernikahan yang tepatnya di halaman mension, termasuk pelaminannya. Sang mempelai laki-laki pun sudah datang beserta rombongannya.


Zidan tampak tampan dengan setelan pengantinnya yang memakai warna putih tulang dan kemejanya berwarna biru pastel seperti kebayanya nya yang di kenakan oleh Liana.


Tidak ayal Zidan pun merasa gugup, menghadapi detik-detik pernikahan apalagi ini yang pertama bagi Zidan dan insya Allah untuk yang pertama dan yang terakhir ....


...🌼---🌼...


Gimana kabar Anda semuanya nih Apa masih kangen dengan cerita Alisa dan Hadi. Terima kasih ya atas dukungan kalian selama ini.

__ADS_1


__ADS_2