Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Lapas


__ADS_3

Di lapas, Hadi menemui Anwar, rupanya Hadi berpamitan pada sang istri, Diana, untuk menemui pak Anwar. Namun dia tidak berpamitan pada Alisa yang sekarang ini sudah menjadi istrinya.


Apalagi bilang kalau pak Anwar, dia polisikan. Belum sempat cerita soal itu, dan rencananya nanti saja sekalian memberikan keterangan.


Kini Hadi dan Anwar sedang duduk berhadapan. Di sebelah kiri nya Anwar ada sopir yang tengah berjaga dan perhatikan mereka berdua.


"Gimana, betah Pak Anwar yang terhormat?" sapa hadi yang kini duduk di hadapan pak Anwar yang sedang menatap dirinya penuh kebencian.


"Buat apa kau datang bila untuk membuat ku sakit hati? keparat. Kau gunakan kekuasaanmu untuk menjebloskan ku bukan?" suara berat Pak Anwar sambi melepas tatapan yang tajam seakan ingin menghujam jantung.


"Hem, bukan karena kekuasaan ataupun uang, tapi itu karena ulah mu sendiri. Itulah akibatnya bermain-main dengan ku. Kau beberapa kali mencoba paksa tunangan ku untuk melayani nafsu bejat mu, untung dia masih bisa selamat dan bila saja kau dapatkan dia ... saya bukan lagi menjebloskan mu ke penjara, tapi pastinya akan lebih dari itu." Jelas nya Hadi membalas tatapan pak Anwar tanpa gentar.


"Hem, baru tunangan kau mati-matian membela dia, dan kamu tidak tahu kalau mungkin saja dia sudah jebol dengan kekasihnya, ha ha ha," gumamnya pak Anwar penuh keyakinan kalau Hadi akan mendapat sisa saja dari Alisa.


"Oo! saya tidak perduli itu, yang jelas saya tidak terima kalau kau menodai dia, dan kau sungguh tidak punya otak, menimpakan kesalahan kepada korban. Membalikan pakta kepada ibunya sendiri, sehingga menimbulkan konflik di atara mereka berdua." Tambahnya Hadi.


Pak Anwar menoleh pada seorang polisi yang menjaga dan beberapa polisi yang lain yang tidak jauh dari mereka. Dia kemudian berpaling pada Hadi yang ternyata telah melaporkan dia.


Pak Anwar tertawa. ''Ha ha ha ... saya ingin tertawa jungkir balik ketika mereka beradu mulut. Ha ha ha ...."


"Sungguh kau picik, kau adukan ibu dan anak. Untungnya segera terungkap, kau rupanya bukan hanya mencoba memaksa istriku. Tapi kau juga suka bermain dengan wanita muda lainnya. Hebat!" Hadi bertepuk tangan.


"Saya tidak akan masuk lapas ini kalau tidak ada campur tangan mu, saya tidak menyangka kalau kau mampu menghalalkan segala cara agar saya masuk bui, hem, tapi saya tidak akan takut. Karena kau tidak akan mendapat bukti apapun." Ujar pak Anwar dengan yakinnya.


"Oya, silakan kau merasa percaya diri. Karena saya pun punya keyakinan, bila Anda akan mendapatkan hukuman berat, karena Anda akan kena pasal yang berlapis dari semua yanga Anda lakukan di masa lalu, karena saya tahu siapa diri Anda yang sebenarnya," ungkap Hadi sambil beranjak dari dudunya.


Hadi meninggalkan lapas tersebut dengan hati yang puas. Sementara pak Anwar melepas tatapan kebenciannya pada Hadi. Lalu dia dibawa kembali ke sel tahanan.

__ADS_1


Hadi kembali ke kediamannya membawa hati yang merasa lega, karena telah mempolisikan Anwar si pria tua bangka yang suka main-main dengan perempuan dan berusaha merayu Alisa yang kini sudah menjadi istrinya.


Selang beberapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Hadi tiba di halaman dan langsung masuk garasi sehingga mobil tersebut berjejer dengan mobil lainnya.


Hadi turun dari mobilnya, bugh sura mobil di tutup, dan mendapati putranya yang sedang bermain di teras dengan teman-temannya. "Kalian sudah makan belum nih?" sapa Hadi menatap putra dan beberapa temannya yang sedang bermain mobil-mobilan.


"Eh ... Papa, sudah, baru selesai ya?" sahut Dirga sambil menoleh ke teman-temannya.


"Oke. Kalau begitu, jangan jauh-jauh ya mainnya?" pesan Hadi sambil mengayunkan langkahnya memasuki mension tersebut.


"Oke, Pa!" sahut Dirga dan teman-temannya mengangguk.


Hadi menjenguk pintu, di sana ada Alisa menyambutnya. Bibir Hadi menunjukan senyumnya, sekarang kepulangannya ke rumah ada yang menyambut lagi setelah sekian lama tidak ada.


"Om, dari mana sih? seharian gak ada, dari kantor atau dari mana?" selidik Alisa sambil menatap pria itu sekilas.


"Kena ... pa? biasa aja. Gak ada masalah tuh, kau belum menjawab pertanyaan ku?" sambung Alisa yang merasa apalah arti sebuah panggilan.


"Dari suatu tempat. Tadi aku tidak sempat bilang, karena kau sibuk sekali dan aku hanya pamit sama Diana saja, tidak apa-apa kan?" Hadi sambil berjalan mendekati tangga.


"Nggak sih." Kata Alisa sambil mengikuti langkah nya Hadi dari belakang.


"Tidak marah kan?" lanjut Hadi lagi sambil menoleh.


"Ha? marah, buat apa marah? santai aja kali. Orang bebas kok." Alisa menyunggingkan bibirnya.


"Siapkan air buat ku mandi ya? badan ku rasanya lengket banget dan ingin berendam di air hangat jangan lupa aroma terapi nya. "Pinta Hadi menghentikan langkahnya yang menaiki anak tangga.

__ADS_1


Membuat kening Alisa membentur punggung orang yang berada di depan nya itu dan lalu tubuhnya hampir terjerembab ke belakang, untungkan dengan kilat tangan kekar Hadi meraih pinggangnya Alisa dan memeluknya.


Alisa melotot kaget dan hampir saja terjatuh ke belakang. Lalu menoleh ke belakang, bila saja terjatuh kemungkinan besar terguling ke bawah dimana tulang ekornya sudah pasti cedera. Bikin cemas sesudahnya, dadanya berdebar-debar naik turun.


"Kebiasaan!" gumamnya Hadi dengan tetap betah memeluk pinggang Alisa hingga tubuh mereka menempel.


"Kau yang kebiasaan, berhenti itu tidak bilang-bilang, jadinya kan aku menabrak." Alisa menyanggah.


"Hei Nona, aku tuh jalan kaki bukan bawa mobil kalau mau parkir klakson dulu. Ada-ada saja kau ini." Hadi menggeleng.


"Eh, iya ya. Hi hi hi lupa." Alisa nyengir sambil mengusap keningnya.


"Kalian ngapain pelukan di jalanan? Gak punya malu apa? orang mau gituan di kamar atau tempat tertutup, bukan di tempat terbuka. Mentang-mentang dah halal." Suara Dania dari ujung tangga, dia marasa panas terbakar melihat adegan itu.


Hadi dan Alisa sontak menoleh dan Hadi melepas rangkulannya pada pinggang Alisa.


"Alisa barusan mau terjatuh, Jadi saya tangkap pinggangnya. Lagian kan memang saya dan Alisa sudah halal! terus apa masalahnya? bila kau tidak suka, jangan dilihat. Begitu saja kok repot." Hadi melanjutkan langkahnya.


Alisa yang melihat ke arah Dania mengulas senyumnya. "Tante baru pulang ya?"


"Apa urusanmu? tanya seperti itu? mau baru pulang atau belum pulang, bukan urusanmu." Dania melewati Alisa dan lengannya menyenggol bahu Alisa dengan sedikit keras.


"Aduh!" Alisa menatap heran ke arah Dania yang melewati anak tangga tersebut.


Dania menoleh dengan raut wajah yang mencibir ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2