
“Apa kabar, Tante?” Alisa meraih tangan Diana dan menciumnya.
Wajah Diana sedikit berseri. “Baik, Lisa ... Abang bersama Alisa?” tanya Diana melihat keduanya bergantian.
“Iya, tadi ... abang ketemu dia di jalan, di ajak aja ke sini.” Jawabnya Hadi sambil beranjak dan dia mau makan siang terlebih dahulu.
“Abang mau kemana?” selidik Diana mendongak ke arah sang suami.
“Abang mau makan dulu sayang, mengobrol lah dengan Alisa, lagian sebentar lagi Abang mau balik ke kantor.” Jawabnya Hadi sambil mengusap kepala Diana yang berkerudung simpel tersebut.
Hadi pun pergi meninggalkan mereka berdua dan asisten yang tadi menemani Diana sudah duluan keluar dari kamar tersebut.
“Ngomong-ngomong. Alisa tidak bekerja hari ini?” tanya Diana menatap ke arah Alisa.
“Iya, Tante. Aku berhenti bekerja.” Balas Alisa seraya mengangguk pelan.
“Oh ... ya udah, Tante senang kamu ke sini.” Akunya Diana sambil menatap lekat ke arah gadis tersebut.
“Tidak apa-apa, kan aku ke sini?” Alisa mengusap tangan Diana.
“Ya ampun ... Tante tentunya senang kedatangan kamu, oya sudah makan belum dan sebaiknya makan dulu sana sama abang.” Balasnya Diana yang merasa bahagia dapat bertemu dengan Alisa.
“Em ... biar nanti saja Lisa makannya, tante. Oya? Tante mau keluar ke tempat lain biar Alisa yang bantu dan antar.” Tawar Alisa.
“Alisa mau mengantar, Tante?” lirihnya Diana seraya menatap ke arah Alisa.
“Oh, tentu Tante ... Lisa mau, makanya menawari tante untuk keluar,” tambahnya Alisa sambil mengambil kursi roda dan membantu Diana untuk duduk di kursi tersebut.
“Makasih ya Lisa ... tante merasa senang ... sekali bila Alisa tinggal di sini bersama Tante dan abang, kapan Alisa siap di lamar sama Tante?” tanya Diana pada alisa.
Alisa terdiam sejenak dan sambil mendorong kursi roda Diana berjalan-jalan dan turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift.
“Sayang, kau turun?” sapa Hadi yang masih di meja makan.
__ADS_1
“Abang, iya aku di tawari Alisa untuk jalan-jalan dan kebetulan rasanya suntuk seharian di kamar.” Diana menunjukan senyumnya dan melirik ke arah Alisa yang berdiri di belakang kursinya.
Hadi mengangguk pelan. “Oh!”
“Abang sudah makannya?” selidik Diana melihat ke arah meja makan yang berada di hadapan Hadi.
“Saya baru saja selesai. Alisa belum makan, makan lah dulu?” Hadi melirik ke arah Alisa yang langsung mengangguk pelan.
“Iya, Lisa ... makan saja dulu, tante tungguin di sini.” Diana meminta Alisa tuk makan dulu.
“Iya Alisa ... makan dulu, oya sayang. Saya pergi dulu ya?” Hadi berpamitan sembari mencium kepala nya Diana.
“Baiklah. Hati-hati ya, Bang ... jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Lagian supir ada tapi betah sekali bawa sendiri,” pesan Diana pada suaminya itu.
“Iya sayang, Assalamu’alaikum?” Hadi sembari melirik ke arah Alisa yang sedang makan. “ Titip tante ya?”
“Wa’alaikumus salam ...” jawab yang ada di sana. dan Alisa pun mengangguk pelan.
Hadi membawa langkah nya keluar dari tempat tersebut dan menuju mobilnya untuk kembali ke kantor.
“Ehem, Alisa belum menjawab pertanyaan tante. Alisa sudah siap belum di lamar oleh tante? Dan akan secepat nya kalian menikah!” selidik Diana kembali dikarenakan Alisa belum menjawab pertanyaan darinya.
Alisa meneguk minumnya dan lalu mencuci bekas makan walau di cegah oleh asisten.
Setelah itu, Alisa mendekati ke arah Diana. “Tante ... Lisa siap! Kapan pun.”
“Duh ... aku bicara apa sih? kenapa bilang siap sih? batinnya Alisa yang menyesali dengan ucapannya sendiri.
“Alhamdulillah ... terima kasih ya Alisa ... Tante senang sekali mendengarnya, tante akan segera melamar Alisa untuk dijadikan istri abang. Tolong urus abang dengan baik ya? yang manut dan menyenangkan lahir maupun batinnya?” ujar Diana penuh harap ke arah Alisa.
Degh ....
“Maaf, tante. Aku gak bisa bila harus menjadi istri yang sempurna. Sebab aku dan om akan mengadakan perjanjian yang akan membuat kita berjarak.” Batinnya Alisa bermonolog sendiri sambil menatap ke arah Diana yang tampak bahagia.
__ADS_1
“Em, insya Allah tante. Aku akan menjadi istri yang baik untuk Om dan aku pun minta maaf, atas segala kekurangan ku nantinya?” ucap Alisa dengan lembut.
“Iya, Lisa ... Tante akan memaklumi itu. Dan om pun tentunya akan mengerti apa lagi di usia Alisa yang masih muda itu, bilang sama orang tua mu. Kalau Tante akan ke sana untuk melamar mu.” Sambung Diana sembari menunjukan senyumnya yang mengembang.
Putra, si putra bungsu baru pulang sekolah dan langsung menghampiri sang bunda dan Alisa’
“Kak Alisa kapan datang ke sini?” tanya Putra setelah mencium tangan bundanya.
“Em ... Kak Lisa sudah agak lama sih. Gimana sekolahnya nih? Happy gak?” alisa mengusap rambut anak itu.
“Happy, oya Mah. Lapar nih?” Putra atau kadang dipanggil Dirga itu celingukan ke maja makan.
“Makan lah sayang,” lirih nya Diana sembari menepuk-nepuk bahu Dirga. dan akhirnya makan siangnya pun Alisa yang siapkan.
Setelah itu, Alisa mengajak Diana kembali ke atas agar Diana beristirahat siang.
Hari sudah sore dan sebentar lagi juga maghrib. Liana pun pulang dari kuliah nya, dia sangat teramat senang ketika tahu Alisa berada di sana. Sekaligus heran, kenapa Alisa gak bekerja? padahal baru beberapa hari ini dia masuk kerjanya.
Kini Liana dan alisa sedang berada di dalam kamar Liana. “Kau kenapa tidak berkerja?”
Alisa menggeleng pelan seraya berkata. “Sepertinya aku berhenti dari sana dan mau cari di tempat lain saja, Lian.”
“Apa? kau mau berhenti, apa dan kenapa? tidak mungin kau di pecat, itu sangat tidak mungkin. Secara kekasih sendri, iya kan?” ucap Liana kembali.
Alisa bengong, dia ingin bercerita banyak pada sahabatnya ini, namun rasanya tidak mungkin dia bercerita. Biarlah dia pendam sendiri. Gak enak kalau harus cerita.
“Hi, malah bengong? Kesambet apa lu?” Liana menepuk balas Alisa dan mengibaskan tangan nya di depan wajah nya Alisa.
‘Ahc, nggak. Aku gak betah saja, gak nyaman dan pengen pindah saja.” jawabnya mencoba menyembunyikan yang sebenarnya dari Liana.
“Tapi gue gak percaya kalau Cuma alasan itu, gk mungkin banget.” Liana menatap curiga ke arah sahabatnya itu.
“Iya, Cuma itu saja kok alasan nya gak ada yang lain lagi. Sudah ahc, jangan curiga begitu napa? Aku ingin mencari kerjaan yang lain saja, yang akan membuat aku nyaman.” Kata Alisa sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah. Takut tidak bisa menyembunyikan perasaan nya kurang baik-baik saja itu ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...