
Alisa terduduk lemas. Di tepi tempat tidur, jarinya yang lentik itu mengusap ujung matanya yang basah.
Kemudian menyentuh bibirnya yang berasa masih menempel bibir Hadi yang hangat itu di bibirnya.
Setelah sekian lama, termenung dan entah apa yang dia pikirkan. Kuping Alisa mendengar berhentinya suara kucuran air, dari dalam kamar mandi. Membuat Alisa buru-baru beranjak dari tempatnya duduk dan berpindah ke sofa.
Namun sebelumnya mengambil selimut dan bantal, dengan setengah berlari. Alisa membaringkan dirinya di sofa, menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Jadi tambah was-was, khawatir Hadi ngapa-ngapain dirinya ketika sedang tidur.
"Aku pengen tidur di luar, kamar ku yang kemarin kek. Tapi kalau aku di sana ... kata Om Hadi juga dia yang akan ikut aku. Buset deh ah ... aku gak mau ..." Alisa bergumam pelan di dalam selimutnya.
Terdengar suara pintu dan derap langkah Hadi keluar dari kamar mandi dan, Alisa buru-baru memejamkan kedua manik matanya.
Kedua netra mata Hadi mendapati Alisa sudah berbaring dan berselimut dengan rapat. Bibirnya tertarik ke samping. Lalu mendekati.
"Lisa? apa kau sudah tidur?" panggil Hadi sambil menyentuh bagian tubuh Alisa yang dia kira itu kepala sang istri mudanya.
Alisa tidak menyahut dan juga tidak bergeming sedikitpun. Sehingga Hadi kira Alisa sudah tidur.
Hadi kembali berdiri dan mendekati tempat tidurnya dengan mata masih memandangi ke arah Alisa.
Kini Hadi sudah mengenakan celana panjang, berdiri di depan cermin mengenakan parfum dan body lotion. Dari cermin tampak bayangan Alisa di sofa yang tak bergeming, pria itu menghela nafas dengan begitu panjang.
Menyentuh bibirnya yang berasa masih menempel di bibir Alisa yang lembut itu. Sungguh berkesan kecupan pertama Hadi untuk Alisa.
Langkah Hadi mendekati sofa panjang tersebut, duduk di sana sembari menatap gadis itu. Tangannya mengambil remote dan mematikan televisi yang menyala menonton orang yang tertidur.
Sebenarnya Alisa belum tidur, dan dia merasa sungguh pengap di dalam selimut tersebut. Pasang telinganya terpasang tajam pada gerak Hadi yang terdengar berada tidak jauh darinya berbaring.
"Aduh ... kenapa om Hadi malah duduk di situ sih? pengap nih ... bisa-bisa aku kekurangan oksigen nih!" gumamnya Alisa dalam hati.
Lalu perlahan Alisa bergerak dan menarik selimutnya sedikit agar memberi ruang untuk bernafas dan tetap dengan mata terpejam.
Bibir Hadi tersenyum ke arah Alisa. "Saya tahu, bila kamu pura-pura tidur. Takut ya? takut saya melakukan sesuatu yang akan membuat mu menjerit!" suara Hadi pelan dan di dekatkan ke arah kepala Alisa.
__ADS_1
Kata-kata itu bikin Alisa semakin meremang, tetap memejamkan kelopak matanya kuat-kuat. Pikirannya mulai traveling ke mana-mana. Semakin dia merasa was-was, apalagi mengingat tadi ketika itu ada yang bangun di bagian tubuh Hadi.
"Gue harus tidur, gue harus tidur cepat, come on ... Alisa, tidur lah?" Alisa menjadi gemas sendiri karena kedua manik matanya sulit untuk terpejam.
Malam berlalu begitu cepat dan ketika terdengar suara tarhim, Alisa terbangun. Menggeliat nikmat meregangkan ototnya itu, kemudian membuka kedua kelopak matanya yang terasa masih ngantuk.
Dengan bibir yang sedikit di tarik, Alisa bersyukur masih bisa melihat indahnya dunia ini. Namun dia terkejut dan membuka matanya lebar-lebar ke arah sofa sebelah, dimana Hadi tertidur sambil duduk dengan kepala mendongak ke atas bersandar ke bahu tempat duduknya.
"Ya, ampun! kenapa Om tidur di sini? gak pakai bantal, selimut. Telanjang juga, gak pakai baju!" Alisa langsung melonjak duduk.
Manik matanya menatap ke arah Hadi dengan pandangan yang meneliti. Ini tidur dari semalam apa baru saja?
"Tapi sepertinya dari semalam deh, iih ... apa gak sakit ya tidur seperti itu?" suara Alisa pelan sambil berdiri melipat selimutnya untuk ia bereskan.
Kemudian Alisa memeluk selimut+bantalnya yang akan ia simpan, takut ketauan yang lain. Namun ketika melangkah, kakinya nyangkut ke kaki meja dan membuat dia hilang keseimbangan.
Yang dia peluk pun seketika terjatuh, tubuhnya tak dapat di pungkiri lagi menimpah ke pangkuan Hadi dan menindih pas di bagian sensitif Hadi yang langsung terbangun sekaligus dengan orangnya yang terkejut.
Jiwa Hadi yang belum terkumpul itu nyengir menahan ngilu nya milik dia yang tertindih bokong Alisa.
"Ma-maaf, Om. Maaf? Maaf! aku gak sengaja dan aku barusan tersandung, maaf, Om sekali lagi maaf ..." Alisa menyatukan kedua telapak tangannya merasa gak enak, melihat Hadi kesakitan.
"Achw, Ngilu nya sampai ke ulu hati tahu gak?" desis Hadi tertahan.
"Iya, maaf, Om. Maaf?" Alisa terus meminta maaf.
"Auw ... kau pikir bisa sembuh dengan meminta maaf?" dengus Hadi sembari memejamkan matanya hingga mengeluarkan air mata.
Membuat Alisa menjadi serba salah. Merasa bersalah juga, dia dengan tidak sengaja menyakiti area sensitifnya Hadi. Dia terduduk dengan wajah cemas dan bingung harus berbuat apa memandangi Hadi yang terus meringis dan memegangi barangnya itu.
"Kalau lumpuh gimana nih? tidak berfungsi lagi gimana? Lisa ... percuma dong saya punya ini kalau tidak berfungsi!" Racau Hadi sambil membuka matanya.
"Obati! Om, a-aku mi-minta ... ma-maaf, beneran! deh aku gak sengaja?" kedua tangan Alisa memegangi pergelangan tangannya Hadi.
__ADS_1
Kedua netra Hadi bergerak melihat tangan Alisa yang memegangi kedua tangannya itu. Dengan wajah yang tampak cemas.
Tangan Hadi yang satunya bergerak mengarah ke pipi Alias dan lantas mengelusnya dengan punggung jari-jemarinya itu.
Alisa terpaku, bak patung. Dadanya Alisa deg-degan dan jantungnya seakan mau melompat dari tempatnya. Tubuhnya malah menegang mendapat sentuhan tangan Hadi di pipi yang bergerak dengan lembut. Sorot netra kedua nya pun bertemu.
Detik kemudian tangan Hadi memegangi pipi Alisa dan memajukan wajahnya dengan sedikit miring, yang lagi-lagi ingin menjangkau bibir gadis itu yang mulai menjadi candu buat dirinya.
"Lisa ... menjauh! jangan biarkan Hadi menyentuh mu yang kedua kalinya, Lisa ... ayok menjauh! singkirkan tangannya dan jauhkan dirimu dari pria ini?" gejolak dalam hati Alisa.
Namun justru Alisa tidak mampu bergeming ataupun bergerak menjauh dari Hadi. Sehingga Hadi lagi-lagi mendapatkan yang dia mau.
Mata Alisa keduanya melotot dan tak berkedip.
Nyes ....
Terasa sejuk ketika bertemu nya kedua permukaan bibir mereka. Namun lama-lama menimbulkan sensasi yang menghangatkan. Menyebar ke seluruh tubuh, semakin membuat panas suasana.
Perlahan tangan satunya Hadi mengunci tengkuk ya Alisa dan yang satu menarik pungguk gadis yang sesungguhnya sudah menjadi istri.
Dalam hati Alisa terus bermonolog. "Kenapa tidak menolaknya, Alisa ...menjauh kek. Bukan iya-iya saja. Menjauh napa? dia itu hanya mencari pelampiasan dari istrinya yang sakit itu, bukan karena sayang ataupun cinta!"
"Tapi, entah kenapa? aku gak bisa menolaknya. Aku sulit untuk beranjak. Rasanya bokong aku ada yang lem deh ... sehingga tidak bisa menjauh nih!" terus saja hatinya beradu argumen.
Setelah merasa puas. Hadi bangun dan menarik tangan bahunya Alisa agar duduk kembali. "Sekarang, sudah tahu kan gimana rasanya?" ibu jari Hadi mengusap bibir Alisa dengan lembut ....
...🌼----🌼...
Kira-kira ... apa ya? yang akan terjadi setelah ini? Akankah Alisa benar-benar luluh pada Hadi?
Jangan lupa like komen dan hadiahnya.
Makasih
__ADS_1