
Sekitar pukul 08.00 malam setelah selesai makan. Alisa keluar dan tentunya minta tolong pada pak mur untuk mengantarkannya. Tanpa pengetahuan siapapun.
Dan dia tidak bilang sama siapa-siapa, karena kebetulan Liana maupun ibu mertua, semua berada di kamarnya masing-masing. Dirga pun sedang belajar di kamarnya.
"Pak tolong nanti saya ke jalan xx ya?" pintanya Alisa kepada Pak Mur.
"Oh iya Non." Pak Mur mengangguk sembari dengan secepatnya melajukan mobil nya keluar dari area pekarangan mention tersebut.
Mobil melaju dengan cepat, ke arah tujuan yang sudah Lisa sebutkan dan setelah berapa waktu, mobil tersebut berhenti di depan sebuah rumah yang minimalis.
"Tunggu sebentar ya Pak! aku mau menemui seseorang dulu, tidak lama kok!" ucap Alisa kepada supirnya.
Kemudian Alisa turun dari mobilnya lalu memasuki teras rumah itu yang tampak sangat sepi.
Pak Mur tanpa berkata-kata hanya, sorot matanya yang memperhatikan majikannya berjalan mendekati pintu.
Setelah di dekat pintu, Alisa berdiri sembari mengetuk daun pintu itu dengan penuh semangat. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama, pintu pun terbuka.
"Maaf, mau bertemu sama siapa dan ada perlu apa?" tanya seorang wanita yang sepertinya seorang asisten di rumah itu.
"Iya permisi, saya ingin bertemu dengan Rahman, ada? bilang saja saya Lisa yang ingin bertemu." Ucap Alisa sembari menganggukkan kepalanya.
"Oh, ada. Tunggu sebentar ya! panggilkan dulu!" balas wanita tersebut sambil memutar tubuhnya meninggalkan pintu utama dan Alisa.
Alisa berdiri serta memunggungi pintu. Menunggu Rahman yang sedang dipanggilkan.
Sesaat kemudian terdengar derap langkah yang mendekati pintu dan mendekati dimana Alisa berdiri.
Lantas Alisa memutar badannya melihat siapa yang datang itu, ternyata dia adalah Rahman, orang yang sedang dia cari.
Rahman tersenyum melihat Alisa berada di sana, sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "Lisa? kau ke sini!"
"Iya, aku datang untuk mu!" Alisa menatap tajam pria yang sudah tega mengambil kehormatan sahabatnya itu.
"Kau datang untuk ku? sungguh! aku pun merindukan mu, aku menyesal sudah mencurigai mu." Rahman ... lantas mengajaknya duduk.
__ADS_1
"Makasih, tidak usah. Aku ke sini cuma sebentar kok!" tegas Alisa sambil terus menatap pria yang dulu ia kenal sopan dan tidak berani kurang ajar pada dirinya. Kini justru kebalikannya yang dia lakukan terhadap Liana.
"Lisa, aku minta maaf karena aku sudah salah menilai dirimu. Aku menyesal--"
"Cukup! aku ke sini bukan untuk membahas itu, soal itu sudah aku lupakan dan ku kubur dalam-dalam. Aku ke sini untuk meminta kamu untuk bertanggung jawab kepada Liana yang sudah kamu buat hancur." Jelas Alisa sambil kepada Rahman.
"Apa? maksud mu?" Rahman seolah tidak mengerti dengan maksudnya Alisa.
"Kamu tidak usah sok tidak mengerti dengan maksud ku, kamu tega ya sama Liana. Kamu sudah merenggut kesuciannya, padahal aku mengenal kamu itu tidak seperti itu. Aku minta kamu datang dan lamar Liana, nikahin dia secepatnya! sebelum terjadi yang tidak diharapkan," ujar Alisa lalu melihat ke arah lain untuk menghindari kontak mata dengan Rahman yang kini menatapnya sangat lekat.
Rahman sadar, kalau Alisa membicarakan soalan dirinya dan Liana. "Hem, soal itu. Kita melakukannya sama-sama suka kok, dan dia sendiri tidak meminta ku untuk tanggung jawab!"
Plak ....
Alisa menampar pipinya Rahman dengan sekuat tenaga. Sehingga Rahman memiringkan wajahnya dan memegangi pipinya itu.
"Kurang ajar ya? seharusnya kamu bisa menjaga dia, jangan rusak dia dengan perlakuan mu itu. Kalau sudah terjadi, apakah kamu bisa mengembalikan nya seperti semula? tidak. Dan yang rugi itu adalah perempuan. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun!" seru Alisa kembali dengan nada tinggi.
"Hem, seharusnya kamu tanyakan pada sahabat mu itu, apakah dia pandai menjaga diri? kalau saja dia seperti kamu yang menghindar dan ingin diperlakukan dengan hormat, aku tidak mungkin melakukannya. Kucing mana sih? ha ... yang acuh bila di suguhi makanan lezat di depan mata?" ungkap Rahman tanpa merasa bersalah.
Plak ....
"Dengar ya? selezat apapun hidangan di depan mata. Sekalipun di paksa agar kau telan, itu tidak mungkin akan masuk ke perut mu, bila kamu bisa menahan diri untuk menikmatinya. Kau ini harus Ingat kalau ibu mu adalah perempuan. saudaramu juga punya perempuan. Jangan terlalu santai karena karma itu ada." Alisa mengepalkan tangannya yang terasa panas juga bekas menampar kuat-kuat pipi Rahman yang kini di pegang pria tersebut.
"Kamu tidak bisa menyalahkan salah satu pihak, karena kami sama-sama menikmati itu--"
"Cukup ya? aku tidak mau tahu alasan apapun. Karena yang aku mau adalah ... nikahi dia secepatnya." Alisa pun memutar badannya dan membawa langkah kakinya meninggalkan teras tersebut.
"Ada apa Aman? ribut-ribut?" suara ibunya yang baru saja keluar dan sekilas melihat punggungnya Alisa. Siapa dia?"
Alisa berhenti melangkah sesaat, namun tidak menoleh sama sekali. Kemudian dia melanjutkan langkahnya mendekati mobil yang sudah di bukakan pintunya olah pak Mur.
"Pulang, Pak?" pinta Alisa setelah duduk di dalam mobil.
Pak Mur mengangguk dan segera menyalakan mesin dan memutar kemudinya dengan perlahan. Namun detik kemudian mempercepat laju mobil mewah tersebut.
__ADS_1
Alisa melamun memikirkan gimana nantinya, yang dikhawatirkan adalah seandainya liana hamil, bagus-bagus Rahman mau tanggung jawab! kalau tidak gimana?
Tapi dalam hati kecil Alisa, dia merasa yakin kalau Rahman pasti akan mau menikahi Liana. "Huuh ..." Alisa mengembuskan nafasnya melalui mulut.
"Yang tadi itu teman dekatnya non Liana ya, Non?" Pak Mur membuka obrolan.
"Ha? oh, iya Pak." Alisa mengangguk pelan.
"Emangnya kenapa? sehingga Non Alisa harus mendatangi!" Pak Mur mulai menyelidiki.
"Em ... itu ... nanti juga pak Mur akan tahu dengan sendirinya dan tidak perlu aku jelaskan!" sahutnya Alisa.
"Ooh gitu ya Non, maaf kalau Bapak banyak bertanya!" ucapnya pak Mur kembali sembari tetap fokus melihat ke depan.
"Tidak apa-apa, Pak!" Alisa memandangi keluar jendela yang tampak gelap gulita, kecuali penerangan jalan yang terang benerang.
Kini mobil sudah sampai kembali di pekarangan mention dan pak Mur langsung menyimpan mobilnya ke garasi setelah Alisa turun dan memasuki pintu utama mention tersebut.
"Lisa ... dari mana malam-malam?" sapa sang ibu mertua yang melihat Alisa baru datang.
"Em, Ibu ... aku, aku ada keperluan sebentar." jawabnya Alisa sembari melihat ke arah jam yang berada di tangannya.
"Emang ada kebutuhan apa sehingga harus keluar malam? kan siang juga bisa, lagian bisa menyuruh orang. Ingat Lisa masih belum pulih benar, orang tua bilang orang yang di masa-masa seperti itu baunya wangi dan disukai oleh makhluk yang kasat mata," ujar sang ibu mertua.
Membuat Alisa merinding dan bergidik. "Lih ... amit-amit deh. la haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim."
"Jangan bilang gitu lah, Bu ... Lisa jadi takut. Em ... Lisa ke kamar dulu ya? mau istirahat. Ibu juga harus istirahat sudah malam!" lirihnya Alisa kepada sang ibu mertua.
"Iya Lisa Dan kamu harus banyak berdoa dan meminta perlindungannya," tutur ibu mertua.
Kemudian Alisa mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga, yang akan menghubungkan ke kamarnya tersebut ....
...🌼---🌼...
Terima kasih pada reader ku yang masih setia🙏
__ADS_1