
Hadi tampak menunjukan wajah yang geram, karena Rahman belum juga terlihat batang hidungnya di tempat tersebut.
Namun setelah sekian lama menunggu dan kecemasan pun melanda dari setiap wajah yang berada di tempat tersebut. Akhirnya berdarah kembali dengan kedatangan orang yang di tunggu.
Pak penghulu yang sudah beberapa kali mau pergi. Karena harus mendatangi tempat lain, kini bisa tersenyum kecewa karena harus terbuang waktunya dengan percuma.
"Kenapa baru datang?" sambut Liana dengan wajah yang camas menatap ke arah Rahman yang baru saja datang.
"Aku ketiduran!" jawabnya sambil terus berjalan ke tempat yang sudah disiapkan untuk akad.
"Ha! ketiduran? gak salah?" Liana melongo.
Suara jawaban yang sungguh tidak masuk akal sekali. Ini sudah menunjukan pukul 11 siang, dari rencana ijab kabul pukul 08.30. Dan baru datang jam 11 siang.
"Kenapa baru datang? apa kau ingin mempermainkan saya?" bisik Hadi sambil meregangkan otot tangan yang terasa kaku.
Rahman tampak pucat dan tidak bisa menjawab. Dia memang ketiduran kerana subuh baru bisa tidur. Ibunya yang bolak balik bangunin pun tidak di hiraukan nya, ditambah lagi dengan rasa malas untuk datang. Dia benar-benar ragu untuk menikahi Liana.
Bila pernikahan keduanya terjadi itu ... hanya karena rasa penyesalan yang menghantui jiwa nya yang sudah melakukan sesuatu yang diluar batas saja.
Kemudian, kedua netra nya mendapati Alisa yang sedang duduk dekat Liana dengan menggunakan kebaya penganti dan tampak lebih cantik membuat hati Rahman berdebar sangar kencang.
Penghulu langsung memulai dengan doa. Dia sudah tidak sabar dengan acaranya yang tertunda lama itu.
Rahman pun mengucap ijab kabul dan mengucapkan sebuah maskawin yang hanya sebuah cincin 2 geram saja.
Bikin hati Hadi shock. Mas kawin yang Liana dapat cuman dikasih segitu doang. Tapi tak apalah, tapi pada kenyataannya biaya akad nikah dan KUA juga buat syukuran Hadi tidak menerima sepeser pun.
Kebetulan ijab kabul pun berjalan dengan lancar. Hingga di akhiri dengan doa.
Semua merasa lega karena Liana kini sudah sah menjadi istri dari Rahman.
"Akhirnya, sekarang kalian sudah menjadi suami istri dan ibu sangat bahagia." Bu Irma memeluk Liana yang kini sudah menjadi mantu nya.
Raut wajah Liana begitu sumringah dan tampak bahagia sekali. Biarpun tadi dia sudah benar-benar putus asa karena Rahman datang sangat terlambat.
"Aku juga sangat bahagia." Balas Liana pada sang ibu mertua.
"Akhirnya kamu sudah menjadi istri." Alisa kini mengucapkan selamat pada Liana.
"Iya, lu gak marah bukan ... gue jadi istri nya Rahman! so kau sudah punya papa gue." Liana memeluk ibu sambungnya.
__ADS_1
"Apaan sih ... aku senang dan ikut bahagia karena kamu sudah menjadi istri dan dia mau bertanggung jawab," timpal Alisa dengan menunjukan senyumnya.
"Jadilah istri yang baik ya? cucu Oma sekarang punya suami." Oma nya mendapat giliran untuk memeluk sang cucu.
"Mommy, aku pengen makan!" Dirga memegang tangan Alisa dan meminta dinambilkan makan.
Hadi menoleh. "Putra ... kan bisa ambil sendiri. Dan asisten pun ada, ajak kawannya untuk makan sepuasnya."
"Aku mau di ambilkan mommy. Dan yang lain sudah pada makan ngambil sendiri." Jawabnya anak itu sambil melihat ke arah teman-teman yang sedang menikmati makannya.
"Ayo, mommy ambilkan." Alisa ngeloyor dengan Dirga yang mau makan.
"Mommy. Aku mau daging stik dan kentang ya?" Dirga menunjuk yang dia mau.
"Oke, itu saja?" tanya Alisa sambil mengambil piring nya dan mengambil yang Dirga inginkan.
"Sudah, itu saja!" sahutnya.
"Teman-teman, lihat. Aku itu bahagia lho ... siapa bilang aku sudah gak punya mama. Aku ini punya mommy nih!" Dirga menunjukan kalau dia itu punya mommy kepada semua temannya.
"Kok Dirga bilang gitu?" Alisa mengusap rambut Dirga.
"Habis suka bilang aku gak punya mama, aku kan punya Mommy." Kata anak itu.
Teman-teman nya Dirga saling berbisik. Dan tampak malu.
"Kalian jangan buli lagi Dirga ya! dia itu punya mommy kok." Alisa mengadakan pandangan pada teman-teman nya Dirga sambil mengulas senyumnya.
"Ada apa sayang?" tanya Hadi sambil mendekati sang istri yang tengah berdiri di antara makanan yang berjejer.
"Ach, nggak. Ayo ke sana lagi? ajak Alisa sambil menarik tangan Hadi.
Namun langkahnya Alisa terhenti. Saat melihat ibunya Rahman yang bersama orang-orang yang dia bawa sebagai rombongan.
"Ayo makan sepuasnya, jangan khawatir. Saya yang menyediakan semua ini! jadi kalian tidak usah risau," ucap Bu Irma pada orang-orang yang bersamanya.
"Bu Irma beruntung ya? sudah kaya berbesan dengan orang kaya juga, mana makanan enak-enak pula." Kata temanya tersebut.
"Iya benar. Sangat beruntung, bayi kita makan? mumpung di sini dan banyak makanan." Timpal yang lainnya.
"Silakan-silakan! bila perlu di bungkus ya, tidak apa-apa kok. Santai aja." Tambahnya Bu Irma.
__ADS_1
Alisa dan Hadi saling bersitatap. Setelah mendengar perkataan dari mertua nya Liana.
Hadi merasa geram dengan omongan bu Irma yang sok. Padahal dia sendiri belum menerima sepeser pun uang buat biaya menikah putranya.
Alisa melihat ekspresi wajah suaminya yang marah, langsung mengajaknya untuk pergi. "Ayo, yank? kita pergi dari sini."
Tangan Alisa menarik tangan Hadi dan menjauh dari tempat tersebut dengan menggunakan akses jalan lain.
"Bisa-bisa nya dia bicara seperti itu. Padahal aku belum terima sepeserpun uang buat biaya menikah putranya dan putri ku. malu-maluin saja tuh orang," Hadi menggerutu sambil berjalan.
Setelah jauh dari tempat itu, Alisa hentikan langkahnya. "Aku gak mengerti, kenapa Rahman seperti itu. Atau memang ibunya yang begitu, aku jadi tidak habis pikir."
"Ngomong waktu itu pengen resepsi dan dia yang menanggung semua biayanya. Boro-boro! begini saja semua dari saku aku kok!"
"Ya sudah, biar saja biar dia merasa malu sendiri. Atau mungkin dia tidak punya malu! hi hi hi ..." Alisa terkekeh.
Hadi hanya melihat ke arah istrinya dengan hati yang kesal. Yang lalu Alisa mengusap dada Hadi dengan lembut.
"Sabar ya, bukan kah ini tidak seberapa dan juga kita yang nebeng kan ikutan akad!" ucap Alisa dengan irih.
Hadi merangkul pinggangnya Alisa seraya berkata. "Kalau gini caranya bukan kita yang nebeng sayang. Tapi mereka yang nebeng, gak bermodal ha ha ha ...."
"Tidak apa, anak kita kan!" balas Alisa kembali.
"Tapi kalau wanita itu, pria yang bawa sayang, bukan wanita yang bawa. Berasa murah banget putri ku!" Hadi berucap sedih dengan nasib putrinya itu.
"Jangan bicara gitu ach!" Alisa menempelkan telunjuk ke bibir Hadi.
Acara syukuran sudah selesai dan kini sudah menunjukan waktunya makan malam. Antara dua keluarga berkumpul karena Bu Irma dan suami pun masih di sana kecuali rombongan yang sudah pulang.
"Ayo silakan nambah makannya Bu Irma. Bila perlu bungkus saja. Tidak apa-apa kok, saya yang belanja ini semua!" celetuk Alisa sambil menyodorkan mangkuk daging ke arah Bu Irma.
Bu Irma tampak malu, Alisa bicara seperti itu. Namun dia segera menjawab. "Ooh. Tentu saya akan nambah, di rumah kebetulan sedang gak masak kan? karena kita nya juga di sini."
"Oya, silakan. Dan jangan ragu membawa dari sini, buat sarapan mungkin. Biar besok pun tidak perlu masak kan?" tambahnya Alisa lagi.
"Oh, tidak ... kalau untuk di rumah sih ... berasa tidak punya malu gitu ya? jadi buat makan di sini saja!" tambah nya Bu Irma tanpa ragu.
Semua yang berada di meja makan melepas pandangannya ke arah Alisa dan Bu Irma. Apalagi Liana dia merasa malu sekali pada ibu mertua karena omongan Alisa barusan.
Lain lagi dengan Hadi yang malah tersenyum puas mendengar perbincangan itu. Dan sang bunda Hadi malah berpikir kalau Alisa kenapa bicara seperti itu, Bu Irma pun malah terlihat santai-santai saja ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Makasih ya masih setia.