Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Penyesalan.


__ADS_3

"Papa aku kan pengen hadiahnya adek bayi bukan makan di restoran!" protes sang anak.


"Oya kan adik bayinya belum ada jadi hadiahnya makan di restoran aja dulu ya? nanti kalau mommy dah hamil baru ngasih dede bayi!" timpal sang ayah.


Degh.


Liana merasa tersentak, dihantui dengan perasaannya sendiri. Soal hamil.


"Baiklah kalau begitu!" Dirga mengangguk setuju.


Kemudian mereka pun memasuki mobil untuk menuju ke sebuah restoran. Sang ibu yang digandeng oleh Hadi sudah duduk di dalam mobil tersebut.


lanjut menggandeng tangan sang istri duduk bersamanya sementara, Liana dan Dirga duduk bersama Omanya.


Sesekali Liana melirik ke arah Alisa, hatinya gelisah apakah Alisa sudah mengatakan semuanya pada sang ayah? tapi kalau sudah, kok sang ayah biasa-biasa saja tidak ada marah ataupun sikap yang dingin.


"Ach ... mungkin Alisa belum bilang apa-apa sama papa, sehingga dia bersikap biasa aja. Karena kalau saja dia sudah bilang! Papa pasti marah atau dibicarakan nya denganku!" gumamnya Liana dalam hati.


Alisa pun begitu, dalam pikirannya bergolak masalah Liana dan Rahman. Ingin sekali dia mengobrol kan ini dengan Hadi, tapi dia sendiri bingung harus mulai dari mana.


"Aku senang sekali deh, ini kali pertama kita jalan untuk makan malam di restoran. Setelah sekian lama kita nggak pernah makan di luar," ucapnya Dirga sambil melihat ke arah jalan.


"Kata siapa kita nggak makan di luar? di luar Negeri kita makan di luar!" samber Liana kepada sang adik.


"Tapi, kan nggak sama mommy. Mama juga nggak!" timpal nya Dirga sambil menoleh pada sang kakak sambil menjulurkan lidah.


"Sayang kita makannya mau makan apa, restoran mana?" tanya Hadi kepada istri kecilnya.


Alisa menoleh ke arah sang ibu mertua dan kedua anak sambungnya. "Gimana kalau kita makan nya di restoran seafood aja ya, mau nggak?"


"Aku mau makan, seafood." Dirga menyambut senang dengan usulan sang mommy.


"Boleh, Ibu juga suka!" membalasnya sang ibu mertua.


"Dan kamu Lian ... mau nggak?" tanya ulang Alisa kepada Liana yang tampak sedikit melamun.


"Em ... Aku sih terserah kalian saja, boleh!" jawabnya Liana.


"Oke kalau begitu, Pak ke restoran seafood yang di depan ya? pintanya Hadi kepada Pak Mur.


"Iya siap Tuan!" jawabnya pak Mur.


Mobil tersebut terus meluncur membawa penumpangnya ke sebuah restoran seafood yang terdekat.

__ADS_1


Tidak terasa dengan celotehan Dirga di sepanjang perjalanan. Akhirnya mobil tersebut pun tiba di depan sebuah restoran yang menjadi tujuan mereka.


"Pak Mur juga turun? jangan nunggu di sini!" pintanya Hadi kepadamu pak Mur sembari turun dari mobilnya itu.


"Aduh, saya pun harus turun?" pak Mur menatap ke arah Hadi, sebelum dia turun dari belakang kemudinya.


"Iya Pak, turun saja! masa kita enak-enakan makan, sebentar Pak Mur di sini menunggu." tambahnya Alisa yang merangkul bahunya Dirga.


Anda semuanya masuk ke dalam restoran dan langsung dilayani oleh pegawainya.


"Sayang mau pesan apa? Ibu juga?" tanya Hadi kepada sang istri dan sang bunda.


"Aku pesan udang asam manis aja lah, sama nasinya ya? minumannya air jeruk sama air putih." Kata Alisa.


"Kalau aku ... kepiting saus tiram. Minumnya jus melon saja." mintanya Liana.


"Kalau aku ... cumi saus telor asin aja, sama nasi sama buah dan minumannya juga!" ucap Dirga sambil menunjuk menu yang berada dalam daftaran.


"Ibu mau pesan apa?" kini hadir bertanya pada sang ibu yang malah terdiam, sepertinya dia kebingungan untuk memesan apa.


"Ibu bingung mau pesan apa? Ya sudah Ibu pesan ikan bakar saja!" Bunda menutup pendaftaran menu.


"Ikan makarnya mau ikan apa Ibu, mau ikan kakap atau ikan kerapu?" tanya si pegawai restoran.


"Untuk makanan penutupnya


.. kami menyediakan. Ada es buah, ada macaroon. Ada dissert box, moci isian buah. Ada juga Panna cotta! mana yang akan di coba?"


"Kami minta 3 es krim dan lainnya mochison buah." Pesan Hadi yang mendapat anggukan dari orang-orang di sebelahnya.


"Pak Mur, mau persen nya apa?" tanya Hadi pada pak Mur yang memilih di meja lain dan sendiri.


"Bakar ikan saja. Tuan," jawabnya pak Mur.


"Oke, Tuan Nyonya silakan minunggu sebentar dan kami akan menyediakannya." Pekerja resto pun mengundur diri dari hadapan mereka semua.


"Em, Aku mau ke toilet dulu ya sebentar tidak lama kok!" ucapnya Liana sembari berdiri dan mengambil tasnya.


"Jangan lama-lama ya Lian?" pesan sang oma.


"Iya, kalau lama-lama nanti makannya keburu habis lho." Celetuknya Dirga.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pesanan pun datang berbarengan dengan datangnya Liana dari toilet.

__ADS_1


Kemudian mereka pun langsung menyantap makanannya dengan sangat lahap.


Dirga mengangkat piringnya dan mencium. "Em ... Enak sekali, baunya wangi pula, yami-yami ... Hem ...."


"Iih ... apaan sih kayak orang baru Nemu saja. Malu tahu dilihat orang!" Celetuk sang kakak kepada Dirga sambil menengok kanan dan kiri.


Sementara Lisa begitu anteng menikmati makannya! udang asam manis yang sesekali menyuapi suaminya.


"Huuh, masih panas." Alisa sedikit meniup hidangan yang dia Santap tersebut.


Hadi pun sesekali mengusap bibir Alisa yang belepotan dengan bumbu udang asam manisnya dengan lembaran tisu.


"Belepotan sekali makannya!" gumamnya Hadi sambil mengambil lagi tisu.


"Apalagi kamu Lian, sampai ke pipi-pipi itu Bumbu!" Hadi menggeleng dan mengusap pipi putrinya.


Liana maupun Alisa hanya nyengir aja, dan melanjutkan makannya tersebut yang menggunakan kedua tangannya.


Alisa melirik ke arah Dirga yang lebih rapi mungkin karena dia makan cumi yang sudah dipotong-potong dari sananya.


Begitupun dengan sang Bunda yang lebih rapi dan tidak belepotan, karena memang makannya tidak menggunakan banyak bumbu. Namanya juga ikan bakar.


Selesai makan, mereka pun menikmati makanan penutupnya seperti es krim dan mochi isian buah.


"Gimana enak gak sayang?" tanya Hadi sambil mengusap ujung bibirnya Alisa yang ada sisa makanan di sana.


Alisa menyuapi Hadi dengan es krim nya. "Enak kan?"


"Em ... enak! mau pesan lagi gak!" Hadi kembali bertanya.


"Nggak ach, sudah cukup." Alisa menggeleng.


Sementara dari kejauhan ada seorang laki-laki yang sedari tadi memperhatikan kemesraan antara Hadi dan Alisa. Sehingga dia merasa panas bagaikan terbakar api melihat kemesraan mereka berdua yang nyata di depan mata.


Hatinya terbakar api cemburu atas yang dilakukan oleh Alisa dan pria yang lebih tua darinya itu.


Baru kali ini dia benar-benar merasakan terbakar api cemburu karena melihat orang yang dia sayangi sama pria lain bahkan kemesraan yang di tempat umum.


Penyesalan demi penyesalan pun timbul karena dulu dengan mudahnya dia percaya dengan omongan orang lain dan meragukan wanitanya tersebut, coba dulu dia lebih percaya pada wanitanya itu. Mungkin saat ini mereka masih bersama walaupun gimana ceritanya.


Menyesal karena tak bisa mempertahankan hubungan mereka berdua sehingga pada akhirnya Alisa bahagia dengan pria lain ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak bosannya aku ucapkan terima kasih, kepada kalian semua yang sampai detik ini masih juga menunggu dan mengikuti.


__ADS_2