
"Jangan, Om jangan. Aku masih virgin dan aku masih takut!" suara Alisa sambil mata terpejam dan tangan bergerak-gerak seolah sedang memukul.
Mendengar suara Alisa, Hadi langsung terbangun dan duduk bersila di atas tempat tidurnya.
"Kenapa sih? belum apa-apa sudah mengigau aja tuh anak." Tatapan Hadi tertuju pada Alisa yang berbaring tapi tangannya bergerak-gerak seorang sedang berontak.
Tadinya mau Hadi hampiri. Tapi karena dia tampak tenang dan nyenyak lagi. Hadi melanjutkan kembali untuk tidur.
Sekitar sebelum subuh. Alisa terbangun dan sejenak agar jiwanya terkumpul. "Aku di mana ya? kok tidur di sofa sih."
Manik matanya Alisa mengedarkan pandangan ke sekitar ruang tersebut. "Eh iya, aku kan di kamar om Hadi." Gumamnya Alisa dengan suara parau sambil nyengir.
Lantas Alisa menggeliat nikmat. "Alhamdulillah ... nyenyak, Oya aku harus buru-baru merapikan ini selimut dan bantal ke tempatnya.
Alisa buru-baru melipat dan mengambil bantal untuk dia simpan. Tapi ketika berbalik, alangkah terkejutnya dia melihat lantai kotor dengan kelopak bunga-bunga yang berserakan. Bahkan bunga hiasan di pas juga tergeletak begitu saja.
Selimut pun tergeletak di lantai. Sementara sang empu tidak memakai selimut. Dan hanya memeluk guling saja.
"Subhanallah ... apa-apaan ini? ini pasti ulahnya om Hadi ini pasti. Bergulat sama siapa sih hingga bagaikan kapal pecah begini?" kepala Alisa menggeleng kasar. lalu melanjutkan langkahnya menuju wardrof untuk menyimpan bantal dan selimut.
Detik kemudian. Alisa kembali lalu mengikat rambutnya di atas. Lanjut menyapu lantai dan mengambil bunga-bunga yang masih dia tata ke pas bunganya.
"Ini kan punya orang, bukan milik pribadi. Bisa-bisa nya dibuat seperti ini sih, om ..." lagi-lagi Alisa menggeleng sambil menoleh pada Hadi yang masih tertidur nyenyak.
Sebelum membersihkan lagi lantai, Alisa mengambil selimutnya dulu ia simpan di atas tempat tidur. Lanjut meneruskan tugasnya.
Beberapa waktu kemudian. Setelah mandi dan salat subuh. Alisa melirik ke arah Hadi yang masih tampak nyenyak.
Setelah menyimpan bekas salatnya. Alisa mendekati gorden dan membukanya, lalu kembali melihat ke arah Hadi dan ke arah jam bergantian.
"Kok belum bangun sih?" Alisa mengayunkan kakinya perlahan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepi tempat tidur nya Hadi.
"Om? Om bangun? sudah subuh nih." Suara Alisa pelan.
Satu kali, Hadi tidak bergeming. Dua kali baru bergerak. Namun tetap terpejam dan semakin mengeratkan pelukannya ke guling.
"Om ... bangun, sudah subuh!" suara Alisa terdengar kembali.
"Hem!" Hadi perlahan membuka kelopak matanya dan mendapati wajah cantik yang tidak jauh dari dirinya. Lalu menggosok matanya itu, karena berasa melihat Diana berada di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu berada di sini?" Hadi bangun menatap lekat ke arah wanita yang dia panggil sayang barusan.
Alisa bengong, mendengar Hadi memanggil sayang. Namun tak ayal dia mengangguk juga.
"Sayang, Abang sangat bahagia kau sudah sehat." Hadi memeluk tubuh Alisa yang dia pikir adalah Diana.
Alisa semakin dibuat kebingungan. Tiba-tiba Hadi memeluk ya. Tapi bila mencerna omongannya, pasti Hadi berpikir kalau dirinya adalah Diana sang istri pertama.
"Diana, Abang sangat merindukan mu sayang!" Hadi memudarkan pelukannya dan mencium kening wanitanya begitu dalam.
Kedua pipi Alisa pun tak ayal menjadi tempat mendaratnya kecupan kecil seorang Hadi. Namun saat-saat Hadi mau mengecup bibirnya, Alisa mendorong dada Hadi ke belakang sambil berdiri.
"Aku bukan Tante Diana. Aku Alisa, Om. Alisa!" suara Alisa sedikit meninggi.
Hadi menggercapkan matanya dan menyadari kalau yang dia kira Diana itu adalah Alisa. Dia mengusap wajahnya. "Maaf, maaf?"
Alisa melepas tatapannya pada Hadi yang meminta maaf padanya, terlihat dia menelan Saliva nya yang sulit ia telan. Ada sedikit sakit di relung hatinya yang paling dalam bagai di gigit semut. Dia di peluk namun di anggap wanita lain.
Beda ketika dia berada dalam pelukannya pria itu tapi sebagai dirinya pribadi yang terasa nyaman dan menenangkan. Tapi dianggap wanita lain! hatinya sungguh terasa sakit.
Hadi melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul 05.00 dan dia segera turun hendak membersihkan diri lalu salat subuh, meninggalkan Alisa yang berdiri mematung dan manik mata berkaca-kaca sebagai ungkapan perasaannya saat ini, sesuatu yang tidak Hadi sadari.
Lalu Alisa duduk di sofa dengan raut wajah yang sendu.
Sementara Hadi sudah menunaikan salatnya. Lalu menghampiri dan duduk tidak jauh dari Alisa yang pura-pura membaca buku.
Hadi meneguk segelas air putih sampai tandas. Menoleh pada Alisa yang membaca buku namun bukunya terbalik. "hebat ya? baca buku terbalik!"
Mendengar demikian, Alisa sadar, buru-baru membalikan bukunya itu dengan tetap menunduk.
Hadi mendekat. Mengarahkan tangan ke dagunya Alisa, di angkatnya wajah itu yang tampak sendu dan tak bergairah.
"Sudah mandi. Tapi tidak bergairah gitu, kenapa nih?" Hadi mengunci wajah Alisa dan di tatapnya dengan lekat.
Alisa tidak berani membalas tatapan pria yang masih terlihat gagah dan tampan tersebut, lalu menyingkirkan tangan Hadi. Mengalihkan pandangannya ke lain tempat.
"Kenapa nih? monyong begitu! tambah jelek saja dengan wajah seperti itu, coba senyum napa? sama suami nih bukan sekedar atasan atau tunangan lagi." Ulang Hadi sambil menggoda gadis yang tampak murung dan sayu itu.
Membuat Alisa mengulum senyumnya mendengar perkataan dari Hadi barusan. "Memang aku jelek kok!"
__ADS_1
"Eeh, ternyata ada suara juga, aku kira sariawan membisu. He he he ... dan ngaku juga kalau dirinya jelek."
"Iih ... jahat banget deh!" bugh tangan Alisa menepuk paha Hadi. "Iya, emang aku jelek, kenapa emang?" tanya Alisa sekilas melihat sorot matanya Hadi yang menggodanya.
"Ngga sih ... tapi biar jelek. Menggemaskan juga." Tambah Hadi sambil mesem.
"Nggak lucu!" Alisa dengan jelas.
"Siap juga yang melucu? bukan pelawak juga ataupun badut. Kamu tuh yang lucu. Pagi-pagi dah monyong saja, bukannya kasih senyum suaminya ini. Kasih kopi, sarapan! lah ini malah murung, muka di tekuk bagai orang di tagih rentenir saja," ungkap Hadi sambil menaik-turunkan alisnya.
Alisa terdiam, mengingat ketika tadi dirinya dikira Diana oleh Hadi.
"Saya bukan rentenir yang akan menagih mu uang, tapi saya akan meminta hak saya padamu." Suara Hadi pelan.
Dengan refleks, tangan Alisa menyilang di dada sambil mencondongkan punggungnya ke belakang. "Aish ... apaan sih, Om itu tadi modus kan? pura-pura mengira aku itu Tante Diana! agar bisa peluk-peluk aku kan?"
"Ha? buat apa saya bikin modus segala? kalau mau, aku bisa kapan pun peluk kamu atau lebih dari itu juga hak saya." Balasnya Hadi menyanggah kalau tadi itu hanya modus saja.
"Jangan suudzon begitu. Lagian kamu itu hak saya--"
"Stop! bilang gak, oke? karena kita sudah sepakat kalau pernikahan ini hanya sementara!" Alisa memotong perkataan dari Hadi.
"Iya, tahu. Tapi tetap saja, kalau kita berdua mempunyai hak yang sama sebagai suami istri, jelas Nyonya Alisa Dirgantara!" ucap Hadi penuh penekanan dengan menyebut nama Alisa yang kini ada embel-embel nama suami.
"Cukup-cukup ya? jangan di bahas lagi dan aku minta jangan bilang sama orang kantor kalau kita sudah menikah dan aku berhak menata masa depan ku termasuk dekat dengan pria lain. Oke?" Alisa menggerakan tangannya.
Sedang beradu argumen seperti itu, tiba-tiba pintu yang sudah tidak di kunci itu diketuk dari luar.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Keduanya saling bertukar pandangan menerka-nerka siapakah gerangan yang datang ....
.
Ayo. Mana nih ... like komen dll nya. yang baca banyak tapi yang like dan komen dikit. Jangan pelit jempol ya🙏
__ADS_1