Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Baby besar


__ADS_3

Alisa membawa sarapan Hadi ke kamar, namun di kamar itu kosong. Orangnya tidak ada di tempat.


"Kemana dia? kok nggak ada sih!" Alisa merasa heran dan lalu keluar kembali setelah menyimpan sarapannya di atas meja.


Alisa membawa langkahnya ke kamar Diana, namun belum juga sampai di tempat. Bertemu dengan Diana dan ibu, dan mertuanya juga hendak menuju lift, tapi tidak ada Hadi nya.


"Lisa ... Abang mana? Alisa mau bikin sarapan ya?" sapa Diana pada Alisa yang berjalan sendirian.


"Em, gak tau!" Alisa menggeleng. "Justru aku mencarinya, karena sarapannya sudah siap. Dan kubawa ke kamar. Aku takut kalau aku tinggalkan di bawah, akan berubah rasa seperti dulu lagi!"


“Berubah rasa, maksudnya?” Diana penasaran.


"Iya, waktu itu yang katanya om Hadi rasanya asin. Padahal aku buat sama aja," Alisa jujur ngomongnya.


"Ooh, Oya. Waktu itu, ya sudah lah. Jangan dipikirin. Coba lihat di ruang olah raga," sambung Diana sambil menunjuk ke arah ruang nge-gym.


"Ooh," Alisa membulatkan mulutnya tanpa beranjak dari tempatnya.


"Lha, kok masih berdiri di sana. Susul dia, suruh sarapan. Takutnya dia pernah sakit lambung!" kata Bu Lia menatap ke arah Alisa.


"Iya, Lisa ... suruh sarapan dulu! bila perlu kau bawalah sarapannya ke ruangan tersebut!" tambah ibunya Hadi.


"Benar Lisa ... Abang dulu punya penyakit lambung, jadi jangan sampai telat makannya. Tante harap! Lisa bisa lebih memperhatikan Abang ya? karena Lisa tahu kondisi Tante yang tidak bisa mengurus Abang lagi." Diana pun menambahkan kata dari ibu dan mertuanya .


Alisa mengangguk. "Kalau begitu, Lisa nganterin sarapan ke Om Hadi dulu."


Tanpa menunggu jawaban, Alisa kembali ke kamarnya untuk mengambil sarapan yang dia simpan di sana.


Diana dan yang lain pun memasuki lift untuk mencapai lantai bawah untuk sarapan.


Sementara Alisa membawa nampan, di bawanya ke ruang nge-gym. Benar saja, Hadi berada di sana sedang nge-gym hingga bermandikan keringat.


“Om, sarapan dulu?” Alisa masuk menghampiri Hadi.


Hadi menoleh ke Alisa yang dengan membawa nampan berisi sarapan buat dirinya. "Padahal. Tidak perlu dibawa ke sini juga."


"Aku jadi trauma deh, simpan makanan di bawah tanpa ada orang. Takut asin lagi, kan aku udah bikin enak-enak, eeh di bilang asin." Ungkap Alisa sambil duduk di lantai.


Hadi hanya lihatin sambil terus berolah raga.


"Kenapa liatin gitu? makan? kata ibu dan tante, om punya riwayat lambung, jadi mereka pesan sama aku kalau Om ini tidak boleh telat makan." Jelas Alisa.

__ADS_1


“Itu dulu, seingat ku sudah bertahun-tahun ini, selama Diana sakit. Tidak pernah kambuh lagi,” akunya Hadi sambil terus mengangkat besi.


"Tapi kan, apa salahnya di jaga!" ucap Alisa kembali.


"Kau memperhatikanku, karena kau istri atau karena perintah mereka?" tanya Hadi dengan nada dingin.


Alisa melamun sambil menghela nafas panjang. "Sabar Lisa ... ini baru hari pertama setelah menikah, batinnya lalu melihat ke arah lain.


Kemudian, Hadi nyamperin Alisa dan duduk di hadapan Alisa.


Alisa mengarahkan pandangan ke arah piring yang mungkin akan diambil, namun tidak. Hadi malah menatap dirinya dengan anteng.


Lalu Alisa mengambil piring dan hemdak menyuapi pria yang berada di depannya. "Makan, nanti keburu dingin dan aku gak mau tanggung jawab untuk memasaknya lagi."


Tatapi Hadi hanya melihat ke arah sendok dan Alisa secara bergantian.


Alisa menyimpan kembali piringnya di bawah. "Kalau gak mau sih, terserah gak maksa juga."


Hati Alisa merasa kesal juga, berasa mengurus bayi yang besar namun susah diatur. Dia menghela nafas dalam-dalam.


"Jadi gak nih? menyuapinya," tanya Hadi sambil membuka mulut.


“Enak. Pas rasanya. Kau pasti belum makan kan?” Hadi langsung mengambil sendok dari tangan Alisa lalu menyuapi gadis itu.


Alisa terdiam dan menatap sendok tersebut. Tidak menyangka kalau Hadi mau menyuapinya.


“Aa, buka mulut? gak ada racunnya kan?” Hadi menaikan alisnya.


Pada akhirnya Alisa membuka mulutnya juga untuk menyambut makanan yang Hadi suapi.


“Gitu dong, apa yang suami makan. Si istri pun harus makan. Berdosa! kalau suami makan dan istrinya tidak.” Hadi menyuapi Alisa sampai habis.


Alisa menunduk setelahnya menerima suapan yang terakhir. Jujur, dia merasa berdosa mengambil perhatian Hadi dari istrinya yang sedang sakit, sambil menelan makanan, dia menahan sedih. Berdosa kah dia mengambil suami orang?


“Em.Tante, mungkin sekarang lagi sarapan di bawah. Mungkin Om mau temani dia, mumpung tidak bekerja kan?” Alisa sewaktu-waktu menatap ke arah Hadi yang sedang meneguk minumannya.


“Iya, minum?”Hadi meminumkan air sisa dia minum dan Alisa pun mau tidak mau meneguknya, bukan soalnya jijik. Tapi segan.


Selanjutnya Hadi beranjak dan pergi. Dari ruang tersebut.


Alisa menatap punggungnya yang lebar. Ketika Alisa keluar dari ruang tersebut.

__ADS_1


“Hai … pengantin baru ketemu pagi gimana! hangat gak dalam pelukan bokap gue?” tanya Liana sambil berjalan mundur di depan Alisa yang membawa nampan.


“Bertanya apaan sih … gak penting banget deh.” Alisa menggeleng sambil mesem.


“Hem … tidak penting apa tidak penting?”goda Liana sambil tertawa.


“Oya, apa menginap semalam, Rahman?” Alisa mengalihkan pertanyaan dari Liana.


“Em … gak nginep kok, langsung pulang malam juga, kenapa?” Liana bertanya balik.


“Nggak… Cuma… tidak baik memasukan pria asing ke dalam kamar, tanpa adanya orang lain di sana, takutnya akan timbul fitnah. Masih mending aku yang melihatnya, kalau orang lain gimana coba? gak enak.” Alisa menghentikan langkahnya sewaktu-waktu.


“Kenapa, kau cemburu? Ingat ya?kau sudah menikah sama bokap gue, dan kalian sudah putus! terus buat apa, lu cemburu?” Liana berkata agak ketus. “Jangan maruk dong … jadi orang.”


“Si-siapa yang cemburu? aku gak sama sekali, aku Cuma ngasih tahu itu saja, aku sayang sama kamu dan aku takut kamu terkena fitnah. Itu saja dan tidak lebih.” Alisa menyangkal kalau dirinya cemburu.


'Allahhhhh ... kau bilang saja cemburu, gue dah kasih bokap gue tuk jadikan dirimu. jadi biarkan aku bahagia dengan orang yang gue cinta dong ... masa mau kau embat juga—“


Alisa menggeleng. “Nggak … aku tidak suka itu, kamu salah faham Lian ….”


“Nggak usah bantah deh, mata mu itu nggak bisa bohong kalau kamu masih sayang sama dia kan? ngaku deh ... gue udah kasih bokap gue, masih saja mau orang yang gue cintai,” gerutu Liana sambil berjalan mendekati kamarnya.


Alisa mematung di tempat. “Iya aku masih sayang sama dia, tapi aku yakin kok kalau aku bisa melupakannya, demi kamu Lian, asal kamu bahagia dan aku akan membuka hati buat laki-laki lain. Percayalah pada ku Lian.”


Alisa mengembuskan nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan langkahnya mendekati tangga. Untuk menuju


dapur dan dia ruang tengah, sudah ada Hadi yang duduk duduk dengan sang istri. Diana.


Alisa terus membawa nampan ke wastafel dan cucinya lantas. “Mbak, itu cucian tuan bukan?” tanya Alisa pada mbak yang membawa keranjang pakaian kotor yang ada baju hadinya.


Mbak mengangguk. “Ya, Bu.”


Alisa mencuci kedua tangannya. “Biar aku saja yang mencucinya, selagi aku ada di rumah, biar aku yang cucinya dan bila gak ada sih tolong aja cucikan.”


“Oh, baik Bu.” Asisten pun menyimpan dan membiarkan Alisa untuk mencucinya.


Hadi berpamitan pada Diana, untuk keluar sebentar. Dan tidak bilang mau kemana. Dia menitipkan sang istri, pada ibu dan mertuanya ....


.


...Bersambung!...

__ADS_1


__ADS_2