Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Banjir


__ADS_3

"Jangan sentuh sayang ... mau salat nih. Nanti saja kalau sudah salat kau boleh memeluk ku atau apa." Hadi menghindar dan melipir melewati istrinya yang menggoda.


"Aku cuma ingin ... menyentuh pipi mu kok ... itu di pipi ada apa itu?" Alisa tersenyum.


"Bohong, sayang bohong. Jangan goda aku dong!" Hadi buru-baru keluar meninggalkan Alisa yang sedang kumat jahilnya.


Alisa tertawa sambil melihat suaminya keluar dari kamar mandi. "Hi hi hi ...."


Kini Alisa sudah duduk di atas tempat tidur menunggui suami nya yang sedang membaca doa.


"Sayang, gimana. Mau bulan madunya kemana nih?" tanya Hadi sambil melipat sajadah.


"Em ... kemana? aku gak tahu tempat yang indah." Alisa memanyunkan bibirnya sambil memainkan ujung selimut.


"Tapi ini khusus kita berdua ya, sayang ya? tidak mengajak siapa pun?" Sambungnya Hadi sambil mendekat dan membaringkan dirinya di atas tumpukan bantal.


"Nggak boleh ngajak orang lain, anak-anak gitu?" Alisa menatap sang suami lalu menyandarkan kepala di dadanya pria yang kini bertelanjang dada itu.


"Nggak, untuk kita berdua saja. Kalau banyak. Itu bukan bulan madu namanya, tapi liburan. Aku ingin benar-benar quality time untuk kita berdua." Hadi membelai rambutnya Alisa dengan mesra.


"Tapi kalau dia minta ikut gimana? kasihan kan," Alisa mendongak lalu kemudian menempelkan lagi pipinya di Dada Hadi.


"Dia nggak bakalan minta ikut sayang, dia pasti mengerti! kan yang dia minta itu adik bayi." Jawabnya Hadi dengan tangan yang menyelusup ke dalam piyama milik Alisa.


"Iih, tangannya kondisikan dong ... jalan-jalan mulu!" tangannya Alisa menepuk tangan Hadi yang sedang sedang bermain di puncak Himalaya.


"Nggak bisa sayang. Sedang asik travelling nih jangan diganggu!" jawabnya yang tidak mengindahkan perkataan dari sang istri.


Padahal di balik itu, Alisa pun memejamkan kedua manik matanya ketika puncak Himalaya nya sedang di jamah oleh si pendaki.


Tangan yang satunya, Hadi mengangkat dagu Alisa agar mendekat padanya. Lalu di kecupnya dengan sangat lembut bibir Alisa yang merona natural.


"Masih belum dia Minggu kan sayang?" suara Hadi begitu pelan di sela kecupan b***r yang sedang dia lakukan.

__ADS_1


Alisa mengangguk pelan seraya memejamkan kedua manik matanya.


Hadi kembali meraup b***r Alisa yang dia sapu habis. Menikmati manisnya yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Semua yang ada pada diri Alisa bener-bener buat Hadi candu.


Yang selalu bikin dia rindu, dan tidak bisa barang sedikit pun jauh atau tanpa menyentuh. Rasanya ada yang kurang dan terasa hambar, jika tidak ada kontak fisik yang mereka lakukan.


"Mmmm ..." rintihan kecil Alisa terdengar merdu di telinga Hadi. Ketika dirinya menggigit kecil bagian buah segar yang kini menggelantung tanpa pembungkusnya.


Entah sejak kapan pembungkus buah itu terlepas dari tangkainya. Tau-tau terekspos dengan sempurna dan Hadi paling tidak suka kalau sedang dia nikmati di tutupi dengan apa pun. Jadinya dibiarkan begitu saja, kecuali dengan tangan nya yang malah meremas benda kenyal mulus dan menggemaskan yang melihat.


Hadi pun mulai lebih menikmati buah tersebut dengan sentuhan lembut dan mengisapnya lebih bergairah. Timbulkan sensasi yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


Darah yang mengalir di sekujur tubuh semakin deras dan menggolak panas. Rasa yang ingin lebih menjalar ke saraf otak hingga menaikan libido untuk melakukan sesuatu.


Kini Hadi menuntun tangan Alisa untuk memanjakan singa milik ya yang sudah haus kasih sayang, merindukan belaian dan dia sudah lama tidak bermandikan air surga yang ada kalanya berubah menjadi air neraka.


Dengan perasaan yang tak menentu, dag-dig-dug. Alisa menuruti kemauan Hadi untuk membelainya dengan sangat lembut sehingga sang empu merem melek dibuatnya.


Pria itu mengerang keenakan. Ketika singanya tiba-tiba muntah mengeluarkan isi perutnya di sekitar paha Alisa.


Dan Hadi terus menerus bergelantungan menikmati buah-buahan segar yang dia isap dan membuat tanda kepemilikan yang banyak di sekitarnya.


Saking terhanyut dengan suasana, yang tiada hujan tiada badai main banjir-banjiran. Alisa tadinya mau bercerita tentang Liana pun menjadi lupa dan yang ada hanya rasa bahagia kini menyelimuti keduanya. Walaupun belum melakukan penetrasi.


Bahagia karena setidaknya bisa terpuaskan dengan keluarnya sesuatu atau banjirnya lava keduanya. Kini mereka berdua saling berpelukan sangat erat seakan tidak ingin terpisahkan.


"Terima kasih sayang!" Hadi beberapa kali mengecup kening sang istri sebagai tanta terima kasih atas semuanya.


"Iya," Alisa memejamkan manik matanya, saat bibir Hadi menempel di keningnya.


"Bahagianya dengan ku sayang hem?" tanya Hadi dengan lembut.


Lagi-lagi Alisa mengangguk, dia tidak tahu harus berkata apa. karena semuanya tidak harus di ungkapkan dengan kata-kata, cukup dengan bahasa tubuh yang bicara.

__ADS_1


Kedua tangan Alisa merangkul pindah pria yang sudah beri dia kenyamanan itu. Dan dia tidak ingin segera terlepas atau menjauh dari tubuh pria itu.


"Aku semakin kangen sayang, ingin segera kesehatan mu pulih. Agar kita bisa melakukannya seperti dulu." Hadi mengelus bukit berhutan tipis dan terasa banjir itu bikin dia tabah gemas.


Kepala Alisa mendongak ketika jari Hadi menyelusup dan bermain di benda kecil sekitar gua miliknya itu. Hadi tersenyum melihat ekspresi wajah Alisa, mendesis juga tubuhnya meliuk-liuk geli.


Hadi yang tidak tahan untuk menenggelamkan singanya di gua tersebut, akhirnya jarinya saja yang bermain di sana. Membuat tubuh Alisa bergetar hebat serta menuju puncaknya, melayang menuju nirwana.


Malam semakin larut dan Hadi menyudahi aksinya itu. Keduanya sudah bermandikan keringat. Orang bermandikan air shower, air hujan atau air sumur. Kah ini bermandikan keringat tapi daripada bermandikan air comberan sih, hi hi hi.


Hadi kembali memeluknya dengan erat, lalu keduanya tidak tahan lagi untuk melawan rasa kantuk yang menyerang. Sehingga mereka pun tertidur dengan sangat lelap dalam pelukan.


Di kala menjelang pagi. Alisa terbangun duluan, membuka matanya perlahan menatap pria yang tampak nyenyak sambil memeluk dirinya. Tubuh mereka yang sama-sama polos begitu rapat menyatu dalam keintiman.


Kemudian, manik mata Alisa bergerak melihat jarum jam yang menunjukan pukul 04.30. Alisa bergegas membuka rangkulan tangan Hadi. Mengibaskan selimut namun malu karena tubuhnya tanpa sehelai kain pun.


Manik mata Alisa celingukan mencari pakaiannya yang semalam dan berceceran di lantai.


"Uuh, kenapa sih harus berceceran gitu? gak bisa kah kamu itu berada di ujung tempat tidur git, biar aku tidak harus repot-repot mencari mu." Alisa bergumam sendiri sambil memungut bajunya.


Setelah mengenakan piyama nya, Alisa buru-baru ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Apalagi hari ini dia mau turun kerja lagi, suntuk di rumah terus. Bosan.


Selang berapa belas menit Alisa langsung keluar, dan mendapatkan suaminya sudah terbangun nanti duduk di tempat tidur sedang mengangkat ke arah dirinya.


"Kenapa tidak bangunkan aku sayang? biar kita bisa mandi bersama-sama." Suara serak Hadi pada Alisa.


"Em ... tadi kamu tampak begitu pulas dan aku nggak tega bangunkannya, karena aku tahu kamu juga akan bangun sendiri dengan cepat." Balasnya Alisa sambil memberikan handuk kepada Hadi.


Karena dia tahu Kalau pria itu masih bertubuh polos. Terlihat dari pakaiannya masih tergeletak di lantai ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment yang belum subscribe, subscribe dulu ya? makasih.

__ADS_1


__ADS_2