
"Saya senang, akan berbesan dengan Hadi Dirgantara. Biarpun harus juga berbesan dengan mantan kekasih nya Rahman. Ini memang yang aku ingin kan! berbesan dengan orang kaya." Gumamnya dalam hati Ibunya Rahman.
"Sayang Liana ... Ibu meminta maaf ya? atas segala kesilapan putra Ibu. Kau mau kan memaafkan nya? apalagi sebentar lagi kita akan semakin merekatkan hubungan kita ini." Bu Irma menatap ke arah Liana yang yang menoleh dengan wajah sumringah.
"Oh, tentu Ibu. Aku akan memaafkan Rahman dan aku mau menjadi istri nya." Jawabnya Liana dengan penuh semangatnya.
"Tuan, Liana sendiri memaafkan putra saya dan mereka saling mencintai, tidak ada salahnya kan ... kita merestui mereka berdua. Anggap saja yang sudah terjadi adalah kesilapan anak muda. Jangankan mereka yang masih muda-muda! anda saja yang sudah cukup matang bisa saja kan? melakukan kesilapan buktinya punya istri semuda ini." dengan kurang ajarnya ibunya Rahman bisa berkata demikian terhadap Tuan Hadi dan Alisa.
Membuat Hadi melirik ke arah Alisa dan juga sang Bunda! wanita ini tidak tahu apa-apa tapi sok tahu. Mengomentari sesuatu yang di luar areanya.
"Anda tidak tahu menahu tentang saya dan istri saya ini, jadi tidak perlu anda komentari. Selaku orang tua, tentu saya kecewa dengan yang mereka lakukan sesuatu yang belum waktunya. Kalau memang putra anda punya niat baik. Kenapa tidak dari lama atau dari awal, tunangan dulu misalnya. Bukannya sekarang datang di saat sudah mengambil madu nya." Hadi menatap tajam ke arah calon besan dan mantunya.
"Iya, seharusnya seperti itu, bukan mengajak sesuatu yang salah bahkan malah didukung sama orang tua! orang tua macam apa itu? bukankah orang tua itu seharusnya membimbing! bukan untuk menjerumuskan!" timpalnya Alisa seraya menatap ke arah wanita yang tadinya mau menjadi mertua dia.
Perkataan mereka berdua, langsung bikin kena mental Bu Irma, sehingga wajahnya berubah pucat Pasih. Entah apa yang wanita itu pikirkan, sehingga dia itu diam membisu dengan lirikan yang kasar kepada putranya.
"Saya minta maaf. Yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya, tapi saya kembalikan juga kalau ini bukan 100% kesalahan yang harus saya tanggung--" omongan Rahman di potong Hadi.
"Karena Liana juga punya andil dalam kesalahan ini? oke, saya mengerti. Ini sudah bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Terus ... kapan akadnya akan berlangsung? karena saya minta secepatnya. Harus di minggu ini juga. Sebab ... minggu-minggu setelah ini saya akan sibuk." Jelasnya Hadi dengan tangan yang bermain dan meremas jari-jemarinya tangan Alisa.
Alisa menarik tangannya dari genggaman Hadi. Dia mengambil gelas air minum lalu dia teguk.
Dengan diam-diam, Rahman memperhatikan gerak-geriknya Alisa. Dari mulai menggenggam gelas, meneguk airnya. Hingga melihat lehernya yang bergerak menelan air yang dia minum.
"Itu ... memang seharusnya, pernikahan harus secepatnya dan niat baik tidak boleh ditunda-tunda!" tambahnya sang ibunda Hadi yang ditujukan pada calon besan putranya tersebut.
"Iya tentu. Itu benar, pernikahan akan terjadi secepatnya dan minggu ini juga, kami akan segera mengurus data-datanya Rahman." jawabnya Ibu Irma sembari mengangguk.
"Bagus, karena itu yang saya harapkan. Acara pernikahan akan terjadi di sini dan cukup dengan sederhana saja, kalau mau resepsi yang mewah-mewah, nanti saja setelah Liana lulus kuliah." Tegasnya Hadi.
Semua pasang mata melihat ke arah Hadi, apalagi ibunya Rahman.
__ADS_1
"Kenapa nggak boleh pesta? harta melimpah. Masa nggak bisa membuat resepsi buat pernikahan putrinya. Apa saya harus modal dulu kali ya?" gumamnya lagi dalam hati.
"Ehem. Kalau soal resepsi ... gimana kalau saya yang mengadakan resepsinya dan diadakannya bukan di sini, saya yang akan memilih tempatnya dimana!" ucapnya Ibu Rahman sembari menatap ke arah Hadi.
"Dengan cara itu, kan semua amplop bisa masuk ke kantong saya semuanya, kalau resepsinya di sini otomatis amplop nya pun mereka yang akan kantongi." monolognya Ibu Rahman dalam hati.
Setelah terdiam beberapa saat, Hadi berkata. "Tidak, saya bilang tidak. Tidak ada resepsi, yang ada cuman akad dan syukuran kecil-kecilan saja di sini!"
"Soal modal resepsi, biar saya saja yang nanggung." Sambung ibunya Rahman dengan sombongnya.
"Saya bilang tidak! jangan dulu, nanti saja kalau mau resepsi itu ... setelah Liana lulus kuliah." Lagi-lagi Hadi berkata dengan jelas dan kekeh.
"Ya, baiklah kalau begitu maumu, baguslah kalau seperti itu. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak untuk resepsi!" ucap calon besan sembari menggerak-gerakan alisnya.
Liana terdiam. Dia tidak berkomentar apapun ataupun berkeinginan untuk resepsi ataupun tidak, karena dia menyadari kalau pernikahan ini pun memang tidak sepenuhnya diinginkannya. Sebab ... dalam hati kecil, dia memang ingin kuliah sampai selesai.
"Oke. Dan saya pikir ... semuanya sudah clear. Tidak ada lagi yang harus dibicarakan." Kata Hadi dengan nada dingin.
"Oya, gimana kalau sekarang kita makan malam dulu, makan malam dah siap yuk? kita makan dulu?" ajaknya sang ibunda Hadi sembari berdiri, menatap para tamunya.
"Oh ya, tidak apa-apa kalau kalian mau pulang! segera pulanglah?" Hadi menatap sang calon besan dengan ekspresi yang datar.
Ibu Rahma yang tadinya beranjak mau mengikuti langkah ibunya Hadi ke dapur untuk makan, menjadi urung mendengar perkataan dari Hadi yang seolah-olah mengusir tamunya untuk pulang.
"Yank, kok gitu ngomongnya? kan Ibu udah nyuruh mereka makan!" bisiknya Alisa tepat di dekat telinga Hadi.
Hadi menggerakkan wajahnya mendekati wajah Alisa sembari berkata dan tidak kalah berbisik. "Biar saja mereka pulang. Biar mereka tidak ganggu kita."
Alisa mesem-mesem mendengar perkataan dari suaminya yang kurang ajar memang. Pukk ... tangan Alisa menepuk paha Hadi. "Gitu amat."
"Silakan? dan sampai jumpa lagi." Hadi membuka tangan ke arah pintu.
__ADS_1
Membuat tamunya pun pamit. Di antar oleh Liana dan Oma nya ke depan.
"Yank, gitu iih, sama tamu nggak boleh kayak gitu! nggak sopan tahu!" Lisa mendelik kepada suaminya.
"He he he ... kenapa? saya muak kepada ibunya itu dan juga sama anaknya yang terus mencuri pandang sama kamu, sebenarnya dia itu ingin menikahi putri saya atau mau deketin istri saya!" Hadi terkekeh lalu mengungkapkan isi hatinya.
Cuph, mengecup punggung tangan Alisa dengan lembut nan mesra.
Alisa segera menarik tangannya. "Kenapa sih? malu di lihat orang." Alisa kembali celingukan lihat kanan dan kiri, depan dan belakang. Ada beberapa asisten di belakang dan bagian depan pun terlihat dari balik pintu sang mertua dan Liana yang masih berbincang dengan tamunya.
"Biarin aja, kamu itu istriku atau siapa?" tanya Hadi sambil mesem.
"Aku. Siapa ya? Aku nggak tahu aku siapa? mungkin sekedar asisten mu! he he he ..." Alisa berdiri dan menarik tangan Hadi, di ajaknya untuk makan.
"Rasanya aku pengen deh makannya masakan kamu!" ucap Hadi sambil berjalan malas mengikuti langkah sang istri.
Kepala Alisa menoleh. "Yank ... mau masakan apa sih? aku capek!"
"Iya-iya tahu, capek." Hadi tersenyum lalu menarik kursi buat Alisa, setelah itu baru menarik kursi buat dirinya sendiri.
"Katanya nggak boleh capek tapi ada aja--"
"Iya-iya ... kalau nggak capek. Kalau capek nggak usah, sudah! nggak usah cemberut! mau aku cium? biar dilihat semua orang," Hadi menggerakkan matanya ke arah asisten dan juga Lisa bergantian.
Alisa cuman mengendelikkan matanya dengan sempurna.
"Oh ya, Mbak. Tadi udah makan belum?" Alisa melirik ke arah mbak.
"Sudah, Non den Dirga sudah makan! makanya jam segini dia sudah tidur. Mungkin dia terlalu capek bermain." Jawabnya mbak.
"Oh gitu ya!" Alisa menganggukkan kepala sembari mengambil menu makanan buat Hadi yang kini tampak melamun ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menunaikan nya. Terima kasih masih mengikuti novel recehan ini.