
Setibanya di kamar mandi, Alisa menyalakan air yang tidak tahu buat apa. Tangis Alisa pun pecah. Hatinya terasa begitu sangat sakit, sesak sampai ke dasar-dasar nya.
Perasaannya begitu hancur, sudah menawarkan diri, yang ada hanya rasa malu yang dia dapat kan. Dia marasa begitu rendah di mata Hadi, ia berasa wanita tuna susila yang sedang menjajakan diri di jalan dan hanya menjadi tontonan tanpa penawaran sepersen pun.
Tubuh Alisa luruh di pojokan. Duduk bersimpuh dan kedua bahunya bergetar. "Hik-hik-hik i ... i ... i ... aku malu-malu!" menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian, Alisa mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.
"Tidak, kau tidak boleh cengeng seperti ini. Apalagi hanya untuk menangisi Om Hadi, mungkin dia masih marah sehingga dia bersikap seperti itu." Gumamnya Alisa sambil berdiri lalu membasuh Munya dengan air yang sedari tadi mengalir begitu saja terbuang.
Setelah membasuh mukanya, Alisa bergegas mengganti lagi pakaian dengan piyama tadi. Dan buru-baru keluar dari kamar mandi, tanpa tengok kanan dan kiri. Dia langsung saja menghampiri sofa.
Setelah Alisa pergi ke kamar mandi, Hadi yang berbaring, tarik selimut. Dengan perasaan mengambang. Menyesal sudah menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga tersebut.
Hadi guling-guling tak karuan. Menahan singa liar yang terus meronta. Bahkan ngamuk hingga sang empu hampir kewalahan, rasa ngilu dan pusing berbalik menyerang dan menyiksa.
Pria itu melonjak bangun seiring dengan Alisa yang berjalan cepat sambil menunduk dalam mendekati Sofanya. Dan penampilannya pun sudah berganti kostum.
"Dia pasti menangis, teganya benar kau Hadi ... apa salahnya sih kau sentuh dia, hargai dia! bodoh sekali kamu. Gak jujur sama diri sendiri yang jelas-jelas menginginkannya. Bodoh kamu!" monolog Hadi sambil menatap ke arah Alisa yang sudah berbaring.
Kemudian Hadi turun dan segera membawa langkahnya ke kamar mandi untuk menenangkan singa nya yang terus mengamuk.
Jarum jam terus berputar, membawa suasana ke sebuah pagi.
Sebelum subuh, Alisa sudah bangun dan mengemas apa saja yang harus dia bawa termasuk keperluan Hadi selama di sana.
"Huam ..." Hadi terbangun dan menggeliat, mengedarkan pandangan matanya ke arah Alisa yang sudah nampak rapi dan segar sedang menyimpan tas di atas sofa.
"Lihatlah, istri mu. Matanya bengkak, tega sekali dirimu!" batin Hadi sambil menatap ke arah Alisa yang tampan sendu.
"Pagi sayang?" suara bariton itu membuat Alisa menoleh.
Alisa hanya mengulas senyum tipisnya, lalu melanjutkan aktifitasnya begitu saja.
Hadi sejenak terdiam dengan sikap dingin Alisa, lalu menghampirinya. "Kau marah pada ku?"
__ADS_1
Alisa terdiam sesaat, kemudian menoleh ke arah jam dan Hadi bergantian. "Sudah siang, mandilah."
Alisa memutar kepala dan hendak membawa langkahnya ke tempat lain.
Geph!
Tangan Hadi menangkap tangan Alisa. Membuat langkah Alisa urung dan melihat tangannya Hadi yang menggenggam kuat.
Hadi segera melepaskan tangan Alisa seraya berkata. "Apa barang ku sudah siap semua?" basa basi.
Manik mata Alisa bergerak mengarah ke tas yang dia paling tadi, seakan berkata. Sudah.
Hadi melihat yang Alisa tunjuk dengan matanya sembari mengangguk pelan.
Alisa bergegas membawa langkahnya ke dapur, untuk menyiapkan sarapan buat Hadi. sekalian dia pun sarapan roti dan susu coklat kesukaannya.
"Non, mau bikin sarapan buat tuan ya?" sapa mbak dengan ramah.
Asisten memang tidak lagi menyiapkan sarapan buat Hadi, karena itu memang sudah tugasnya Alisa, dan kalau Alisa sendiri kadang di siapkan oleh mbak atau memang makan sudah ada di meja.
Setelah sarapan buat Hadi siap. Alisa memilih sarapan duluan.
"Pagi Nyonya Alisa? sudah sarapan duluan rupanya, kenapa gak bareng suami? apakah suami lagi betmood atau--"
"Siapa bilang? dia masih ada urusan di atas dan aku sudah lapar," jawabnya Alisa sembari menggigit roti srikaya di tangannya.
"Iya kah!" tambahnya Dania sambil mendudukan diri dan langsung di layani peleh mbak untuk sarapan.
Derap langkah yang mendekati meja makan, sorot mata Liana tertuju pada Dania yang sarapan saja harus di ambilkan, sendok. Minum, sementara Alisa Alisa. Minum ambil sendiri dan mencuci sendiri bekasnya.
"Aku hera, nyonya di rumah ini siapa sih? kan seharusnya mbak itu layani Alisa atau saya gitu, bukan tante Dania." Lina protes.
"Heloooo ... kenapa emang?" tanya Dania nyolot.
"Maaf, Non. Non Alisa tidak ingin mbak layani." Jawabnya mbak sambil tertunduk.
__ADS_1
Alisa yang berdiri di dekat wastafel menoleh pada Liana dan yang lainnya.
"Tante juga jangan gitu dong, jangan mentang-mentang banyak mbak dan menjadi pemalas, ikut tanggung jawab dong!" entah kenapa Liana pagi-pagi dah menunjukan rasa emosinya pada sang Tante yang bergaya tuan rumah.
"Ini anak kesambet apa sih,? pagi-pagi dah nyerocos aja. Punya masalah apa sih kamu sama saya?" Dania menatap tajam ke arah Liana yang masih berdiri dan menatap tidak suka pada dirinya.
"Tante itu harus ikut bertanggung jawab dong, jangan cuma ongkang-ongkang kaki saja. Bantuin kek meringankan pekerjaan rumah ini, ini boro-boro pekerjaan rumah. kamar dan pakaian sendiri pun dikerjain mbak, ketika lupa naro barang aja. Riweh nya sekampung." Emosi Liana semakin meluap-luap.
Dania berdiri dan menatap tajam ke arah Liana yang tetap berdiri dan berwajah marah. "Sebenar kau itu tidak suka bukan saya tinggal di sini ha? bilang kalau tidak suka."
"Iya, aku kurang suka dengan sikap Tante yang sok menjadi nyonya di rumah ini, mama dulu ketika sehat gak gitu, Alisa yang kini menjadi istri papa juga gak begitu, untung sekali mama tidak menikahkan papa dengan mu! bisa hancur rumah ini dengan kekuasan mu!" Liana semakin nyolot.
Dania mencondongkan wajahnya pada Liana. "Ooh, jadi kau juga yang menjadi provokator supaya mama mu tidak menikahkan papa mu sama saya? hebat ... kau lebih memilih dia anak ingusan yang seusia mu!"
Keduanya tampak ngotot dan saling mendorong bahu. Mbak malah menjauh dan tampak ketakutan.
Alisa segera mencoba melerai mereka berdua. "Apa ini? sudah-sudah ... kalian jangan bertengkar! malu dong pagi-pagi dah ribut!"
"Kau pikir saya suka tinggal di sini ha? kalau mama mu sehat atau sudah mati saya juga akan minggat dari sini." Peminta Dania sambil mendorong bahu Liana.
"Sudah!" pekik Alisa.
"Ooh, jadi Tante berharap meninggal? tega ya! untung ... untung kau tidak menjadi ibu sambung ku!" teriak Liana sambil maju dan menyeret Alisa yang berada di tengah-tengah mereka.
"Liana, Liana sudah ..." pinta Alisa sambil sambil memegangi bahu keduanya supaya menjauh.
"Kurang ajar, aku juga beruntung tidak punya anak sambung seperti kamu yang kurang ajar dan tidak punya sopan santun." Teriak Dania kembali.
"Tante, Tante sudah dong? Tante itu lebih dewasa jadi harus mencontohkan sesuatu yang baik dong ... sama yang lebih muda," ucap Alisa yang diarahkan kepada Dania.
Dania berbalik dan menjadi marah pada Alisa dan tangannya terangkat ke atas siapa menampar ke arah pipi Alisa yang berada di depannya ....
...🌼----🌼...
Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Ayo dong ... subscribe karya ini! biar dapat notif nya.
__ADS_1
Makasih.