Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Hari H


__ADS_3

"Jangan bergerak? kalau tidak ingin tembakan ini bersarang di kepala mu!" teriak seseorang.


Sontak Anwar mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala. tersentak dan kaget, siapa yang melaporkan? sehingga datang nya pihak berwajib kesana untuk menangkap dirinya.


Beberapa polisi membangunkan pak Anwar supaya berdiri. melipatkan tangannya ke belakang.


Sementara beberapa polwan membantu Bu Juli yang tidak kalah kagetnya dengan kedatangan polisi ke rumahnya tersebut.


"Anda tidak apa-apa, Bu?" tanya seorang polwan dan membawa Bu Juli ke ruang tengah.


Pak Anwar di gelandang keluar. Yang akhirnya pak Anwar berontak dan mengatakan apa salah saya?


Ternyata wanita yang tadi menjadi teman kencannya pun ada di sana. Namun sungguh membuat pak Anwar sangat terkejut bukan main.


Karena wanita tersebut adalah seorang Intel dari kepolisian.


"Dasar keparat, wanita laknat lu. Kau jebak saya bang-sat!" umpatan pak Anwar kepada wanita tadi yang di balas dengan senyuman puas.


"Anda harus ikut dengan kami untuk tindak lanjutan, atas tuduhan pemerko-sa-an dan kdrt saja, tetapi juga anda mengedarkan obat-obatan terlarang." Jelas saja satu polisi dengan menunjukan surat penangkapan.


"Itu, tidak benar. Itu fitnah Pak. Saya tidak melakukan itu dan mana buktinya kalau saya melakukan itu?" elaknya pak Anwar sambil terus menarik tangannya yang kini mulai di brogol.


"Bukti, akan menyusul nanti." Tegasnya pak polisi yang langsung memerintahkan agar pak Anwar segera di bawa ke kantor.


Bu Juli tak bergeming dan tidak mampu berkata-kata. Atas yang sudah terjadi ini, apalagi mengingat kata talak dari pak Anwar bikin dia speechless.


Dia di obati seorang polwan dan yang lain menenangkan nya.


Lama-lama Bu Juli menangis, mengingat anak-anak nya yang tidak berada di tempat.


Terutama Alisa yang sudah dia curigai. Dan dia marah-marahi habis-habisan. "Ya Allah ... betapa bodohnya aku. Sudah tidak mempercayai anak ku sendiri. Padahal dia berada dalam bahaya,"


Bu Juli menangis tersedu, menyentuh nama Alisa. Di temani beberapa tetangga, polisi pun sudah pada pulang dan suatu akan datang untuk menjemput Juli demi sebuah keterangan.


"Sabar, Bu Juli. telepon dong Alisa biar pulang, dan di mana dia sekarang?" tanya seorang Bu ibu. tetangganya Bu Juli.

__ADS_1


"Hik-hik-hik. Alisa di tempat calon suaminya dan besok mereka menikah." Jawabnya sambil berusaha menyudahi tangisannya.


"Saya sih sering ya, melihat pak Anwar bawa perempuan ke sini ya ibu ibu?" sebut salah satu tetangganya.


"Iya, benar. Dan waktu itu saya pernah melihat Alisa lari dari dalam rumah, ketika saya mau nyamperin keburu ada Om-Om datang dan akhirnya membawa Alisa pergi." Timpal yang lain membenarkan.


"Ya Allah ... kenapa gak bilang gak bilang sama saya?" Bu Juli menatap lekat pada para tetangganya.


"Kita sih gak tau masalahnya yeh ... lagian belum tentu juga Bu Juli percaya sama kita. Buktinya anak nya sendiri saja tidak dipercaya! apalagi kita yeh? Bu ibu?" balas salah satu nya dan yang lain memberi anggukan.


"Astagfirullah ... ini memang salah saya! setidaknya Bu ibu ngomong sama saya, tapi sekarang semua nya sudah terjadi. Dan Alhamdulillah putri saya sepertinya tidak apa-apa!" Bu Juli lemas tetapi juga bersyukur atas kejadian ini.


...---...


Alisa tampak sangat gugup, di kamar sehabis di make up oleh perias pengantin. Berkebaya putih tulang, batik dengan warna senada. Rambut di sanggul berhias rangkaian melati, aura kecantikannya begitu memukau.


Beralaskan sepatu pengantin, dengan tinggi sedang. Tubuh nya tampak lebih ramping dan memang tubuhnya lumayan tinggi nggak dan pendek pun nggak.


Ini hari H nya Alisa dan Hadi dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang akan mengikat keduanya dalam ikatan dua kata yaitu rumah tangga.


"Kau kenapa tampak gugup sekali? kaya orang habis mencuri, takut ketahuan atau di laporkan polisi saja!" ucap Liana yang juga sudah berpenampilan cantik sekali. Tidak kalah dengan Alisa sang pengantin.


"He he he ... bisa aja, tapi pencurinya sudah dapat mandat itu, gak bakalan kena denda yang penting mengemban amanah dengan baik." Liana tertawa kecil.


"Ibu aku sudah datang belum ya? apa kau melihatnya?" Alisa menanyakan ibunya yang bikin dia khawatir kalau sang ibu dan adiknya tidak ad datang.


"Em ... kayanya mereka baru datang deh," sahutnya Liana sambil bercermin melihat dirinya apa sudah rapi atau belum.


"Alhamdulillah ... kalau sudah datang, aku merasa lega." Alisa merasa sedikit lega.


Namun tetap dia merasa gugup dan panik seraya kepikiran, nanti setelah sah menikah. Dia akan di tempatkan di kamar mana? dan dia tidak mau di tempatkan di kamar bersama Hadi, yang setiap hari akan di suguhkan dengan pemandangan aneh, atau Hadi bertelanjang dada ketika mau dan habis mandi.


Membayangkan itu. Membuat Alisa bergidik geli, Alisa yang anteng melamun. Membuat tidak menyadari kalau ibu dan kedua adik nya datang.


Hampir saja Alisa di uat kaget oleh ulah Liana yang mau membuat ulah, untungnya Alisa segera melirik ke arah Sinta yang mendekati dirinya.

__ADS_1


"Sinta, Lilis dan Ibu?" Alisa antusias dan langsung memeluk ketiganya. "Alhamdulillah kalian datang juga."


"Kakak ... cantik banget dan kami kangen sekali sama kak Lisa!" ungkap Lilis dan Sinta.


Lain dengan sang ibu yang menangis sejadi-jadinya, karena dia merasa bersalah sudah tidak mempercayai putri sulung nya ini.


"Ibu, kok nangis? aku kan jadi sedih!" Alisa berusaha agar tidak menangis. nanti make up nya luntur, begitu pikirnya.


"Pak Anwar di tangkap polisi. Kak!" lirihnya Lilis sambil menengok kanan dan kiri.


Alisa terkaget-kaget mendengarnya. "Kenapa?"


"Kenapa-kenapa?" Liana mendekat penasaran.


Bu Juli menatap ketiga putrinya dan juga ke arah Liana seraya berkata. "Nanti aja ceritanya ya?"


Walaupun sangat penasaran. Pada akhirnya Alisa pun mengangguk.


Di lantai dasar yang disulap menjadi tempat akad dan pelaminan yang begitu indah dan membuat kagum semua mata. Berhias bunga-bunga bernuansa putih.


Hadi sudah duduk dengan tenang di meja yang diperuntukan buat Akad, berhadapan dengan paman Lukman yang bertugas sebagai walinya Alisa. Pengganti sang ayah yang sudah tiada.


Diana yang tampak cantik dengan kerudung berwana pich dan pakaian senada, duduk di belakangnya Hadi bersama ibunya Hadi di kanan dan di kiri sang ibunda Diana sendiri.


Dania yang kepanasan, menatap tajam ke arah Hadi yang terlihat begitu tampan, pria berbulu halus di kedua rahangnya itu tampak santai dan berbincang dengan orang-orang yang berada di hadapannya tersebut.


Bapak penghulu melihat putaran jam yang berada di tangannya. Kemudian berkata yang ditujukan kepada Hadi, Hadi terlihat menghela nafas panjang terlebih dahulu lalu melihat ke arah sang istri, Diana yang memberi anggukan dan senyuman ikhlas nya.


Sebenarnya Hadi pun tak luput dari rasa gugup, cemas. Ini ijab kabul yang kedua baginya setelah mengucap janji suci kepada dianya belasan tahun yang lalu.


Hadi mengangguk seraya berkata. "Saya siap. Insya Allah siap."


Untuk pembukaan acara. Bapak penghulu memberi sepatah dua patah kata serta doa untuk kelancaran akad ini yang di hadiri keluarga dekat dan tetangga saja ini.


Serta memberi wejangan gimana membina rumah tangga yang bahagia, sakinah mawadah warahmah ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2