
"Pantas saja, kalau memang sudah berteman dari lama. Akrab bener!" batinnya Alisa sembari tersenyum yang dia tunjukkan kepada dokter Mirna.
"Ooh iya ... salam kenal, namaku Alisa!" Alisa mengulurkan tangannya kepada dokter Mirna yang langsung disambut dengan ramah.
Kemudian pemeriksaan pun berlangsung proses demi prosesnya, berjalan dengan sangat lancar.
Hadi yang tidak jauh-jauh dari Alisa, tanpa dijelaskan pun oleh dokter. Dia sudah mengetahui Alisa memang benar-benar hamil.
"Alhamdulillah ya Allah ... engkau masih memberikan aku kepercayaan dan semoga aku tidak menyia-nyiakan lagi dan bisa menjaganya." Hadi mengusap wajahnya penuh rasa syukur.
Liana dan Oma mengarahkan pandangannya ke arah komputer yang tidak jauh dari Alisa dan semuanya tersenyum penuh haru. Dokter pun mengatakan kalau kehamilan Alisa sudah berjalan 6 Minggu.
"Masya Allah semoga ... ibu dan janinnya sehat-sehat selalu. Semoga engkau memberi ku usia yang panjang yang sehat! agar aku bisa melihat cucu ku lahir ke dunia ini!" gumam sang Bunda nya Hadi.
"Oma, bicaranya begitu ih! bikin ngeri tahu" timpalnya Liana sambil melirik ke arah sang Oma.
"Kan memang benar, Lian ... kalau Oma ini masih dikasih usia yang panjang. Oma pasti melihat Alisa melahirkan dan bertemu dengan cucu Oma yang lainnya, tapi kalau Allah mengatakan lain! mungkin oma tidak akan melihat mereka--"
"Sudah! sudah ach jangan ngomong gitu lagi. Aku jadi ngeri," protesnya Liana pada sang Oma.
"Selamat ya? atas kehamilannya Nyonya Lisa. Dan saran saya hindari stress ataupun terlalu capek! juga banyak minum vitamin, susu ibu hamil yang jangan sampai ditinggalkan. Untuk menunjang kesehatan ibu dan janin dan ini resep buat menguatkan rahim." Dokter Mirna menyerahkan sebuah resep pada Hadi yang langsung mengambilnya.
"Terima kasih Dok, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya ingin kau yang membantu istri saya, sampai proses lahirannya nanti." Kata Hadi pada dokter Mirna.
"Ooh tentu, dengan senang hati akan menerima lamaran mu untuk terus menangani istri mu ini. Jangan khawatir kapanpun saya akan siap sedia jika kalian membutuhkan!" sambut dokter Mirna, kemudian mereka berjabat tangan.
Sementara Lisa berbincang dengan sang ibu mertua dan Liana.
"Selamat ya, Lisa ... kebahagiaan ibu saat ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata! di usia ibu yang sudah tua renta begitupun dengan Hadi yang usianya sudah matang masih diberi kepercayaan dengan hadirnya calon bayi yang masih ada di dalam rahimnya Lisa." Sang ibu mertua terdengar suaranya penuh haru.
"Iya Bu ... doakan aku semoga semuanya berjalan dengan baik sehat dan Lisa pun kuat," sahutnya Alisa sembari membalas pelukan sang ibu mertua.
"Kan beneran, kan? gue mau punya adek. Kalau gue punya adek, mereka pasti bilang. Lian ... itu adek kamu atau anak kamu?" celoteh Liana sambil memeluk Alisa dari samping.
"Bodo, ach, emang gue pikirin he he he ..." Alisa tampak jutek sambil nyengir.
__ADS_1
"Iih ... lo jahat banget sih sama gue? lagian papa kenapa sih! benihnya masih subur segala! jadi deh ... sahabat gue jadi hamil karena ulah bokap gue itu--"
Alisa mengusap mulutnya Liana. "lu itu ngomong apa sih nyerocos Mulu? emangnya lu nggak rela gitu gua hamil anak bokap kamu?" suara Alisa pelan sambil celingukan.
"Bukan nya begitu. Gue cuma bercanda kok ... jangan di ambil hati. Ambil saja duit buat gue, biar gue dapat refreshing. Ha ha ha ..." Liana tertawa.
Setelah itu mereka pun berpamitan untuk pulang. Dan kini Alisa berjalan dengan Diana sementara Hadi bersama ibunya.
"Eh, gue mau nanya dong?" ucap Liana pada Alisa.
"Mau nanya apa sih? ngomong aja!" Alisa melirik sahabatnya sambil menyampingkan sambutnya ke sebelah kanan.
"Tapi jangan marah ya? dengan pertanyaan gue ini. Lu itu berapa kali sih bila hubungan sama bokap gue dalam sehari 2-3 atau empat? ha ha ha ..." Liana tergalak sendiri.
Sedangkan Alisa wajahnya berubah merah dia merasa malu ditanya seperti itu oleh Liana. "Lu itu bertanya apa sih? kurang ajar banget, nggak penting tau!"
"Ha ha ha ... siapa bilang nggak penting? kalau nggak penting gak mungkin kamu hamil. Aneh deh!" Liana kembali tertawa.
"Iih ... nih anak ngomongnya asal aja." Alisa mencubit pinggang Liana yang langsung memekik kesakitan.
"Sana laporin. Lagian itu bukan anak-anak tapi ibunya anak-anak ha ha ha ... anak-anak kok sudah tahu burung yang nggak bisa terbang yang adanya di dalam kolor. Namanya anak-anak itu gak tahu yang gituan." Kini Alisa yang tertawa lepas sambil berdiri di dekat mobil.
"Iih, bicaranya begitu. Pah? istri Papa ngomongnya kasar mesum pula lagi," kata Liana pada sang ayah sembari menjulurkan lidah pada Alisa.
"Em, bohong yank, dia yang duluan nah!" elaknya Alisa sambil tergelak barengan dengan Liana sambil memasuki mobilnya.
"Kalian ini seperti anak kecil aja ach. Oh iya sayang, aku mau ke kantor! kamu mau pulang sama ibu dan Liana? apa mau ke kantor?" Hadi menatap ke arah sang istri.
"Aku ikut ke kantor, nanti kalau aku gak kerja aku nggak dikasih uang gaji, kan sayang." Alisa sambil mesem-mesem.
"Ya nggak lah sayang ... kamu kan istri aku sekalipun kamu nggak kerja di kantor tentunya akan mendapatkan uang dari ku! nggak harus juga kamu kerja, kesannya aku suami yang tidak bertanggung jawab dong!" jelasnya Hadi.
"Aku cuma bercanda kok, oh ya yank ... nanti sepulang dari kantor kita belanja susu bumil ya! kalau vitamin-vitamin sudah ada dari dokter, kan tadi?" Alisa pada Hadi.
"Iya, sayang. Nanti, susu bumil nya mau merk apa? yang sekiranya cocok dan suka." Selidik Hadi.
__ADS_1
"Mana ku tahu, orang baru mau coba kok!" jawabnya Alisa.
"Untuk mencoba, beli saja yang ukuran kecil dulu. Nanti kalau sudah merasa cocok baru beli yang besar!" tutur sang ibu mertua.
"Iya, Bu ... aku juga akan seperti itu." Alisa menoleh pada Liana yang sedang melamun melihat ke arah jendela luar.
"Lian ... jangan melamun, nanti juga akan ketemu lagi!" ucapnya Alisa yang memecahkan lamunan Liana.
"Ha? ketemu siapa maksudnya?" tanya Liana sambil menatap penasaran pada Alisa.
"Ketemu burung yang tidak bersayap! he he he ..." Alisa seraya berbisik pada Liana.
"Euh ... dasar doyan terong besar bokap gue lu?" suara Liana tidak kalah berbisik.
"Huus ... kok kamu tahu punya bokap kamu sebesar apa ya? jangan-jangan kamu suka ngintip!" Alisa menatap curiga sambil menunjukan giginya yang berbaris.
"Ngintip apaan? kagak, aneh-aneh aja lu ngomong ach. Mana ada! ha ha ha ..." Liana tertawa lepas.
"Kalian ini ngomongin apa sih bisik-bisik? bikin Oma penasaran saja!" sapa Oma nya sambil menatap keduanya.
"Ini Oma, omongan orang dewasa." Liana sambil menunjukan senyumnya.
"Em ... ini Oma. Lian menggoda ku terus." Alisa sambil menunjuk kepada Liana.
"Eech ... bohong banget sih." Bela Liana.
Mobil terus melaju dengan cepat, sesuai permintaan Hadi bahwa harus mengantarkan dia terlebih dahulu ke kantor, setelah itu baru mengantarkan sang bunda dan Liana ke mension.
Hadi dan Alisa turun dari mobil yang langsung memarkirkan sesaat. Lalu pergi ke mension membawa Liana dan omanya.
"Dah ... hati-hati?" Alisa melambaikan tangan ke arah mobil yang meluncur meninggalkan tempat tersebut.
Alisa dan Hadi memasuki kantor dengan bergandengan tangan dengan sangat mesra ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mana nih like dan komennya sudah aku semangat ya dan kritik juga bila ada typo. Makasih