Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Aku takut


__ADS_3

Tangan Alisa mengarah memegangi handle pintu. Namun dia menolehkan kepalanya ke arah kamar Liana, sehingga dia mundur kembali dan mendatangi kamar sahabatnya itu.


Langkah demi langkah Alisa yang menuju kamar Liana dan lalu perlahan Alisa memutar handle pintu kamar tersebut.


Cklek!


Pintu pun terbuka dan tampak Liana masih terjaga, sedang duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur serta di hadapannya ada beberapa buku-buku.


Sorot mata Liana menatap Alisa yang berjalan mendekatinya.


"Kamu belum tidur? tanya Alisa sambil mendudukan dirinya di dekat Liana.


"Seperti yang kamu lihat!" jawab Liana singkat sambil mengambil bukunya.


"Kamu tidak perlu banyak pikiran!fokus aja dengan kuliahmu nanti juga si bajingan itu pasti akan melamar mu dan menikahi mu!" ucap Alisa kepada anak sambungan tersebut.


"Sebenarnya aku tidak ingin memikirkannya, cuman selalu dihantui dengan perasaan takut, aku takut hamil!" jawabnya Liana sembari membuka buka buku yang sebenarnya tidak dia baca.


Alisa menghilangkan nafas dalam-dalam kalau dia berkata dengan sangat lirih. "Yang sudah-sudah ini ... jadikan pengajaran yang berharga buat kamu, agar kamu bisa memilih dan memilah mana yang lebih baik!"


Alisa memegangi kedua tangan Liana. "Jadi wanita itu jangan terlalu bodoh. Jangan gara-gara alasan cinta bisa menyerahkan segalanya. Kita harus pandai memilih mana yang boleh mana yang nggak, karena hakikatnya yang rugi itu wanita! yang menanggung malu, wanita! yang harus mengandung dan melahirkan bahwa wanita."


"Gue tahu, gue salah! mungkin gue yang terlalu mepet sama dia. Nyamperin dia ... tapi nggak pernah kepikiran soal itu," balasnya Liana sambil menggelengkan kepalanya.


Alisa menatap lekat ke arah Liana, memang dia pun pernah menyaksikan sendiri Liana pernah berciuman di kamarnya bersama Rahman. "Haaah ..."


"Sebenarnya, gue sih waktu itu berdiam diri di ruang tamu. Tapi ibunya menyuruh gue masuk kamar Rahman dan akhirnya ... ya gitu deh!" Liana mengangkat bahunya.


"Ha? berarti ini ada campur tangan ibunya? kok bisa menyuruh anak gadis masuk ke dalam kamar putra nya, padahal seharusnya tidak seperti itu." Hatinya Alisa bergumam dan tidak habis pikir dengan ibu itu yang selalu ikut sampur dengan hubungan putranya.


"Kanapa seperti itu? seharusnya ibu itu menyediakan kamar untuk mu, bukan nyuruh masuk ke kamar putranya yang notabene masih belum ada ikatan yang resmi." Alisa menatap Liana.


"Aku gak tahu, pada kenyataannya dia mengantar ku masuk ke dalam kamar Aman." Liana mengenang di malam itu.


"Em ... ya sudah, istirahat lah. Sudah malam dan aku pun mau istirahat." Alisa beranjak dari duduknya dan tidak bilang kalau dia sudah melabrak Rahman di rumahnya.


"Oke," Liana mengangguk.


Alisa berjalan membawa langkahnya pergi dari kamar Liana. Dengan hati saking gemas dengan ibunya Rahman yang seolah menyodorkan ikan sama kucing lapar.


"Gak mikir kali ya? kalau dia itu seorang ibu? aneh sekali itu orang!" gumamnya Alisa sambil berjalan menuju kamarnya.


Cklek.


Alisa membuka pintu kamarnya lalu menyimpan tas nya di meja. Mengayunkan langkahnya ke kamar mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Tuuuuut ....


Tuuuuut ....


Tuuuuut ....


Ponsel Alisa berbunyi terus menerus. Sebelum Alisa angkat karena berada di kamar mandi.


^^^Alisa: "Halo ada apa?"^^^


^^^Hadi: "Dari mana sih sayang? gak lihat itu panggilan sudah 99x!"^^^


^^^Alisa: "Dari kamar mandi. He he he ...."^^^


^^^Hadi: "Masa dari kamar mandi berjam-jam sayang? nad deringnya aktif kan dong, jangan bikin aku cemas!"^^^


^^^Alisa: "Oh, itu ... dari kamar Liana, sorry ya?"^^^


Hadi menatap ke arah dada Alisa yang tadi belum sempat di kancing kan. Membuat dia menelan Saliva nya berkali-kali.


^^^Hadi: "Sengaja ya? menggoda ku!"^^^


Alisa buru-baru menutup dan mengancingkan nya. Tadi dia buru-baru mengangkat panggilan vc dari Hadi sehingga belum menyelesaikan mengancingkan piyama nya ini.


^^^Alisa: "Siapa juga yang menggoda mu? aku baru saja ganti baju dan keburu mengangkat telepon dari mu."^^^


^^^Alisa: "Iya, benar. Pasti dia akan meminta hadiah deh!"^^^


Sebenarnya Alisa ingin menceritakan yang terjadi pada Liana, namun sepertinya nanti saja kalau Hadi sudah pulang.


^^^Hadi: "Kalau dia minta hadiah ... ya kasih saja, sayang."^^^


Dengan santainya Hadi berkata demikian sambil menyandarkan punggungnya di bahu tempat tidur.


^^^Alisa: "Kalau minta hadiahnya minta adik secepatnya gimana?"^^^


^^^Hadi: "Tinggal bikin saja sayang, gampang."^^^


^^^Alisa: "Gampang? kau pikir membuatnya dari terigu atau tepung apa? yang langsung jadi. Aneh deh."^^^


^^^Hadi: "Ha ha ha ... gagal, coba lagi sampai dapat."^^^


Hadi tersenyum sembari berkata demikian, menggoda istrinya itu.


^^^Alisa: "Iih ... dasar mesum. Aku mau tidur!"^^^

__ADS_1


^^^Hadi: "Baiklah, aku juga mau tidur. Aku kangen kamu."^^^


Lalu kemudian, Alisa mematikan sambungan tersebut sambil berbaring, memeluk bantal milik Hadi sebagai penawar rindunya.


Keesokan harinya. Alisa sedang menyiapkan sarapan buat Dirga.


"Mommy, aku kan dapat juara 2, dan aku minta hadiah sama papa dan Mommy. Mau tahu apa?" Dirga berceloteh.


"Apa itu, kalau boleh tahu apa itu hadiahnya?" selidik Alisa sambil menuangkan sarapan buat Dirga.


"Eem ... Dirga mau hadiah secepatnya dari papa dan Mommy, yaitu ... adek bayi." Kata Dirga tanpa ragu.


Alisa tersenyum ke arah Dirga sambil duduk dan menikmati sarapannya.


"Kalau Dirga mau hadiahnya seperti itu, berarti harus sabar soalnya nggak bisa cepat kilat. Nggak seperti membeli barang," ungkap sang oma.


"Bener kata Oma, karena adik bayi itu lama prosesnya hamilnya saja 9 bulan ya oma ya? timpalnya Alisa sambil melirik ke arah ibu mertua.


"Iya benar, hamilnya aja 9 bulan belum proses lainnya! jadinya harus sabar saja, beda kalau Dirga minta barang. Mungkin saat ini juga Papa bisa belikan, kalau adik bayi nggak bisa. Butuh proses dulu!" tutur kembali sang Oma seraya tersenyum pada anak itu.


"Aku akan sabar kok Mommy, menunggu adik bayi dari Mommy." tambahnya anak itu sambil menyuapkan makan ke mulutnya hingga mulutnya itu penuh.


Sementara Liana hanya terdiam, apalagi mendengar kata bayi dia menjadi was-was sendiri.


"Ya sudah, yang pinter ya belajarnya dan hati-hati jangan nakal juga sekolahnya." Alisa mengantarkan Dirga ke depan sampai anak itu memasuki mobilnya.


"Iya Mommy, Assalamualaikum?" anak kita mencium tangan Alisa lalu masuki mobil.


Alisa mengabaikan tangannya ke arah mobil yang membawa Dirga pergi untuk sekolah.


"Aku pergi dulu, ada kuliah pagi!" Liana pun pamit dengan mendekati motornya.


"Lian ... hati-hati dan setelah kuliah langsung balik ke rumah, jangan kemana-mana dulu kalau itu nggak penting!" pintanya Alisa kepada Liana.


"Iddih ... dari kapan lu jadi overprotektif gitu? nggak lucu tahu!" Liana menggeleng.


"Yang dikatakan sama Alisa itu benar, kalau nggak penting. Pulang saja jangan kemana-kemana dulu takut ada apa-apa, apalagi Papa nggak ada!" tutur lembut Omanya.


"Baiklah-baiklah ... aku akan mendengarkan dan aku akan segera pulang bila kuliah sudah selesai!" Liana menaiki motornya lalu dia pergi melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Jangan lupa minum obat! atau kalau sudah habis beli lagi ke apotek atau sekalian check up saja," ucap ibu mertua sembari melirik ke arah mantunya tersebut.


"Iya, Bu ... nanti siang aku akan check up. Kebetulan obatnya sudah habis, tapi rasanya tubuh aku udah baik-baik saja Bu, rasanya sudah lebih baik dari kemarin-kemarin!" ucap Alisa yang sudah merasa lebih segar ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak bosan aku mengingatkan, jangan lupa like comment sebagai dukungannya ya. Makasih


__ADS_2