Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Pengalaman


__ADS_3

Bunga-bunga sebagai ucapan doa dan harapan pun berdatangan ke rumah sakit.


Dan berjejer di dinding ruang inap Alisa, beberapa bunga yang bertuliskan.


^^^Semoga cepat sembuh ... buat ibu Alisa dan segera di kasih kembali momongannya, jangan malas untuk mencoba ya? kalau gagal ya coba lagi.^^^


Pada siang hari banyak rekan-rekan dari Hadi terutama istri-istrinya yang menjenguk Alisa di rumah sakit, untuk sekedar mengucapkan turut berduka dan memberi dorongan untuk semangat juga doa semoga segera dikasih momongan kembali menggantikan yang telah tiada.


"Terima kasih pada semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk datang ke sini!" ucapnya Alisa yang kini sudah bisa mulai duduk dan bersandar.


"Iya, sama-sama tapi jangan putus asa ya? apalagi kapok, kasihan suaminya kalau kapok. He he he ..." kata seorang ibu yang berpakaian formal dia istri dari koleganya Hadi.


"Iya, tapi nggak bakalan kapok kok kalau soal itu mana ada orang yang kapok sama yang enak-enak, besok juga sembuh dan pasti mau melanjutkan lagi untuk bikin dede bayi, iya kan ibu-ibu?" ibu yang lebih muda dan langsung mendapat respon dengan anggukan serta senyuman dari yang lainnya.


"Pak Hadi jangan kapok untuk bikin lagi ya, tapi ingat harus hati-hati dan lain kali istrinya harus lebih dijaga. Maklum dia kan masih muda belum pengalaman ya, betul kan?" ucap salah satu dari mereka.


Hadi yang duduk di sofa bersama beberapa rekan pria nya, menutup laptopnya lalu beranjak dan mendekati sang istri. "Makasih atas kedatangan kalian semua yang sudah repot-repot datang kemari!"


"Iya sama-sama, kami hanya ingin beri dukungan pada ibu muda ini kalau ini bukan akhir dari semuanya, mungkin ini belum rezekinya dan besok atau lusa berusaha lagi agat segera mendapatkan gantinya. Intinya jangan kapok he he he ...."


"Nggak, kami enggak bakalan kapok," Hadi pun melirik pada sang istri sambil menggenggam jari-jemarinya.


"Saya juga dulu pernah mengalami keguguran, bahkan sampai dua kali padahal saya sudah menjaganya baik-baik. Tapi karena memang belum rezekinya ya gimana lagi, hilang sudah." Kata salah satu ibu-ibu.


"Iya benar, bahkan saya bukan keguguran atau pendarahan, baik-baik saja kok tapi ketika kehamilan yang sudah berusia 6 bulan menghilang begitu saja. Entah ke mana? nggak ada pendarahan nggak ada apa!" timpa si ibu yang memakai dress merah.


"Lho, kok bisa sih, hilangnya ke mana?" Alisa penasaran.


"Entah, Bu Lisa ... medis pun tidak mengerti kemana hilangnya, orang gak ada pendarahan nggak ada apa! tiba-tiba kehamilan saya yang sudah mencapai 6 bulan itu bayinya hilang. Dan perut saya langsung kempes Wallahu alam." Timpalnya Si ibu yang tadi sembari mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Masya Allah ... bisa ya kayak gitu." Gumamnya Alisa sembari melihat ke arah suaminya.


"Kalau saja ada sebab atau kejadiannya seperti ini, wajar kan ... oh berarti keluar. Lagian baru berapa 2 bulan atau 3 bulan gitu kan? masih ... apa ya? ibaratnya masih gumpalan darah ya! sementara kalau sudah 6 bulan kan sudah ... Sudah berbentuk gitu ya? gak ngerti kan? kalau di pikir secara logika, Tapi kita juga gak bisa apa-apa! hanya bisa menerima takdir!" tambah nya lagi.


"Iya, heran juga ke mana ya! Dede bayinya menghilang karena kalau sudah 6 bulan itu kan ... sudah bentuk sempurna kalau nggak salah!" kata si Ibu yang berbaju kuning dan usianya masih muda.


"Terus-terus, Ibu hamil lagi setelah bayinya menghilang itu?" tanya seorang yang merasa penasaran.


"Hamil lagi, yang sekarang sudah SMP itu. Dan otomatis di usia-usia kehamilan seperti itu saya menjadi was-was takut hilang lagi secara kan udah mengalami gitu ya? jadinya cemas, gelisah ya, intinya takut kehilangan lagi tapi alhamdulillah ternyata sekarang anaknya sudah SMP," ujar si ibu yang suaminya adalah kolega nya Hadi.


"Dan disaat hamil muda itu ... harus pandai menjaga makanan. Apalagi kata orang tua dulu gitu ya? bawelnya ... minta ampun. Jangan makan ini jangan makan itu, nanti keguguran! bla-bla-bla, bla-bla-bla. Bla ... ada aja gitu alasannya. Tapi suka benar gitu ya? jangan makan ini bikin panas perut, emang bener gitu perut kita menjadi panas, bahkan janin gelisah karena perut kita merasa kepanasan kan."


"Pokoknya kalau hamil muda atau pertama kali itu apalagi tinggal sama orang tua gitu ya, banyak larangannya, dan kan kondisi tubuh juga berbeda-beda ada yang kuat ada yang lemah. Karena disaat tubuh yang lemah itu otomatis kan rentan, ibaratnya jangan capek jangan stres! Oke kalau yang kuat. Baik-baik aja gitu ya ... tapi kalau yang lemah? rentan ya ... kemungkinan akan berakibat fatal."


Bibir Alisa tersenyum tipis dia merasa senang setidaknya banyak pengalaman yang dia dapat dari cerita-cerita ibu-ibu yang datang ke sana. "Aduh Aku jadi sedikit dapat pengalaman dari cerita ibu-ibu semua, semoga bermanfaat buat aku ke depannya!"


Beberapa laki-laki saling berjabat tangan dengan Hadi dan memberi dukungan dan semangat buat pasangan suami istri yang baru mengalami kehilangan calon bayinya itu.


"Sekali lagi terima kasih atas kedatangan kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke sini," ucap adik pada semuanya.


Kemudian mereka pun keluar dari kamar tersebut. Tinggallah kini Hadi dan Alisa, sementara bu Juli tadi berpamitan untuk pulang sebentar nanti balik lagi ke rumah sakit untuk nemenin Alisa.


Kemudian Hadi mengupaskan buah buat sang istri kecilnya itu. Lalu menyuapinya dengan mesra. "Harus banyak makan biar cepat sembuh!"


Dengan tangan Hadi yang satunya, mengusap rambut Alisa dan menyingkirkan dari depan keningnya.


"Aku pengen mandi, rasanya badanku lengket semua dan bau darah!" gumamnya Alisa kepada Hadi.


"Mau mandi? tapi nggak ada baju ganti sayang, apa Aku suruh orang dulu ya untuk mengantarkan baju mu." Hadi menatap pada sang istri yang mulai agak berubah tidak terlalu pucat lagi.

__ADS_1


"he'em." Alisa mengangguk pelan yang mengunyah potongan buah dari suapan Hadi.


"Manisnya buahnya? kalau nggak manis nanti diganti lagi!" tanya Hadi.


"Manis kok." Kata Alisa, lalu mengikat rambutnya di atas sedikit menggulungnya sehingga terlihat simple.


Hadi menelpon orang rumah untuk mengantarkan pakaian buat Alisa.


Sesaat kemudian, suster datang membawa baju pasien untuk ganti, dan akhirnya Hadi pun menggendong ke kamar mandi.


"Aku bisa mandi sendiri kok!" Alisa mendorong dada Hadi yang akan memandikannya.


"Nggak pa-pa sayang, aku yang mendikan! jangan malu! kaya orang baru saja. Kita kan suami istri yang sudah tahu luar dan dalamnya." Hadi menyeringai.


"he'em. Malu, biar aku mandi sendiri saja!" lirih Alisa yang memegangi baju bagian dada yang Hadi siap buka.


"Sayang ... nurut sama suami!" pria itu kekeh. Hingga Alisa pun pasrah dengan niat sang suami.


Hadi memandikan Alisa, layaknya memandikan anak kecil. Dari kamar mandi di gendong lagi ke tempat tidur. Tangan Alisa merangkul kuat pundak sang suami.


"Kalau kamu mau ke kantor, aku gak pa-pa kok di tinggal. Nanti juga ibu datang lagi--"


"Shuuuut ... jangan bicara apa-apa lagi, aku akan pergi ngantor kalau kamu sudah di rumah dan kalau sudah bisa pulang berarti istri ku ini sudah sembuh. Oke? jangan khawatir! aku akan menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Hem!" Hadi menempelkan telunjuk di bibir Alisa.


Kini Alisa sudah tampak rapi dan press, Hadi pun menyisir rambut Alisa lalu dibuat seperti semula dengan tatanan yang lebih rapi ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya?makasih.

__ADS_1


__ADS_2