
"Abang itu, kan berencana menjemput Alisa buat bekerja hari ini. Tapi pas Abang datang ... Alisa mengalami kemalangan--"
"Kemalangan, kemalangan apa? Abang cerita yang benar dong!" Diana kaget lalu memegangi tangan suaminya.
Kemudian Hadi bercerita yang di alami oleh Alisa hari ini dengan detail, tidak sedikitpun dia tutupi. Semua Hadi ceritakan kepada sang istri.
“Astagfirullah …” Diana merasa shock mendengarnya. Setengah tidak percaya." Abang serius?"
“Terima kasih sayang, sayang sudah diizinkan dia tinggal di sini, karena Abang tidak tau harus bawa dia kemana? selain ke sini," ucap Hadi sambil menatap sang istri yang sedang menatap cemas.
“Abang sudah benar, membawa Alisa ke sini.semoga gak terjadi lagi kejadian serupa,” harap Diana.
“Aamiin… ya Allah… ya sudah. Abang mau balik lagi ke kantor, mungkin besok saja Alisa mulai bekerja nya.” Hadi beranjak dari duduknya dan lalu mencium kening sang istri sebelum pergi.
“Oke, hati-hati? pesan Diana sambil mencium punggung tangannya Hadi.
“Oke sayang … jangan lupa makan dan minum obat ya? semoga Allah menyembuhkan sayang seperti dulu lagi.” Hadi memeluk kepalanya Diana.
Diana terpaku dalam pelukan Hadi yang erat, dia juga semoga bisa sembuh. Namun pada kenyataannya sudah bertahun-tahun bukannya sembuh tapi malah semakin lemah saja kondisinya.
Membuat dia terkadang putus asa, dan tidak punya harapan untuk menjalani pengobatan. Kalau tidak kasihan pada suami dia malas banget untuk berobat.
Makanya dia berusaha menyiapkan seseorang untuk mendampingi hidup Hadi nantinya. Sebab dia sendiri sudah lelah dengan semuanya ini, lelah dengan kondisinya yang semakin lemah. Capek dan bosan dengan obat, terapi dan semacamnya.
Beberapa saat kemudian, Hadi memudarkan rangkulannya lalu mengucap salam kepada istrinya.
“Assalamu'alaikum ... apa perlu aku antar sayang ke kamar lebih dulu? abang antar sayang ya?”
“Em … tidak usah … biar aku nanti sama mbak saja, Abang pergi saja ke kantor. Aku gak pa-pa, Wa'alaikum salam …” ucap Diana dengan lirih.
Hadi pun berlalu seiring dengan datangnya mbak, sang asisten Diana yang tadi pergi dari sana.
Diana menatap punggung sang suami yang pergi meninggalkan nya. Lalu Diana mengambil nafas dalam-dalam, kemudian Diana berpaling ke mbak. “Mbak ... tolong bawa saya ke kamar ya?”
“Baik, Bu.” Sang asisten mengangguk.
Kemudian sang asisten membawa sang majikan ke kamarnya yang berada di lantai atas.
“Mbak, bila satu saat nanti saya tiada ... jangan pindah kerja, tetap saja di sini dan bekerja di keluarga ini.Nanti istri tuan nyonya
Alisa, dan insya Allah dia baik orangnya.”Ucap Diana lirih.
__ADS_1
“Jangan bicara begitu, Bu… Ibu pasti sehat kok,” timpal mbak, dia merasa sedih mendengar ucapan sang majikan seperti itu.
“Tapi itu pasti terjadi, Mbak. ”Timpal Diana lagi.
Mbak terus mendorong kursi roda Diana, sampai akhirnya tiba juga di kamar Diana.Lalu Diana dipindahkan ke tempat tidur.
“Saya ambilkan dulu makan ya Bu?” Mbak hendak meninggalkan Diana.
“Oya, Mbak.Kalau sempat!tolong suruh Alisa untuk makan.” Pinta Diana pada Mbak.
“Baik, Bu.Nanti saya sempat kan ke sana.” Mbak mengangguk.
Mbak lanjutkan langkahnya keluar dari kamar sang majikan.Diana.
“Emang kapan Alisa ke sini?perasaan aku tidak melihatnya, apa sama Tuan tadi?” mbak bermonolog sendiri sambil terus berjalan menuju ruang makan.
Setibanya di dapur, Mbak mengambil makan buat Diana. Dan setelah itu mbak membawa langkahnya ke sebuah kamar yang di yakini di pakai oleh sama Alisa.memang sudah menanyakan pada asisten lain dan bilang kalau kamar Alisa tidak jauh dari kamar Liana.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
“Em ... kata Ibu, jangan lupa makan.” Ucap mbak sambil menatap ka arah gadis tersebut.
“Oh, iya Mbak.Nanti gampang saja, oya Ibu nya di mana ya?” Alisa mengangguk. Dan pada akhirnya Alisa bertanya tentang keberadaannya Dian.
“Ibu ... berada di kamarnya dan barusan menyuruh saya untuk mengingatkan Non untuk makan.” Kata mbak kembali.
“Panggil saja nama ku Alisa Mbak, saya bukan Non Liana. Gak pantas lah panggil aku Non, nama saja.” Protes Alisa yang tidak suka di panggil Non.
“Tapi sebentar lagi, kau akan menikahi tuan.” Timpal mbak kembali.
“Oya, nanti aku menyusul ke sana.” Ungkap Alisa sambil membuka mukenanya.
“Ya, sudah. Saya duluan,” balas mbak sambil ngeloyor pergi duluan.
Alisa mengangguk pelan lalu membawa langkahnya dan menutup pintu untuk beres-beres dulu di kamarnya sebelum menemui Diana.
Sejenak melihat dirinya di pantulan cermin. Kedua kelopak matanya begitu sembab dan besar-besar akibat banyak menangis, kalau ingat kejadian itu Alisa nangis lagi.
__ADS_1
"Ya Allah ... semoga keluarga terjaga dan kau lindungi! Aamiin ya Allah ..." harap Alisa sambil mendongak sejenak lalu mengusap wajahnya.
Dia buru-baru keluar dari kamarnya, mambawa langkah ke kamar Diana. Dia berjalan di lorong terdapat Pohon hias dan hiasan-hiasan lainnya.
Setibanya di depan pintu, Alisa mengetuk pintu yang terbuka setengahnya itu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Assalamu'alaikum ... Tante?" Alisa masih berdiri dengan tangan sedikit mendorong handle pintu. Dan kedua netra nya temukan Diana tengah di suapi makan oleh asistennya.
"Wa'alaikum salam ... Lisa ... masuk?" suara Diana sambil menoleh ke arah pintu tersebut.
Alisa mengayunkan langkahnya mendekati tempat dimana Diana berada. "Tante! sedang makan ya?"
Diana menatap intens ke arah Alisa yang tampak kusut dan matanya begitu sembab. "Ya ampun ... Lisa matanya sangat sembab. Di kompres es batu Lisa, Masya Allah ...."
Alisa mendudukan dirinya di sebelah Diana dan mengambil piring dari mbak, menunjukan senyum nya sembari menyentuh kedua kelopak matanya tersebut. "Tidak pa-pa, Tante ... nanti juga normal kembali."
"Lisa-Lisa, Tante tidak menyangka kalau pak Anwar sebejat itu sama kamu!" lirih nya Diana sembari memegang tangan Alosa dan tatapan yang begitu lembut.
"Tante tau dari Om--"
"Tentu, Tante tau dari suami, Tante. Dia cerita yang cukup menyesakan hati, Tante. Sungguh tidak menyangka ya Allah." Suara Diana ikut prihatin.
Alisa menunduk, hatinya bagai di gores kembali di atas luka yang jelas masih menganga, air mata pun tidak terbendung lagi.
Bahu Alisa bergetar, kemudian kembali menangis apalagi kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Tetapi yang kedua dari ulahnya Luky putranya pak Anwar.
Benar-benar, anak dan bapak itu sama-sama gilanya dan mengincar Alisa si gadis cantik dan sederhana tersebut.
Diana memeluk Lisa dengan erat, hatinya pun merasa sedih melihat Alisa menangis.
Alisa menangis di pelukan Diana, dadanya semakin sesak serta tidak bisa membayangkan kalau sampai dia ternoda oleh pak anwar ataupun Luky. Membuat tangisnya semakin menjadi.
"Sabar ya sayang ... yakin kau tidak apa-apa? kau selamat kan? bisa polos dari pria itu?" Diana memberikan rentetan pertanyaan kepada Alisa yang menangis tersedu.
Lantas Alisa menggelengkan kepalanya dengan pelan ....
__ADS_1
.
Jangan lupa subscribe ya di tiga titik bagian kanan. Like komen dan lainnya.