
Setelah ibunya berada di antara mereka. Alisa pun berpamitan pada sang bunda kalau dirinya mau pergi dulu ke rumahnya Liana untuk menengok ibunya Liana
“Sampaikan salam ibu pada bu Diana ya? semoga sehat wal’afiat,” pesan ibunya Alisa yang bernama ibu Julia.
“Iya, Bu. Nanti aku sampaikan.” Alisa mengangguk pelan.
“Ya sudah, kami pergi dulu ya, Tante? Takut keburu sore nih,” pamitnya Liana sembari mengenakan helmnya.
Sebelum pergi, Alisa menemui kedua adik nya tersebut seraya berbisik. “Kalian hati-hati ya jangan jauh-jauh dari ibu atau dekat dengan bang Luky ataupun pak Anwar.”
Lilis dan Sinta hanya mengangguk pelan dan mengerti dengan yang Alisa maksudkan.
Beberapa saat kemudian. Alisa dan Liana sudah berada di atas motor. Dan Liana segera melajukan motornya dengan cepat.
Bu Julia dan kedua adiknya melambaikan tangan mengiringi kepergian keduanya.
Sementara Luky yang sedari tadi menggerutu karena rencananya tergagal kan. Hanya bisa menyimpan amarahnya sendiri dan menyusun rencana yang lebih apik Lagi agar semua berjalan lancar.
"Awas, satu saat nanti akan ku dapatkan kamu cantik!" gumamnya Luky dengan penuh ambisi.
...----------------...
Selang beberapa puluh menit diperjalanan. Alisa dan Liana tiba juga di kediaman Liana dan Alisa segera di ajak masuk menemui sang bunda oleh Liana.
Di depan, berpapasan dengan Dania yang mantap intens kepada Alisa yang berpenampilan sangat sederhana, pakaian yang menurut di lebih pantas di jadikan lap.
"Liana, teman kamu ini dari dulu sampai sekarang gak berubah ya penampilannya? lusuh dan kucel, pakaian kamu aja yang seperti itu Sudak tak buang!" celetuk Dania sambil menatap sinis pada Alisa.
Degh! baru saja datang dah dapat hinaan dari tantenya Liana, memang mungkin tidak sederajat antara mereka.
Alisa mengamati penampilannya sendiri yang memang jauh berbeda dengan mereka. Mereka berpakaian bagus, rapi dan wanginya begitu semerbak.
Manik mata Liana bergerak. Melihat ke arah Alisa dan Dania bergantian. "Tante, bicara apa sih? yang penting berpakaian bukan dan sopan! apa masalahnya sih? justru, Tante harus malu dengan penampilan, Tante sendiri, tertutup tapi mulutnya nyablak!"
"Jelas dong! apa tidak bau tuh aroma tubuhnya? apa gak akan menambah kuman dan menjadi penyakit ke tubuh mama mu?" Dania di tegur malah semakin berani.
"Tante? jangan menghina orang lain! jangan mentang-mentang, Tante seperti itu, mungkin, Tante bisa bergaya karena uang! jangan samakan orang lain dengan dirimu sendiri dong?" Liana semakin emosi dibuatnya.
Alisa khawatir kalau ponakan dan Tante nya itu bertengkar hebat hanya karena dirinya.
__ADS_1
"Shuttt ... Liana-Liana, jangan gitu! Tante mu benar kok, sudah! kita temui Tante Diana saja!" Alisa menarik tangan Liana agar menjauhi tempat tersebut.
"Bener-bener, mulut tuh Tante minta di sambil kali," gerutu Liana sambil berjalan menoleh ke belakang.
"Sudah-sudah, yang seharusnya marah itu aku. Bukan kamu Lian ... sudah ahk. Jangan di tekuk begitu wajahnya?" Alisa menjepit kedua pipi Liana.
Sesungguhnya dalam hati Alisa sedih tapi bukan marah, karena dia pun nyadar diri kok.
Keduanya berjalan menuju kamar Diana dan di sana ada Hadi yang sedang menemani sang istri.
"Assalamu'alaikum ..." Liana ada Alisa mengucap salam setelah berada di ambang pintu, sebelum masuk kamar yang luas dan mewah tersebut.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab orang-orang yang berad di kamar itu.
Diana tersenyum ke arah Alisa dan putrinya. "Masuk Lisa ... lama kita tidak bertemu!"
Alisa segera mencium tangan Diana dan bergantian dengan Hadi.
"Apa kabar tante? maaf aku gak ada main ke sini." Ungkap Alisa pada Diana.
"Baik, seperti yang kau lihat, Lisa ... kondisi tante, Alhamdulillah." Balas Diana.
"Baik. Okeh! saya mau bersiap ambil air wudu dulu, nanti kita berjalan bersama." Hadi beranjak dari duduknya.
Diana memandangi sang suami yang berlalu pergi. Kemudian melihat ke arah Alisa yang menunduk lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum pada dirinya.
"Lisa, bentar lagi Maghrib. bisa tolong saya untuk mengambil air wudu?" pinta Diana pada Alisa.
"Oh, iya. Tante boleh!" Alisa menyambut dengan ramah dan tulus, lalau bersiap mendorong kursi roda Diana ke kamar mandi di temani Liana yang tersenyum pada Alisa.
Kemudian mereka salat berjamaah di suatu ruangan yang memang diperuntukkan buat beribadah.
Dan yang menjadi imamnya adalah sosok Hadi. Alisa berada di jajaran bersama Diana yang tetap duduk di kursi roda.
Mendadak jantuk Alisa berdegup sangat kencang dan sangat deg-degan ketika di lihat oleh Hadi saat dirinya selesai mengucap salam.
Selepas salat, di lanjut makan malam bersama dan pandangan Dania sesekali tampak sinis kepada Alisa yang terlihat cuek, padahal hatinya merasa tidak enak bikin canggung.
"Kau jangan perhatikan atau dengerin omongan Tante ya? biar saja! toh kita gak numpang sama dia ini!" bisiknya Liana sambil melirik ke arah Dania yang bersikap manis kepada sang ayah.
__ADS_1
Hadi melayani sang istri makan, sebelum dirinya sendiri.
"Terima kasih Abang? biar saya makan sendiri." Lirih ya Diana sambil mengambil sendok dalam piringnya.
Namun perutnya terasa mual. "Oo. Oo ..." Diana membungkam mulutnya agar tidak muntah. Dan dengan cepat Hadi dan asisten menyiapkan tempat yang disediakan buat muntah Diana.
Lantas Diana pun memuntahkan isi perutnya.
Dania merasa jijik sehingga menghentikan acara makannya seraya menghentakkan sendok ke piring.
"Ck, bikin selera makan ku hilang saja!" gumamnya dalam hati dan cepat-cepat beranjak menghampiri Diana dan pura-pura perduli.
"Sini ku bantu, ke kamar ya?" Diana memegang dorongan kursi roda.
"Nggak-nggak. Diana harus makan dulu biarpun sedikit." Jelas Hadi menahan kursi Diana.
Lalu asisten pun menyapu Diana, namun Diana menolak sehingga Hadi juga yang harus turun tangan.
"Sayang, kau harus sehat dan kau harus makan untuk minum obat. Jadi makanlah dulu!" Hadi berusaha membujuk Diana untuk makan.
Alisa termenung, melihat Diana yang membuat hatinya merasa terharu sedih.
Alisa berdiri dan menghampiri. "Biar Alisa yang menyuapi tante?" meminta piring dari Hadi.
"Iya, tolong ya?" ucap Hadi pada Alisa.
"Ayo, Tante? makan dulu ya? biarpun sedikit." Bujuk Alisa sambil menyodorkan sendok ke mulut Diana yang kini terbuka.
Diana melihat ada ketulusan dari wajahnya Alisa. Dia memandangi penampilannya gadis itu yang sangat sederhana, jauh dari kata berbahaya. Tidak satu perhiasan pun yang menempel di tubuhnya.
Dania yang kembali duduk, di depan piring dan melanjutkan makannya dan sesekali menatap tidak suka pada alisa.
Dan ekspresi itu, Liana lah yang tahu, kalau tantenya tidak suka pada Alisa. Sekarang saja seperti itu. Bagaimana nanti bila Alisa sudah menjadi ibu sambungnya ...
.
Mana nih dukungan nya? sebagai beruk penyemangat diri untuk menulis🙏
.
__ADS_1